Takbir masih menggema lirih di sisa hari. Aroma daging mulai mengasapi gang-gang sempit. Namun, perayaan ini menyisakan sebuah ironi yang getir. Kita begitu mudah terpukau pada bungkus, tetapi gagap pada hakikat.
Lihatlah ke sekeliling. Wani pora ijol HP dengan yang lebih murah agar bisa ikut korban? Gadget di genggaman selalu seri terbaru, tapi urusan kurban mendadak pura-pura bisu. Opo ora isin: numpak mobil tapi ora korban. Kendaraan mentereng, tapi nyali berbagi menciut di hadapan panitia. Lebih menggelikan lagi, tangan sibuk memotret, lalu pamer status penyembelihan tapi gak ikut korban. Kita hanya berdiri di tepi pembantaian ego, menjadi penonton yang asyik, lalu pulang dengan tangan menengadah nunggu bagian.
Nabi Ibrahim dahulu menerima perintah yang teramat berat. Beliau disuruh menyembelih anaknya, Ismail. Tanpa ragu, beliau patuh. Kepasrahannya mutlak. Nah, kita hari ini? Kita tidak diminta menyerahkan darah daging sendiri. Kita hanya disuruh menyembelih gaya hidup wae masih eman-eman. Takut jatuh gengsi. Takut dibilang kurang bergengsi. Gayamu Nda…
Mumpung hari tasyrik belum sepenuhnya habis. Bumi masih bersedia menerima tetesan darah pengorbanan kita. Waktu masih ada, walau kian menipis. Ketuk saku celanamu, lihat isi dompetmu. Mari bergegas ke kandang, sebelum kesempatan ini benar-benar hilang dan kita hanya menyisakan tumpukan status tanpa makna.
Refleksi Pagi
Dari Bangsal Literasi
Pondok Pesantren Wali