• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Nasional»BLAK-BLAKAN GUS BADAWI JEKULO: PBNU HARI INI TIDAK PRODUKTIF, GERBANG PRAGMATISME DAN MANDULNYA BAHSTUL MASAIL!

BLAK-BLAKAN GUS BADAWI JEKULO: PBNU HARI INI TIDAK PRODUKTIF, GERBANG PRAGMATISME DAN MANDULNYA BAHSTUL MASAIL!

  • Kata Indonesia
  • - Tuesday, 19 May 2026

Riak ketegangan yang belakangan memanas di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kerap dinilai publik sebagai krisis kelembagaan yang mengkhawatirkan. Namun, dari sudut sosiologis dan spiritual pesantren, “badai” di Jakarta itu dituding tidak lebih dari sekadar riak semu yang justru mengorbankan hal paling fundamental dalam tubuh jam’iyah: tradisi intelektual.

Untuk membedah apa yang sebenarnya terjadi di balik layar kepengurusan PBNU saat ini, tim kata Indonesia melakukan wawancara khusus dengan KH. Ahmad Badawi Basyir (yang akrab disapa Gus Badawi), Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo, Kudus, Jawa Tengah.

Sebagai putra kandung dari ulama sufi pejuang legendaris, almaghfurullah KH. Ahmad Basyir—sang penjaga istikamah amalan riyadhoh dan wirid Dalailul Khairat di tanah Jawa—Gus Badawi mewarisi ketajaman batin dan keberanian kultural yang khas. Di tengah hiruk-pikuk elite, wejangan beliau dari koridor pesantren Jekulo ini laksana gertakan keras yang menyentak kesadaran warga Nahdliyin.

Berikut adalah petikan wawancara mendalam bersamanya:

“Konflik di PBNU itu Tidak Sungguh-Sungguh!”

Gus, bagaimana Anda melihat dinamika dan saling silang ketegangan di tubuh PBNU belakangan ini? Banyak pihak luar yang khawatir NU sedang di ambang perpecahan.

“Konflik di PBNU itu tidak sungguh-sungguh, saya tahu mereka. Bagi kami yang tumbuh dalam tradisi keilmuan pesantren, persilangan argumen keras di NU itu barang usang. Ada garis batas yang tegas antara ketegangan struktural temporer dan ikatan sanad keilmuan yang abadi. Di dalam ruang rapat mereka bisa terlihat seperti gegeran (ribut), tapi di luar mereka kembali merokok dan gerr-gerran (tertawa bersama).

Masalahnya, ketika para elite ini asyik memamerkan ego mereka di panggung publik, ketegangan semu ini justru membuat organisasi menjadi tidak produktif. Warga Nahdliyin di bawah tidak boleh menjadi korban provokasi atas perseteruan yang sebenarnya tidak memiliki bobot ideologis yang substansial ini.”

Jenengan menyebut PBNU hari ini menjadi ‘tidak produktif’. Apa indikator konkretnya sehingga Anda melontarkan kritik sekeras itu?

“Ini yang sangat memprihatinkan. Akibat kegaduhan yang tidak substansial itu, budaya dan peradaban ilmiah yang menjadi marwah asli Nahdlatul Ulama kini terancam sirna. PBNU hari ini kehilangan produktivitas intelektualnya.

Lihat saja, ruang-ruang diskusi ilmiah yang biasa menghidupkan nalar kritis warga Nahdliyin kini mulai lenyap. Forum-forum bahsul masail—yang merupakan artileri intelektual tertinggi NU dalam menjawab persoalan umat—kini justru mandul dan kehilangan tajinya. Ketika tradisi ilmiahnya lumpuh, NU kehilangan daya tawar moral. Fungsi jam’iyah sebagai kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah menjadi mandek. Jika ini dibiarkan, PBNU benar-benar bergeser menjadi sekadar gerbang pragmatisme politik dan kekuasaan.”

Mengembalikan NU sebagai Rumah Besar Semua Bangsa

Jika PBNU dinilai terjebak dalam pragmatisme, lantas ke mana arah organisasi ini seharusnya melangkah menurut khittah aslinya?

