• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Nasional»Tetap Taat Prokes, Indonesia Bersiap Menuju Endemi

Tetap Taat Prokes, Indonesia Bersiap Menuju Endemi

  • Kata Indonesia
  • - Wednesday, 18 May 2022

Tetap Taat Prokes, Indonesia Bersiap Menuju Endemi

Oleh : Made Prawira

Indonesia bersiap untuk transisi dari fase pandemi ke endemi. Kendati demikian, masyarakat tetap wajib taat Prokes agar tren positif pengendalian kasus Covid-19 dapat terus terjaga.

Tidak terasa kita sudah menjalani masa pandemi selama lebih dari dua tahun. Virus kecil bernama Corona telah memporak-porandakan kehidupan banyak orang.

Keadaan finansial masyarakat agak terguncang walau akhirnya pulih perlahan-lahan. Semua orang jadi memakai masker saat keluar rumah dan menaati poin-poin lain dalam protokol kesehatan.

Namun saat ini situasi sudah membaik dan jumlah pasien Corona terus menurun. Menurut data dari Tim Satgas Penanganan Covid-19, jumlah pasien Corona per tanggal 10 Mei 2022 ada 454 orang. Angka ini jauh lebih sedikit dibanding akhir tahun lalu yang jumlahnya mencapai ribuan pasien.

Jika keadaan ini terus terjadi maka kita bersiap transisi dari fase pandemi ke endemi. Juru Bicara Tim Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menyatakan bahwa Indonesia sudah tidak dalam fase kedaruratan dalam respons pandemi Covid-19 dan mulai bertransisi ke fase endemi.

Terjadi penurunan kasus Corona dan juga perawatan di Rumah Sakit. Mobilitas masyarakat juga mulai meningkat.
Endemi adalah kondisi di mana ada suatu penyakit di daerah tertentu. Misalnya malaria di Provinsi Papua. Jika Indonesia masuk ke dalam masa endemi maka Corona tetap ada tetapi hanya ada di daerah tertentu dan terbatas sekali penularannya. Jumlah pasiennya juga amat minim dan virusnya bisa dikendalikan.
Jika Indonesia bertransisi jadi fase endemi maka masyarakat jangan merasa aman dulu, karena Corona masih ada. Fase endemi bukan berarti virusnya hilang 100% walau bisa dikendalikan. Oleh karena itu masyarakat diimbau untuk tetap menaati protokol kesehatan dan menjaga gaya hidup bersih dan sehat.
Protokol kesehatan wajib ditaati, terutama memakai masker. Sayangnya saat ini masyarakat sudah mulai malas-malasan pakai masker karena mengira pandemi sudah selesai, padahal belum. Jangan hanya pakai masker hanya karena takut ditegur oleh petugas. Namun pakailah masker atas kesadaran sendiri, demi keselamatan pribadi dan kesehatan bersama.
Terutama bagi anak-anak, mereka wajib pakai masker karena sudah sekolah seperti biasa. Untuk mencegah terbentuknya klaster Corona baru maka harus pakai masker dan jangan dilepas saat di dalam kelas. Masukkan juga masker cadangan ke tas milik anak karena selembar masker hanya efektif dipakai selama maksimal 4 jam saja.
Selain pakai masker, taati juga prokes lain seperti mencuci tangan atau memakai hand sanitizer. Ketika sampai rumah juga wajib untuk mandi, keramas, dan ganti baju. Semua ini dilakukan agar lebih higienis dan tidak mudah terkena virus Covid-19, virus lain, dan juga bakteri.
Protokol kesehatan seperti menjauhi kerumunan dan menjaga jarak juga wajib dilakukan. Terutama kerumunan, karena saat ini pasar, supermarket, dan tempat lain sudah dimasuki pengunjung dengan bebas. Untuk menghindari pengunjung yang berjubel maka datanglah di pagi hari saat supermarket baru buka. Akan lebih nyaman untuk belanja karena masih lengang dan antrean di depan kasir relatif sepi.
Indonesia masih dalam fase transisi dari pandemi ke endemi. Jumlah pasien Corona menurun dan ruang perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit mulai lengang. Walau keadaan sudah relatif aman tetapi jangan lalai dan melupakan protokol kesehatan agar dapat hidup berdampingan dengan Covid-19.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Ketahanan Energi 2027: Jalan Besar Indonesia Menuju Kemandirian Energi 

