• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Berbagai Pihak Didorong Bersinergi Perkuat Pemberantasan Korupsi

Berbagai Pihak Didorong Bersinergi Perkuat Pemberantasan Korupsi

  • Kata Indonesia
  • - Sunday, 24 May 2026

Berbagai Pihak Didorong Bersinergi Perkuat Pemberantasan Korupsi

Oleh: Narasoma Widjaya

Komitmen memperkuat pemberantasan korupsi kembali ditegaskan melalui sinergi lintas lembaga yang melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Mahkamah Agung (MA), DPR RI, hingga pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat integritas aparat penegak hukum sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi negara di tengah tuntutan masyarakat akan pemerintahan yang bersih dan bebas dari praktik korupsi, kolusi, serta nepotisme.

 

KPK bersama Mahkamah Agung kembali memperkuat kolaborasi melalui program Pelatihan Penguatan Integritas dan Antikorupsi Mahkamah Agung atau PRISMA bagi pimpinan pengadilan di lingkungan MA RI. Program itu menjadi bagian dari upaya memperkuat benteng moral aparat peradilan agar terhindar dari praktik transaksional dan penyalahgunaan kewenangan.

 

Wakil Ketua KPK Ibnu Basuki Widodo menegaskan bahwa integritas merupakan fondasi utama dalam membangun sistem penegakan hukum yang dipercaya masyarakat. Menurutnya, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penindakan, tetapi juga harus diperkuat melalui pendidikan dan langkah pencegahan yang berjalan beriringan. KPK, kata Ibnu Basuki Widodo, terus mengoptimalkan trisula pemberantasan korupsi yang meliputi pendidikan, pencegahan, dan penindakan untuk menjaga tata kelola pemerintahan yang bersih dan profesional.

 

Ia menilai penguatan integritas aparatur peradilan menjadi kebutuhan mendesak demi menjaga independensi lembaga hukum. Mahkamah Agung sebagai pengadilan tertinggi harus bebas dari pengaruh kepentingan tertentu sehingga kualitas moral dan profesionalisme aparat peradilan menjadi elemen penting dalam menjaga marwah hukum dan demokrasi.

 

Menurut Ibnu Basuki Widodo, tantangan integritas aparat penegak hukum semakin kompleks. Integritas tidak hanya dimaknai sebagai kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga harus tercermin dalam keselarasan antara pikiran, sikap, dan tindakan yang berpijak pada nilai moral dan kemanusiaan. Melalui pelatihan PRISMA, KPK ingin memastikan nilai-nilai antikorupsi benar-benar menjadi budaya kerja di lingkungan peradilan.

 

Data penindakan KPK sepanjang 2004 hingga 2025 menunjukkan masih besarnya tantangan di sektor hukum. Sebanyak 31 hakim tercatat terjerat kasus korupsi dari total 1.951 perkara berdasarkan klasifikasi profesi pelaku. Kondisi tersebut dinilai menjadi alarm bahwa reformasi sektor peradilan harus menyentuh akar persoalan, yakni lemahnya integritas sebagian aparat penegak hukum.

 

Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Non Yudisial Dwiarso Budi Santiarto menilai reformasi peradilan tidak akan berjalan efektif tanpa penguatan integritas aparat di dalamnya. Menurutnya, hakim dan aparatur peradilan tidak cukup hanya memahami hukum secara normatif, tetapi juga harus menjaga etika profesi dan independensi dalam setiap pengambilan keputusan. Mahkamah Agung pun terus memperkuat pengawasan internal melalui Badan Pengawasan MA guna menjaga marwah lembaga peradilan.

 

Berdasarkan data Badan Pengawasan MA periode Januari hingga April 2026, sejumlah hakim telah dijatuhi sanksi disiplin dengan tingkat pelanggaran yang beragam. Penegakan disiplin tersebut dinilai menjadi bukti bahwa reformasi integritas di tubuh peradilan terus dijalankan secara konsisten demi menciptakan lembaga peradilan yang profesional dan akuntabel.

