• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Program Penyebaran Nyamuk Wolbachia, Langkah Menuju Pengendalian DBD

Program Penyebaran Nyamuk Wolbachia, Langkah Menuju Pengendalian DBD

  • Kata Indonesia
  • - Friday, 16 February 2024

Program Penyebaran Nyamuk Wolbachia, Langkah Menuju Pengendalian DBD

Oleh: Chiya B. Naraya

Indonesia, dengan populasi penduduknya yang besar dan keragaman geografisnya, sering kali menghadapi tantangan dalam pengendalian penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Salah satu pendekatan yang sedang dikembangkan oleh pemerintah Indonesia adalah penggunaan bakteri Wolbachia sebagai alat untuk mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti, vektor penyakit menular seperti demam berdarah dan Zika.

Program pemerintah ini menandai inovasi dalam upaya pengendalian vektor penyakit dan dapat memiliki dampak yang signifikan dalam menekan penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk.

Melansir dari situs Kementerian Kesehatan Ditjen P2P, Wolbachia adalah bakteri alami pada 60 persen serangga. Bakteria Wolbachia tidak menginfeksi manusia atau Vertebrata yang lain, dan tidak menyebabkan manusia atau hewan menjadi sakit. Wolbachia hanya hidup dalam sel serangga dan dapat diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya melalui telur.
Wolbachia dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti dapat menurunkan replikasi virus dengue sehingga dapat mengurangi kemampuan nyamuk tersebut sebagai penular demam berdarah.
Pertambahan bakteri atau virus terjadi melalui mekanisme kompetisi mendapatkan makanan antara virus dengue dan bakteri Wolbachia dalam tubuh nyamuk. Makin sedikit mendapatkan suplai makanan, makin sulit virus dengue berkembang biak (replikasi).
Nyamuk ber-Wolbachia dikabarkan disebar pada lima kota besar, yakni Kota Semarang, Kota Bontang, Kota Kupang, Kota Jakarta Barat, dan Kota Bandung. Inovasi Wolbachia sendiri dinilai aman dalam jangka panjang.
Hal ini disampaikan oleh Entomolog Institut Pertanian Bogor, Prof. Damayanti Buchori, di mana melakukan analisa terkait inovasi Wolbachia dalam jangka panjang. Hasilnya adalah penerapan teknologi nyamuk ber-wolbachia untuk menekan penyebaran virus demam berdarah aman.
Lebih lanjut, bahkan inovasi ini aman dalam jangka waktu 30 tahun ke depan risikonya dapat diabaikan. Namun, monitoring tetap perlu dilakukan untuk melihat perkembangannya.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Maxi Rein Rondonuwu menegaskan bahwa penyebaran nyamuk ber-wolbachia dipastikan aman. Hal ini karena telah melalui proses penelitian yang cukup panjang dengan turut melibatkan banyak ahli.
Hasilnya, penyebaran nyamuk ber-Wolbachia untuk mengurangi demam berdarah terbukti efektif menurunkan angka kejadian dengue hingga 77 persen dan angka perawatan di rumah sakit sebesar 86 persen. Penggunaan fogging atau pengasapan perlahan juga turun.
Saat ini, program pemerintahan tersebut telah berjalan. Seperti implementasi yang dilakukan di Sleman. Metode ini tengah diteliti dengan melepaskan ribuan nyamuk ber-wolbachia di dua padukuhan, Kronggahan dan Nogotirto, Sleman.
Masing-masing setiap rumah disebar hingga delapan hingga 10 ekor nyamuk. Selama sembilan bulan pasca pelepasan sewak awal tahun 2014, di dua wilayah penelitian tersebut diketahui ada peningkatan populasi nyamuk ber-Wolbachia hingga 60- 80%. Peneliti mengklaim wolbachia terus menyebar dalam populasi nyamuk setempat.
Peneliti Eliminate Dengeu Project (EDP) UGM, Riris Andono Ahmad mengatakan elepasan nyamuk setiap pekan ini akan dilanjutkan hingga nantinya 100 persen nyamuk di kota tersebut memiliki Wolbachia.
Pemerhati Ilmu kedokteran tropis ini menjelaskan besar kemungkinan pelepasan nyamuk ber-wolbachia ini akan diperluas di masa mendatang setelah mendapatkan hasil dari penelitian dan pengamatan dari hasil dua padukuhan tersebut. Disebutnya hasilnya akan sangat menjanjikan meski masih berlangsung akan tetapi yang diharapkan adalah nyamuk ber-wolbachia dapat berkembang biak mengikuti fase alamiahnya.
Rencananya dalam waktu dekat, EDP UGM akan melepas nyamuk ber-wolbachia di empat lokasi penelitian yang berada di Kabupaten Bantul dan Sleman. Sementara pelepasan nyamuk aedes aegypti di Krongahan dan Nogotirto sudah dimulai sejak awal Januari lalu. Hasilnya, diketahui sebagian besar nyamuk yang mengandung wolbachia tersebut kawin dengan nyamuk biasa.
Senada dengan dukungan terhadap Program Wolbachia, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Bandung, Anhar Hadian mengatakan program nyamuk wolbachia ini diharapkan akan menjadi salah satu upaya menekan kasus DBD di Kota Bandung.
Anhar menilai, program nyamuk wolbachia ini terbukti efektif menurunkan tingkat DBD di beberapa wilayah. Kota pertama yang mengimplementasikan inovasi ini adalah Yogyakarta. Dari penelitian dan implementasi wolbachia di sana, kasus DBD bisa turun sampai 70 persen.
Saat ini, telur wolbacia sudah disebar di Kelurahan Pasanggrahan Kecamatan Ujungberung telah mencapai
123.000 – 154.000 telur yang ditempatkan dalam 308 ember. Nantinya, program ini akan melewati beberapa fase. Yakni, fase penyebaran nyamuk berlangsung selama 6 bulan, lalu fase dampaknya sekitar 1 sampai 2 tahun kemudian.
Program ini, kata Anhar diharapkan dapat menekan kasus DBD di Kota Bandung. Meski begitu, implementasi wolbachia ini bukan berarti menggantikan seluruh upaya pencegahan DBD yang ada. Langkah-langkah sebelumnya akan tetap dijalankan, seperti 3M (menguras, menutup, dan mengubur), fogging sesuai indikasi, dan Gerakan Satu Rumah Satu Juru Jumantik.
Program penyebaran Wolbachia di Indonesia telah menunjukkan hasil yang menggembirakan dalam beberapa uji coba awal. Pengurangan signifikan dalam populasi nyamuk Aedes aegypti telah terjadi di beberapa wilayah yang telah diintervensi. Selain itu, tidak adanya bukti peningkatan resistensi atau dampak negatif lainnya dari bakteri Wolbachia pada ekosistem juga merupakan pencapaian positif.
Hal tersebut menandakan langkah maju dalam upaya pengendalian penyakit menular yang ditularkan oleh nyamuk. Diharapkan bahwa melalui kombinasi upaya pemerintah, kerjasama internasional, dan partisipasi aktif masyarakat, program penyebaran Wolbachia dapat menjadi langkah menuju pengendalian yang lebih efektif terhadap penyakit menular.

