• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Featured»Terorisme Meneror Media Sosial

Terorisme Meneror Media Sosial

  • Kata Indonesia
  • - Tuesday, 20 July 2021

ancaman terorisme lewat media sosial juga terus  menguat. Semangat warga masyarakat untuk melawan terorisme justru bangkit. Memang pada awalnya berbagai aksi teror yang dilakukan para teorisme ini menyebabkan hilangnya sejumlah nyawa orang-orang yang tidak bersalah, dan berhasil menumbuhkan rasa ngeri serta rasa takut yang dengan cepat menyebar.

Tujuan pelaku teror, untuk sebagian, memang sebagai tindakan balas dendam dan keinginan membunuh sebanyak-banyaknya orang-orang yang dinilai merepresentasikan musuhnya. Meski demikian, tujuan sebetulnya dari pelaku teror adalah untuk menebar ketakutan, rasa waswas, dan mengonstruksi pikiran masyarakat umum agar tak lagi percaya pada peran negara.

Para warganet yang mengikuti berita tentang kasus pembantaian, bom bunuh diri di berbagai tempat, membaca beritanya, melihat foto dan videonya, kemudian tak sekadar mengonsumsinya sendiri, tetapi menyirkulasi atau meresirkulasinya kepada warganet yang lain, tanpa sadar mereka sebetulnya adalah korban sebenarnya dari aksi terorisme.

Bagi pelaku teror, semakin luas ulah mereka disebarluaskan melalui media sosial, maka dari itu semakin gembiralah para pelaku teror itu karena efek psikologis yang ditimbulkan akan makin masif dan mendalam.

Di era milenial, terutama sejak 2012, para teroris tampaknya menyadari sifat media sosial yang spreadble, dapat ditularkan. Seperti dikatakan Jenkins, Ford, dan Green (2013) dalam artikel mereka berjudul, Spreadable Media, How Audiences Create Value and Meaning in a Networked Economy, mengatakan bahwa kehadiran teknologi informasi dan media sosial sangat efektif menyebarluaskan pesan-pesan yang diproduksi. Karena itu, bisa dipahami jika media sosial kemudian kerap dipakai untuk menyebarkan ideologi radikal dan aktivitas yang berhubungan dengan aksi kelompok teroris.

Media sosial sengaja dipilih sebagai instrumen untuk menyebarluaskan aksi teror karena sifatnya yang terbuka untuk umum, mudah diakses siapa pun, dan nyaris tanpa bisa dihambat. Menebar propaganda dan menawarkan bujukan kepada anak muda atau orang-orang yang potensial direkrut adalah metode baru, yang dalam lima tahun terakhir banyak dikembangkan para teroris.

Di media sosial, selama ini sudah bukan rahasia lagi jika kelompok-kelompok radikal berusaha mendapatkan simpati dari para pengikut baru dengan cara mengunggah video yang memperlihatkan tindakan penyiksaan terhadap anak-anak dari kelompok mereka, video pelatihan militer, atau video pembuatan bom secara mandiri, dan lain-lain, yang semuanya dengan mudah diakses semua orang.

Kelompok pendukung paham radikal biasanya juga membuka kesempatan melakukan obrolan virtual, berkomunikasi dengan orang-orang tertentu dengan memanfaatkan teknologi informasi untuk lebih meyakinkan. Intinya, kehadiran platform media sosial, seperti Twitter, Youtube, dan Facebook sering kali dimanfaatkan para teroris untuk melakukan propaganda dan menjaring simpati massa.

Menurut laporan @KejaksaanRI, di Indonesia paling tidak terdapat 49.000 akun Twitter yang terafiliasi dengan gerakan terorisme. Dibandingkan dengan penyebarluasan paham radikal secara offline, memanfaatkan forum-forum ceramah dalam kelompok yang terbatas, penyebarluasan paham radikal melalui medsos dinilai jauh lebih efektif.

Menebar paham radikal melalui media sosial sering terbukti efektif karena mampu menjangkau khalayak yang sangat luas. Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), misalnya, dilaporkan berhasil merekrut ribuan simpatisan baru melalui media sosial.

Jasmine Al Kuttab (2017) dalam tulisannya, Tech-Savvy Terrorists Using Social Media to Target Youngsters, menyatakan bahwa di era masyarakat digital, media sosial jadi instrumen yang efektif untuk menggalang dukungan atau simpatisan dari anak-anak muda yang termasuk dalam kategori net generation.

Media sosial yang menjadi alat berkomunikasi di antara sesama anggota komunitas dunia maya, kemudian dengan mudahnya masuk ke pikiran anak-anak muda yang pada saat mereka ada di kamarnya yang tertutup. Pengaruh paham radikal dengan mudah menyusup dan memengaruhi pikiran anak muda, terutama ketika mereka asosial atau bersikap soliter dari lingkungan sosialnya.

Selain itu, untuk menangkal pengaruh penyebaran dan tawaran paham radikal melalui media sosial, selama ini berbagai upaya telah dilakukan. Sejumlah perusahaan media sosial besar, seperti Facebook, Google, dan Twitter jauh-jauh hari telah berusaha menggalang kekuatan untuk memerangi propaganda terror yang dilakukan oleh para teroris.

Situs Web yang dinilai pro paham radikal, memuat ujaran kebencian dan menyebarluaskan konten yang berbahaya, umumnya akan ditutup. Sepanjang 2015 misalnya, Twitter dilaporkan telah menutup 125.000 akun pro-NIIS. Facebook dan berbagai perusahaan medsos lain juga melakukan hal sama. Kementerian Komunikasi dan Informatika belum lama ini juga dilaporkan mencabut 280 akun Telegram, 300 akun Facebook dan Instagram, serta 30 akun di Twitter. Kompas (16/5/).

