• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Kesehatan»Rencana Vaksinasi Dosis Keempat Covid-19 Perlu Mendapat Dukungan

Rencana Vaksinasi Dosis Keempat Covid-19 Perlu Mendapat Dukungan

  • Kata Indonesia
  • - Saturday, 30 July 2022

Rencana Vaksinasi Dosis Keempat Covid-19 Perlu Mendapat Dukungan

Oleh : Nofri Fahrozi

Rencana pemberian vaksinasi dosis keempat atau booster kedua dari Covid-19 yang dicanangkan oleh Kemenkes perlu untuk mendapatkan dukungan dari berbagai pihak.

Kenaikan kasus Covid-19 harus diantisipasi dengan memperkuat antibodi masyarakat, selain itu terdapat prediksi bahwa pandemi akan berlangsung dalam waktu cukup lama.

Belakangan dengan terus meningkatnya penularan Covid-19 dari subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di dunia, bahkan juga termasuk di Indonesia, banyak sekali upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah untuk bisa menekan laju infeksi virus tersebut.

Secara resmi pada 22 Juli 2022, pihak Kemensetneg juga sudah meneken larangan bepergian ke luar negeri bagi seluruh pejabat kecuali hanya dalam kondisi yang sangat esensial saja.

Hal itu menjadi salah satu kebijakan yang patut diterapkan supaya benar-benar mampu meminimalisasi kemungkinan risiko penularan Covid-19.

Selain itu, dengan adanya kebijakan pembatasan untuk bepergian ke luar negeri, maka diharapkan seluruh pejabat mampu untuk lebih berfokus kepada daerah mereka masing-masing demi melakukan pencegahan penularan pandemi Covid-19, terus membantu akselerasi vaksin ke semua pelosok negeri dan juga meningkatkan aturan mengenai kewajiban melakukan protokol kesehatan termasuk kegiatan masyarakat.

Membicarakan mengenai kebijakan akselerasi vaksin, saat ini Pemerintah juga terus berupaya selain supaya vaksin bisa disebarluaskan secara merata ke seluruh masyarakat, namun juga belakangan terdapat rencana yang telah digodok oleh Kementerian Kesehatan RI mengenai wacana pemberian vaksin Covid-19 dosis keempat atau booster kedua.
Pihak Kemenkes RI menyatakan bahwa wacana untuk pemberian booster kedua tersebut menyusul karena pemberian vaksinasi dosis booster juga terus digenjot. Data menunjukkan bahwa masih belum ada 50 persen dari target masyarakat Indonesia yang telah disuntik booster, untuk itu penyelenggaraan booster akan terus dilakukan.
Perlu diketahui bahwa sejauh ini sudah ada lebih dari 53 juta orang yang telah menerima vaksin dosis ketiga (booster). Maka dari itu Pemerintah juga akan terus mengejar target itu terlebih dahulu sebelum nantinya akan benar-benar melaksanakan upaya pemberian dosis keempat atau booster kedua kepada seluruh masyarakat.
Mengenai kenapa sudah mulai ada itu, Mohammad Syahril selaku Juru Bicara Kemenkes RI menyatakan wacana pemberian dosis keempat dikarenakan memang sifat dari pembentukan antibodi manusia setelah diberikan vaksin hanya akan bertahan selama enam bulan saja. Jika sudah lebih dari 6 bulan namun ternyata pandemi Covid-19 masih ada dan merebak di Indoneia, maka penguatan dosis vaksin atau pemberian booster tentu akan sangat penting dilakukan, khususnya bagi mereka kelompok yang rentan terinfeksi virus.
Memang kebijakan mengenai penanganan Covid-19 pasti akan terus dievaluasi oleh Pemerintah menyusul bagaimana kondisi update terbaru dari pandemi itu sendiri. Karena sifat dari virus sendiri yang sangat mudah melakukan mutasi dan beradaptasi, sehingga manusia harus mampu untuk terus melawannya sehingga bukan tidak mungkin akan terus terjadi perubahan kebijakan pula di masa mendatang mengenai Covid-19. Pihak-pihak yang rentan seperti tenaga kesehatan, lansia dan juga mereka yang melayani publik harus diutamakan jika memang program vaksinasi booster kedua ini sudah mulai dilakukan.
Meski Jubir Kemenkes RI tersebut menyatakan bahwa sebenarnya pemberian vaksinasi booster ini tidaklah mampu secara 100 persen membuat seseorang menjadi kebal virus, namun setidaknya risiko keterjangkitan pasti akan mampu diminimalisasi dan jika semisal seseorang telah terinfeksi, maka gejala yang dia alami pastinya tidak akan menjadi berat sehingga mampu melawan ancaman terburuk yakni kematian akibat Covid-19, bahkan mungkin mereka yang sudah menerima seluruh dosis vaksin secara lengkap tak perlu lagi menjalani perawatan di Rumah Sakit jika suatu hari terinfeksi karena antibodi mereka sudah kuat.
Syahril menyatakan kalau dewasa ini, seseorang yang terkena Covid-19 memang ternyata tidak perlu dirawat secara intensif lagi di Rumah Sakit, sangatlah berbeda dengan kejadian gelombang varian Delta dulu. Sekarang masyarakat yang terinfeksi diimbau untuk cukup melakukan isolasi secara mandiri saja. Selain itu Pemerintah juga sangat berhasil dalam menekan risiko kematian akibat Covid-19 bahkan hingga di bawah 10 kasus per harinya.
Sebenarnya pemberian vaksin dosis keempat ini sudah mulai dilakukan di Malaysia, namun untuk di Indonesia sendiri, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu manyatakan bahwa saat ini seluruh masyarakat harus menjalani vaksin dosis ketiga terlebih dahulu, sehingga hal itu menjadi prioritas Kemenkes. Jika nantinya target capaian sudah tercapai, maka bukan tidak mungkin memang akan ada opsi untuk pemberian booster kedua.
Wacana mengenai pemberian vaksin keempat atau booster kedua itu juga sebenarnya sejalan dari bagaimana prediksi para pakar epidemiolog mengenai pandemi Covid-19 ini yang menurut mereka akan terus berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Sehingga wacana Pemerintah ini patut diberikan dukungan karena demi kepentingan semua rakyat supaya Indonesia mampu segera terbebas dari belenggu pandemi.

