• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Tak Perlu Jauh-Jauh ke Jepang, Di Stasiun Tawang Dompet Hilang pun Tahu Jalan Pulang

Tak Perlu Jauh-Jauh ke Jepang, Di Stasiun Tawang Dompet Hilang pun Tahu Jalan Pulang

  • Kata Indonesia
  • - Wednesday, 24 June 2026

Oleh: KH. Anis Maftukhin

Selasa malam, 23 Juni 2026, jarum jam tepat menunjuk ke angka 22.00 WIB. Saya melangkah masuk ke Gerbong 9 Kereta Api Argo Sindoro di Stasiun Semarang Tawang. Rencananya mau ke Jakarta Gambir, tapi Jakarta ini sekadar tempat transit belaka. Tujuan rihlah (perjalanan) saya sesungguhnya jauh di seberang benua: Turki.

Sebagai pegiat literasi, perjalanan kali ini sangat krusial. Saya dijadwalkan hadir di Seminar Internasional Penerbitan Buku Islam di Istanbul, lalu lanjut ke Konya—kota tempat bersemayamnya sang maestro sufi legendaris, Mbah Jalaluddin Rumi—untuk melakukan riset sejarah sufisme.

Setelah nyaman meletakkan tas di kompartemen atas Kursi 1 A, tiba-tiba tenggorokan terasa kering kerontang. Karena kereta belum diberangkatkan, saya turun sebentar ke peron untuk membeli air putih. Selesai membeli, saya naik lagi dan duduk manis. Namun, tepat saat lokomotif mulai berderu pelan, tangan saya secara refleks meraba saku celana.

Astaghfirullahaladzim! Jantung rasanya seketika pindah ke dengkul. Saku celana saya kosong melompong. Dompet coklat kesayangan saya raib!

Musibah Kecil Sebelum Terbang

Wah, bala’ (ujian) ini namanya! Bagi siapa saja, kehilangan dompet di ruang publik adalah musibah. Namun bagi saya yang hitungan jam lagi harus terbang ke luar negeri, ini namanya kiamat kecil. Di dalam dompet itu tersimpan dokumen vital: KTP (yang mengurus kehilangannya bisa membuat pusing tujuh keliling), deretan kartu ATM sebagai urat nadi bisyarah (bekal finansial) perjalanan, plus lembaran rupiah dan mata uang asing. Kalau dompet itu benar-benar bablas, masa di Turki nanti saya harus ngenger jadi tukang cuci piring di kedai kebab?

Pikiran saya langsung melayang ke memori zaman jahiliyah perkeretaapian kita. Stasiun zaman dahulu kan sangat identik dengan tempat uji nyali. Dulu, stasiun adalah episentrum ketidakpastian; tempat mangkal para copet dan berlakunya hukum rimba. Barang jatuh di stasiun itu hukumnya fardhu ain untuk hilang. Jangan pernah bermimpi bisa kembali.

Sambil menahan panik, saya memaksakan diri untuk husnudzon (berprasangka baik) pada sistem KAI zaman sekarang. Saya bergegas mencari Mas Kondektur untuk melaporkan musibah tersebut.

Di sinilah pertolongan Allah mulai menampakkan wujudnya. Tidak memakai birokrasi yang berbelit-belit, Mas Kondektur melayani dengan cekatan. Laporan saya langsung dikoordinasikan secara real-time lewat sistem internal KAI ke Stasiun Tawang.

Sebelum Argo Sindoro ini melaju terlalu jauh membelah malam, telepon saya berbunyi. Mas Kondektur membawa kabar yang menyejukkan hati: dompet coklat saya sudah ditemukan oleh petugas lapangan di peron dan telah diamankan di Pos Pam Stasiun Tawang. Alhamdulillah wa syukurillah! Sepertinya dompet saya sadar diri tidak punya paspor, jadi dia memilih mabit (bermalam) saja di Tawang.

Uji Integritas di Meja Kopi

Karena saya harus tetap istiqamah melanjutkan perjalanan ke Jakarta demi mengejar jadwal pesawat, saya tidak mungkin putar balik. Besok harinya, saya membuat surat kuasa darurat untuk putra saya di rumah, memintanya mengambil dompet tersebut ke Stasiun Tawang.

Jujur saja, saat putra saya berangkat, sisa-sisa su’udzon (prasangka buruk) di hati kecil ini masih menempel. Maklum, kalau kita sedang ngaji kehidupan di warung kopi bersama para jamaah, kita sering sekali mendewakan negara luar. “Wah, di Jepang mah dompet ketinggalan di stasiun Tokyo pasti balik utuh!” Sambil menyeruput kopi, kita biasanya membatin getir, “Halah, kalau di negara kita, boro-boro kembali, isinya sudah menguap jadi martabak.”

