• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Lomba Artikel»Sekolah Sosial Media Menekan Keberadaan Hoaks

Sekolah Sosial Media Menekan Keberadaan Hoaks

  • Kata Indonesia
  • - Tuesday, 20 August 2019

Oleh: Bagus Sugiarto (Penulis / Blogger Sampit – Kalimantan Tengah)

Pilpres dan Pileg telah usai, berbagai fitnah HOAKS dan sejenisnya telah tenggelam oleh waktu karena bersifat kontemporer. Tapi justru yang lebih berbahaya adalah HOAKS pasca Pilpres / Pileg, mengapa demikian ? Tak lain pasca Pilpres dan Pileg inilah mempunyai rentang waktu 5 tahun ke depan.

Pada segelintir orang tentunya ada rasa tidak puas dengan hasil pesta demokrasi lima tahunan yang dikemas dalam Pilpres dan Pileg beberapa bulan lalu. Bibit-bibit inilah yang nantinya akan menjadi “penyerang” pemerintahan yang sah. Tidaklah mengapa jika menjadi oposoisis yang baik sebagai penyeimbang pemerintahan. Yang membahayakan jika rasa ketidakpuasan segelintir orang tersebut memanfaatkan kaum awam sebagai sasaran berita bohong atau yang lebih kita kenal sebagai hoaks.

Pada situasi dan kondisi seperti inilah hoaks bisa menjadi senjata ampuh bagi yang menginginkan ketidak harmonisan dalam berbangsa dan bernegara. Dunia maya dimana teknologi informasi berkembang merupakan dunia yang mempunyai kekuatan dahsyat walau keberadaannya tidak terlihat. Berbicara tentang hoaks di sosial medis sebagai corongnya dunia maya bagaikan tajamnya mata pisau yang siap menyayat. Jika pemegang pisau tersebut mempunyai jiwa yang luhur dan mempunyai wawasan luas tentulah akan mampu mengendalikan diri dengan keberadaan hoaks yang setiap saat menghampirinya. Tapi sebaliknya jika pemegang mata pisau yang siap menyayat tersebut mempunyai jiwa yang kerdil dan labil tentu akan dengan sangat mudah terpengaruh ataupun terprovokasi oleh berbagai hoaks yang menghampirinya.

 

Mengenal Sekolah Sosial Media

Salah satu cara untuk mengendalikan dan meminimalisir hoaks adalah dengan adanya pendididkan terprogram bagi penghuni dunia maya (pemakai IPTEK), tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi informasi akan terus berkembang sejalan dengan penemuan-penemuan terbaru dibidang informasi. Sejauh ini masih minim sosialisasi tentang dunia informasi yang sedang berkembang dewasa ini terutama cara bijak dalam bersosial media.

Tidak saja didodminasi oleh orang dewasa sebagai pemakai teknologi informasi, tapi mulai dari balita sudah mengenal yang namanya smartphone sebagai sarana mengenal dunia maya ini. Jadi memang sangat rentan dengan pelanggaran-pelanggaran yang nantinya akan terjadi di sosial media.

Hoaks, ujaran kebencian, caci maki dan lain sebagainya kerap kali kita dengar di sosial media. Baik disengaja atau tidak disengaja tentu pelaku akan terkena pasal-pasal UU ITE dan setelah diproses berdalih khilaf. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi bila sudah demikian yaitu memang sengaja dalam penyebaran hoaks, atau memang terbawa arus emosi sesaat hingga terjerumus ke dalam proses UU ITE yang mereka tidak pahami.

Dari kasus inilah perlu sosialisasi atau sekolah Sosial Media untuk pemahaman atau batasan layak tidaknya dalam bersiosial media sebagai corongnya dunia maya. Untuk mencapai sasaran sampai kalangan bawah bisa dimulai dari tingkat kabupaten dengan beberapa relawan dan sampai pada tingkat RT dengan relawan yang siap berjuang untuk memelekkan warga terhadap teknologi informasi.

Sudah disinggung di atas bahwa pengguna internet sudah bukan orang-orang dewasa saja yang memakai tapi realita di lapangan anak-anak balitapun sudah mengenal smartphone. Jadi bukan tidak mungkin kelabilan anak-anak ini bisa sebagai penyambung hoaks yang ditebarkan oleh oknum-oknum yang ingin membuat kekacauan.

Dengan diadakannya Sekolah Sosial Media ini diharapkan akan mampu menyaring berita-berita miring yang menjurus pada ketidakstabilan bermasyarakat yang nantinya akan merugikan diri sendiri. Akan lebih baiknya jika di setiap RT ada relawan yang paham teknologi informasi yang siap sedia sebagai tempat rujukan.

 

Bisakah Sekolah Sosial Media Diadakan?

