• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Nasional»Sektor Fiskal Jadi Fokus Pemerintah dalam Langkah Mitigasi Hadapi Tarif Impor Trump

Sektor Fiskal Jadi Fokus Pemerintah dalam Langkah Mitigasi Hadapi Tarif Impor Trump

  • Kata Indonesia
  • - Friday, 11 July 2025

Oleh Rani Ekawati Hartadinata

Masuknya Indonesia sebagai anggota resmi BRICS membawa konsekuensi strategis dalam peta ekonomi dan politik global. Di satu sisi, langkah ini membuka peluang kerja sama ekonomi dengan negara-negara berpengaruh seperti Tiongkok, India, Brasil, Rusia, dan Afrika Selatan. Namun di sisi lain, dinamika geopolitik yang mengiringi keanggotaan ini juga memunculkan tantangan baru, terutama menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan menerapkan tarif tambahan sebesar 10 persen terhadap negara-negara yang dianggap mendukung kebijakan anti-Amerika dari BRICS.

Pemerintah Indonesia menyikapi situasi ini dengan penuh kewaspadaan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa pemerintah terus mencermati dinamika tersebut dan masih melanjutkan proses dialog aktif dengan pemerintah Amerika Serikat. Keanggotaan Indonesia di BRICS bukanlah bentuk konfrontasi geopolitik, melainkan strategi untuk memperkuat posisi ekonomi nasional di tengah perubahan tatanan dunia. Namun, langkah antisipatif tetap diperlukan, terutama untuk meminimalisir dampak kebijakan proteksionis AS terhadap perekonomian nasional.

Sri Mulyani menekankan bahwa situasi global yang penuh ketidakpastian menjadi salah satu faktor utama dalam penyusunan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) untuk RAPBN 2026. Ia memastikan pemerintah akan menyusun kebijakan fiskal dengan hati-hati, mempertimbangkan dinamika eksternal dan kondisi dalam negeri. Pemerintah tidak ingin gegabah dalam merespons tekanan global, tetapi akan tetap gesit dan adaptif dalam menjaga daya tahan ekonomi nasional.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, turut menjelaskan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 telah dikoreksi pada kisaran 4,7 hingga 5 persen. Penyesuaian ini sejalan dengan prediksi lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia, yang mencermati dampak kebijakan proteksionis terhadap arus perdagangan global.

 

Pemerintah merespons cepat dengan memperkuat stimulus fiskal sejak awal tahun 2025. Sebesar Rp 35 triliun telah digelontorkan dalam bentuk insentif dan stimulus yang diarahkan ke sektor konsumsi rumah tangga dan industri strategis. Insentif tersebut antara lain diskon tarif listrik, PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk pembelian rumah, penebalan bantuan sosial, dan dukungan langsung kepada industri padat karya. Stimulus ini penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan aktivitas ekonomi, terutama di sektor-sektor yang berisiko terdampak oleh melemahnya ekspor.

 

Pada kuartal kedua, pemerintah kembali menyalurkan stimulus tambahan untuk mendorong konsumsi masyarakat selama libur sekolah. Berbagai diskon untuk moda transportasi publik seperti tiket pesawat, kereta api, kapal laut, hingga tarif tol diberikan untuk meningkatkan mobilitas dan belanja masyarakat. Selain itu, sebanyak 17 juta pekerja di sektor padat karya seperti tekstil dan alas kaki menerima subsidi upah sebesar Rp 600 ribu per orang. Pemerintah juga memperkuat bantuan sosial untuk 14 juta keluarga penerima manfaat (KPM), dengan tambahan senilai Rp 600 ribu per keluarga.

 

Langkah mitigasi ini akan berlanjut pada semester kedua 2025. Pemerintah menargetkan percepatan program-program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), pembiayaan rumah melalui FLPP, serta pemberdayaan ekonomi desa melalui program koperasi Merah Putih. Percepatan realisasi belanja negara pada kuartal ketiga dan keempat diharapkan mampu menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi.

