• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Anies Baswedan Takut dan Tunduk Kepada FPI

Anies Baswedan Takut dan Tunduk Kepada FPI

  • Kata Indonesia
  • - Friday, 20 December 2019

Oleh: Raditya Rahman

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mencabut penghargaan bagi sebuah diskotek pasca diprotes oleh Front Pembela Islam (FPI). Hal ini mengindikasikan jika sang gubernur DKI Jakarta takut dan tunduk FPI.

Pemberian penghargaan atas sebuah pusat hiburan malam oleh Anies Baswedan mendapatkan kecaman dari ormas pendukungnya, FPI. Sang Gubernur DKI ini seolah ganar. Alhasil penghargaan-pun dibatalkan, yang kabarnya sang ajudan menjadi korban pemecatan.
Buntut dibatalkannya pemberian penghargaan terhadap Diskotek Colosseum oleh Pemprov DKI Jakarta, Gubernur DKI Anies Baswedan memberhentikan pejabat di lingkungan Dinas Pariwisata DKI Jakarta karena dianggap lalai saat memberikan penghargaan ke tempat hiburan malam tersebut. Sungguh sangat disayangkan, bukan?

Padahal seperti yang kita tahu, pihak Anies sendiri telah memberikan klarifikasi atas kebenaran kebijakan penghargaan tersebut. Tapi, ko bisa-bisanya kemudian sang karyawan bawahan yang disalahkan. Lalu, yang tanda tangan disurat penghargaan itu siapa? Kembaran pak Anies?

Menurut laporan, Pemprov DKI telah mengubah keputusannya dengan alasan catatan merah pengunjung Colosseum pada tanggal 7 September 2019. Yakni, melalui laporan surat dari Badan Narkotika Nasional Provinsi DKI Jakarta kepada kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata pada tanggal 10 Oktober tahun 2019.

Pengamat politik Ujang Komarudin merespon langkah mencabut penghargaan untuk Colosseum tersebut sesuai janji Anies Baswedan saat kampanye Pilgub Jakarta 2017 lalu, guna menutup tempat-tempat hiburan malam yang melanggar.
Anies menunjukkan gebrakan saat mampu menutup tempat hiburan malam, Alexis agar ormas pendukungnya tak merasa dikecewakan. Namun, manusia terkadang suka kebablasan biat hati mencari pujian, namun tanda tangan kadung dibubuhkan.
Jika kata pengamat politik, Ujang Komaruddin, lebih baik mencabut penghargaan daripada ditinggal oleh para loyalis serta pendukung-pendukungnya. Ujang menyatakan jika Anies harus pintar-pintar dalam mengakomodasi kelompok-kelompok yang turut berjasa membantu karier politik dirinya.

Sebelumnya, Front Pembela Islam (FPI) mengapresiasi langkah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang mau mencabut penghargaan Adikarya Wisata ke Diskotek Colosseum. Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman, mengaku bersyukur Bahwa Anies telah mengakomodasi aspirasi umat beragama guna menjadikan ibu kota negara sebagai kota yang mampu menunjukkan kepribadian budaya, berdaulat secara politik dan berdikari dalam ekonomi. Munarman menambahkan, jika budaya di ibu kota Jakarta bukanlah sesuatu yang hedonis, melainkan budaya yang antimaksiat.

Sepertinya, Pemprov DKI mendapatkan tekanan dari berbagai pihak soal penghargaan tersebut. Bahkan, Sekda DKI Jakarta Saefullah mengatakan tim yang menilai penghargaan itu telah dibebastugaskan. Alasannya, mereka dinilai tidak teliti saat melakukan penilaian terhadap penghargaan yang diberikan dua tahun sekali tersebut.

Agaknya panggung politik kini seolah menjadi tujuan utama guna membawa diri ke posisi tertinggi, khususnya di pemerintahan. Anies yang banyak disebut terobsesi suatu jabatan dinilai takut ditinggalkan oleh ormas yang mendukungnya kala itu. Selain itu, ormas Islam yang notabene mampu mengumpulkan ribuan orang dalam sekali aksi itu sepertinya membuat Anies cukup mumpuni guna melaju dalam dunia perpolitikan nanti. Logikanya, siapa yang tak mau dukungan tanpa syarat dengan ribuan orang yang berpotensi membawa sang Gubernur DKI melenggang di kancah politik dengan nyaman?

Namun sungguh disayangkan, sikap Anies yang terkesan plin-plan dan takut atas ormas pendukungnya membuat khalayak ramai mulai mencibir kinerjanya. Tudingan playing victims dianggap pas atas perlakuannya kepada bawahan. Pasalnya, Anies telah membubuhkan tanda tangan persetujuan saat pemberian penghargaan tempat hiburan malam tersebut, namun tetap menyalahkan pegawainya dan menilai lalai atas pekerjaan yang diembannya.

Pertanyaannya ialah, ketika Anies membubuhkan tanda tangan ini, apa yang dipikirkannya. Apakah ia telah dengan teliti membaca serta mencermati keputusan untuk memberikan apresiasi terkait tempat hiburan malam tersebut. Bahkan, ketika kecaman mulai dilambungkan dirinya seolah masih berada di garis keyakinan, jika penghargaan tersebut merupakan sebuah kebijakan. Atau, mungkin saja kinerja Anies memang layak diragukan?

