Soal Caketum PBNU, KH. Anis Maftuhin: La Miftaha Wala Yahya
Wacana menghadirkan figur baru dalam bursa pemilihan Ketua Umum PBNU mencuat menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Pengasuh Pondok Pesantren Wali Salatiga, KH Anis Maftuhin secara terbuka mengusulkan agar kontestasi kepemimpinan tidak hanya berpusat pada dua nama yang selama ini banyak diperbincangkan, yakni Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.
Menurut Anis, persaingan yang hanya bertumpu pada dua figur berpotensi memperpanjang polarisasi di internal organisasi.
Karena itu, ia mendorong agar ruang pencalonan dibuka lebih luas bagi kader-kader Nahdliyin dari berbagai latar belakang.
“Kalau di bawah itu ada istilah La Miftaha Wala Yahya. Artinya semua calon boleh, kecuali dua nama itu (KH Miftachul Akhyar dan Gus Yahya),” kata Anis dalam diskusi bertajuk Muktamar NU Untuk Semua yang digelar Suluh Nahdliyin di kawasan Cikini, Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Pernyataan Anis itu pun disambut tawa peserta diskusi. Beberapa peserta diskusi bahkan meminta Anis menyebut dua nama tersebut secara langsung.
Dia menjelaskan, usulan tersebut bukan ditujukan kepada pribadi kedua tokoh, melainkan sebagai upaya menghadirkan suasana baru dalam proses regenerasi kepemimpinan PBNU.
“Katakanlah nanti dua-duanya, salah satu dari keduanya menang, pasti akan menimbulkan dendam. Maka alternatifnya adalah kita jaring seluas-luasnya dari kader-kader Nahdliyin, dari teknokrat, birokrat, sampai politisi. Berikan ruang untuk berkompetisi dengan ide dan gagasan,” ujarnya.
Anis menilai NU membutuhkan energi baru agar pembahasan menjelang Muktamar tidak hanya tersita pada perebutan posisi kepengurusan.