August 22, 2026

Transformasi Energi 2027 Menjadi Bukti Negara Bergerak Mengurangi Ketergantungan Impor

August 22, 2026

Ketahanan Energi 2027: Jalan Besar Indonesia Menuju Kemandirian Energi 

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Ketahanan Energi 2027: Jalan Besar Indonesia Menuju Kemandirian Energi  Oleh: Hanan Alfawazi Ketahanan energi merupakan salah satu fondasi utama bagi keberlanjutan pembangunan nasional. Tanpa pasokan energi yang cukup, terjangkau, dan dapat diandalkan, pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat akan menghadapi berbagai hambatan. Karena itu, arah kebijakan energi Indonesia pada 2027 memiliki arti strategis, bukan sekadar sebagai agenda sektoral, melainkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian nasional. Kebutuhan energi terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, sementara produksi minyak nasional menghadapi tekanan penurunan alamiah. Pada saat yang sama, dinamika geopolitik global membuat harga dan pasokan energi semakin sulit diprediksi. Kondisi tersebut membuat penguatan sumber energi domestik menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Dalam konteks tersebut, target lifting minyak sebesar 610 ribu barel per hari dan lifting gas sekitar 950 ribu barel setara minyak per hari dalam RAPBN 2027 menjadi salah satu instrumen penting. Target tersebut dinilai realistis oleh Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya, terutama dengan melihat peluang optimalisasi lapangan produksi yang telah ada serta pengembangan sumur-sumur baru. Namun, peningkatan lifting tidak dapat dicapai hanya dengan menetapkan target. Sektor hulu migas membutuhkan investasi, teknologi, kepastian regulasi, serta proses pengembangan lapangan yang efisien. Tantangan natural decline juga harus dihadapi secara serius karena sebagian lapangan migas nasional telah memasuki fase produksi yang matang. Anggota Dewan Energi Nasional Saleh Abdurrahman melihat masih terdapat ruang untuk menahan laju penurunan alamiah tersebut melalui optimalisasi sumur eksisting dan pengembangan sumur baru. Pengembangan wilayah frontier serta penggunaan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) juga menjadi bagian dari pilihan strategis untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi nasional. Artinya, kebijakan peningkatan lifting harus ditempatkan sebagai agenda jangka panjang. Pemerintah tidak cukup hanya mengejar angka produksi dalam satu tahun anggaran, tetapi juga harus memastikan keberlanjutan investasi dan penemuan cadangan baru. Jika investasi hulu berjalan konsisten, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat ekosistem industri migas nasional.…

Transformasi Energi 2027 Menjadi Bukti Negara Bergerak Mengurangi Ketergantungan Impor

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Transformasi Energi 2027 Menjadi Bukti Negara Bergerak Mengurangi Ketergantungan Impor Oleh: Aziz Rahman Ketika ketidakpastian…

Pemerintah Perkuat Ketahanan Energi 2027 lewat B50, Bioetanol, dan EBT

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Pemerintah Perkuat Ketahanan Energi 2027 lewat B50, Bioetanol, dan EBT JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat…

​Bikin Terenyuh! Aksi Nyata LAZNAS Darunnajah Bikin Para “Pahlawan Jalanan” Tersenyum Lebar

By Kata IndonesiaAugust 22, 20260

Di tengah dinamika mobilitas ibu kota yang digerakkan oleh para pekerja lapangan, eksistensi petugas Penanganan…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.