• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Ekonomi»Bisnis»Program TJSL Terbukti Berdampak Positif, Dirut PLN Dinobatkan Jadi Pemimpin Transformasi Bisnis Berkelanjutan

Program TJSL Terbukti Berdampak Positif, Dirut PLN Dinobatkan Jadi Pemimpin Transformasi Bisnis Berkelanjutan

  • Kata Indonesia
  • - Wednesday, 24 July 2024

Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo dinobatkan sebagai Pemimpin Transformasi Bisnis Berkelanjutan dalam ajang Nusantara Corporate Social Responsibility (CSR) Awards 2024 yang digelar La Tofi School of Social Responsibility di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Rabu (17/7).

Di bawah kepemimpinannya, PLN berhasil meraih Perusahaan Paling Bertanggung Jawab 2024 berkat 31 program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan yang dinilai mampu berkontribusi langsung bagi masyarakat dan lingkungan.

Darmawan menyampaikan, PLN berkomitmen tidak hanya fokus pada kegiatan bisnis semata, tetapi juga berdampak pada lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Karenanya, program TJSL yang dijalankan selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau _Sustainable Development Goals_ (SDG’s).

“Kami berkomitmen tidak hanya menyediakan listrik yang andal, tetapi juga menjadi roda penggerak bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Sehingga, melalui program TJSL PLN kami ingin menjalankan kegiatan yang memberikan manfaat langsung pada aspek kehidupan masyarakat,” tuturnya.

Darmawan menjelaskan, program TJSL PLN juga mengedepankan prinsip _Creating Shared Value_ (CSV)) yang melingkupi berbagai sektor dengan program prioritas. Program yang telah berjalan yaitu seperti pemanfaatan sampah menjadi energi _(Co-Firing),_ pemanfaatan _Fly Ash Bottom Ash (FABA)_, _Electrifying Agriculture_, pengembangan UMKM dan lainnya.

Hal ini pun, kata dia, merupakan upaya perseroan dalam mewujudkan tercapainya pertumbuhan ekonomi berkualitas melalui keberlanjutan usaha, inovasi, penciptaan industri, penyediaan infrastruktur memadai, pengembangan Usaha Mikro Kecil (UMK), dan peluang membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Karena itu, lanjut Darmawan, penghargaan yang diterima menjadi pelecut semangat bagi perseroan agar lebih termotivasi dalam meningkatkan dan semakin menyebarluaskan program pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program TJSL.

“Terima kasih atas penghargaan yang diberikan, tentunya ini tak terlepas dari upaya insan PLN di seluruh Indonesia dalam mendarmakan baktinya melalui program TJSL. Kami akan terus meningkatkan kualitas program TJSL sehingga manfaat yang dirasakan akan semakin luas,” tutup Darmawan.

Chairman La Tofi School of Social Responsibility La Tofi menyebut ajang Nusantara CSR Award 2024 ke-15 kali ini diikuti oleh 75 perusahaan baik BUMN maupun swasta dengan mengangkat program CSR unggulan masing-masing perusahaan. Menurutnya, para pemenang penghargaan dinilai bukan hanya dari bentuk program tetapi mampu membawa perubahan kepada masyarakat maupun lingkungan.

“Para pemenang kami menilai telah banyak membuat cerita perubahan dari Sabang sampai Merauke, bukan sekadar menghabiskan uang, tetapi dinilai dari dampak cerita perubahan yang dilakukan,” kata La Tofi.

Secara rinci, penghargaan The Most Responsible Companies 2024 disumbangkan atas program-program dari unit PLN dan subholding di seluruh Indonesia yaitu Unit Induk Distribusi (UID) Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dengan 5 program, UID Lampung dengan 3 program, dan 2 program masing-masing disumbangkan oleh Unit Induk Pembangunan (UIP) Maluku dan Papua, UIP Kalimantan Bagian Timur, UIP Nusa Tenggara, UID Sumatera Barat, UID Jakarta Raya, Unit Induk Wilayah (UIW) Nusa Tenggara Barat, dan UIW Nusa Tenggara Timur.

Kemudian masing-masing menyumbangkan satu program yakni UIP Jawa Bagian Tengah, UIP Sulawesi, UID Kalimantan Barat, UID Sumatera Utara, UID Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Unit Induk Transmisi (UIT) Jawa Bagian Barat, UIT Jawa Bagian Tengah, Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Corporate University), serta PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Jeranjang.