Why not! Mengapa tidak. Di era milenial ini yang serba online dan banyaknya kemudahan-kemudahan yang ditimbulkan dengan seutas jaringan internet mungkin kelihatan lucu bila mendengar adanya Sekolah Sosmed. Tapi jika kita amati dari berkembangnya dunia informasi seperti sekarang ini adakalanya ada yang belum siap menerima kemajuan tersebut. Jadi untuk memberikan pendidikan dalam bersosial media yang memanfaatkan teknologi informasi tentulah sangat diperluakan baik bagi person pengguna sendiri maupun untuk menjaga stabilitas berbangsa dan bernegara.

Kita telah mengenal toko online, ojek online, sekolah online, seminar online kursus online dan sebagainya yang memudahkan dalam berkehidupan bermasyarakat. Untuk mempersiapkan itu semua diperlukan pendidikan yang memadai bagi setiap individu pemakai teknologi informasi pada umumnya dan pengguna Sosial Media pada khususnya.

 

Sampit, 19 Agustus 2019

Koperasi Merah Putih: Senjata Melawan Penimbunan dan Rentenir

August 27, 2026

Pemerintah Arahkan Koperasi Merah Putih Jadi Jalur Baru Cegah Kebocoran Subsidi

August 27, 2026

Koperasi Merah Putih: Senjata Melawan Penimbunan dan Rentenir

By Kata IndonesiaAugust 27, 20260

Koperasi Merah Putih: Senjata Melawan Penimbunan dan Rentenir Oleh : Gavin Asadit Pemerintah terus memperkuat…

Pemerintah Arahkan Koperasi Merah Putih Jadi Jalur Baru Cegah Kebocoran Subsidi

By Kata IndonesiaAugust 27, 20260

Pemerintah Arahkan Koperasi Merah Putih Jadi Jalur Baru Cegah Kebocoran Subsidi Jakarta – Pemerintah terus…

Pemerintah Pangkas Rantai Distribusi Subsidi lewat Koperasi Merah Putih

By Kata IndonesiaAugust 27, 20260

Pemerintah Pangkas Rantai Distribusi Subsidi lewat Koperasi Merah Putih INDRAMAYU — Pemerintah terus mematangkan pembangunan…

Komitmen Jaga Kualitas, Pemerintah Terima Kritik terhadap MBG

By Kata IndonesiaAugust 27, 20260

Komitmen Jaga Kualitas, Pemerintah Terima Kritik terhadap MBG Oleh : Irfan Aditya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan prioritas pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Program ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kecukupan gizi peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam membangun generasi yang sehat, produktif, dan berdaya saing. Dengan cakupan penerima manfaat yang terus bertambah di berbagai daerah, pemerintah menyadari bahwa pelaksanaan program berskala nasional ini harus diiringi dengan standar kualitas yang tinggi. Oleh karena itu, berbagai kritik dan masukan dari masyarakat dipandang sebagai bagian penting dalam proses penyempurnaan kebijakan agar manfaat MBG dapat dirasakan secara optimal oleh seluruh penerima. Dalam setiap kebijakan publik, kritik merupakan bentuk partisipasi masyarakat yang perlu diapresiasi. Pemerintah memahami bahwa keberhasilan sebuah program tidak hanya bergantung pada perencanaan yang baik, tetapi juga pada kemampuan melakukan evaluasi secara berkelanjutan. Masukan mengenai kualitas makanan, ketepatan distribusi, kebersihan dapur, maupun pelayanan di lapangan menjadi indikator penting untuk memperbaiki sistem yang sudah berjalan. Pendekatan yang terbuka terhadap kritik menunjukkan bahwa pemerintah mengedepankan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pembangunan kualitas manusia sebagai prioritas utama pemerintahan. Melalui Program Makan Bergizi Gratis, pemerintah berupaya memastikan bahwa setiap anak Indonesia memperoleh akses terhadap makanan yang sehat, aman, dan bergizi. Dalam berbagai kesempatan, Presiden menegaskan bahwa pelaksanaan program harus terus dievaluasi agar kualitas layanan tetap terjaga sekaligus mampu menjawab berbagai tantangan yang muncul selama implementasi. Komitmen pemerintah dalam menerima kritik juga tercermin dari pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap berbagai masukan masyarakat terkait pelaksanaan MBG. Menurutnya, evaluasi merupakan bagian dari proses memperkuat tata kelola program sehingga seluruh rantai penyediaan pangan, mulai dari pengadaan bahan baku hingga penyajian makanan, dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan. Pihaknya menegaskan bahwa pemerintah akan terus melakukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar kualitas pelayanan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan pelaksanaan program. Pandangan senada disampaikan oleh Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene, yang menilai pengawasan terhadap Program Makan Bergizi Gratis harus terus diperkuat seiring meningkatnya jumlah penerima manfaat. Menurutnya, DPR RI mendukung penuh keberlanjutan program tersebut, namun pelaksanaannya harus disertai pengawasan yang ketat agar setiap makanan yang diterima masyarakat benar-benar memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan. Pihaknya juga menekankan bahwa kritik dari masyarakat hendaknya dijadikan bahan evaluasi bersama sehingga pemerintah dapat melakukan perbaikan secara cepat dan tepat tanpa mengurangi tujuan utama program.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.