Namun mitigasi fiskal saja tidak cukup. Strategi diplomasi ekonomi juga menjadi kunci utama. Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Puteri Komarudin, menegaskan perlunya pemerintah merespons langkah Amerika Serikat secara konkret dan bermartabat. Indonesia harus menunjukkan bahwa posisinya sebagai anggota BRICS tidak mengurangi komitmen terhadap kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan, termasuk dengan mitra strategis seperti Amerika Serikat.

 

Puteri mendorong pembentukan strategic economic dialogue antara Indonesia dan AS, agar kedua negara bisa membahas persoalan tarif, perdagangan digital, investasi timbal balik, serta sertifikasi dan standardisasi produk secara menyeluruh. Pendekatan ini penting untuk membangun hubungan dagang yang konstruktif, meskipun terdapat perbedaan pandangan geopolitik di level global.

 

Selain memperkuat diplomasi, Puteri juga menekankan pentingnya diversifikasi pasar ekspor. Dengan mempercepat penyelesaian perjanjian dagang seperti IEU-CEPA dan I-EAEU CEPA, serta membuka akses pasar baru ke kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin. Langkah ini penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasar-pasar utama seperti Amerika Serikat.

 

Hilirisasi industri juga menjadi strategi jangka panjang yang terus dilanjutkan. Dengan meningkatkan nilai tambah produk ekspor, Indonesia dapat meningkatkan daya saing di pasar global dan lebih tahan terhadap perubahan kebijakan dagang dari negara-negara mitra. Produk-produk yang memiliki komponen industri dalam negeri tinggi cenderung memiliki nilai ekspor yang lebih stabil dan tidak mudah tertekan oleh tarif atau embargo.

Melalui kombinasi kebijakan fiskal yang adaptif, stimulus konsumsi domestik, diplomasi ekonomi yang aktif, dan diversifikasi ekspor yang progresif, Indonesia menunjukkan kesiapannya menghadapi tantangan baru dari dinamika global. Keanggotaan di BRICS menjadi momentum strategis untuk memperkuat posisi ekonomi Indonesia, namun juga menuntut kebijakan dalam negeri yang responsif, terukur, dan menyeluruh. Dengan menjaga stabilitas APBN dan mengarahkan belanja negara pada sektor-sektor yang paling terdampak, pemerintah tidak hanya melindungi perekonomian nasional, tetapi juga memperkuat fondasi menuju ketahanan ekonomi jangka panjang.

 

)* penulis merupakan pengamat kebijakan ekonomi

Pemerintah Perkuat Satgas untuk Percepat Pemulihan Wilayah Terdampak Bencana

October 21, 2026

Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah untuk Percepat Pemulihan Bencana

October 21, 2026

Pemerintah Perkuat Satgas untuk Percepat Pemulihan Wilayah Terdampak Bencana

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Perkuat Satgas untuk Percepat Pemulihan Wilayah Terdampak Bencana JAKARTA – Pemerintah memperkuat koordinasi Satuan…

Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah untuk Percepat Pemulihan Bencana

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah untuk Percepat Pemulihan Bencana *Jakarta* – Pemerintah terus memperkuat sinergi antara…

Pemerintah Memperluas Transaksi Lokal demi Ketahanan Rupiah dan Ekonomi

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Memperluas Transaksi Lokal demi Ketahanan Rupiah dan Ekonomi Oleh : Jems Andrian Pemerintah bersama…

