Oleh: James Kurniansyah (Netizen Padang)
Prabowo Subianto bersama Gibran Rakabuming yang merupakan pasangan calon nomor urut 2 belakangan ini memang sering sekali berbuat blunder yang berakhir sesuai dengan kata pepatah yakni senjata makan tuan. Buah dari blunder-blundernya adalah penurunan elektabilitas yang curam dan kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja mereka berdua.
Baru-baru ini, Prabowo Subianto juga kembali membuat blunder yang sangat fatal. Pada acara konsolidasi bersama relawan dan masyarakat di Medan, Hari Sabtu (13/1), Prabowo menyampaikan pidato nya sekaligus membakar semangat para pendukung dan relawan. Memang mungkin membakar semangat para relawannya, namun pernyataannya turut membakar emosi oposisinya. Hal ini terjadi lantaran Prabowo Subianto menyebut bahwa dirinya bersama dengan Gibran Rakabuming hadir sebagai calon presiden dan wakil presiden untuk melanjutkan apa yang Jokowi telah rencakan dan telah kerjakan. Namun, apa jadinya Prabowo tanpa blunder dalam berbicara, beliau berpidato kepada para relawan untuk tidak menjadi seperti malin kundang yang mengkhianati kebaikan dari seseorang dan membalas jerih payah orang lain dengan kedengkian.
Ucapan Prabowo Subianto ini bertujuan untuk menyindir, namun malah berbalik menjadi blunder untuk dirinya sendiri. Padahal, yang sebenarnya berkhianat dan berdengki adalah komplotan mereka, baik itu dari pihak Prabowo Subianto maupun dari pihak Gibran Rakabuming. Dari sisi Gibran, kita semua tentu sudah mengetahui bahwa Jokowi bersama dengan Gibran mengkhianati PDIP yang sejak dahulu sudah men-support habis-habisan ayah dan anak tersebut. Jokowi jika tanpa adanya PDIP, pasti tidak bisa berbuat banyak dan paling banter hanya maju sebagai walikota Solo. Gibran pun sama, Ia adalah orang yang tidak melek terhadap politik dan selama ini dibina dan dididik oleh PDIP sehingga bisa menjadi walikota Solo, persis seperti jalan yang ayahnya tempuh. Namun sekarang apa? Cap malin kundang cocok untuk disematkan kepada mereka berdua.
Lebih parahnya, orang yang mengucapkan kata kata tersebut, yakni Prabowo, adalah orang yang paling layak disematkan gelar malin kundang dan merupakan wujud hidup dari malin kundang. Rekam jejak malin kundang beliau dimulai dari saat jaman kekuasaan Suharto. Beliau dikeluarkan dari cendana karena dianggap telah berkhianat kepada Suharto. Terdapat 2 hal yang dianggap pengkhianatan yang dilakukan oleh Prabowo dulu, yakni mendukung Suharto untuk mundur dan pada saat itu membiarkan massa memasuki DPR dan MPR dengan harapan Suharto tertekan dan mundur. Hal inilah yang dianggap sebagai bibit-bibit malin kundang muncul dalam diri Prabowo Subianto.
Selanjutnya, pengkhianatan beliau lakukan kepada rakyat Indonesia dimana seharusnya beliau yang waktu itu menjabat sebagai perwira TNI malah melanggar Hak Asasi Manusia dengan menculik dan membunuh aktivis tahun ’98. Pengkhianatan kepada rakyat ini takkan terlupakan hingga sekarang dan banyak sekali kerabat korban yang meminta keadilan namun tetap diacuhkan oleh Prabowo.
Terakhir, Prabowo juga melakukan pengkhianatan yang cukup parah dimana beliau melakukan pindah pihak dari yang awalnya kontra dengan Jokowi, hingga sekarang beliau pro dengan Jokowi. Beliau tidak sama sekali memperdulikan bawahan-bawahannya yang dari awal sudah mendukung beliau untuk mengalahkan Jokowi pada dua pemilu berturut-turut yakni pada tahun 2014 dan juga 2019. Beliau berkhianat kepada staf-staf nya serta kepada partai partai yang mendukungnya. Hal ini dimulai pada saat beliau menerima ajakan dari Jokowi untuk menjadi Menteri pertahanan Indonesia periode 2019-2024. Banyak sekali orang-orang yang kecewa terhadap Keputusan beliau untuk bekerja di bawah naungan ‘musuh bebuyutan’.
Lalu hal itu malah berlanjut dan semakin parah ketika beliau malah bekerja sama dengan Jokowi untuk memenangkan pilpres 2024. Jokowi tidak secara fisik hadir untuk menemani Prabowo memimpin, melainkan Ia mengutus anaknya yakni Gibran untuk berjuang bersama Prabowo pada pilpres tahun 2024. Hal ini membuat predikat malin kundang memang paling cocok disematkan kepada Prabowo. Ia berhasil mengubah lawan menjadi kawan dan kawan menjadi lawan dengan tentunya berkhianat kepada kawan lama nya dan berkhianat kepada dirinya sendiri.