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional

August 22, 2026

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional

August 22, 2026

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Perkuat Investasi untuk Pembangunan Nasional  Oleh: Ricky Rinaldi Pemerintah terus memperkuat transformasi ekonomi nasional dengan menempatkan investasi sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan jangka panjang. Dalam arah kebijakan menuju 2027, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memperoleh peran strategis sebagai instrumen untuk mengoptimalkan aset negara, memperkuat investasi, dan mendorong pembangunan sektor-sektor strategis. Kehadiran Danantara menunjukkan upaya pemerintah membangun sumber pertumbuhan baru yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Presiden Prabowo Subianto menegaskan posisi tersebut dalam penyampaian Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) 2027 beserta Nota Keuangan di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada 14 Agustus 2026 lalu. Presiden menyebut Danantara sebagai dana kedaulatan yang harus menjadi instrumen untuk membangun kapasitas bangsa dalam jangka panjang. Danantara karena itu diarahkan bukan sekadar sebagai pengelola aset negara, melainkan sebagai bagian dari strategi investasi dan pembangunan sektor strategis yang memberikan manfaat berkelanjutan. Arah tersebut memperlihatkan perubahan pendekatan dalam mengelola kekuatan ekonomi nasional. Aset negara perlu ditempatkan pada kegiatan produktif yang mampu meningkatkan kapasitas industri, mempercepat hilirisasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan nasional. Melalui pengelolaan yang terintegrasi, Danantara diharapkan mampu menghubungkan kekayaan negara dengan kebutuhan investasi serta proyek pembangunan yang memiliki nilai strategis dan manfaat jangka panjang. Peran Danantara semakin penting dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa konsolidasi aset Danantara dapat menjadi katalis peningkatan investasi. Danantara dapat memaksimalkan aset dan proyek untuk menarik partisipasi sektor swasta dan pelaku ekonomi nonpemerintah. Dengan demikian, investasi negara dapat menciptakan efek crowd-in, yakni mendorong dunia usaha meningkatkan ekspansi, membuka fasilitas produksi baru, dan memperluas kegiatan bisnis. Pendekatan tersebut menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional merupakan tanggung jawab bersama seluruh pelaku ekonomi. Pemerintah tidak hanya berperan sebagai penyedia anggaran, tetapi juga menciptakan kondisi yang memungkinkan sektor swasta berkembang. Investasi Danantara dapat menjadi pemicu awal yang kemudian diikuti modal swasta sehingga kapasitas ekonomi nasional meningkat secara lebih luas. Sinergi tersebut juga berpotensi memperbesar penciptaan lapangan kerja dan memperkuat aktivitas ekonomi di berbagai daerah. Strategi investasi Danantara diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki nilai strategis dan potensi dampak luas. Delapan sektor utama yang menjadi fokus meliputi energi terbarukan, mineral, infrastruktur digital, infrastruktur dan utilitas, real estat, layanan keuangan, pangan dan pertanian, serta layanan kesehatan. Pemilihan sektor tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat ketahanan nasional, dan membangun fondasi pertumbuhan baru yang lebih bernilai tambah.…

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Perkuat Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara…

Danantara Kawal Penyederhanaan BUMN agar Aset Negara Lebih Produktif  

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Danantara Kawal Penyederhanaan BUMN agar Aset Negara Lebih Produktif Jakarta – Transformasi dan restrukturisasi Badan…

Ketahanan Energi 2027: Jalan Besar Indonesia Menuju Kemandirian Energi 

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Ketahanan Energi 2027: Jalan Besar Indonesia Menuju Kemandirian Energi  Oleh: Hanan Alfawazi Ketahanan energi merupakan salah satu fondasi utama bagi keberlanjutan pembangunan nasional. Tanpa pasokan energi yang cukup, terjangkau, dan dapat diandalkan, pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat akan menghadapi berbagai hambatan. Karena itu, arah kebijakan energi Indonesia pada 2027 memiliki arti strategis, bukan sekadar sebagai agenda sektoral, melainkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian nasional. Kebutuhan energi terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, sementara produksi minyak nasional menghadapi tekanan penurunan alamiah. Pada saat yang sama, dinamika geopolitik global membuat harga dan pasokan energi semakin sulit diprediksi. Kondisi tersebut membuat penguatan sumber energi domestik menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Dalam konteks tersebut, target lifting minyak sebesar 610 ribu barel per hari dan lifting gas sekitar 950 ribu barel setara minyak per hari dalam RAPBN 2027 menjadi salah satu instrumen penting. Target tersebut dinilai realistis oleh Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya, terutama dengan melihat peluang optimalisasi lapangan produksi yang telah ada serta pengembangan sumur-sumur baru. Namun, peningkatan lifting tidak dapat dicapai hanya dengan menetapkan target. Sektor hulu migas membutuhkan investasi, teknologi, kepastian regulasi, serta proses pengembangan lapangan yang efisien. Tantangan natural decline juga harus dihadapi secara serius karena sebagian lapangan migas nasional telah memasuki fase produksi yang matang. Anggota Dewan Energi Nasional Saleh Abdurrahman melihat masih terdapat ruang untuk menahan laju penurunan alamiah tersebut melalui optimalisasi sumur eksisting dan pengembangan sumur baru. Pengembangan wilayah frontier serta penggunaan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) juga menjadi bagian dari pilihan strategis untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi nasional. Artinya, kebijakan peningkatan lifting harus ditempatkan sebagai agenda jangka panjang. Pemerintah tidak cukup hanya mengejar angka produksi dalam satu tahun anggaran, tetapi juga harus memastikan keberlanjutan investasi dan penemuan cadangan baru. Jika investasi hulu berjalan konsisten, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat ekosistem industri migas nasional.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.