Pemerintah Menjaga Fundamental Ekonomi di Tengah Tekanan Rupiah

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Menjaga Fundamental Ekonomi di Tengah Tekanan Rupiah  Oleh: Ricky Rinaldi Dinamika perekonomian global yang diwarnai tingginya ketidakpastian pasar keuangan internasional, ketegangan geopolitik lintas benua, serta kebijakan suku bunga tinggi di negara-negara maju memicu tekanan yang signifikan terhadap nilai tukar mata uang di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menjadi tantangan nyata yang memerlukan kecermatan serta presisi strategi kebijakan ekonomi makro secara komprehensif. Dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan tersebut, ketahanan ekonomi nasional tidak ditentukan oleh respon kepanikan jangka pendek, melainkan oleh kekuatan fundamental ekonomi riil dan solidnya koordinasi kebijakan antar-lembaga. Langkah strategis pemerintah bersama otoritas moneter dalam menjaga ketahanan fundamental ekonomi terbukti menjadi benteng utama dalam mempertahankan stabilitas finansial, menjaga daya beli masyarakat, serta memastikan keberlanjutan arus investasi nasional secara inklusif. Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemerintah terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter bersama Bank Indonesia guna meredam dampak gejolak nilai tukar terhadap perekonomian domestik. Menurutnya, APBN menjalankan peran vital sebagai peredam kejutan (shock absorber) untuk melindungi daya beli masyarakat berpenghasilan rendah dari potensi dampak kenaikan harga barang-barang impor (imported inflation). Pengelolaan defisit anggaran secara disiplin, efisiensi belanja negara, serta optimalisasi penerimaan perpajakan dan non-pajak dipastikan tetap terjaga dengan aman guna menopang kepastian iklim usaha dan memberikan tingkat kepercayaan yang tinggi bagi pasar keuangan global. Suahasil menjelaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat berdaya tahan, didukung oleh laju pertumbuhan ekonomi yang konsisten berada di atas lima persen, tingkat inflasi nasional yang terkendali dalam sasaran target, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus secara beruntun. Pemerintah memberikan kepastian bagi dunia usaha bahwa ketahanan fiskal Indonesia sangat memadai untuk menghadapi guncangan eksternal. Instrumen insentif perpajakan dan kemudahan fasilitas kepabeanan tetap dialokasikan secara tepat sasaran untuk mendukung industri manufaktur berorientasi ekspor serta mendorong penggunaan komponen dalam negeri demi menekan ketergantungan bahan baku impor. Menjaga fundamental ekonomi di tengah tekanan fluktuasi mata uang merupakan wujud tanggung jawab kepemimpinan ekonomi yang matang dan berpandangan jauh ke depan. Pemerintah memberikan penegasan yang jelas kepada publik bahwa stabilitas Rupiah ditopang oleh kekuatan sektor riil dan cadangan devisa yang mencuputi. Ketegasan pemerintah dalam mendorong pendalaman pasar keuangan serta optimalisasi penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam di dalam negeri menjadi instrumen hukum yang sangat krusial untuk memperkuat ketersediaan likuiditas valuta asing di pasar domestik. Penguatan fundamental ini juga diperkokoh melalui pengawasan ketat terhadap efisiensi belanja BUMN dan korporasi swasta yang memiliki kewajiban utang luar negeri. Koordinasi berkala dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan setiap potensi risiko likuiditas terdeteksi dan dimitigasi secara terukur sebelum berdampak pada sektor perbankan nasional. Langkah pencegahan yang terintegrasi ini menjamin bahwa seluruh industri keuangan nasional memiliki bantalan modal yang sangat tebal dalam menghadapi gejolak eksternal. Langkah percepatan penataan ekosistem modal usaha dan daya saing industri dalam negeri ini berjalan selaras dengan dorongan penanaman modal strategis. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani mengatakan ketahanan fundamental ekonomi nasional menjadi faktor penentu utama yang menjaga kepercayaan para investor global untuk tetap menanamkan modal jangka panjang di Indonesia. Menurutnya, dinamika kurs jangka pendek tidak menyurutkan minat investasi langsung (Foreign Direct Investment) karena daya tarik Indonesia terletak pada besarnya potensi pasar domestik, kelimpahan sumber daya alam, dan ketegasan kebijakan hilirisasi industri.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.