• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Nasional»Pemerintah Berkomitmen Capai Swasembada Beras

Pemerintah Berkomitmen Capai Swasembada Beras

  • Kata Indonesia
  • - Saturday, 23 July 2022

Pemerintah Berkomitmen Capai Swasembada Beras

Oleh: Astari Kusuma Dewi

Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mencapai terjadinya swasembada beras di Indonesia. Swasembada beras akan membuat Indonesia menjadi negara yang mandiri dalam penyediaan pangan untuk rakyat, dan untuk terhindar dari ketergantungan impor.

Swasembada adalah usaha atau kemampuan untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. Dengan demikian swasembada beras adalah kemampuan dari Indonesia untuk mencukupi kebutuhan produksi beras dalam negeri.

Berdasarkan ketetapan Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 1999, suatu negara dikatakan swasembada apabila produksinya mencapai 90 persen dari kebutuhan nasional. FAO merupakan organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani masalah pangan dan pertanian.

Organisasi ini bertujuan untuk mencapai peningkatan taraf nutrisi dan taraf hidup bagi manusia melalui pengelolaan pangan dan pertanian, pembangunan di pedesaan dan pengurangan kasus kelaparan.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) optimis dalam beberapa waktu ke depan Indonesia akan mampu untuk mencapai swasembada beras. Hal ini disebabkan Indonesia memiliki segala potensi untuk mencukupi kebutuhan berasnya sendiri.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Presiden Jokowi karena sudah sejak tiga tahun Indonesia tidak mengimpor beras. Presiden Jokowi menambahkan bahwa Indonesia tidak boleh ketergantungan pada satu bahan pangan saja. Indonesia harus mampu memaksimalkan berbagai potensi pangan lainnya.
Mengoptimalkan potensi pangan lainnya diperlukan untuk menghadapi kondisi ketidakpastian global dan ancaman krisis pangan yang terjadi. Sehingga apabila salah satu sumber makanan pokok masyarakat mengalami kelangkaan akibat gagal panen, wabah, faktor cuaca, atau terhambat saat proses distribusi, masih ada bahan lain yang berguna sebagai substitusi. Sebagai informasi banyak yang dapat dikembangkan di Indonesia seperti sagu, sorgum, jagung, porang, ketela pohon, dan lain-lainnya. Diketahui pula sagu, dan jagung juga menjadi bagian dari makanan pokok di beberapa daerah di Indonesia karena kandungan gizi dasarnya yang cukup dan mudah ditemukan masyarakat.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung bidang Ekonomi Pertanian dan Sumber Daya Alam, Prof. Dr. Bustanul Arifin turut mengamini optimisme Presiden Jokowi bahwa Indonesia akan segera swasembada beras. Dirinya berpendapat bahwa Indonesia harus berdikari dalam persoalan pangan, karena terdapat proteksionisme dari negara mitra, dimana banyak negara yang melarang ekspor pangan, dan hal ini harus dipecahkan secara diplomasi ekonomi.
Kebijakan proteksionisme disebut juga sebagai proteksi perdagangan merupakan suatu kebijakan yang diambil oleh pemerintah suatu negara untuk campur tangan di dalam kegiatan ekspor dan impor dengan tujuan melindungi sektor ekonomi atau industri tertentu agar dapat bersaing di pasar global dan tidak kalah dalam persaingan internasional. Kebijakan proteksi perdagangan biasa diambil untuk memaksimalkan produksi dalam negeri, memperluas lapangan kerja, serta menjaga stabilitas nasional yang bisa terganggu bila suatu negara terlalu bergantung pada negara lain dalam pengadaan komoditas pangannya.
Prof. Bustanul Arifin menambahkan bahwa ketersediaan beras Indonesia selama tiga tahun terakhir masih terbilang aman, setelah diganggu musim kemarau ekstem pada 2018 yang lalu. Hal yang lebih membanggakan adalah sejak 2018, Pemerintah Indonesia tidak melakukan impor beras.
Pada tahun 2021, produksi beras Indonesia mencapai 31,4 juta ton beras, yang mana lebih tinggi dibandingkan dengan angka konsumsi yang berjumlah 30 juta ton. Produktivitas juga turut mengalami kenaikan sebesar 1,96% dari sebelumnya 5,11 ton/ha menjadi 5,23 ton/ha. Untuk tahun 2022, diketahui sampai Bulan Mei produksi beras telah mencapai 13,5 juta atau setengah dari angka kebutuhan tahunan. Harga beras medium juga stabil pada kisaran Rp.11.800/kg selama dua tahun terakhir.
Pokok permasalahan utama dari ketersediaan beras di Indonesia adalah luas panen padi yang berkurang 245.000 ha atau sekitar 2,34%. Penurunan luas lahan pertanian disebabkan oleh berbagai faktor, utamanya adalah akibat gencarnya alih fungsi lahan. Alih fungsi lahan atau konversi lahan adalah berubahnya satu penggunaan lahan ke penggunaan lahan lainnya. Misalnya lahan yang sebelumnya digunakan sebagai lahan pertanian dialihfungsikan menjadi lahan perkebunan sawit, pembangunan pabrik, ataupun pembangunan pemukiman untuk warga. Hal ini tentu harus diselesaikan secara lintas sektoral dengan melibatkan Pemerintah Daerah, agar luas lahan pertanian tidak terus berkurang.
Untuk itu Prof. Bustanul Arifin menyarankan agar Pemerintah Indonesia harus menyiapkan berbagai strategi antisipasi dan langkah kebijakan untuk menghadapi ancaman krisis pangan di masa depan. Dirinya memberikan beberapa masukan sebagai alternatif solusi untuk mengatasinya.
Untuk jangka pendek, dirinya menganjurkan untuk memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT), bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), dan lainnya untuk dilaksanakan dengan efektif, dari perkotaan sampai ke pelosok pedesaan. Kemudian harus adanya antisipasi dan langkah lebih detail pada setiap komoditas pangan yang strategis dan pangan lainnya yang sudah menjadi komoditas pangan daerah di Indonesia.
Pada jangka menengah, diperlukan pendampingan digitalisasi hasil produksi kepada petani oleh pendamping pertanian yang diutus resmi oleh Pemerintah. Pendampingan diperlukan untuk pemberdayaan petani agar petani memahami pertanian yang presisi, digitalisasi rantai nilai pangan, memahami serta dapat mengaplikasikan perubahan teknologi pertanian.
Pada akhirnya, komitmen Pemerintah Indonesia untuk mencapai terjadinya swasembada beras akan tercapai dengan melibatkan berbagai pihak. Swasembada beras akan tercapai bila setiap pihak terkait memiliki kesadaran untuk melaksanakan tugasnya dengan tepat dan bertanggungjawab. Swasembada beras seyogyanya tidak membuat Indonesia hanya tergantung kepada beras sebagai makanan pokoknya karena swasembada beras juga harus didukung diversifikasi bahan pangan lainnya. Namun, swasembada beras akan membuat Indonesia menjadi lebih kuat dalam memenuhi kebutuhan pokok pangan rakyatnya, tanpa ketergantungan impor.
*)Penulis adalah kontributor untuk Pertiwi Institute

