• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Travel»KTT G20 Dorong Kebangkitan Ekonomi Pariwisata

KTT G20 Dorong Kebangkitan Ekonomi Pariwisata

  • Kata Indonesia
  • - Saturday, 26 February 2022

KTT G20 Dorong Kebangkitan Ekonomi Pariwisata

Oleh: Alfred Jigibalom

Pandemi telah mengubah adaptasi berbagai sektor, tak terkecuali sektor pariwisata yang sempat terdampak akibat adanya kebijakan pembatasan sosial. Sektor Pariwisata ternyata mendapatkan sorotan dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.

Rangkaian acara KTT G20 yang dihelat di Indonesia nyaris sepanjang tahun 2022 menjadi momentum untuk menunjukkan kepada dunia tentang bangkitnya pariwisata Indonesia dari pandemi serta komitmen untuk mendorong pariwisata berkelanjutan.

Penyelanggaran KTT G20 akan berlangsung dan terpusat di Bali. Sebagaimana diketahui, Pulau Dewata selama ini merupakan salah satu gerbang utama bagi wisatawan mancanegara yang hendak berkunjung ke Indonesia. Tidak hanya di Bali, pemerintah juga ingin memperkenalkan potensi destinasi unggulan lainnya di Tanah Air.

Oleh karena itu, sederet agenda side event yang menarik selama Presidensi G20 akan disebar di sejumlah destinasi wisata.

Sebanyak 19 Kota atau destinasi wisata di Indonesia, di mana 5 di antaranya merupakan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Seperti Labuan Bajo, Likupang, Mandalika, Borobudur dan Danau Toba, dipastikan akan ikut menjadi tuan rumah penyelenggaraan konferensi akbar tersebut.

Direktur Utama Badan Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) Shana Fatina mengatakan, kehadiran Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi side event penyelenggaraan konferensi G20 tentu menjadi sebuah isu penting tentang produktivitas juga pariwisata berkelanjutan, sekaligus pengembangan ekonomi digital setempat melalui jalur usaha kecil menengah (UKM) dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Shana menilai, sejak tahun 2019, wajah Labuan Bajo sudah dipoles dengan menghadirkan berbagai fasilitas publik yang diharapkan mampu memberi ruang bagi masyarakat dan juga wisatawan yang datang untuk dapat menikmati keindahan Labuan Bajo.
Kolaborasi yang terjalin antara pentahelix bersama dengan seluruh pemangku kepentingan dalam memajukan Labuan Bajo untuk menyambut penyelenggaraan KTT G20 terus dimaksimalkan dengan para stakeholder, dari pelaku usaha, komunitas juga media.
Dirinya menambahkan, badan otorita hadir tidak hanya sebagai representasi pemerintah pusat di daerah, tetapi juga mengoskestrasikan seluruh kepentingan dalam membangun pariwisata Labuan Bajo.
Sebelumnya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengatakan, tren pariwisata ke depan paska pandemi adalah pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Karanenanya dirinya mendorong agar investasi yang masuk juga mengutamakan keberlanjutan.
Sandiaga membayangkan, bila pada tahun 2030 seluruh destinasi pariwisata di Indonesia secara total menggunakan kendaraan listrik, maka hal itu tentu akan menjadi nilai tambah bagi Indonesia. Karena Indonesia ingin mewujudkan pariwisata yang lebih berkualitas dan berkelanjutan lingkungan.
Perlu diketahui juga bahwa Pariwisata berkelanjutan sendiri merupakan konsep berwisata yang memberikan dampak terhadap lingkungan, sosial, budaya, ekonomi untuk masa kini dan masa depan, baik itu bagi masyarakat lokal maupun wisatawan.
Menurut Sandiaga, seluruh aspek pemulihan pariwisata dari pandemi harus mengupayakan penerapan sustainable tourism sebagai suistainable recovery dan percepatan kesiapan destinasi super prioritas. Saat ini berbagai daya tarik Indonesia tengah diarahkan menuju aspek tersebut.
Sementara itu Presidensi G20 juga akan memberikan angin segar bagi sektor perhotelan untuk pulih kembali.
Senior Associate Director Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan presidensi G20 ini akan berdampak pada perhotelan di Bali karena menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi.
Pada tahun 2020 dan 2021 tingkat hunian hotel di Bali cenderung menunjukkan grafi yang flat. Tingkat okupansinya masih di bawah 60 persen jika dibandingkan tahun 2019 sebelum adanya pandemi Covid-19.
Ferry menjelaskan, kedatangan tamu internasional akan semakin meningkat selama persiapan hingga penyelenggaraan event KTT G20. Ini juga akan menambah okupansi atau tingkat hunian hotel di sejumlah wilayah. Sehingga hotel yang sebelumnya sepi karena pandemi, bisa mulai terisi kembali.
Dipilihnya Indonesia untuk memimpin G20 juga merupakan bentuk pengakuan atas statusnya sebagai salah satu negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Indonesia didnilai dapat mengorkestrasi agenda pembahasan pada G20 agar mendukung dan berdampak positif dalam pemulihan aktivitas perekonomian Indonesia.
Indonesia merupakan negara dengan potensi pariwisata yang luar biasa, kesempatan Indonesia menjadi tuan rumah KTT G20 harus bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan pariwisata Indonesia kepada negara-negara yang terlibat dalam event akbar tersebut.
)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Bali