“NU tidak didirikan untuk menjadi alat sandera kepentingan faksi tertentu, apalagi sekadar menjadi kendaraan taktis demi syahwat pragmatis pengurusnya. Khittah NU jauh lebih besar dari sekadar urusan domestik elite PBNU. NU adalah properti bangsa, bukan milik personal pengurusnya!

NU harus terbuka untuk semua bangsa Indonesia. Kemanfaatannya benar-benar dirasakan sebagai umat beragama di bangsa ini. Sebagai wasilah (perantara) pemersatu.

Ini adalah peringatan keras bagi arah kebijakan yang mulai eksklusif. Jika NU gagal menjadi wasilah pemersatu dan justru sibuk memproduksi pembelahan di dalam negeri, maka organisasi ini sedang berjalan memunggungi sejarahnya sendiri. NU harus kembali menjadi payung teduh yang inklusif untuk seluruh elemen bangsa.”

Seruan Rekonsiliasi: Panggil Pulang Mereka yang Terasing

Dengan kondisi PBNU yang Anda sebut ‘lumpuh nalar kritisnya’ dan terjebak konflik semu, apakah masih ada harapan untuk berbenah?

“Tentu saja. Ini belum terlambat untuk bareng-bareng kembali berbenah. Optimisme itu masih sangat besar karena di akar rumput, Nahdliyin yang sepuh maupun yang muda masih banyak yang baik-baik dan berniat tulus untuk berkontribusi membesarkan NU.

Saya menyerukan: ayo kembali berjabat tangan! Jangan sampai kader-kader terbaik kita frustrasi melihat tingkah elite lalu memilih ‘mondok’ di tempat lain. Panggil kembali mereka yang terasing, mereka yang tersisih karena tidak sejalan dengan arus utama kekuasaan struktural saat ini. Panggil mereka untuk kembali ke rumah besar: NU.”

Bagaimana momentum terdekat seperti Muktamar NU dapat memfasilitasi gagasan pembenahan total ini?

“Muktamar NU tidak boleh lagi didesain secara eksklusif atau sekadar menjadi panggung stempel legalitas kelompok tertentu demi transaksi kekuasaan. Berikan ruang-ruang untuk semua elemen NU masuk ke Muktamar NU agar bisa beradu gagasan!

Buka pintu lebar-lebar untuk kiai sepuh, akademisi muda, aktivis kultural, hingga penggerak ekonomi akar rumput. Biarkan Muktamar menjadi pasar malam ide demi kehormatan dan kejayaan peradaban Nusantara yang dicita-citakan NU sejak zaman Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Sudah saatnya menghentikan kegaduhan semu di Jakarta. Sebesar apa pun ego yang dipertontonkan di struktural pusat, jangkar spiritual di daerah—seperti pesantren—akan selalu siap menarik paksa kiblat organisasi ini kembali ke jalur khidmah kemanusiaan dan keutuhan NKRI.”

Pemerintah Perkuat Satgas untuk Percepat Pemulihan Wilayah Terdampak Bencana

October 21, 2026

Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah untuk Percepat Pemulihan Bencana

October 21, 2026

Pemerintah Perkuat Satgas untuk Percepat Pemulihan Wilayah Terdampak Bencana

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Perkuat Satgas untuk Percepat Pemulihan Wilayah Terdampak Bencana JAKARTA – Pemerintah memperkuat koordinasi Satuan…

Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah untuk Percepat Pemulihan Bencana

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah untuk Percepat Pemulihan Bencana *Jakarta* – Pemerintah terus memperkuat sinergi antara…

Pemerintah Memperluas Transaksi Lokal demi Ketahanan Rupiah dan Ekonomi

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Memperluas Transaksi Lokal demi Ketahanan Rupiah dan Ekonomi Oleh : Jems Andrian Pemerintah bersama…