HUT ke-81 TNI, Mengapresiasi Kekuatan Pertahanan yang Tumbuh Bersama Rakyat

October 3, 2026

Mengapresiasi Peran TNI, dari Evakuasi hingga Pemulihan Bencana

October 3, 2026

HUT ke-81 TNI, Mengapresiasi Kekuatan Pertahanan yang Tumbuh Bersama Rakyat

By Kata IndonesiaOctober 3, 20260

HUT ke-81 TNI, Mengapresiasi Kekuatan Pertahanan yang Tumbuh Bersama Rakyat Oleh: Javas Babad Alaska Peringatan…

Mengapresiasi Peran TNI, dari Evakuasi hingga Pemulihan Bencana

By Kata IndonesiaOctober 3, 20260

Mengapresiasi Peran TNI, dari Evakuasi hingga Pemulihan Bencana Oleh : Rahmat Prawira Indonesia merupakan negara…

Mengapresiasi Peran Yonif TP dalam Pertahanan dan Pembangunan Ekonomi Daerah

By Kata IndonesiaOctober 3, 20260

Mengapresiasi Peran Yonif TP dalam Pertahanan dan Pembangunan Ekonomi Daerah  Oleh: Syahrul Fahrozi Langkah pemerintah dalam meluncurkan serta mereorganisasi pilar pertahanan melalui Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) merupakan terobosan strategis yang amat penting dan patut diapresiasi. Kebijakan visioner ini menegaskan komitmen nyata dalam menghadirkan instrumen pertahanan nasional yang tidak hanya berfokus pada fungsi kedaulatan militer semata, melainkan juga bertindak sebagai motor penggerak utama pembangunan ekonomi di tingkat daerah. Konsep pertahanan negara yang ideal dan komprehensif sejatinya tidak pernah berdiri terisolasi dari kondisi sosial-ekonomi masyarakat di sekitarnya. Melalui pengembangan kekuatan pertahanan ini, keberadaan benteng keamanan di berbagai penjuru nusantara diintegrasikan secara presisi guna menjawab dua tantangan utama bangsa secara simultan, yaitu memperkuat ketahanan nasional sekaligus mengakselerasi peningkatan kesejahteraan rakyat. Inovasi kebijakan pada struktur militer ini memperlihatkan keunggulan, di mana setiap prajurit dibekali kualifikasi tempur infanteri yang handal sekaligus kapabilitas teritorial pembangunan yang adaptif. Selain wajib menguasai kemampuan taktis mendasar seperti menembak, beladiri, dan patroli wilayah, para prajurit disiapkan secara terstruktur dalam kompi-kompi khusus yang mencakup bidang produksi pertanian, peternakan, perikanan, konstruksi zeni, hingga pelayanan kesehatan masyarakat. Pembagian fungsi yang spesifik ini memungkinkan pangkalan militer berkontribusi langsung pada perbaikan sarana dan fasilitas umum masyarakat, seperti pembenahan akses jalan dan jembatan, pengolahan lahan-lahan kritis menjadi lahan produktif, serta penyediaan sarana pelayanan kesehatan warga secara berkala. Skema ini membuktikan bahwa pembaharuan Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta dapat diimplementasikan secara konkret dan memberikan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Dari perspektif pertumbuhan ekonomi daerah, penempatan satuan teritorial berkapasitas besar di berbagai wilayah memberikan dampak pengganda yang sangat signifikan terhadap roda perekonomian lokal. Kehadiran ribuan prajurit beserta keluarga yang bermukim di sekitar pangkalan secara otomatis menumbuhkan ceruk pasar baru yang sangat potensial. Permintaan akan pasokan kebutuhan pokok harian, komoditas pangan lokal, hingga ketersediaan jasa pendidikan dan sarana perumahan terbukti menstimulasi daya beli warga secara luas. Para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah serta pedagang di pasar-pasar tradisional mendapatkan kepastian keterserapan produk yang berkelanjutan. Penataan kembali fokus pangkalan militer ini secara efektif dan efisien berhasil mengubah kawasan di sekitarnya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu mengurangi tingkat ketimpangan pembangunan antarwilayah. Keberhasilan dalam mengimplementasikan agenda strategis pemerintah ini juga sangat bertumpu pada kuatnya sinergi antara instrumen militer, pemerintah daerah, dan segenap komponen masyarakat setempat. