• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Headline»Pegawai KPK Gagal TWK Jangan Berpolemik

Pegawai KPK Gagal TWK Jangan Berpolemik

  • Kata Indonesia
  • - Saturday, 3 July 2021

Oleh : Zainudin Zidan

Pegawai KPK gagal TWK diharapkan tidak berpolemik dan menerima kenyataan dengan lapang dada. Pegawai gagal Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) diharapkan instrospeksi diri pada rekan kerja lainnya yang terbukti lulus asesmen tersebut.

Tidak lolosnya 51 pegawai KPK jadi ASN karena gagal di tes wawasan kebangsaan masih saja menjadi polemik. Padahal para pegawai KPK yang lain sudah resmi jadi abdi negara, tanggal 1 Juni 2021 lalu. Sudahlah dan tidak usah berlarut-larut, karena polemik hanya akan memecah-belah perdamaian dan mengacaukan psikologis masyarakat.

KPK adalah lembaga negara dan saat ini para pegawainya sudah menjadi abdi negara. Pengangkatan ini memiliki payung hukum yang kuat, yakni UU KPK. Sebelum diangkat jadi ASN, mereka harus lolos tes wawasan kebangsaan, karena ini ujian wajib bagi tiap CPNS.

Masalahnya, tes wawasan kebangsaan dituduh jadi alat untuk menjatuhkan penyidik tertentu, karena ada 75 pegawai yang tidak lolos ujian.

Dari 75 orang, 51 dari mereka harus rela melepaskan status, karena nilai skor TWK sangat buruk. Sementara sisanya mendapatkan kesempatan kedua, dengan syarat harus mengkuti seminar kebangsaan terlebih dahulu. Ke-51 orang yang gagal akhirnya berpolemik dan berkicau di media sosial.

Padahal TWK sama sekali bukan modus, karena asesornya bekerja secara profesional. Mereka tidak mungkin berbuat macam-macam untuk mengakali prosesi dan hasil tes, karena telah disumpah untuk selalu mengutamakan integritas dalam bekerja. Tidak ada kongkalingkong saat penyelenggaraan tes, dan tuduhan itu hanyalah fitnah yang jahat.

Ketua Setara Institute Hendardi menyatakan bahwa kabar tidak lolosnya sejumlah pegawai KPK dalam alih status menjadi ASN adalah hal biasa, dan tidak perlu diperdebatkan. Tidak usah jadi polemik, karena penyelenggaraan tes ini sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Hendardi menambahkan, tes wawasan kebangsaan dilangsungkan secara kuantitatif dan objektif. Dalam artian, tidak mungkin ada pihak internal yang mencampuri penilaian TWK. Penyebabnya karena soal tes dibuat oleh lembaga negara lain, sehingga para petinggi KPK juga tidak ikut cawe-cawe dan mempercayakan kepada mereka.

Soal-soal dalam tes wawasan kebangsaan dijamin objektif dan tidak mungkin dibuat untuk menyingkirkan penyidik KPK tertentu. Buktinya, lebih dari 90% pegawai KPK lolos tes ini dan sisanya tidak memenuhi syarat. Jika ada campur tangan petinggi KPK, maka sejak awal akan ada pegawai yang diberhentikan secara massal, tetapi ini tidak terjadi. Para pegawai KPK yang tidak lolos tes harap mengerti itu, dan jangan bikin keributan di media sosial.

Para pegawai KPK yang tidak lolos TWK berarti kurang memiliki rasa cinta tanah air, padahal sebagai ASN mereka harus mencintai negaranya. Oleh karena itu, mereka harus rela melepas status sebagai pegawai di lembaga antirasuah. Namun pihak KPK masih berbaik hati dan memperbolehkan mereka untuk bekerja hingga bulan oktober 2021, sehingga punya waktu untuk bersiap mencari karir di tempat lain.

Polemik yang ada di kalangan eks pegawai KPK jangan dibesar-besarkan. Penyebabnya karena ini bisa merusak citra KPK sebagai lembaga yang jujur dan lurus. Jika orang-orang sudah tidak percaya pada KPK, mau jadi apa negara ini? Janganlah menjelekkan KPK, karena kita masih butuh mereka untuk memberantas korupsi.

Jika polemik masih saja berlanjut maka takutnya akan ada tekanan psikologis bagi pegawai KPK yang jadi ASN. Akibatnya mereka jadi tidak konsentrasi dalam bekerja, dan ini gawat karena akan menurunkan kinerjanya. Seharusnya sebagai sesama profesional, pegawai KPK yang tak lolos tes tidak mem-bully eks rekan kerjanya.

Polemik pada tes wawasan kebangsaan seharusnya tidak diperpanjang lagi, baik oleh eks pegawai yang tidak lolos TWK, maupun pihak lain. Penyebabnya karena pengangkatan jadi ASN sudah selesai sebulan lalu. Seharusnya mereka legowo dan meninggalkan KPK lalu evaluasi.