Pemerintah Menjaga Fundamental Ekonomi di Tengah Tekanan Rupiah

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Menjaga Fundamental Ekonomi di Tengah Tekanan Rupiah  Oleh: Ricky Rinaldi Dinamika perekonomian global yang diwarnai tingginya ketidakpastian pasar keuangan internasional, ketegangan geopolitik lintas benua, serta kebijakan suku bunga tinggi di negara-negara maju memicu tekanan yang signifikan terhadap nilai tukar mata uang di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menjadi tantangan nyata yang memerlukan kecermatan serta presisi strategi kebijakan ekonomi makro secara komprehensif. Dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan tersebut, ketahanan ekonomi nasional tidak ditentukan oleh respon kepanikan jangka pendek, melainkan oleh kekuatan fundamental ekonomi riil dan solidnya koordinasi kebijakan antar-lembaga. Langkah strategis pemerintah bersama otoritas moneter dalam menjaga ketahanan fundamental ekonomi terbukti menjadi benteng utama dalam mempertahankan stabilitas finansial, menjaga daya beli masyarakat, serta memastikan keberlanjutan arus investasi nasional secara inklusif. Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemerintah terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter bersama Bank Indonesia guna meredam dampak gejolak nilai tukar terhadap perekonomian domestik. Menurutnya, APBN menjalankan peran vital sebagai peredam kejutan (shock absorber) untuk melindungi daya beli masyarakat berpenghasilan rendah dari potensi dampak kenaikan harga barang-barang impor (imported inflation). Pengelolaan defisit anggaran secara disiplin, efisiensi belanja negara, serta optimalisasi penerimaan perpajakan dan non-pajak dipastikan tetap terjaga dengan aman guna menopang kepastian iklim usaha dan memberikan tingkat kepercayaan yang tinggi bagi pasar keuangan global. Suahasil menjelaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat berdaya tahan, didukung oleh laju pertumbuhan ekonomi yang konsisten berada di atas lima persen, tingkat inflasi nasional yang terkendali dalam sasaran target, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus secara beruntun. Pemerintah memberikan kepastian bagi dunia usaha bahwa ketahanan fiskal Indonesia sangat memadai untuk menghadapi guncangan eksternal. Instrumen insentif perpajakan dan kemudahan fasilitas kepabeanan tetap dialokasikan secara tepat sasaran untuk mendukung industri manufaktur berorientasi ekspor serta mendorong penggunaan komponen dalam negeri demi menekan ketergantungan bahan baku impor. Menjaga fundamental ekonomi di tengah tekanan fluktuasi mata uang merupakan wujud tanggung jawab kepemimpinan ekonomi yang matang dan berpandangan jauh ke depan. Pemerintah memberikan penegasan yang jelas kepada publik bahwa stabilitas Rupiah ditopang oleh kekuatan sektor riil dan cadangan devisa yang mencuputi. Ketegasan pemerintah dalam mendorong pendalaman pasar keuangan serta optimalisasi penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam di dalam negeri menjadi instrumen hukum yang sangat krusial untuk memperkuat ketersediaan likuiditas valuta asing di pasar domestik. Penguatan fundamental ini juga diperkokoh melalui pengawasan ketat terhadap efisiensi belanja BUMN dan korporasi swasta yang memiliki kewajiban utang luar negeri. Koordinasi berkala dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan setiap potensi risiko likuiditas terdeteksi dan dimitigasi secara terukur sebelum berdampak pada sektor perbankan nasional. Langkah pencegahan yang terintegrasi ini menjamin bahwa seluruh industri keuangan nasional memiliki bantalan modal yang sangat tebal dalam menghadapi gejolak eksternal. Langkah percepatan penataan ekosistem modal usaha dan daya saing industri dalam negeri ini berjalan selaras dengan dorongan penanaman modal strategis. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani mengatakan ketahanan fundamental ekonomi nasional menjadi faktor penentu utama yang menjaga kepercayaan para investor global untuk tetap menanamkan modal jangka panjang di Indonesia. Menurutnya, dinamika kurs jangka pendek tidak menyurutkan minat investasi langsung (Foreign Direct Investment) karena daya tarik Indonesia terletak pada besarnya potensi pasar domestik, kelimpahan sumber daya alam, dan ketegasan kebijakan hilirisasi industri.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.