Sementara itu, di lain sisi Pemerintah Indonesia selama ini memang tidak tinggal diam. Bersama dengan perwakilan dari sejumlah perusahaan medsos, seperti Facebook, Google, Telegram, hingga Twitter, Menkominfo menegaskan bahwa pemerintah akan bertindak tegas terhadap penyebaran konten-konten terorisme di dunia maya.

Sikap pemerintah melakukan pemblokiran terhadap ribuan akun yang terkonfirmasi menyebarkan paham radikal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk menghadang penyebarluasan paham radikal di masyarakat. Kemkominfo setiap hari juga terus memelototi akun atau situs-situs yang dinilai berbahaya untuk kemudian diblokir. Selama dua tahun terakhir, sudah puluhan ribu situs Web diblokir pemerintah untuk mencegah agar penyebarluasan paham radikal tidak makin masif.

Apakah upaya yang dilakukan pemerintah maupun perusahaan medsos telah memadai? Tentu tidak. Fakta di lapangan membuktikan, ketika ada ribuan situs radikal ditutup, di detik yang sama ribuan situs lain juga terus bermunculan. Artinya, tindakan untuk memblokir situs radikal di satu sisi memang perlu dilakukan. Namun, untuk memastikan agar penyebarluasan paham radikal tidak makin masif yang dibutuhkan sebetulnya bukan hanya pendekatan regulatif, seperti pemblokiran, melainkan yang tidak kalah penting adalah bagaimana meningkatkan kemampuan literasi kritis dari para warganet.

Tanpa didukung upaya pengembangan literasi kritis dari para warganet sendiri, peluang untuk mencegah penyebarluasan paham radikal dan terror bukan tidak mungkin akan berjalan stagnan dan terlalu menguras energi negara.

Mengajarkan arti penting literasi kritis sejak dini melalui peran guru di sekolah, dan membiasakan anak muda sejak awal selalu bersikap kritis agar tidak terpapar paham radikal, hoaks, dan ujaran kebencian adalah kunci untuk mencegah agar para pelaku terorisme berhenti menyebarkan paham radikalisme dan kemungkinan terjadinya aksi pembantaian yang terjadi di Sigi serta aksi bom lainnya tidak terus terjadi.

Debottlenecking Ekonomi Dipercepat, Pemerintah Kawal Kepastian Usaha

August 28, 2026

Pemerintah Perkuat Debottlenecking untuk Dorong Investasi Ekonomi Nasional

August 28, 2026

Debottlenecking Ekonomi Dipercepat, Pemerintah Kawal Kepastian Usaha

By Kata IndonesiaAugust 28, 20260

Debottlenecking Ekonomi Dipercepat, Pemerintah Kawal Kepastian Usaha Jakarta – Pemerintah terus mempercepat penguraian berbagai hambatan…

Pemerintah Perkuat Debottlenecking untuk Dorong Investasi Ekonomi Nasional

By Kata IndonesiaAugust 28, 20260

Pemerintah Perkuat Debottlenecking untuk Dorong Investasi Ekonomi Nasional Jakarta – Pemerintah terus memperkuat kebijakan debottlenecking…

Kurikulum Digital dan Sekolah Rakyat Yang Makin Adaptif dan Berdaya Saing

By Kata IndonesiaAugust 28, 20260

Kurikulum Digital dan Sekolah Rakyat Yang Makin Adaptif dan Berdaya Saing   Oleh : Abdul Razak Transformasi pendidikan terus didorong pemerintah melalui penguatan akses sekaligus pembaruan cara belajar. Program Sekolah Rakyat menjadi salah satu langkah untuk memperluas kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, sementara pengembangan kurikulum digital diarahkan agar proses pembelajaran semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan peserta didik. Penguatan tersebut salah satunya terlihat dari penyusunan modul pembelajaran digital untuk Sekolah Rakyat. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung telah menyerahkan 1.018 konten modul pembelajaran kepada Kementerian Sosial sesuai kebutuhan program. Seluruh modul akan dimanfaatkan melalui Learning Management System (LMS) sehingga dapat diakses secara digital oleh guru maupun peserta didik. Direktur Pengembangan Kurikulum, Pembelajaran Digital, Kecerdasan Buatan, dan Metamesta UPI, Ahmad Yani menjelaskan, ribuan konten tersebut mencakup 177 mata pelajaran untuk jenjang SD hingga SMA. Penyusunan dilakukan selama dua tahun, dengan 322 modul dari 63 mata pelajaran diselesaikan pada tahun lalu dan 696 modul dari 114 mata pelajaran rampung pada tahun ini. Berdasarkan jenjang pendidikan, modul tersebut terdiri atas 73 mata pelajaran untuk SD, 44 mata pelajaran untuk SMP, dan 60 mata pelajaran untuk SMA. Setiap konten dirancang dalam beberapa bagian, mulai dari pendahuluan, kegiatan belajar, rangkuman, refleksi, latihan, hingga tes formatif. Ahmad Yani menjelaskan modul digital memiliki karakter berbeda dibandingkan buku teks elektronik atau e-book. Pada jenjang SD, materi dibuat lebih ringkas, sederhana, dan disesuaikan dengan perkembangan peserta didik. Untuk SMP, materi disusun dengan kedalaman menengah, bahasa komunikatif, serta aktivitas pembelajaran yang lebih beragam. …

Kurikulum Digital Diperkuat, Sekolah Rakyat Masuki Era Kelas Pintar

By Kata IndonesiaAugust 28, 20260

Kurikulum Digital Diperkuat, Sekolah Rakyat Masuki Era Kelas Pintar Jakarta – Sekolah Rakyat memasuki babak…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.