• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Lomba Artikel»Semangat Literasi untuk Generasi Informasi No Hoax

Semangat Literasi untuk Generasi Informasi No Hoax

  • Kata Indonesia
  • - Tuesday, 20 August 2019

Oleh: Novianti Islahiah

INDONESIA GAWAT HOAX…

Itulah kira-kira gambaran bangsaku ini. Bagaimana tidak, hampir setiap berita yang sedang viral tiba-tiba menjadi semakin terkenal akibat ulah jempol yang langsung membagikan berita tanpa dicek terlebih dahulu kebenarannya. Baru setelah berita tersebar, ada berita lanjutan yang berisi klarifikasi bahwa berita sebelumnya adalah hoax.

Menyebarkan berita bohong ini bukan hal main-main. Karena akibat tersebarnya berita bohong ini bisa fatal. Kita ambil contoh ada berita yang heboh tentang adanya penyelenggaraan operasi katarak gratis dari RS A. Hampir semua yang membutuhkan operasi katarak gratis ini akan berbondong-bondong untuk mendaftar. Namun bisa kita bayangkan, bagaimana kecewa dan sedihnya orang tersebut ketika sesampainya di RS, mereka ditolak dan diberitahu bahwa tidak ada penyelenggaraan operasi tersebut.

Ini baru sebatas hoax untuk masalah sosial dan kemanusiaan. Bisa dibayangkan jika tersebar berita palsu yang isinya memecah belah kesatuan bangsa ini. Dapat dipastikan stabilitas keadaan bangsa tersebut akan terganggu. Keamanan dan ketenteramannya. Jika dulu para penjajah dan musuh bangsa kita berperang dengan menggunakan senjata di lapangan, sekarang kita harus siap memerangi kejahatan informasi ini. Perang dengan menggunakan pena dan jari kita. Untuk bisa menahan diri dalam menyebarluaskan informasi palsu, dan berusaha berliterasi terlebih dahulu dalam menyaring dan mencari kebenaran informasi sebelum menyebarluaskan.

 

Penyebaran hoax ini bisa berlangsung dari mulut ke mulut secara langsung, atau bahkan melalui penyebaran berita di media. Terutama media sosial yang sangat ramai digunakan orang. Dapat dipastikan ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang dengan mudahnya menyebarkan informasi palsu, terutama di media sosial. Dikutip dari pernyataan Melani Budiantara, seorang pakar budaya dari Universitas Indonesia yang memaparkan hal tersebut pada acara seminar peran kebudayaan dalam pembangunan di Bappenas tanggal 4 April 2019, faktor-faktor tersebut diantaranya adalah:

Revolusi Media Sosial

Semakin tinggi konsumsi media sosial, akan berakibat semakin tinggi juga peluang tersebarnya berita hoax. Rata-rata media sosial yang sangat rentan menyebar berita hoax ini adalah facebook. Karena aplikasi ini cukup merakyat, dan masih menjadi favorit rakyat Indonesia. Berdasarkan laporan digital tahunan oleh We are social, Indonesia dinyatakan sebagai negara pengguna FB ke-4 di dunia. Dengan karakter aplikasi yang mudah dipahami dan digunakan, serta adanya tombol bagikan yang sangat mudah dan rentan menyebar semua berita tanpa disaring terlebih dahulu.

Kurangnya Literasi

Ketidaktahuan seseorang akan kebenaran suatu informasi akan berakibat fatal. Jika dia tidak semangat berliterasi sebelum menyebarluaskan informasi, dapat dipastikan akan sangat banyak berita hoax yang beredar. Kurang kritis dan tidak ada kehati-hatian dalam membaca suatu informasi menandakan seseorang masih sangat lemah dalam berliterasi. Jangankan untuk hal seperti ini. Kita ambil contoh untuk hal yang sederhana. Seringkali ada suatu berita muncul. Di artikel berita tersebut sudah sangat lengkap informasi yang tertera. Namun saat saya baca komentar para warganet, mereka menanyakan berita yang sudah jelas tertera dalam isi artikel. Dapat dipastikan kemungkinannya adalah masyarakat terbiasa langsung bertanya, tanpa mencari atau membaca terlebih dahulu. Dari sini kita tahu semangat literasi bangsa kita masih rendah. Pantas saja berdasarkan PISA survey, survei untuk melihat tingkat literasi siswa, Indonesia tidak masuk 70 besar baik dari segi matematika, sains, ataupun reading.

 

Pengguna Media Sosial Menjadi Pengedar Informasi 

Menjadi pengedar biasanya tanpa mengecek kebenaran terlebih dahulu. Jari bertindak, berita tersebar. Hampir semua rata-rata seperti itu.

Era Sekarang yaitu Era Post-Truth

Era sekarang bukanlah era yang mengunggulkan kebenaran. Yang diutamakan penyebar informasi adalah yang penting para warganet lainnya akan tertarik dengan  berita yang kita unggah atau sebar.

