• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Nasional»Perketat Hukuman, di Era Prabowo Narkoba Bukan Lagi Mainan

Perketat Hukuman, di Era Prabowo Narkoba Bukan Lagi Mainan

  • Kata Indonesia
  • - Sunday, 23 February 2025

Perketat Hukuman, di Era Prabowo Narkoba Bukan Lagi Mainan

Oleh: Arifah Winarni

Masalah narkoba di Indonesia bukan sekadar isu hukum, tetapi juga ancaman serius terhadap masa depan bangsa. Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika telah menghancurkan banyak generasi muda, menciptakan rantai kriminalitas, serta melemahkan struktur sosial dan ekonomi masyarakat.

Menyadari dampak yang begitu besar, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah mengambil sikap tegas dalam memberantas narkoba, terutama terhadap para pengedar yang selama ini merusak kehidupan masyarakat.

Dalam upaya memperketat pengawasan terhadap kejahatan narkotika, pemerintah telah memastikan bahwa tidak ada ruang bagi pengedar narkoba untuk mendapatkan amnesti. Menteri Hukum dan HAM, Supratman Andi Agtas, menegaskan bahwa dalam kebijakan pemutihan narapidana tahun 2025, pengedar narkoba tidak termasuk dalam kategori yang berhak menerima amnesti.

Pernyataan ini mendapat dukungan dari Anggota Komisi XIII DPR RI, Edison Sitorus, yang secara tegas menolak kemungkinan pemberian amnesti bagi narapidana kasus narkoba. Pihaknya sangat keberatan ketika ada amnesti pengedar narkoba.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Hukum dan HAM, Supratman Andi Agtas menekankan bahwa sejak awal pemerintah telah menetapkan kriteria yang jelas mengenai siapa yang berhak menerima amnesti, dan pengedar narkoba tidak termasuk dalam kategori tersebut, yaitu orang yang melanggar atau dipidana dengan tindak pidana yang terkait dengan UU ITE, itu pun hanya terkait kepada penghinaan kepada kepala negara atau kepada pemerintah.
Keputusan ini menunjukkan konsistensi pemerintah dalam memastikan bahwa pengedar narkoba tidak memiliki celah hukum untuk menghindari hukuman. Ketegasan ini adalah langkah yang penting mengingat banyaknya pengedar yang masih dapat beroperasi meskipun telah ditangkap, bahkan dari balik jeruji besi.
Ketegasan pemerintah dalam memerangi narkoba bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), sekitar 312 ribu remaja di Indonesia telah terpapar narkoba. Angka ini mencerminkan betapa masifnya peredaran narkoba, yang tidak hanya menyasar kalangan dewasa, tetapi juga menargetkan generasi muda sebagai pasar utama.
Lebih dari itu, bisnis narkotika di Indonesia memiliki perputaran uang yang mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Peredaran narkoba tidak hanya terjadi di kawasan perkotaan tetapi juga telah menyusup ke daerah pedesaan dan wilayah terpencil. Para bandar narkoba semakin cerdik dalam memanfaatkan celah hukum dan ekonomi untuk memperluas jaringannya.
Dalam beberapa kasus, pengedar narkoba bahkan memiliki kendali terhadap beberapa komunitas dan wilayah tertentu dengan memanfaatkan kondisi ekonomi masyarakat yang lemah untuk merekrut orang-orang menjadi bagian dari jaringan. Bukan hal yang mengejutkan jika banyak kasus menunjukkan bahwa masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi menjadi sasaran empuk untuk dijadikan kurir atau bahkan pengedar kecil-kecilan. Dengan demikian, pemberantasan narkoba tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan hukum, tetapi juga harus disertai dengan upaya pencegahan berbasis sosial dan ekonomi.
Meskipun pemerintah telah mengambil langkah tegas, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam pemberantasan narkoba. Salah satunya adalah korupsi dalam sistem hukum dan penegakan hukum. Beberapa kasus menunjukkan bahwa oknum aparat masih bisa disuap untuk melindungi jaringan peredaran narkoba.
Selain itu, peran teknologi dalam peredaran narkoba juga semakin sulit dikendalikan. Media sosial kini menjadi alat utama bagi para bandar narkoba untuk beroperasi secara lebih rahasia. Sistem komunikasi terenkripsi, transaksi keuangan digital, serta penggunaan jaringan perantara yang sulit dilacak membuat bisnis narkoba semakin sulit diberantas dengan metode konvensional.
Tidak hanya itu, lapas di Indonesia juga menghadapi permasalahan serius dalam menangani narapidana narkoba. Banyak kasus menunjukkan bahwa meskipun sudah berada di balik jeruji besi, beberapa pengedar tetap bisa mengendalikan peredaran narkoba dari dalam penjara. Situasi ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk memastikan bahwa hukuman yang diberikan benar-benar memberikan efek jera.
Pemberantasan narkoba harus menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah, aparat hukum, masyarakat, serta dunia usaha harus bersinergi dalam melawan ancaman narkotika. Langkah pemerintah yang menolak memberikan amnesti kepada pengedar narkoba merupakan sinyal kuat bahwa negara tidak akan berkompromi dalam memerangi kejahatan ini. Namun, kebijakan ini harus diiringi dengan strategi pencegahan yang lebih luas, termasuk edukasi kepada masyarakat dan penciptaan peluang ekonomi bagi mereka yang rentan direkrut oleh jaringan narkoba.
Selain itu, peran keluarga dan lingkungan sosial juga sangat penting. Generasi muda yang memiliki keluarga yang kuat dan lingkungan yang sehat akan lebih kecil kemungkinannya untuk terjerumus dalam narkoba. Oleh karena itu, pendidikan moral dan kesadaran sejak dini harus diperkuat, baik melalui kurikulum sekolah maupun program-program masyarakat.
Dengan sikap tegas pemerintah yang tidak memberikan celah bagi pengedar narkoba, diharapkan perang melawan narkoba semakin efektif dan memberikan efek jera bagi para pelaku kejahatan narkotika. Namun, untuk mencapai hasil yang optimal, diperlukan pendekatan yang lebih luas, yang mencakup aspek hukum, sosial, ekonomi, dan teknologi.
Pemberantasan narkoba bukan hanya tugas pemerintah atau aparat hukum, tetapi juga tanggung jawab seluruh masyarakat. Dengan kesadaran kolektif dan tindakan nyata, kita bisa bersama-sama menciptakan Indonesia yang lebih bersih dari narkoba dan lebih aman bagi generasi mendatang.