)* Penulis merupakan mahasiswa Pasca Sarjana Entomologi IPB

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Resiliensi Makroekonomi di Tengah Fragmentasi Geopolitik

October 22, 2026

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Pembangunan Rakyat Jadi Prioritas Menuju Indonesia Sejahtera

October 22, 2026

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Resiliensi Makroekonomi di Tengah Fragmentasi Geopolitik

By Kata IndonesiaOctober 22, 20260

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Resiliensi Makroekonomi di Tengah Fragmentasi Geopolitik  Oleh: Pamella Dewi Lorena Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum mengevaluasi ketahanan ekonomi Indonesia. Di tengah ketidakpastian geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan internasional, dan risiko gangguan iklim, perekonomian nasional tetap mencatat pertumbuhan di atas lima persen. Namun, resiliensi makroekonomi perlu ditelaah melalui produktivitas, daya beli, dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Dalam perspektif ekonomi pembangunan, stabilitas tidak semata ditentukan pertumbuhan produk domestik bruto. Stabilitas harga, kesinambungan investasi, ketahanan produksi, serta efektivitas kebijakan sosial merupakan indikator yang saling berkaitan. Pertumbuhan berkelanjutan membutuhkan fondasi struktural agar perekonomian tidak rentan terhadap tekanan eksternal. Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mochammad Firman Hidayat, menilai perkembangan ekonomi Indonesia harus ditempatkan dalam konteks tantangan global yang kompleks. Perubahan kebijakan ekonomi Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, konflik geopolitik, peperangan, serta fenomena El Niño menjadi faktor eksternal yang turut memengaruhi aktivitas perekonomian. Menurut Firman, berbagai tekanan tersebut tidak menghalangi Indonesia mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas lima persen dengan inflasi relatif terkendali. Kebijakan hilirisasi juga menjadi instrumen penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi melalui peningkatan aktivitas produksi dan penciptaan nilai tambah domestik. Ketahanan tersebut menunjukkan pentingnya membedakan stabilitas jangka pendek dengan transformasi ekonomi jangka panjang. Stabilitas makroekonomi menyediakan ruang investasi, sedangkan hilirisasi berpotensi memperkuat struktur industri nasional. Meski demikian, kontribusinya terhadap produktivitas, penciptaan lapangan kerja, dan pendapatan masyarakat perlu terus dievaluasi. …

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Pembangunan Rakyat Jadi Prioritas Menuju Indonesia Sejahtera

By Kata IndonesiaOctober 22, 20260

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Pembangunan Rakyat Jadi Prioritas Menuju Indonesia Sejahtera Oleh: Bagas Wicaksono Dua tahun…

Pemerintah Perkuat Satgas untuk Percepat Pemulihan Wilayah Terdampak Bencana

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Perkuat Satgas untuk Percepat Pemulihan Wilayah Terdampak Bencana JAKARTA – Pemerintah memperkuat koordinasi Satuan…

Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah untuk Percepat Pemulihan Bencana

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah untuk Percepat Pemulihan Bencana *Jakarta* – Pemerintah terus memperkuat sinergi antara…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.