• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Mendukung Pemindahan Ibu Kota Sebagai Upaya Pemerataan Pembangunan

Mendukung Pemindahan Ibu Kota Sebagai Upaya Pemerataan Pembangunan

  • Kata Indonesia
  • - Wednesday, 15 January 2020

Oleh: Edi Jatmiko

Wacana pemindahan Ibukota di Indonesia rupanya menjadi pembahasan yang serius bagi pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Masyarakat pun mendukung rencana pemindahan lokasi Ibu Kota karena akan berdampak positif terhadap pertumbuhan pusat ekonomi baru dan pemerataan pembangunan.

Ketua DPR Bambang Soesatyo, memberikan dukungan kepada pemerintah terkait dengan rencana memmindahkan Ibu Kota. Bambang berharap kebijakan ini bisa meningkatkan perekonomian Indonesia.
Pihaknya juga mengingatkan agar pemerintah dapat melibatkan semua pihak dalam mengkaji kebijakan pemindahan ibu kota ini. Apabila kajian dilakukan secara mendalam, dirinya meyakini bahwa pemindahan ibu kota bisa memberikan manfaat kepada masyarakat.
Pemindahan Ibukota juga dinilai sebagai upaya menghindari konflik. Turro Wongkaren selaku Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI menyatakan, dari sisi demografi, Kalimantan Timur memilki indeks pertumbuhan manusia yang lebih tinggi dibandingkan dengan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, bahkan dengan daerah lain di Indonesia.

Sementara itu, Himpunan Kawasan Industri Indonesia juga mendukung rencana pemerintah tersebut, hal ini dikarenakan Pulau Kalimantan merupakan wilayah yang strategis baik secara geografis maupun ekonomi.
Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Sanny Iskandar mengatakan, pemindahan Ibukota dari Pulau Jawa ke Kalimantan secara bertahap akan berdampak positif terhadap pertumbuhan pusat ekonomi baru.
Jika dilihat dari sisi kemaritiman, Sanny menilai bahwa pemindahan Ibu Kota tersebut akan menumbuhkan pusat-pusat pelabuhan dan logistik baru yang sejalan pula dengan konsep pengangkutan barang melalui tol laut yang telah dirintis oleh Presiden Joko Widodo dalam pemerintahannya yang sudah berjalan hampir 5 tahun.
Dari segi sosial politik dan budaya, Sanny mengungkapkan pemindahan Ibu Kota juga dapat menggeser pola pikir yang selama ini berorientasi pada jawa-sentris untuk menjadi Indonesia-sentris dan lebih berorientasi pada upaya untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pada kesempatan sidang bersama DPR RI dan DPD RI, Presiden Joko Widodo tidak hanya meminta izin, tetapi juga dukungan dar anggota DPR, para sesepuh, tokoh bangsa dan rakyat Indonesia untuk memindahkan Ibu Kota ke Kalimantan.
Presiden Joko Widodo juga menyatakan bahwa Ibu Kota tidak hanya simbol identitas bangsa, melainkan juga representasi kemajuan bangsa. Menurut mantan Walikota Surakarta tersebut, pemindaha Ibu Kota dilakukan demi terwujudnya pemerataan dan keadilan ekonomi.
Rencana pemindahan Ibu Kota juga didukung oleh Wali Kota Bogor Bima Arya, dirinya berharap semua proses pemindahan Ibu Kota dapat berjalan dengan lancar dan masyarakat juga harus menyambut rencana tersebut dengan sukacita.
Dirinya yakin, bahwa keputusan terkait pemindahan Ibu Kota ke pulau Kalimantan tersebut bukanlah perkara sembarangan, karena sudah melalui berbagai kajian dan pertimbangan secara matang.

Sebelumnya, Pengamat kebijakan publik dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Dr. Slamet Rosyadi menilai bahwa pemindahan ibukota negara ke wilayah lain bisa memberikan dampak pada pemerataan ekonomi.
Slamet juga mencontohkan, pemisahan kota dagang dan industri dengan ibukota negara akan membawa dampak yang positif.
Seperti Australia. Dimana Canberra sebagai ibukota negara, bukan merupakan kota dagang atau industri. Dari awal Canberra merupakan pusat administrasi pemerintahan. Hal tersebut dimaksudkan supaya warga yang membutuhkan layanan administrasi akan mengalami kemudahan. Tidak perlu bersusah payah karena kemacetan.

Sebagai Daerah Khusus Ibukota, Jakarta tentu saja menjadi magnet yang kuat untuk menarik berbagai aktifitas maupun manusia dari berbagai daerah lain untuk masuk ke Jakarta dengan berbagai maksud dan tujuan.
Kini Jakarta sudah menjadi kota megapolitan, semua pusat kegiatan baik pemerintahan, bisnis, wisata, kuliner dan berbagai macam kegiatan lainnya, semua itu menyatu di Jakarta. Hasilnya Jakarta dan sekitarnya menjadi sangat sesak dan terbebani,
Sehingga menjadi sebuah pemandangan umum ketika warga Jakarta berangkat menuju tempat kerja sejak selesai shubuh dan kembali ke rumah saat hari mulai gelap.