 

Dwiarso Budi Santiarto juga menegaskan bahwa penguatan integritas harus berjalan seiring dengan internalisasi tujuh nilai utama Mahkamah Agung, yakni kemandirian, integritas, kejujuran, akuntabilitas, responsibilitas, keterbukaan, dan perlakuan setara di hadapan hukum. Nilai-nilai tersebut dianggap penting untuk memperkuat profesionalisme aparat peradilan sekaligus memastikan pelayanan hukum yang adil dan berorientasi pada kepentingan publik.

 

Dukungan terhadap penguatan pemberantasan korupsi juga datang dari DPR RI. Anggota Komisi III DPR RI Abdullah menyatakan dukungannya terhadap langkah tegas pemerintah dalam menindak aparat negara yang melakukan pelanggaran hukum. Ia menilai komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam menciptakan pemerintahan yang bersih harus diikuti dengan pengawasan ketat terhadap personel TNI, Polri, maupun aparatur sipil negara.

 

Abdullah menilai pengawasan eksternal sangat penting karena berbagai kasus penyalahgunaan kewenangan sering kali sulit terdeteksi melalui mekanisme internal lembaga. Banyak kasus pelanggaran justru terbongkar setelah mendapat sorotan publik dan media. Karena itu, ia meminta KPK dan Ombudsman memperketat pengawasan guna mencegah praktik korupsi serta berbagai bentuk penyelewengan lain di lingkungan birokrasi dan aparat negara.

 

Selain itu, Abdullah juga menyoroti lemahnya pengawasan internal di sejumlah kementerian dan lembaga. Ia menilai budaya saling melindungi antaroknum masih menjadi hambatan serius dalam reformasi birokrasi. Menurutnya, reformasi harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan dengan menjadikan sistem merit sebagai prinsip utama dalam pengangkatan, promosi, dan penempatan jabatan.

 

Ia juga mendorong percepatan mekanisme penindakan dan pemecatan terhadap aparat maupun birokrat yang terbukti melanggar hukum. Reformasi birokrasi, menurut Abdullah, membutuhkan lingkungan kerja yang sehat dan profesional agar pelayanan publik berjalan maksimal dan masyarakat mendapatkan pelayanan yang adil serta berkualitas.

 

Di tengah berbagai tantangan tersebut, pemerintah selama setahun terakhir dinilai telah menunjukkan sejumlah capaian dalam penguatan tata kelola pemerintahan dan reformasi birokrasi. Pemerintah terus mendorong digitalisasi pelayanan publik, memperkuat transparansi sistem perizinan, meningkatkan pengawasan anggaran, serta memperkuat koordinasi antarpenegak hukum dalam penanganan kasus korupsi. Komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam menegaskan pentingnya pemerintahan yang efektif dan bersih juga dinilai menjadi sinyal kuat bahwa agenda pemberantasan korupsi tetap menjadi prioritas nasional.

 

Sinergi antara KPK, Mahkamah Agung, DPR RI, dan pemerintah pusat dinilai menjadi langkah penting dalam memperkuat pemberantasan korupsi di Indonesia. Penguatan integritas, reformasi birokrasi, pengawasan ketat, dan penegakan hukum yang tegas harus berjalan bersama agar tercipta sistem pemerintahan yang bersih, profesional, dan dipercaya masyarakat. Karena itu, seluruh elemen bangsa diharapkan terus mendukung budaya antikorupsi demi mewujudkan Indonesia yang transparan, adil, dan berintegritas.

 

*) Peneliti Isu Hukum dan Pemberantasan Korupsi

Pemerintah Perkuat Agenda Penyelesaian Kasus HAM, Masyarakat Jangan Terjebak Provokasi

September 22, 2026

Mengapresiasi Capaian Pangan Prabowo-Gibran, Merawat Stabilitas dan Menolak Provokasi

September 22, 2026

Pemerintah Perkuat Agenda Penyelesaian Kasus HAM, Masyarakat Jangan Terjebak Provokasi