Eh, subhanallah! Rabu pagi putra saya tiba di Pos Pam Tawang untuk membuktikan apakah akhlak di ruang publik kita benar-benar sudah berubah. Ternyata, pelayanannya sangat profesional. Petugas melakukan verifikasi data dengan ketat namun tetap ramah dan tawadhu’.

Ketika dompet coklat itu diserahkan dan dibuka di depan petugas… rontok sudah segala keraguan saya.

Mumtaz! Luar biasa. KTP aman. Kartu ATM berbaris rapi. Lalu lembaran rupiah dan mata uang asingnya? Masih utuh di tempatnya, tidak kurang sepeser pun! Tidak ada pula kode-kode batuk meminta “uang rokok” atau pungutan liar. Semuanya bersih, sebersih-bersihnya.

Peradaban Baru dan Akhlakul Karimah di Atas Rel

Kejadian ini benar-benar membuka mata batin saya. Ini bukan sekadar tentang rezeki Anis Maftukhin yang sedang dilindungi Allah. Ini adalah bukti nyata bahwa PT KAI telah sukses besar melakukan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) pada sistem manajemennya.

KAI membuktikan bahwa reformasi itu bukan sekadar mengepel peron agar mengkilap atau memasang AC di gerbong agar sejuk. Perubahan paling revolusioner yang mereka lakukan adalah merevolusi akhlakul karimah manusia di dalamnya.

Lewat sistem Lost and Found digital yang terpadu, aturan ketat terkait barang temuan benar-benar ditegakkan. Ketahuan mengambil hak penumpang, petugas akan langsung mendapat takzir (hukuman) berat hingga pemecatan. Dipadu dengan kesejahteraan karyawan yang diperhatikan, lahirlah ekosistem kerja yang mengedepankan harga diri dan kejujuran.

CCTV canggih di sudut Tawang memang membantu, tapi itu sekadar alat ukur lahiriah. Jiwa dari rasa aman malam itu adalah nurani murni para petugas di lapangan—mulai dari tenaga kebersihan, satuan pengamanan, hingga kondektur—yang memiliki sifat qana’ah (merasa cukup) dan teguh menolak godaan harta yang bukan haknya.

Pengalaman ini menjadi ibrah (pelajaran) luar biasa yang akan saya bawa ke Istanbul dan Konya. Bahwa bangsa kita, umat kita, mental dan akhlaknya tidak kalah hebat dengan bangsa-bangsa maju.

Mulai hari ini, jika ada orang di majelis kopi yang kembali memuja-muja stasiun Jepang, akan saya tepuk pelan pundaknya sambil berkata: “Kang, tak perlu jauh-jauh rihlah ke Tokyo untuk melihat kejujuran. Datanglah ke Stasiun Semarang Tawang! Di sini peradaban sudah maju. Dompet hilang saja pandai mencari jalan pulang ke pangkuan, apalagi kamu.”

Jazakumullah khairan katsira, PT KAI. Kalian tidak hanya mengantarkan saya menuju gerbang riset di Turki, tetapi kalian telah membuktikan bahwa bangsa ini sedang melangkah naik kelas menuju peradaban yang jauh lebih bermartabat.

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren WALI, Candirejo, Tuntang, Kab. Semarang dan Pegiat Literasi Islam Indonesia. Akun IG @gus_anies

 

Paket Stimulus Pemerintah Dinilai Jadi Bantalan Penting Hadapi Tekanan Global

June 24, 2026

Dukungan Untuk Pembibitan Petani Indonesia Kejar Swasembada Bawang Putih

June 24, 2026

Paket Stimulus Pemerintah Dinilai Jadi Bantalan Penting Hadapi Tekanan Global

By Kata IndonesiaJune 24, 20260

Paket Stimulus Pemerintah Dinilai Jadi Bantalan Penting Hadapi Tekanan Global Jakarta — Paket stimulus ekonomi…

Dukungan Untuk Pembibitan Petani Indonesia Kejar Swasembada Bawang Putih

By Kata IndonesiaJune 24, 20260

Dukungan Untuk Pembibitan Petani Indonesia Kejar Swasembada Bawang Putih Oleh: Rina Oktavia Upaya memperkuat pembibitan…

Tak Perlu Jauh-Jauh ke Jepang, Di Stasiun Tawang Dompet Hilang pun Tahu Jalan Pulang

By Kata IndonesiaJune 24, 20260

Oleh: KH. Anis Maftukhin Selasa malam, 23 Juni 2026, jarum jam tepat menunjuk ke angka…

Pulung Agustanto Beri Catatan Kritis ke Kemenaker Soal Pindahnya Pabrik Otomotif Jatim

By Kata IndonesiaJune 24, 20260

Anggota Komisi IX DPR RI, Pulung Agustanto, memberikan catatan kritis sekaligus peringatan keras kepada pemerintah…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.