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa keberadaan Yonif TP ditujukan untuk senantiasa menyatu dengan rakyat, menghadirkan rasa aman secara berkelanjutan, serta memberikan manfaat nyata bagi pembangunan wilayah. Penempatan pangkalan militer di area-area strategis, seperti kawasan pesisir maupun wilayah batas terluar, ditargetkan untuk melindungi kekayaan sumber daya alam lokal sekaligus mendukung stabilitas kawasan ekonomi dan objek pariwisata daerah. Selain itu, pengalokasian patroli rutin berkala dan pengaktifan kembali Sistem Keamanan Lingkungan bersama warga menjadi langkah nyata dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi masuknya investasi serta keberlangsungan usaha warga. Dukungan penuh yang ditunjukkan oleh jajaran pemerintah daerah turut mempercepat pencapaian target penyiapan satuan teritorial ini secara optimal. Bupati Majalengka Eman Suherman menyampaikan bahwa keberadaan Yonif TP di wilayahnya memberikan dampak positif yang nyata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta memberdayakan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah setempat. Apresiasi senada juga diutarakan oleh Bupati Pangandaran Citra Pitriyami, yang menyatakan kesiapan penuh pemerintah daerah untuk menyinergikan berbagai program pembangunan daerah, khususnya pada sektor pertanian, peternakan, dan pelayanan kesehatan masyarakat, dengan fungsi teritorial militer. Kolaborasi lintas sektor yang terstruktur ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi yang terarah sanggup mempercepat pencapaian target-target pembangunan nasional secara inklusif. Dampak positif dari integrasi fungsi pertahanan dan pembangunan ini juga menjangkau hingga ke wilayah Indonesia bagian timur. Kasdam XV/Pattimura Brigjen TNI Wawan Pujiatmoko menjelaskan bahwa penempatan satuan berkapasitas lebih dari seribu personel di wilayah Maluku secara langsung menggerakkan roda perekonomian masyarakat lokal. Kebutuhan harian para prajurit dan keluarganya terbukti mendorong peningkatan daya beli, memperbaiki kualitas serta aksesibilitas layanan pendidikan, serta memperkuat program ketahanan pangan daerah melalui optimalisasi lahan-lahan pertanian yang dikelola bersama. Pendekatan terpadu ini menciptakan kemandirian pangan di tingkat lokal sekaligus mempererat hubungan kemanunggalan antara tentara dan rakyat dalam bingkai pembangunan wilayah secara berkelanjutan. Kehadiran dan penyebaran Yonif TP di berbagai daerah membuktikan secara nyata bahwa stabilitas keamanan nasional dan pertumbuhan ekonomi daerah merupakan dua pilar utama yang saling melengkapi dan menguatkan satu sama lain. Dengan terus menjaga keharmonisan sinergi antara prajurit TNI, pemerintah daerah, dan seluruh lapisan masyarakat, agenda strategis ini akan menjadi fondasi yang kokoh dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan sejahtera di masa depan.…

Dua Tahun Prabowo–Gibran, Apresiasi Penguatan Pertahanan, Selamat HUT ke-81 TNI

By Kata IndonesiaOctober 3, 20260

Dua Tahun Prabowo–Gibran, Apresiasi Penguatan Pertahanan, Selamat HUT ke-81 TNI Oleh: Indah Prameswari Memasuki dua…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.