*) Penulis merupakan Pengamat Isu Sosial

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden 

July 21, 2026

Taklimat Presiden Tegaskan Optimisme Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia

July 21, 2026

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden 

By Kata IndonesiaJuly 21, 20260

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden  Oleh: Fajar Dwi Santoso Taklimat Presiden dalam Sidang Kabinet Paripurna kembali memperlihatkan arah kebijakan pemerintah yang tidak hanya berfokus pada pencapaian pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penguatan kualitas sumber daya manusia dan reformasi tata kelola pemerintahan. Di hadapan jajaran kabinet, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan nasional harus menyentuh persoalan mendasar masyarakat, mulai dari pemenuhan gizi anak hingga penyederhanaan birokrasi melalui digitalisasi layanan publik. Kedua agenda tersebut saling berkaitan sebagai fondasi menuju Indonesia yang lebih produktif, inklusif, dan berdaya saing. Komitmen pemerintah terhadap peningkatan kualitas generasi penerus kembali ditegaskan melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Presiden memandang program tersebut bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia unggul. Menurut Presiden, masih tingginya angka stunting dan masih adanya anak-anak yang belum memperoleh asupan makanan yang memadai menjadi alasan utama mengapa negara harus hadir secara langsung melalui program pemenuhan gizi. Presiden juga menilai berbagai kritik terhadap MBG perlu dilihat secara proporsional. Alih-alih hanya memperdebatkan besaran anggaran, perhatian publik seharusnya diarahkan pada manfaat nyata yang dirasakan masyarakat. Dalam pandangannya, indikator keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari angka makroekonomi, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga pangan, memastikan pupuk tersedia bagi petani dengan harga terjangkau, serta menjamin anak-anak memperoleh makanan bergizi di sekolah. Penegasan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia merupakan dua agenda yang berjalan beriringan. Pendekatan tersebut sejalan dengan berbagai kajian internasional yang menempatkan investasi pada gizi anak sebagai salah satu instrumen paling efektif untuk meningkatkan produktivitas nasional dalam jangka panjang. Anak yang memperoleh gizi memadai sejak dini memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat, memiliki kemampuan belajar yang baik, serta menjadi tenaga kerja produktif pada masa depan. Karena itu, keberlanjutan MBG memiliki dimensi strategis yang jauh melampaui pemberian makanan semata. Pandangan serupa juga pernah disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang. Ia menjelaskan bahwa fokus pemerintah tidak hanya memperluas jangkauan penerima manfaat, tetapi juga memastikan kualitas layanan, keamanan pangan, dan tata kelola program terus diperbaiki agar manfaat MBG benar-benar dirasakan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan program bergantung pada pengawasan yang baik, keterlibatan pemerintah daerah, serta sinergi dengan pelaku usaha lokal sehingga manfaat ekonomi turut mengalir ke daerah. Di sisi lain, Presiden juga memberikan penekanan kuat terhadap reformasi birokrasi sebagai prasyarat percepatan pembangunan. Ia mengakui Indonesia telah berada pada jalur pembangunan yang benar, namun efektivitas pemerintahan masih perlu terus ditingkatkan. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah banyaknya regulasi yang tumpang tindih dan prosedur birokrasi yang belum sepenuhnya efisien. Karena itu, pemerintah memilih mempercepat transformasi digital melalui pengembangan GovTech serta implementasi Single National Identity Card. Gagasan ini menjadi langkah penting untuk menyederhanakan pelayanan publik yang selama ini tersebar di berbagai kementerian dan lembaga. Dengan identitas digital nasional yang terintegrasi, masyarakat diharapkan tidak lagi menghadapi proses administrasi yang berulang, sementara pemerintah dapat meningkatkan akurasi data serta efektivitas penyaluran berbagai program.…

Taklimat Presiden Tegaskan Optimisme Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia

By Kata IndonesiaJuly 21, 20260

Taklimat Presiden Tegaskan Optimisme Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia Oleh: Shafiq Tauqy Optimisme Indonesia menjadi…

Percepatan Infrastruktur dan Ekonomi Desa Jadi Fokus Taklimat Presiden

By Kata IndonesiaJuly 21, 20260

Percepatan Infrastruktur dan Ekonomi Desa Jadi Fokus Taklimat Presiden Jakarta – Pemerintah menegaskan komitmennya untuk…

Taklimat Presiden Soroti Penguatan Infrastruktur, Pangan, dan Efisiensi BUMN

By Kata IndonesiaJuly 21, 20260

Taklimat Presiden Soroti Penguatan Infrastruktur, Pangan, dan Efisiensi BUMN Presiden Prabowo Subianto menyoroti percepatan pembangunan…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.