Oleh: Gibran Andika Denokusumo (Pemuda di Solo)
Indonesia merupakan bangsa di dunia yang sangat terkenal akan kearifan budaya nya. Bangsa ini dikenal akan ramah-tamahnya kepada siapapun yang ada di hadapan mereka. Bangsa asing sudah banyak beri testimoni, mereka betah tinggal di Indonesia sebab diperlakukan bak raja di sini. Mereka tak pernah rasakan itu di rumah mereka masing-masing. Di sini, yang tua menyayangi yang muda dan yang muda menghormati yang tua. Mereka saling mengayomi dan menyayangi satu sama lain, gotong royong membangun Indonesia.
Citra yang diangkat selama berabad-abad ini seakan mulai memudar sebab masifnya kasus-kasus nirempati baik kepada kawan sesama bangsa maupun kepada orang asing. Parahnya, kasus-kasus ini lebih menjamur di kalangan lokal dimana banyak anak yang relatif lebih muda merasa lebih tinggi dan lebih berpengalaman daripada mereka, kaum orang-orang tua. Hal ini adalah salah satu permasalahan yang mesti dihentikan mulai dari sekarang. Namun, bagaimana anak muda dapat menghentikan fenomena ini jikalau tokoh-tokoh muda mencontohkan ketidaksopanan ini?
Kami, anak muda Indonesia selama ini sudah bersusah payah membangun image bahwa anak muda masih dan akan selalu menghormati orang-orang tua karena mau bagaimanapun, mereka adalah orang-orang penuh pengalaman yang dapat menjadi sosok untuk anak muda mengambil pelajaran. Namun, usaha keras ini bak dibuang ke tempat sampah oleh Gibran Rakabuming dalam satu forum debat saja. Pada debat Cawapres (21/1), Gibran menunjukkan sikap yang tidak dapat ditolerir oleh anak muda sebab beliau melanggar norma etika dan kesopanan kepada orang yang lebih tua.
Debat Cawapres yang kedua diwarnai dengan hawa panas perseteruan antar calon wakil presiden dan kita semua mengetahui sumber panas debat tersebut adalah Gibran. Pertama, Ia menampilkan perlakuan tak sopan dengan menyindir-nyindir Cak Imin dengan membawa topik atau persoalan yang tak relevan dengan isi debat cawapres. Parahnya, beliau melakukan gimik tidak bermutu kepada Prof. Mahfud MD hingga beliau secara gamblang tak mau jawab pertanyaan yang dilontarkan oeh Gibran.
Perlakuan Gibran ini tak disukai anak muda, ditambah Gibran seringkali mengatasnamakan diri sendiri sebagai ‘Perwakilan anak-anak muda Indonesia’ sebab beliau menganggap jiwa anak muda terlekat dalam dirinya. Pada platform media sosial twitter, Gen Z dan milenial dengan mentah-mentah menolak ‘diwakilkan’ oleh Gibran dalam kontestasi politik tersebut. Mereka menganggap bahwa apa yang Gibran sampaikan tidak sama sekali mencerminkan apa yang selama ini diupayakan dan dilakukan oleh anak-anak muda di Indonesia.
Gibran bukanlah cerminan anak muda, melainkan Gibran adalah cerminan dari pasangan politiknya, yakni Prabowo subianto. Video-video viral yang tersebar banyak menunjukkan ke-arogansi-an beliau yang seringkali menyindir bahkan menghina pasangan calon lainnya dalam forum-forum internal. Gibran yang masih ‘anak-anak’ menunjukkan sikap kekanak-kanakan dengan mencontoh sosok yang Ia idolakan. Namun namanya ‘anak-anak’, Ia tak bisa membedakan mana sikap yang baik dan harus dicontoh dan mana sikap buruk yang tak layak dicontoh.
Sifat kekanak-kanakan ini adalah sebuah bukti nyata kesalahan putusan MK yang mengubah batasan umur calon wakil presiden menjadi 35 tahun. Seseorang yang umurnya relatif lebih tua akan mengedepankan logika dibanding emosi karena dari pengalaman lah mereka belajar. Masa muda mereka dipenuhi dengan banyak mencoba dan banyak gagal sehingga dapat belajar dari kesalahan sendiri. Namun mereka yang umurnya relatif muda belum memiliki banyak pengalaman dan seringkali mengalami kegagalan, layaknya Gibran ini. Sehingga untuk menduduki posisi calon wakil presiden, Gibran dirasa kurang pengalaman dan masih butuh banyak belajar dari hal-hal yang terjadi dalam hidupnya.
Pemimpin Indonesia adalah benar merupakan sosok dengan pekerjaan yang paling berat di Indonesia. Sebab Ia haruslah seseorang yang memiliki sifat teladan yang dapat diikuti oleh rakyat Indonesia. Etika, adalah hal yang penting bagi seorang pemimpin dan adalah sebuah modal dasar kepemimpinan. Jika seseorang nir-etika, apakah beliau layak untuk diberi kesempatan memimpin Indonesia dan ratusan juta penduduknya? Silakan dipikirkan kembali.
Dari Kremlin ke Elysee, Presiden Prabowo Baca Arah Baru Geopolitik Oleh: Walis Darma Presiden Prabowo…
Lawatan ke Moskow - Paris, Presiden Prabowo Bahas Stabilitas dan Ekonomi Global Jakarta - Presiden…
Presiden Prabowo Tegaskan Diplomasi Global Demi Kepentingan Nasional Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa…
Sekolah Rakyat Buka Akses Pendidikan bagi Anak dari Keluarga Difabel Jakarta - Pemerintah di bawah…
Sekolah Rakyat Perkuat Akses Pendidikan Inklusif bagi Anak Keluarga Difabel Jakarta – Pemerintah terus mempertegas…
Diplomasi Dua Kutub, Presiden Prabowo Bangun Keseimbangan dari Moskow ke Paris Oleh: Citra Laksmi Dewi…