Oleh : KH Anis Maftukhin
Viral. Zaman sekarang menyebutnya begitu. Dulu, istilahnya nggregeti—bikin gelisah. Bikin nurani tidak bisa diam.
Video pidato K.H. Hasan Abdullah Sahal di peringatan Seabad Gontor itu menyebar kilat. Bagi jutaan netizen, tontonan itu menggetarkan. Tapi bagi saya, video tersebut bak mesin waktu. Ia melempar ingatan saya kembali ke tahun 1996.
Saat itu, saya duduk di kelas 6 KMI. Pak Kiai Hasan sendiri yang turun tangan mengajar kami *Musthalah Hadits*. Suaranya lantang. Wibawanya meruntuhkan nyali siapa saja yang berniat main-main.
Saya masih ingat betul rasanya dihukum berdiri di tengah kelas. Gara-garanya sepele: ketahuan mengantuk saat beliau mengajar. Malu? Tentu saja. Tapi dari hukuman sederhana itulah, ketegasan, kedisiplinan, dan kesahajaan beliau menancap abadi di dada.
Kini, puluhan tahun berlalu. Beliau berdiri di gedung BPPM yang baru diresmikan. Ketegasannya sama sekali tidak luntur. Bedanya, yang duduk di hadapannya kali ini bukan santri kelas 6 yang mengantuk, melainkan Presiden Republik Indonesia.
Tanpa teks. Tanpa *teleprompter*.
Kiai Hasan bicara lurus dari hati. Ia menyuarakannya dari napas wakaf cinta Trimurti pendiri pondok. Dari sana, meluncurlah kalimat-kalimat magis yang membuat jutaan orang terpukau. Kutipan-kutipannya bertebaran seketika; jadi *caption* Instagram, *status* WhatsApp, hingga riuh di kolom komentar.
Satu kalimat yang paling menggemuruh: “Di atas hanya Allah. Di bawah hanya tanah.”
Hanya delapan kata. Tapi menghantam keras. Delapan kata yang meringkas sejilid kitab filsafat tawadhu, sekaligus menelanjangi kesombongan dunia.
Di depan kepala negara, guru saya itu tidak merengek minta proyek. Tidak pula menyodorkan proposal anggaran. Beliau justru melempar pesan tajam yang bikin jagat maya merinding: “Kalau makanan saya, pakaian saya, kendaraan saya, rumah saya melebihi milik santri—protes boleh, kritik boleh, demo boleh.”
Netizen terharu. Banyak yang lekas menangkap sindiran halusnya. Sebab di negeri ini, jarang sekali ada yang berani menaruh cermin kejujuran sebesar itu tepat di depan wajah kekuasaan.
Beliau mengingatkan sebuah adab yang mulai langka: pemimpin pantang hidup lebih mewah dari rakyatnya. Pesan itu makin mengena dengan filosofi STIR (*Sabar, Tawakal, Ikhlas, Ridho*). Sebuah tamparan selembut kapas, tapi berbekas sangat lama.
Di tengah keriuhan itu, komentar akun @MImron-hq2yu mencuri perhatian: *”Gontor perekat umat — berdiri di atas untuk semua golongan.”
Itu bukan klise. Pak Kiai sendiri membuktikannya dengan jenaka: anak NU masuk Gontor, keluar tetap NU. Anak Muhammadiyah masuk, keluar tetap Muhammadiyah. Pak Kiai bahkan berkelakar soal gelar barunya: *Hasan Abdullah Aswabi—Aswaja Wahabi*. Katanya, beliau dianggap Muhammadiyah yang agak Wahabi, tapi semua menantunya NU.
Saya tertawa membayangkan adegan itu. Di tengah bangsa yang mudah retak hanya karena beda *hashtag*, ada pondok yang menyatukan umat tanpa merampas identitas masing-masing. Itulah hakikat pendidikan. Bukan indoktrinasi. Apalagi sekadar *branding*.
Kini, sepetak tanah 1,2 hektar itu telah berbiak jadi 1.200 hektar. Dari julukan awal *nggon kotor* di masa silam, menjelma sempurna menjadi *nggon inspirator*. Semuanya dicapai tanpa penawaran saham di bursa, tanpa pengerahan *buzzer*. Modalnya murni iman, dividennya keikhlasan.
Membaca ratusan ribu komentar netizen, ujungnya mengerucut pada satu titik kerinduan. Rakyat sejatinya hanya merapalkan satu doa: mendamba pemimpin yang takut kepada Allah dan sayang kepada umatnya.
Sebagai santri alumni ’96, dada saya berdesir. Ada bangga yang membuncah. Bangga pada Gontor yang tak pernah goyah di tengah bisingnya zaman dan rebutan jabatan. Dan teramat bangga memiliki sosok ayah, guru, sekaligus kiai hebat yang hidupnya setia pada kesahajaan.
Beliau mengajarkan bangsa ini untuk kembali punya nyali. Mengingatkan lagi pada doktrin khas KMI: *”Takut salah itu saalah.”
Seratus tahun Gontor bukanlah garis akhir. Ini baru muqaddimah. Di Gontor, kami memang tidak diajarkan Alfiyah, melainkan dididik menyelami nalar kritis lewat Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd.
Lewat kitab perbandingan mazhab legendaris itulah, kami tidak dicetak untuk taklid buta. Kami dilatih merunut sebab-akibat (*asbab*) sebuah perbedaan, merawat logika keadilan berpikir (*ijtihad*), dan menatap *ikhtilaf* secara objektif.
Maka, sangat pantas jika pondok ini terus menetaskan generasi toleran yang mampu menjadi perekat umat. Tahniah, selamat satu abad almamater tercinta. Sebuah penghormatan yang teramat layak untuk disematkan.
Barakallahu fiikum. Wa ila mazid.
*Alumni Gontor Tahun 1996, Pegiat Literasi Islam dan Pengasuh Pondok Pesantren WALI, Tuntang, Kab Semarang