Kita juga tidak perlu khawatir apabila nantinya Ibu Kota akan Pindah dari Jakarta, meskipun akan ada kekhawatiran ekonomi Jakarta akan melambat. Namun dengan kondisi ekonomi Jakarta dengan perputaran uang yang besar, Kota Jakarta masih tergolong sangat kuat dan mandiri untuk menopang kehidupannya sendiri.

Pemerintah Dorong Revitalisasi dan Digitalisasi Sekolah Wilayah 3T dan Daerah Terdampak Bencana

October 26, 2026

APBN 2027: Menjaga Daya Beli Sambil Mempercepat Investasi

October 26, 2026

Pemerintah Dorong Revitalisasi dan Digitalisasi Sekolah Wilayah 3T dan Daerah Terdampak Bencana

By Kata IndonesiaOctober 26, 20260

Pemerintah Dorong Revitalisasi dan Digitalisasi Sekolah Wilayah 3T dan Daerah Terdampak Bencana Jakarta – Pemerintah…

APBN 2027: Menjaga Daya Beli Sambil Mempercepat Investasi

By Kata IndonesiaOctober 26, 20260

APBN 2027: Menjaga Daya Beli Sambil Mempercepat Investasi Oleh: Dhita Karuniawati Pemerintah menempatkan Anggaran Pendapatan…

MBG 2.0 Menandai Peralihan dari Perluasan Menuju Penguatan Kualitas

By Kata IndonesiaOctober 26, 20260

MBG 2.0 Menandai Peralihan dari Perluasan Menuju Penguatan Kualitas Oleh: Rangga Mahendra Program Makan Bergizi…

Peningkatan Kontribusi Hilirisasi Membuka Peluang Penguatan Industri Nasional 

By Kata IndonesiaOctober 26, 20260

Peningkatan Kontribusi Hilirisasi Membuka Peluang Penguatan Industri Nasional  Oleh: Bara Winatha Peningkatan kontribusi hilirisasi terhadap investasi dan ekspor membuka peluang strategis bagi penguatan industri nasional di tengah dinamika ekonomi global. Melalui pengolahan sumber daya alam di dalam negeri, Indonesia berpeluang meningkatkan nilai tambah produk, menciptakan lapangan kerja, mengembangkan teknologi, dan memperbesar penerimaan devisa. Namun, keberhasilannya tidak cukup diukur dari pertumbuhan investasi semata, melainkan juga dari kemampuan membangun industri yang produktif, kompetitif, dan berkelanjutan. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa kontribusi investasi hilirisasi mencapai 35 persen pada triwulan III 2026, meningkat dari 26 persen pada 2024. Kenaikan tersebut menunjukkan semakin besarnya peran kegiatan pengolahan dalam struktur investasi nasional sekaligus memperkuat arah pembangunan ekonomi berbasis nilai tambah. Menurut Rosan, investasi perlu menghasilkan manfaat yang lebih luas, terutama penyerapan tenaga kerja, peningkatan kemampuan teknologi, dan penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Pengembangan industri nikel dan baterai kendaraan listrik menjadi salah satu fokus pemerintah. Dalam pelaksanaannya, keseimbangan antara ketersediaan bahan baku, kapasitas pengolahan, dan kebutuhan industri lanjutan harus dijaga agar ekspansi produksi disertai peningkatan kualitas manufaktur. Prospek hilirisasi juga tercermin dalam proyeksi ekspor yang disampaikan Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN, Septian Hario Seto, memperkirakan nilai ekspor produk hilirisasi mencapai US$50 miliar pada akhir 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 45 persen dibandingkan capaian 2024 sebesar US$34,5 miliar. Pertumbuhan diperkirakan terutama berasal dari pengolahan nikel, aluminium, serta komponen baterai litium. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa basis hilirisasi Indonesia mulai meluas. Septian memperkirakan ekspor produk aluminium mencapai US$7,2 miliar pada 2026, lebih dari dua kali lipat nilai 2024 sebesar US$3,5 miliar. Peningkatan kapasitas produksi dan rencana investasi fasilitas peleburan aluminium atau smelter menjadi faktor pendukung pertumbuhan sektor ini. Di sisi lain, industri baterai menawarkan peluang untuk memperkuat penguasaan teknologi. Indonesia mulai mengembangkan produksi komponen kendaraan listrik, termasuk anoda dan katoda, serta memiliki fasilitas pemurnian litium meskipun tidak mempunyai sumber daya litium domestik. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan industri dapat ditempuh melalui kemampuan pengolahan, integrasi rantai pasok, dan kerja sama teknologi, bukan semata kepemilikan bahan mentah.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.