Konflik Horizontal

Yaitu konflik yang terjadi antar individu atau kelompok organisasi yang memiliki kedudukan sama atau setara. Biasanya hal ini terjadi karena kurangnya komunikasi, adanya unsur kebencian saat penyebaran informasi, dll.

Dengan mudahnya berita hoax tersebar, bahkan sampai ada UU ITE yang mengatur bagaimana hukuman atau sanksi bagi para penyebar berita palsu ini.

Di semangat kemrdekaan, di usia Indonesia yang ke-74, gawat hoax ini semakin rentan. Perlu ada semangat kemerdekaan dan persatuan dalam melawan hoax. Karena memang memerangi hoax ini bukan hanya tanggung jawab satu orang saja. Akan sangat sulit satu orang memerangi beribu-ribu orang yang dengan mudahnya menyebarkan berita palsu. Oleh karena itu, mulai dari diri sendiri. Tingkatkan literasi terlebih dahulu, sebelum menyebarkan informasi yang belum terjamin keabsahannya. Selain mengganggu stabilitas negara, penyebaran berita palsu ini bisa menjadi dosa jariyah, yang tidak ada henti-hentinya. Sehingga ingat, kita harus SARING SEBELUM SHARING.

 

 

 

 

 

 

Pemerintah Optimis Ketahanan Rupiah Hadapi Tekanan Global

November 2, 2026

Bikin Takjub! Inilah Cara Gontor Kampus 4 Darul Muttaqien Perkuat Kemandirian Pangan Lewat Tempe

November 2, 2026

Pemerintah Optimis Ketahanan Rupiah Hadapi Tekanan Global

By Kata IndonesiaNovember 2, 20260

Pemerintah Optimis Ketahanan Rupiah Hadapi Tekanan Global Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti…

Bikin Takjub! Inilah Cara Gontor Kampus 4 Darul Muttaqien Perkuat Kemandirian Pangan Lewat Tempe

By Kata IndonesiaNovember 2, 20260

Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 4 Darul Muttaqien Banyuwangi yang didirikan tahun 1987 dan resmi…

Pengawasan MBG dari Daerah Memperkuat Perlindungan Kesehatan Anak

By Kata IndonesiaNovember 2, 20260

Pengawasan MBG dari Daerah Memperkuat Perlindungan Kesehatan Anak Oleh : Gavin Asadit Pengawasan dari tingkat daerah menjadi bagian penting untuk memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan aman dan memberikan manfaat bagi kesehatan anak. Seiring meluasnya pelaksanaan program di berbagai wilayah, kualitas bahan pangan, kebersihan dapur, proses pengolahan, hingga ketepatan distribusi harus dijaga secara konsisten. Pengawasan yang melibatkan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, sekolah, dan Badan Gizi Nasional (BGN) diperlukan agar makanan yang diterima peserta didik memenuhi standar keamanan dan gizi. BGN telah mendorong penguatan koordinasi pengawasan MBG melalui optimalisasi peran Satuan Tugas (Satgas) MBG di daerah serta rencana penempatan personel BGN pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Langkah ini ditujukan untuk memperpendek rentang koordinasi antara pemerintah pusat dan ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyiapkan makanan bagi penerima manfaat di seluruh Indonesia. Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, menjelaskan bahwa besarnya cakupan program membutuhkan pembagian peran yang jelas agar pengawasan dapat berlangsung lebih dekat dengan pelaksanaan di lapangan. Menurutnya, personel BGN di daerah diharapkan dapat menjadi mitra koordinasi kepala daerah, mempercepat penanganan keluhan, dan membantu memastikan persoalan operasional segera ditindaklanjuti. BGN juga mendorong daerah yang belum membentuk Satgas MBG agar segera menyelesaikan pembentukannya. Hingga akhir Oktober, Satgas MBG telah terbentuk di 230 daerah. Penguatan tersebut diperjelas melalui Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 400.5/8545/SJ tentang Pelaksanaan Inspeksi dan Penilaian Kesesuaian SPPG di Daerah. Kebijakan ini mendorong gubernur, bupati, dan wali kota untuk terlibat dalam pemeriksaan berkala terhadap dapur MBG. Pemeriksaan dilakukan dengan mengacu pada indikator kelayakan yang telah disiapkan BGN, sehingga penilaian tidak hanya mengandalkan laporan administratif, tetapi juga kondisi nyata fasilitas dan proses pengolahan makanan. Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah dalam mendukung pelaksanaan dan pengawasan MBG. Menurutnya, kepala daerah dapat menggerakkan perangkat daerah terkait untuk memeriksa kelayakan SPPG dan menindaklanjuti temuan di wilayah masing-masing. Keterlibatan dinas kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, ketahanan pangan, serta unsur pengawasan daerah memungkinkan pemeriksaan dilakukan dari berbagai sisi, mulai dari sanitasi hingga kualitas layanan. …

Pemerintah Perketat Pengawasan MBG Hingga Tingkat Daerah

By Kata IndonesiaNovember 2, 20260

Pemerintah Perketat Pengawasan MBG Hingga Tingkat Daerah Jakarta – Pemerintah memperketat pengawasan Program Makan Bergizi…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.