• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Headline»Sayangi Keluarga di Kampung dengan Tidak Mudik

Sayangi Keluarga di Kampung dengan Tidak Mudik

  • Kata Indonesia
  • - Thursday, 6 May 2021

Oleh : Zainudin Zidan

Larangan mudik jelang lebaran tahun 2021 mungkin agak membuat shock karena sama dengan tahun lalu. Masyarakat diminta untuk lebih bersabar karena tidak pulang kampung, karena mobilitas massal bisa meningkatkan penularan corona. Jangan nekat mudik, karena justru dengan menahan diri, Anda menyayangi keluarga di kampung, karena memutus mata rantai penyebaran corona.

Keputusan pemerintah untuk melarang mudik hingga tanggal 16 mei 2021 membuat geger masyarakat, karena mereka mengira tahun ini akan lebih longgar. Pasalnya, tahun lalu sudah ada larangan keras mudik. Ketika lagi-lagi masyarakat dilarang untuk pulang kampung, banyak yang akhirnya gigit jari.

Larangan mudik harap dilihat sebagai sesuatu yang positif, karena tidak berlebaran di kampung justru untuk melindungi keluarga di sana. Ketika nekat pulang kampung dan ternyata Anda seorang OTG, maka akan langsung menular ke orang tua. Mereka yang telah renta lebih mudah untuk tertular corona dan resiko tertingginya adalah sakit parah yang berujung kematian.

Raden Pardede, Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, menyatakan bahwa larangan mudik lebaran tahun 2021 bertujuan melindungi kesehatan masyarakat. Jangan sampai pasca pulang kampung ada serangan gelombang corona baru.

Pemerintah melarang untuk mudik karena berkaca dari beberapa liburan sebelumnya. Saat ada long weekend, maka jumlah pasien corona melonjak drastis, hingga 2 kali lipat.

Penyebabnya karena mobilitas masyarakat membuat penyebaran virus covid-19 makin melebar, apalagi ketika bermukim atau mengunjungi wilayah dengan zona merah.
Raden Pardede melanjutkan, mudik diperbolehkan ketika keadaan sudah mulai aman.

Walau belum mengatakan kapan, karena belum ada penurunan jumlah pasien corona secara drastis, tetapi hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya pemerintah ingin agar rakyatnya bahagia dengan berlebaran seperti biasa. Namun karena masih pandemi, maka mereka belum diperbolehkan untuk mudik.

Pandemi sudah berlangsung selama 14 bulan dan masyarakat mulai jenuh dengan corona. Meski bosan, tetapi tidak boleh melewatkan fakta bahwa jumlah pasien covid masih tinggi, yakni lebih dari 4.000 orang per harinya. Jika semua orang diperbolehkan mudik, maka dikhawatirkan jumlah pasien akan meroket dan terjadi kasus corona massal.

Kita harus berkaca dari kasus di India saat ada kerumunan dan masyarakatnya tidak mematuhi protokol kesehatan. Akibatnya ada ratusan orang yang meninggal setiap harinya. Dikhawatirkan, ketika mudik tidak dilarang, akan terjadi hal yang serupa. Kita tentu masih sayang nyawa, bukan?

Apalagi tujuan mudik adalah rumah orang tua di kampung. Jika memang Anda bukan OTG, tetapi bisa beresiko kena corona di perjalanan, entah di rest area atau tempat lain. Ketika mudik, maka anda membawa oleh-oleh tak hanya makanan dan pakaian, tetapi juga virus covid-19.

Selain orang tua yang bisa terkena corona, maka tetangga dan saudara sekampung juga bisa terjangkit penyakit berbahaya ini. Maukah Anda dicap sebagai penyebar virus dan membuat banyak orang merana karena menderita dan harus dirawat selama minimal 2 minggu di Rumah Sakit? Jawabannya tidak, bukan?

Tahanlah keinginan untuk mudik dan berlebaran di rumah saja. Saat ini sudah ada teknologi, bisa dengan telepon, video call, atau meeting online via Zoom. Orang tua Anda bisa memanfaatkannya juga dan melepas rindu walau hanya di dunia maya.

Larangan mudik bukanlah sebuah arogansi pemerintah, melainkan justru bentuk perhtian terhadap rakyatnya. Jangan sampai banyak orang yang pulang kampung lalu menyebarkan corona. Saat banyak yang sakit, maka efek negatifnya adalah pandemi akan terus berlanjut dan kita akan makin menderita di masa depan.

Penulis adalah warganet tinggal di Bogor

Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan dan Informasi Akurat Hadapi Risiko Bencana

September 8, 2026

Hadapi Ancaman Bencana Tanpa Panik, Pemerintah Pastikan Respons Cepat Terus Berjalan

September 8, 2026

Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan dan Informasi Akurat Hadapi Risiko Bencana

By Kata IndonesiaSeptember 8, 20260

Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan dan Informasi Akurat Hadapi Risiko Bencana Oleh: Camelia Kencana Risiko bencana merupakan…

Hadapi Ancaman Bencana Tanpa Panik, Pemerintah Pastikan Respons Cepat Terus Berjalan

By Kata IndonesiaSeptember 8, 20260

Hadapi Ancaman Bencana Tanpa Panik, Pemerintah Pastikan Respons Cepat Terus Berjalan Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan…

Pemerintah Pantau Erupsi Anak Krakatau, Keselamatan Masyarakat Jadi Prioritas

By Kata IndonesiaSeptember 8, 20260

Pemerintah Pantau Erupsi Anak Krakatau, Keselamatan Masyarakat Jadi Prioritas Pemerintah memastikan keselamatan dan keamanan masyarakat…

Jaga Indonesia, Persatuan dan Kritik Konstruktif Jadi Kunci Mengawal Prabowo-Gibran

By Kata IndonesiaSeptember 8, 20260

Jaga Indonesia, Persatuan dan Kritik Konstruktif Jadi Kunci Mengawal Prabowo-Gibran Oleh : Gavin Asadit Menjaga persatuan nasional menjadi salah satu kunci penting dalam mengawal jalannya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Di tengah dinamika politik, ekonomi, dan sosial yang terus berkembang, masyarakat memiliki peran strategis untuk memastikan perbedaan pandangan tetap berada dalam koridor demokrasi yang sehat. Persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan pendapat. Sebaliknya, persatuan dapat diwujudkan dengan menjadikan perbedaan sebagai bagian dari proses demokrasi, sekaligus memastikan setiap kritik disampaikan secara konstruktif dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas. Situasi bangsa yang kondusif membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, bukan hanya pemerintah. Perbedaan pilihan politik merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk membangun permusuhan ataupun memperlebar polarisasi di tengah masyarakat. Dukungan terhadap pemerintahan juga tidak harus dipahami sebagai sikap yang menutup ruang kritik. Masyarakat tetap mempunyai hak untuk memberikan masukan, melakukan pengawasan, dan menyampaikan evaluasi terhadap kebijakan pemerintah. Hal terpenting adalah kritik tersebut disampaikan dengan cara yang bertanggung jawab serta didasarkan pada kepentingan publik. Kritik konstruktif justru dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat pemerintahan. Masukan dari masyarakat dapat membantu pemerintah melihat persoalan secara lebih luas, terutama ketika sebuah program masih menghadapi kendala dalam pelaksanaannya. …

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.