• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Sistem Penilaian MBG: Pemerintah Serius Membenahi Kualitas Layanan

Sistem Penilaian MBG: Pemerintah Serius Membenahi Kualitas Layanan

  • Kata Indonesia
  • - Wednesday, 23 September 2026

Sistem Penilaian MBG: Pemerintah Serius Membenahi Kualitas Layanan

Oleh: Nadira Citra Maheswari

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus memasuki tahap penguatan tata kelola seiring dengan semakin luasnya cakupan penerima manfaat. Perluasan layanan tersebut diikuti pengawasan agar penyediaan makanan tidak hanya memenuhi aspek kuantitas, tetapi juga memperhatikan mutu, keamanan pangan, ketepatan waktu, serta kesesuaian dengan standar gizi. Salah satu langkah yang dikembangkan Badan Gizi Nasional (BGN) adalah sistem penilaian terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memantau kualitas layanan secara langsung.

 

Rencana BGN menerapkan sistem penilaian terhadap SPPG mendapat dukungan dari Komisi IX DPR RI. Sistem tersebut dinilai dapat menjadi instrumen untuk mengukur kualitas layanan MBG berdasarkan pengalaman sekolah dan siswa sebagai penerima manfaat. Dengan demikian, evaluasi program tidak hanya mengandalkan pemeriksaan internal, tetapi juga memperoleh masukan dari pihak yang berinteraksi langsung dengan layanan MBG.

 

BGN tengah menyiapkan aplikasi yang memungkinkan sekolah memberikan penilaian terhadap layanan MBG yang diselenggarakan SPPG. Melalui aplikasi tersebut, sekolah dapat memberikan rating sekaligus catatan mengenai kualitas layanan. Sistem ini dirancang untuk memperoleh umpan balik langsung mengenai pelaksanaan program di lapangan, termasuk kualitas menu dan ketepatan waktu distribusi makanan.

 

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh (Ninik), mengatakan sistem rating tidak cukup hanya menghasilkan angka atau jumlah bintang. Menurutnya, BGN perlu menyiapkan mekanisme tindak lanjut agar masukan dari masyarakat dan siswa dapat diverifikasi serta dimanfaatkan sebagai dasar perbaikan kualitas layanan.

 

Ninik menekankan pentingnya memastikan setiap penilaian yang diterima memiliki mekanisme penanganan yang jelas, termasuk terhadap SPPG yang memperoleh penilaian rendah dari sekolah maupun siswa. Selain itu, ia mendorong BGN memperkuat pengawasan terhadap kondisi dapur SPPG. Fasilitas yang digunakan untuk memproduksi makanan bagi siswa harus memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan.

 

Kepala BGN, Sudaryono mengatakan bahwa penilaian dapat mencakup sejumlah aspek, antara lain kualitas menu dan ketepatan waktu distribusi makanan. Sistem ini diharapkan menjadi salah satu sumber informasi bagi BGN dalam memantau pelaksanaan MBG sekaligus memastikan layanan berjalan sesuai standar. Rating dan catatan yang diberikan sekolah juga dapat menjadi bahan untuk mengidentifikasi SPPG yang memerlukan evaluasi dan tindak lanjut lebih lanjut.

 

Kehadiran sistem penilaian digital menunjukkan bahwa kualitas layanan menjadi bagian penting dalam pengelolaan MBG. Dalam penyelenggaraan program berskala nasional, banyaknya penerima manfaat dan titik pelayanan membutuhkan sistem yang mampu menghimpun informasi secara cepat. Data dari sekolah dan penerima manfaat dapat digunakan untuk melihat persoalan, mengidentifikasi layanan yang perlu diperbaiki, serta menentukan tindak lanjut berdasarkan kondisi masing-masing SPPG.

 

Sistem rating tersebut melengkapi instrumen evaluasi yang telah dikembangkan BGN. Sebelumnya, BGN meluncurkan aplikasi Reviu MBG yang memungkinkan penerima manfaat memberikan penilaian langsung terhadap makanan yang diterima. Penilaian mencakup ketepatan waktu distribusi, aroma makanan, rasa makanan, serta variasi menu. Informasi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas layanan secara lebih cepat.

 

Pengawasan juga dilakukan terhadap standar higiene dan sanitasi SPPG. Pada 16 September 2026, BGN menghentikan sementara operasional 1.276 SPPG yang belum memenuhi persyaratan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Dari jumlah tersebut, 821 SPPG masih dalam proses pendaftaran, 447 telah mendaftar tetapi belum memenuhi persyaratan dan kelayakan, sementara delapan lainnya belum terkonfirmasi status SLHS-nya.

 

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemantauan kualitas tidak hanya dilakukan setelah makanan diterima siswa. Kondisi dapur, proses pengolahan, kebersihan, sanitasi, serta kepatuhan terhadap standar menjadi bagian dari pengawasan sejak tahap produksi. Sebelumnya, BGN juga menghentikan sementara operasional 1.999 dapur SPPG yang belum mendaftarkan SLHS sebagai bagian dari pengetatan standar keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG.

 

Dengan adanya penilaian dari sekolah dan pengawasan terhadap dapur, evaluasi MBG dapat dilakukan melalui dua sisi yang saling melengkapi. Sekolah memberikan informasi mengenai layanan yang diterima di lapangan, sedangkan pemeriksaan SPPG memastikan proses produksi makanan memenuhi ketentuan. Keduanya dapat menjadi sumber informasi untuk menentukan bentuk perbaikan sesuai dengan persoalan yang ditemukan.