Verifikasi dan Validasi Koperasi Merah Putih Dikebut, Pemerintah Targetkan Belasan Ribu Titik Rampung

September 30, 2026

Mengawal Kesiapsiagaan Bencana Sebelum Hujan Ekstrem Datang

September 30, 2026

Verifikasi dan Validasi Koperasi Merah Putih Dikebut, Pemerintah Targetkan Belasan Ribu Titik Rampung

By Kata IndonesiaSeptember 30, 20260

Verifikasi dan Validasi Koperasi Merah Putih Dikebut, Pemerintah Targetkan Belasan Ribu Titik Rampung Jakarta -…

Mengawal Kesiapsiagaan Bencana Sebelum Hujan Ekstrem Datang

By Kata IndonesiaSeptember 30, 20260

Mengawal Kesiapsiagaan Bencana Sebelum Hujan Ekstrem Datang   Oleh: Rizky Adinata Kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi perlu diperkuat sebelum hujan ekstrem datang, menyusul prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa musim hujan 2026/2027 memiliki pola yang perlu diwaspadai. Meski awal musim hujan diperkirakan berlangsung lebih lambat di sejumlah wilayah, jarak menuju puncak musim hujan relatif berdekatan sehingga potensi lonjakan curah hujan dapat meningkatkan risiko banjir, tanah longsor, angin kencang, dan gangguan pelayanan publik. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana tidak seharusnya baru dilakukan ketika hujan deras mulai menimbulkan dampak, tetapi harus dipersiapkan sejak jauh hari melalui koordinasi pemerintah dan partisipasi masyarakat. BMKG memprakirakan sebanyak 185 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 24,66 persen luas daratan Indonesia mulai memasuki musim hujan pada November 2026. Selanjutnya, sebanyak 266 ZOM atau 17,3 persen wilayah daratan diperkirakan menyusul pada Desember 2026. Di sisi lain, sebanyak 529 ZOM atau 61,08 persen wilayah mengalami kemunduran awal musim hujan dibandingkan rata-rata klimatologinya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemerintah daerah perlu memahami karakteristik cuaca di wilayah masing-masing agar kebijakan kesiapsiagaan dapat disusun secara tepat dan tidak bersifat seragam. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah jarak antara awal musim hujan dengan puncak musim yang diperkirakan cukup dekat. Puncak musim hujan diproyeksikan terjadi pada Desember 2026 di 155 ZOM, Januari 2027 di 162 ZOM, dan Februari 2027 di 190 ZOM. Menurut Ardhasena Sopaheluwakan, kondisi tersebut perlu diantisipasi karena curah hujan tinggi dalam periode yang berdekatan dapat memicu bencana hidrometeorologi apabila kapasitas lingkungan dan infrastruktur tidak memadai. Meskipun durasi musim hujan pada sebagian wilayah diperkirakan lebih pendek, akumulasi curah hujan tidak berarti berada pada kondisi rendah. BMKG mencatat 510 ZOM atau sekitar 69,7 persen daratan berada dalam kategori curah hujan normal, sedangkan 147 ZOM atau 18,5 persen daratan diperkirakan berada di atas normal. Data tersebut memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan tetap diperlukan karena besarnya curah hujan dan kondisi wilayah menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat risiko bencana. Karena itu, rekomendasi BMKG perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata lintas sektor. Di bidang pangan, pemerintah dapat menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas berumur pendek. Pada sektor air dan energi, kapasitas drainase, waduk, serta tampungan air perlu dioptimalkan. Sementara itu, sektor kesehatan perlu meningkatkan kewaspadaan…

Kesiapsiagaan Bencana, Upaya Pemerintah Melindungi Warga

By Kata IndonesiaSeptember 30, 20260

Kesiapsiagaan Bencana, Upaya Pemerintah Melindungi Warga Oleh: Hendra Gunawan Kesiapsiagaan bencana semakin penting ditempatkan sebagai…

Pemerintah Ingatkan Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi saat Musim Hujan

By Kata IndonesiaSeptember 30, 20260

Pemerintah Ingatkan Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi saat Musim Hujan Jakarta – Pemerintah mengingatkan masyarakat dan seluruh…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.