)* Penulis adalah kontributor Forum Literasi Palembang

Verifikasi dan Validasi Koperasi Merah Putih Dikebut, Pemerintah Targetkan Belasan Ribu Titik Rampung

September 30, 2026

Mengawal Kesiapsiagaan Bencana Sebelum Hujan Ekstrem Datang

September 30, 2026

Verifikasi dan Validasi Koperasi Merah Putih Dikebut, Pemerintah Targetkan Belasan Ribu Titik Rampung

By Kata IndonesiaSeptember 30, 20260

Verifikasi dan Validasi Koperasi Merah Putih Dikebut, Pemerintah Targetkan Belasan Ribu Titik Rampung Jakarta -…

Mengawal Kesiapsiagaan Bencana Sebelum Hujan Ekstrem Datang

By Kata IndonesiaSeptember 30, 20260

Mengawal Kesiapsiagaan Bencana Sebelum Hujan Ekstrem Datang   Oleh: Rizky Adinata Kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi perlu diperkuat sebelum hujan ekstrem datang, menyusul prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa musim hujan 2026/2027 memiliki pola yang perlu diwaspadai. Meski awal musim hujan diperkirakan berlangsung lebih lambat di sejumlah wilayah, jarak menuju puncak musim hujan relatif berdekatan sehingga potensi lonjakan curah hujan dapat meningkatkan risiko banjir, tanah longsor, angin kencang, dan gangguan pelayanan publik. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana tidak seharusnya baru dilakukan ketika hujan deras mulai menimbulkan dampak, tetapi harus dipersiapkan sejak jauh hari melalui koordinasi pemerintah dan partisipasi masyarakat. BMKG memprakirakan sebanyak 185 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 24,66 persen luas daratan Indonesia mulai memasuki musim hujan pada November 2026. Selanjutnya, sebanyak 266 ZOM atau 17,3 persen wilayah daratan diperkirakan menyusul pada Desember 2026. Di sisi lain, sebanyak 529 ZOM atau 61,08 persen wilayah mengalami kemunduran awal musim hujan dibandingkan rata-rata klimatologinya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemerintah daerah perlu memahami karakteristik cuaca di wilayah masing-masing agar kebijakan kesiapsiagaan dapat disusun secara tepat dan tidak bersifat seragam. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah jarak antara awal musim hujan dengan puncak musim yang diperkirakan cukup dekat. Puncak musim hujan diproyeksikan terjadi pada Desember 2026 di 155 ZOM, Januari 2027 di 162 ZOM, dan Februari 2027 di 190 ZOM. Menurut Ardhasena Sopaheluwakan, kondisi tersebut perlu diantisipasi karena curah hujan tinggi dalam periode yang berdekatan dapat memicu bencana hidrometeorologi apabila kapasitas lingkungan dan infrastruktur tidak memadai. Meskipun durasi musim hujan pada sebagian wilayah diperkirakan lebih pendek, akumulasi curah hujan tidak berarti berada pada kondisi rendah. BMKG mencatat 510 ZOM atau sekitar 69,7 persen daratan berada dalam kategori curah hujan normal, sedangkan 147 ZOM atau 18,5 persen daratan diperkirakan berada di atas normal. Data tersebut memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan tetap diperlukan karena besarnya curah hujan dan kondisi wilayah menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat risiko bencana. Karena itu, rekomendasi BMKG perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata lintas sektor. Di bidang pangan, pemerintah dapat menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas berumur pendek. Pada sektor air dan energi, kapasitas drainase, waduk, serta tampungan air perlu dioptimalkan. Sementara itu, sektor kesehatan perlu meningkatkan kewaspadaan…

Kesiapsiagaan Bencana, Upaya Pemerintah Melindungi Warga

By Kata IndonesiaSeptember 30, 20260

Kesiapsiagaan Bencana, Upaya Pemerintah Melindungi Warga Oleh: Hendra Gunawan Kesiapsiagaan bencana semakin penting ditempatkan sebagai…

Pemerintah Ingatkan Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi saat Musim Hujan

By Kata IndonesiaSeptember 30, 20260

Pemerintah Ingatkan Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi saat Musim Hujan Jakarta – Pemerintah mengingatkan masyarakat dan seluruh…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.