• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Nasional»Warga Diharap Tidak Mudik saat Nataru untuk Cegah Corona

Warga Diharap Tidak Mudik saat Nataru untuk Cegah Corona

  • Kata Indonesia
  • - Tuesday, 14 December 2021

Warga Diharap Tidak Mudik saat Nataru untuk Cegah Corona

Oleh : Kevin Rudolf

Saat libur Natal dan tahun baru (Nataru) ada tanggal merah tetapi warga diharap untuk tidak mudik terlebih dahulu karena masih masa pandemi Covid-19. Tetaplah sabar dan tenang saat Nataru dan berbahagialah dengan beristirahat di dalam rumah.

Apa rencana Anda di akhir tahun? Jika dulu akhir tahun identik dengan libur panjang, traveling ke luar kota, atau mudik sekejap ke kampung halaman. Akan tetapi sejak dunia dilanda pandemi, semua berubah. Traveling dilarang keras karena pergerakan massal bisa memicu kenaikan kasus Corona, sehingga kita diharap untuk menahan diri.

Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan mudik saat Nataru, karena untuk mengantisipasi peningkatan Corona. Tiap peraturan pemerintah harus ditaat. Ini semua demi kebaikan bersama. Taati protokol kesehatan dan sayangi keluarga.

Jika masyarakat menaati protokol kesehatan dan membatalkan niat mudik saat Nataru maka otomatis mereka menyayangi keluarga di desa. Walau tidak bisa bersua secara fisik tetapi keputusan untuk tidak pulang kampung adalah tepat, karena justru saat nekat mudik, mereka bisa saja membawa virus Covid-19 yang didapat dari perjalanan.
Tentu sebagai anak kita wajib berbakti dan mengunjungi orang tua, tetapi saat pandemi harus lebih hati-hati. Jika ayah dan ibu malah tertular Corona gara-gara anaknya mudik, akan sangat kasihan. Apalagi jika mereka belum divaksin karena punya komorbid, resikonya akan lebih besar lagi.
Saat ini virus Covid-19 sudah bermutasi menjadi varian Omicron dan virus hasil mutasi bisa lebih cepat penyebarannya. Oleh karena itu kita wajib bersabar dan tidak mudik saat libur Nataru, karena tidak tahu siapa yang berstatus OTG di mana saja. Apalagi jika terinfeksi virus Covid-9 varian Omicron ciri-cirinya berbeda dan tidak ada anosmia (kehilangan kemampuan indra penciuman).
Masyarakat juga tidak bisa beralasan, tidak apa-apa batal mudik tetapi liburan di dalam kota saja. Keluar sejenak boleh tetapi semuanya harus sesuai dengan protokol kesehatan. Jangan lupa pakai masker walau berkendara di dalam mobil pribadi. Jauhi tempat yang penuh seperti taman kota, karena sama saja melanggar protokol kesehatan physical distancing dan menghindari kerumunan.
Bagaimana dengan acara belanja saat libur Nataru? Peraturannya diperketat dan tempat umum seperti mall dan kafe maksimal 75% kapasitasnya. Itupun hanya boleh dimasuki oleh mereka yang sudah divaksin karena harus scan aplikasi Peduli Lindungi, jadi anak-anak di bawah usia 12 tahun dilarang masuk.
Pahamilah bahwa pengetatan peraturan ini tidak mengekang tetapi demi keselamatan bersama. Memang dalam 1-2 bulan ini situasi relatif aman karena jumlah pasien menurun jadi hanya 500-an orang per harinya tetapi bukan berarti bebas untuk liburan ke luar kota bahkan luar negeri. Justru pengetatan saat Nataru dilakukan agar tidak ada kenaikan kasus Corona di Indonesia.
Liburan Nataru di rumah saja juga tidak mengurangi kebahagian karena saat ini kita dimanjakan dengan teknologi. Ingin pesan makanan tinggal pencet HP, begitu juga dengan film, lagu, dan hiburan lainnya, semua tersedia di gadget. Bersabarlah dan ketika semua kompak maka tidak akan ada kenaikan kasus Corona, dan pandemi bisa lekas berakhir.
Saat libur Nataru masyarakat diimbau untuk tidak mudik karena takut ada lonjakan kasus Corona dan memang mobilitas massal bisa memicu naiknya jumlah pasien Covid-19. Tidak ada penyekatan jalan saat Nataru tetapi masyarakat diharap sadar diri dan tidak nekat pergi ke luar kota. Daripada kena Corona di dalam perjalanan.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Pemerintah Dorong Sektor Kehutanan Jadi Motor Perdagangan Karbon Nasional

