• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Tanam Serentak Dipercepat, Ketahanan Pangan Nasional Diperkuat

Tanam Serentak Dipercepat, Ketahanan Pangan Nasional Diperkuat

  • Kata Indonesia
  • - Friday, 8 May 2026

Tanam Serentak Dipercepat, Ketahanan Pangan Nasional Diperkuat

JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat Gerakan Tanam Serempak Nasional sebagai langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan di tengah dinamika perubahan iklim dan tantangan global.

 

Program ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga stabilitas produksi sekaligus mempercepat pemulihan sektor pertanian nasional.

 

Gerakan tanam serentak dilaksanakan secara luas di 25 provinsi dengan target mencapai sekitar 50 ribu hektare.

 

Kegiatan ini melibatkan puluhan ribu peserta, mulai dari petani, penyuluh, hingga pemerintah daerah yang bergerak bersama memastikan percepatan masa tanam berjalan optimal di berbagai wilayah.

 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa percepatan tanam serempak merupakan langkah konkret pemerintah dalam menjaga kesinambungan produksi pangan nasional.

 

Menurutnya, gerakan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan luas tanam, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pemulihan lahan pertanian, khususnya yang terdampak bencana.

 

“Gerakan tanam serempak ini adalah bentuk nyata komitmen pemerintah dalam memastikan produksi pangan tetap terjaga. Kami menargetkan seluruh proses tanam dapat diselesaikan dalam waktu satu bulan agar siklus produksi tidak terganggu dan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi,” ujar Amran.

 

Ia juga mengapresiasi keterlibatan aktif seluruh pihak, mulai dari gubernur, bupati, penyuluh, hingga petani di lapangan.

 

“Sinergi ini menjadi kunci. Ketahanan pangan tidak bisa dibangun sendiri, tetapi melalui kerja bersama yang terkoordinasi dan berkelanjutan,” tambahnya.

 

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti, menjelaskan bahwa luasan tanam mencakup berbagai program strategis seperti optimalisasi lahan, cetak sawah rakyat, hingga rehabilitasi lahan terdampak bencana.

 

“Gerakan ini mencakup sekitar 50 ribu hektare yang tersebar di berbagai wilayah. Ini adalah langkah strategis untuk memastikan lahan-lahan yang sudah siap bisa segera ditanami, sehingga produksi tetap terjaga dan meningkat,” jelasnya.

 

Arsanti menekankan pentingnya peran penyuluh dan petani sebagai ujung tombak keberhasilan program. “Penyuluh dan petani memastikan setiap tahapan berjalan tepat waktu. Dengan pengawalan intensif, kita optimistis produktivitas dapat terus ditingkatkan,” tegasnya.

 

Selain itu, Kementan juga mendorong pemanfaatan teknologi pertanian modern seperti rice transplanter dan drone untuk meningkatkan efisiensi tanam serta mengatasi keterbatasan tenaga kerja. Modernisasi ini diyakini mampu mempercepat proses tanam sekaligus meningkatkan hasil produksi secara signifikan.

 

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi, menyampaikan bahwa percepatan tanam juga menjadi langkah antisipatif menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

 

“Percepatan tanam di akhir musim hujan menjadi strategi penting agar tanaman dapat memanfaatkan ketersediaan air secara optimal. Kami juga memperkuat pompanisasi, pemetaan daerah rawan kekeringan, serta pembangunan infrastruktur air seperti embung dan sumur bor,” ujarnya.

 

Lebih lanjut, pemerintah mendorong penggunaan varietas benih tahan kekeringan serta penerapan Good Agricultural Practices (GAP) untuk menjaga produktivitas di tengah tantangan iklim. Pembentukan brigade kekeringan di tingkat lapangan juga dilakukan guna memastikan respons cepat terhadap potensi gangguan produksi.

Pulung Agustanto: Penetapan Desil Belum Cerminkan Realitas Ekonomi, Pemerintah Didesak Bersikap Tanggap

September 3, 2026

Bersama Mengawal Pencegahan, Pemadaman, dan Hukum Tegas dalam Karhutla

September 3, 2026

Pulung Agustanto: Penetapan Desil Belum Cerminkan Realitas Ekonomi, Pemerintah Didesak Bersikap Tanggap

By Kata IndonesiaSeptember 3, 20260

Anggota Komisi IX DPR RI, Pulung Agustanto, menyoroti maraknya keluhan dari kalangan buruh kelas bawah,…

Bersama Mengawal Pencegahan, Pemadaman, dan Hukum Tegas dalam Karhutla

By Kata IndonesiaSeptember 3, 20260

Bersama Mengawal Pencegahan, Pemadaman, dan Hukum Tegas dalam Karhutla Oleh : Abdul Razak Kebakaran hutan…

Negara Bergerak, TNI dan Kementerian PU Perkuat Penanganan Karhutla

By Kata IndonesiaSeptember 3, 20260

Negara Bergerak, TNI dan Kementerian PU Perkuat Penanganan Karhutla Jakarta – Pemerintah terus membuktikan komitmen…

Pemerintah Galang Kekuatan Nasional Atasi Karhutla di Sejumlah Wilayah

By Kata IndonesiaSeptember 3, 20260

Pemerintah Galang Kekuatan Nasional Atasi Karhutla di Sejumlah Wilayah Jakarta – Pemerintah terus menggalang kekuatan…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.