 

Mekanisme tindak lanjut menjadi penting karena sistem digital pada dasarnya merupakan bagian dari rangkaian pengawasan. Rating dan catatan dari sekolah akan memiliki manfaat lebih besar apabila dapat diverifikasi, dianalisis, dan diterjemahkan menjadi tindakan perbaikan. Dengan demikian, teknologi tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengumpulan data, tetapi juga mendukung pengendalian mutu layanan.

 

Penguatan sistem penilaian juga sejalan dengan upaya BGN memperkuat tata kelola SPPG. Kepatuhan terhadap standar operasional, keamanan pangan, kebersihan fasilitas, serta pengawasan proses produksi menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas MBG. Standardisasi diperlukan agar layanan di berbagai daerah memiliki acuan yang sama meskipun kondisi dan kapasitas masing-masing SPPG berbeda.

 

Pembenahan kualitas MBG bukan hanya mengenai peningkatan jumlah makanan yang tersalurkan, tetapi juga memastikan makanan yang diterima memenuhi standar keamanan, gizi, kualitas, dan ketepatan layanan. Sistem penilaian menjadi salah satu instrumen untuk menghubungkan pengalaman penerima manfaat dengan proses evaluasi penyelenggara. Dengan tindak lanjut dan pengawasan yang konsisten, data dari lapangan dapat menjadi dasar bagi perbaikan layanan MBG secara berkelanjutan.

 

 

*) Penulis adalah Content Writer di Galaswara Digital Bureau

Ketahanan Ekonomi RI Menjadi Modal Menjaga Optimisme Nasional

November 6, 2026

Rupiah Bergerak, Peluang Penguatan Masih Terbuka

November 6, 2026

Ketahanan Ekonomi RI Menjadi Modal Menjaga Optimisme Nasional

By Kata IndonesiaNovember 6, 20260

Ketahanan Ekonomi RI Menjadi Modal Menjaga Optimisme Nasional  Oleh: Abdul Gofar Ketahanan ekonomi Indonesia yang tetap terjaga di tengah ketidakpastian global menjadi modal penting bagi pemerintah untuk mempertahankan optimisme nasional sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,47 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada triwulan III 2026. Capaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih berada dalam jalur positif dengan dukungan berbagai sektor produktif, peningkatan perdagangan, serta penguatan industri manufaktur. Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan harga konstan tercatat mencapai Rp3.633,2 triliun, sedangkan berdasarkan harga berlaku mencapai Rp6.741,0 triliun. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut memperlihatkan kemampuan Indonesia menjaga momentum pembangunan di tengah berbagai tantangan perekonomian internasional. Menurutnya, industri pengolahan menjadi sektor yang memberikan kontribusi paling besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dengan andil mencapai 1,20 poin persentase. Selain itu, perdagangan menyumbang 0,94 poin persentase, konstruksi sebesar 0,62 poin persentase, serta sektor informasi dan komunikasi memberikan kontribusi 0,49 poin persentase. Industri pengolahan sendiri mengalami pertumbuhan sebesar 5,87 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Peningkatan tersebut didukung permintaan pasar domestik maupun internasional yang semakin membaik. Salah satu subsektor yang memperlihatkan perkembangan positif adalah industri makanan dan minuman dengan pertumbuhan 7,09 persen. Kinerja ini ditopang peningkatan ekspor Crude Palm Kernel Oil (CPKO), produk turunan minyak kelapa sawit atau CPO, serta pemanfaatannya untuk kebutuhan produksi biodiesel di dalam negeri. Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional juga mencatatkan pertumbuhan 8,10 persen seiring meningkatnya produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan pupuk menjelang musim tanam. Sementara itu, industri logam dasar tumbuh mencapai 9,94 persen berkat peningkatan ekspor berbagai komoditas, termasuk katoda tembaga, nickel matte, dan aluminium. Perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil serta sepeda motor, turut menunjukkan perkembangan dengan pertumbuhan 7,14 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun 2025 sebesar 5,46 persen dan tahun 2024 sebesar 4,85 persen. Sebelum pengumuman pertumbuhan ekonomi tersebut, sejumlah indikator makroekonomi juga telah memberikan gambaran positif mengenai kondisi perekonomian nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai stabilitas harga, perkembangan industri manufaktur, dan kinerja perdagangan luar negeri menjadi tiga faktor penting yang menjaga kekuatan ekonomi Indonesia. Ia menyampaikan bahwa pemerintah berupaya mempertahankan keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan melalui koordinasi kebijakan yang berkelanjutan. Dari sisi harga, inflasi Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan, masih berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5±1 persen. Inflasi inti juga melambat menjadi 2,56 persen, sedangkan inflasi harga yang diatur pemerintah mencapai 3,24 persen. Meskipun demikian, kelompok pangan bergejolak masih perlu mendapatkan perhatian karena mengalami inflasi 5,81 persen akibat kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, dan tomat. Fenomena El Niño yang memperpanjang musim kemarau turut memengaruhi produksi dan ketersediaan sejumlah komoditas pangan.…

Rupiah Bergerak, Peluang Penguatan Masih Terbuka

By Kata IndonesiaNovember 6, 20260

Rupiah Bergerak, Peluang Penguatan Masih Terbuka Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika…

Optimisme terhadap Rupiah Ditopang Fundamental Ekonomi yang Kuat

By Kata IndonesiaNovember 6, 20260

Optimisme terhadap Rupiah Ditopang Fundamental Ekonomi yang Kuat Oleh : Rivka Mayangsari Kondisi perekonomian Indonesia…

Stabilitas Rupiah Terus Dijaga di Tengah Ketidakpastian Global

By Kata IndonesiaNovember 6, 20260

Stabilitas Rupiah Terus Dijaga di Tengah Ketidakpastian Global Oleh : Gavin Asadit Stabilitas nilai tukar…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.