By Kata IndonesiaSeptember 22, 20260

Pemerintah Perkuat Agenda Penyelesaian Kasus HAM, Masyarakat Jangan Terjebak Provokas  Oleh: Arief Nugroho Masyarakat perlu melihat berbagai persoalan hak asasi manusia secara jernih dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, terutama narasi yang berpotensi memperbesar ketegangan di tengah masyarakat. Penyelesaian persoalan HAM membutuhkan ketenangan, keterbukaan, dan kerja bersama yang berkelanjutan. Pemerintah terus melakukan berbagai langkah untuk memperkuat penyelesaian persoalan HAM melalui evaluasi kebijakan, penguatan kelembagaan, pemulihan korban, dialog, serta upaya mencari solusi yang menyentuh akar persoalan. Karena itu, berbagai perkembangan tersebut penting dipahami secara utuh agar masyarakat dapat menilai proses penyelesaian HAM berdasarkan fakta dan perkembangan nyata di lapangan. Salah satu langkah yang menunjukkan keseriusan tersebut terlihat dari evaluasi Kedeputian Bidang Koordinasi Hak Asasi Manusia Kemenko Kumham Imipas. Evaluasi yang dilakukan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai target, sekaligus memetakan kegiatan yang membutuhkan percepatan dan kendala yang harus segera diselesaikan. Evaluasi tidak hanya diarahkan pada penyerapan anggaran, tetapi juga kesesuaian pelaksanaan program dengan target kinerja sehingga kebijakan HAM dapat memberikan hasil yang terukur. Langkah evaluatif semacam ini penting karena penyelesaian persoalan HAM tidak cukup hanya dengan membangun komitmen. Komitmen harus diterjemahkan menjadi program, anggaran, koordinasi, pengawasan, dan evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan. Ketika masih ditemukan kendala, pemerintah memiliki ruang untuk melakukan perbaikan dan percepatan. Dengan demikian, agenda HAM dapat terus bergerak dari perencanaan menuju pelaksanaan yang lebih efektif. Upaya tersebut juga berjalan melalui penguatan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Di Papua, Forum Konsultasi Publik yang diselenggarakan Sekretariat Komnas HAM Provinsi Papua mempertemukan unsur pemerintah, aparat keamanan, organisasi masyarakat sipil, lembaga bantuan hukum, akademisi, mahasiswa, tokoh masyarakat, dan jurnalis. Ruang dialog semacam ini menjadi penting untuk mempertemukan perspektif, memperkuat mekanisme pengaduan, meningkatkan pertukaran informasi, serta memastikan berbagai persoalan HAM memperoleh perhatian berdasarkan informasi yang dapat diverifikasi. Penguatan jaringan kerja juga menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan HAM tidak semata-mata menjadi urusan satu institusi. Kepala Sekretariat Komnas HAM Provinsi Papua Frits B. Ramandey menekankan pentingnya membangun relasi dengan berbagai pihak dengan tetap menjaga prinsip independensi dan imparsialitas. Pendekatan tersebut diperlukan agar informasi mengenai situasi HAM dapat diperoleh, diperiksa, dan menjadi dasar bagi pelaksanaan tugas secara objektif.…

Mengapresiasi Capaian Pangan Prabowo-Gibran, Merawat Stabilitas dan Menolak Provokasi

By Kata IndonesiaSeptember 22, 20260

Mengapresiasi Capaian Pangan Prabowo-Gibran, Merawat Stabilitas dan Menolak Provokasi Oleh Arga Septian Menjelang dua tahun…

Kementan Antisipasi Kekeringan, Guna Menjaga Produktivitas Perkebunan dan Kebijakan Swasembada Pangan

By Kata IndonesiaSeptember 22, 20260

Kementan Antisipasi Kekeringan, Guna Menjaga Produktivitas Perkebunan dan Kebijakan Swasembada Pangan Jakarta, Kementerian Pertanian (Kementan)…

Gus Adnan Bongkar Kunci Santri Masa Depan di PPSN VI: Jadilah Ulama yang Intelek, Bukan Intelek yang Tahu Agama Saja!

By Kata IndonesiaSeptember 22, 20260

Santri tingkat Ulya Satuan Pendidikan Salafiyah Kajian Kitab Kuning Pondok Pesantren Tahfidz Alishlah DKI Jakarta…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.