July 22, 2026

Perdagangan Karbon Diperkuat sebagai Pilar Ekonomi Hijau Indonesia

July 22, 2026

Pemerintah Dorong Sektor Kehutanan Jadi Motor Perdagangan Karbon Nasional

By Kata IndonesiaJuly 22, 20260

Pemerintah Dorong Sektor Kehutanan Jadi Motor Perdagangan Karbon Nasional Jakarta – Pemerintah memperkuat perdagangan karbon…

Perdagangan Karbon Diperkuat sebagai Pilar Ekonomi Hijau Indonesia

By Kata IndonesiaJuly 22, 20260

Perdagangan Karbon Diperkuat sebagai Pilar Ekonomi Hijau Indonesia Jakarta – Pemerintah terus memperkuat implementasi perdagangan…

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden 

By Kata IndonesiaJuly 21, 20260

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden  Oleh: Fajar Dwi Santoso Taklimat Presiden dalam Sidang Kabinet Paripurna kembali memperlihatkan arah kebijakan pemerintah yang tidak hanya berfokus pada pencapaian pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penguatan kualitas sumber daya manusia dan reformasi tata kelola pemerintahan. Di hadapan jajaran kabinet, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan nasional harus menyentuh persoalan mendasar masyarakat, mulai dari pemenuhan gizi anak hingga penyederhanaan birokrasi melalui digitalisasi layanan publik. Kedua agenda tersebut saling berkaitan sebagai fondasi menuju Indonesia yang lebih produktif, inklusif, dan berdaya saing. Komitmen pemerintah terhadap peningkatan kualitas generasi penerus kembali ditegaskan melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Presiden memandang program tersebut bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia unggul. Menurut Presiden, masih tingginya angka stunting dan masih adanya anak-anak yang belum memperoleh asupan makanan yang memadai menjadi alasan utama mengapa negara harus hadir secara langsung melalui program pemenuhan gizi. Presiden juga menilai berbagai kritik terhadap MBG perlu dilihat secara proporsional. Alih-alih hanya memperdebatkan besaran anggaran, perhatian publik seharusnya diarahkan pada manfaat nyata yang dirasakan masyarakat. Dalam pandangannya, indikator keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari angka makroekonomi, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga pangan, memastikan pupuk tersedia bagi petani dengan harga terjangkau, serta menjamin anak-anak memperoleh makanan bergizi di sekolah. Penegasan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia merupakan dua agenda yang berjalan beriringan. Pendekatan tersebut sejalan dengan berbagai kajian internasional yang menempatkan investasi pada gizi anak sebagai salah satu instrumen paling efektif untuk meningkatkan produktivitas nasional dalam jangka panjang. Anak yang memperoleh gizi memadai sejak dini memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat, memiliki kemampuan belajar yang baik, serta menjadi tenaga kerja produktif pada masa depan. Karena itu, keberlanjutan MBG memiliki dimensi strategis yang jauh melampaui pemberian makanan semata. Pandangan serupa juga pernah disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang. Ia menjelaskan bahwa fokus pemerintah tidak hanya memperluas jangkauan penerima manfaat, tetapi juga memastikan kualitas layanan, keamanan pangan, dan tata kelola program terus diperbaiki agar manfaat MBG benar-benar dirasakan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan program bergantung pada pengawasan yang baik, keterlibatan pemerintah daerah, serta sinergi dengan pelaku usaha lokal sehingga manfaat ekonomi turut mengalir ke daerah. Di sisi lain, Presiden juga memberikan penekanan kuat terhadap reformasi birokrasi sebagai prasyarat percepatan pembangunan. Ia mengakui Indonesia telah berada pada jalur pembangunan yang benar, namun efektivitas pemerintahan masih perlu terus ditingkatkan. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah banyaknya regulasi yang tumpang tindih dan prosedur birokrasi yang belum sepenuhnya efisien. Karena itu, pemerintah memilih mempercepat transformasi digital melalui pengembangan GovTech serta implementasi Single National Identity Card. Gagasan ini menjadi langkah penting untuk menyederhanakan pelayanan publik yang selama ini tersebar di berbagai kementerian dan lembaga. Dengan identitas digital nasional yang terintegrasi, masyarakat diharapkan tidak lagi menghadapi proses administrasi yang berulang, sementara pemerintah dapat meningkatkan akurasi data serta efektivitas penyaluran berbagai program.…

Taklimat Presiden Tegaskan Optimisme Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia

By Kata IndonesiaJuly 21, 20260

Taklimat Presiden Tegaskan Optimisme Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia Oleh: Shafiq Tauqy Optimisme Indonesia menjadi…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.