Kelompok minoritas gender dan seksual terus menerima diskriminasi dan tindak pelecehan di seluruh dunia. Namun di Yogyakarta, beberapa perempuan transgender, yang biasa disebut waria, menemukan pelipur lara dalam ajaran agama.
Di Yogyakarta, Shinta Ratri, seorang perempuan transgender, merasakan sebuah kebutuhan di tengah komunitasnya.
“Kami ini tidak hanya waria yang… begitu saja. Kami ini manusia yang punya kebutuhan yang sama dengan orang lain. Kebutuhan makan, kebutuhan rumah, kebutuhan hiburan, bahkan kebutuhan rohani untuk beribadah,” katanya.
Hal itu mendorongnya mendirikan Pesantren Al-Fatah pada tahun 2008, yang menjadi pusat kajian agama Islam bagi transpuan – atau kerap disebut waria – seperti dirinya, sekaligus menyediakan ruang aman bagi mereka untuk belajar dasar-dasar beribadah.
Pidato Prabowo di KTT ASEAN Tuai Sorotan, Dorong Energi Bersih hingga Ketahanan Pangan Presiden RI…
Kesehatan Berkualitas Generasi Muda dalam Penguatan Program CKG Oleh : Debby Andini Kesehatan generasi muda…
CKG Pastikan Kesehatan Anak dan Pelajar Berkualitas Pontianak — Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terus…
CKG Perkuat Kualitas Kesehatan Anak dan Pelajar di Daerah Palu - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah…
Dari Antisipasi ke Aksi: Strategi Nasional Pengendalian Karhutla Oleh: Bara Winatha Pengendalian kebakaran hutan dan…
Kolaborasi Nasional dalam Pengendalian Karhutla Berkelanjutan Oleh : Andika Pratama Kolaborasi nasional dalam pengendalian kebakaran…