 

September Hitam Jangan Menjadi Panggung Mobilisasi Kebencian yang Merusak Demokrasi

September 17, 2026

September Hitam Harus Jadi Ruang Ingatan Kolektif, Bukan Mobilisasi Emosi

September 17, 2026

September Hitam Jangan Menjadi Panggung Mobilisasi Kebencian yang Merusak Demokrasi

By Kata IndonesiaSeptember 17, 20260

September Hitam Jangan Menjadi Panggung Mobilisasi Kebencian yang Merusak Demokrasi  Oleh: Indah Prameswari Setiap September, ruang publik Indonesia kembali diwarnai refleksi mengenai berbagai peristiwa yang pernah menjadi bagian dari perjalanan bangsa. Momentum ini dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami sejarah, memperkuat kepedulian terhadap nilai kemanusiaan, serta melihat pentingnya menjaga kehidupan demokrasi secara sehat. Refleksi terhadap masa lalu akan lebih bermakna apabila diarahkan pada upaya membangun masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu, pembahasan mengenai September Hitam perlu ditempatkan dalam semangat dialog, penghormatan terhadap kebebasan berpendapat, dan tanggung jawab bersama agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi permusuhan di tengah masyarakat. Pengamat politik dari Indeks Data Nasional, Ayip Tayana, mengingatkan agar wacana September Hitam yang berkembang di media sosial tetap ditempatkan sebagai ruang refleksi dan aktivisme digital yang positif. Menurut Ayip, momentum tersebut perlu dijaga agar tidak bergeser menjadi mobilisasi massa yang didorong emosi dan kebencian, karena kondisi demikian justru dapat menjauhkan masyarakat dari tujuan membangun diskusi yang sehat. Ayip menilai penyampaian aspirasi melalui demonstrasi tetap merupakan bagian yang sah dalam kehidupan demokrasi. Namun, ia mendorong mahasiswa dan masyarakat sipil mengevaluasi bentuk gerakan agar tidak berhenti pada pengerahan massa, melainkan diarahkan pada pembahasan yang lebih substantif mengenai pemulihan korban, efektivitas kebijakan, serta langkah pencegahan, sehingga persoalan serupa tidak kembali terjadi. Ia menekankan, mahasiswa memiliki ruang yang lebih luas untuk mengambil peran sebagai penggerak solusi dengan memanfaatkan riset dan kajian berbasis bukti. Aspirasi yang disusun melalui data dan rekomendasi kebijakan dinilai dapat memperkaya proses penyelesaian persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) sekaligus menjaga agar momentum September Hitam tetap produktif dan tidak terjebak dalam mobilisasi emosi. Di sisi lain, kewaspadaan terhadap potensi provokasi menjadi penting karena stabilitas sosial merupakan prasyarat bagi berlangsungnya kehidupan demokratis. Kapolda Papua Barat Irjen Pol Alfred Papare mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh isu yang membawa nama Black September atau September Hitam. Kepolisian, menurut Alfred, telah berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat akibat ajakan aksi yang beredar di media sosial.…

September Hitam Harus Jadi Ruang Ingatan Kolektif, Bukan Mobilisasi Emosi

By Kata IndonesiaSeptember 17, 20260

September Hitam Harus Jadi Ruang Ingatan Kolektif, Bukan Mobilisasi Emosi Oleh: Rania Zafirah September kembali menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengingat berbagai peristiwa kelam dalam perjalanan bangsa. Istilah September Hitam berkembang sebagai simbol untuk mengenang sejumlah kasus kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang masih menjadi bagian dari ingatan publik. Momentum tersebut penting karena mengingat sejarah bukan sekadar menghadirkan kembali luka masa lalu, tetapi juga membangun kesadaran agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi. Di tengah perkembangan teknologi informasi, proses mengingat berbagai peristiwa masa lalu semakin mudah dilakukan melalui media sosial. Berbagai arsip, dokumentasi, kesaksian, maupun kajian mengenai kasus HAM dapat diakses oleh generasi yang tidak mengalami langsung peristiwa tersebut. Kondisi ini membuka peluang terbentuknya ingatan kolektif yang lebih luas, sekaligus menghadirkan tantangan berupa penyebaran informasi tanpa konteks, opini, maupun narasi yang belum terverifikasi. …

Isu September Hitam, Aspirasi Disampaikan Tertib dan Sesuai Aturan Tanpa Provokasi Anarkistis

By Kata IndonesiaSeptember 17, 20260

Isu September Hitam, Aspirasi Disampaikan Tertib dan Sesuai Aturan Tanpa Provokasi Anarkistis Jakarta – Isu…

Sejumlah Pihak Ingatkan September Hitam Jangan Berubah Jadi Mobilisasi Emosi

By Kata IndonesiaSeptember 17, 20260

Sejumlah Pihak Ingatkan September Hitam Jangan Berubah Jadi Mobilisasi Emosi Jakarta – Sejumlah pihak mengingatkan…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.