Penulis adalah warganet tinggal di Makassar

 

Pembasahan Gambut Menjadi Langkah Penting Memutus Siklus Karhutla

November 7, 2026

Kasus Penyadapan Ilegal Diusut, Semua Pihak Diminta Tunduk pada Hukum

November 7, 2026

Pembasahan Gambut Menjadi Langkah Penting Memutus Siklus Karhutla

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

Pembasahan Gambut Menjadi Langkah Penting Memutus Siklus Karhutla Oleh : Sigit Prasetyo Pembasahan gambut menjadi…

Kasus Penyadapan Ilegal Diusut, Semua Pihak Diminta Tunduk pada Hukum

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

Kasus Penyadapan Ilegal Diusut, Semua Pihak Diminta Tunduk pada Hukum Jakarta – Kasus dugaan penyadapan…

Mengapresiasi Prabowo: Berani dan Tegas kepada Pengancam Negara 

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

Mengapresiasi Prabowo: Berani dan Tegas kepada Pengancam Negara  Oleh: Amril Jambak Ada saatnya seorang pemimpin harus mengambil sikap tegas. Bukan semata-mata untuk menunjukkan kekuasaan, melainkan untuk memastikan bahwa negara tidak boleh dipermainkan oleh siapa pun. Terlebih jika persoalan yang dihadapi menyangkut keselamatan kepala negara, keamanan pemerintahan, serta kedaulatan bangsa. Perkembangan terbaru mengenai dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat negara menjadi persoalan serius yang tidak boleh dipandang sebagai perkara biasa. Apalagi, dugaan tersebut menyeret sejumlah individu dari lingkungan institusi penegak hukum. Pada 3 November 2026, Bareskrim Polri menetapkan tiga personel kepolisian berinisial LSP, ASN, dan EH sebagai tersangka dalam perkara dugaan penyadapan tanpa prosedur, akses ilegal, serta penghapusan data elektronik. Ketiganya kemudian menjalani penahanan untuk kepentingan penyidikan. Sehari setelahnya, 4 November 2026, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo sangat prihatin atas peristiwa tersebut. Pemerintah bahkan menilai perkara itu memiliki indikasi yang mengarah pada perbuatan makar dan berpotensi membahayakan keselamatan pimpinan serta kepentingan negara. Langkah Presiden yang menandatangani keputusan pemberhentian Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kepala Staf Kepresidenan juga menunjukkan bahwa persoalan ini tidak dibiarkan berlarut-larut. Untuk sementara, Presiden menunjuk Letjen TNI Ariyo Windutomo sebagai Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan. Keputusan tersebut patut diapresiasi. Sebab, seorang presiden tidak boleh ragu mengambil tindakan ketika terdapat persoalan serius yang menyentuh keamanan dan kewibawaan negara. Indonesia adalah negara hukum, bukan negara yang boleh dikendalikan oleh kepentingan kelompok, jaringan kekuasaan, ataupun faksi tertentu.…

Terbongkarnya Penyadapan Ilegal Menjadi Tonggak Penting Supremasi Hukum

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

Terbongkarnya Penyadapan Ilegal Menjadi Tonggak Penting Supremasi Hukum  Oleh: Citra Ann Pengungkapan kasus dugaan penyadapan ilegal yang melibatkan sejumlah perwira tinggi Polri menjadi perhatian penting dalam upaya memperkuat supremasi hukum di Indonesia. Perkara yang menyasar komunikasi Presiden Prabowo Subianto, sejumlah pejabat negara, tokoh politik, media, hingga kalangan masyarakat sipil tersebut menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap penggunaan kewenangan aparat. Penanganan kasus ini sekaligus menjadi ujian bagi komitmen institusi penegak hukum dalam memastikan tidak ada pihak yang kebal terhadap proses hukum. Praktik penyadapan pada dasarnya merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk mendukung proses penegakan hukum dengan persyaratan dan mekanisme yang ketat. Namun, penggunaan kewenangan tersebut tanpa dasar hukum berpotensi berubah menjadi tindakan yang melanggar privasi dan hak asasi manusia. Oleh karena itu, setiap tindakan pemantauan komunikasi harus memiliki tujuan yang sah, mengikuti prosedur, serta dapat dipertanggungjawabkan sesuai peraturan perundang-undangan. Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri Komjen Asep Edi Suheri, menegaskan bahwa dugaan penyadapan ilegal yang menyeret tiga perwira tinggi berinisial LSP, ASN, dan EH merupakan tindakan oknum, bukan kebijakan institusi Polri. Penegasan itu disampaikan menyusul pengungkapan dugaan penyadapan terhadap sejumlah nomor telepon milik pejabat negara dan berbagai kalangan masyarakat. Asep menjelaskan bahwa Polri telah memiliki Peraturan Kapolri Nomor 5 Tahun 2010 sebagai pedoman pelaksanaan tugas Pusat Pemantauan Polri agar kegiatan pemantauan berjalan sesuai prosedur. Dugaan pelanggaran dalam perkara ini berkaitan dengan perintah penyadapan sejumlah nomor telepon tanpa prosedur yang sah dan tidak berhubungan dengan kepentingan penegakan hukum. Para tersangka juga diduga memerintahkan penghapusan berkas hasil sadapan dalam sistem Lawful Interception Management System (LIMS) pada Oktober 2026. Sementara itu, penyidik masih memeriksa seorang saksi berinisial SU untuk mengungkap rangkaian peristiwa dan pihak-pihak yang berkaitan dengan perkara tersebut. Ketentuan mengenai penyadapan telah memberikan batasan yang jelas terhadap penggunaan instrumen pemantauan komunikasi. Berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 5 Tahun 2010, penyadapan hanya dapat dilakukan untuk kepentingan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, serta pemeriksaan di persidangan atas tindak pidana berdasarkan undang-undang. Pelaksanaannya juga harus memperhatikan perlindungan HAM, legalitas, kepastian hukum, perlindungan konsumen, dan kerahasiaan. Pengawasan terhadap kewenangan penyadapan menjadi bagian penting untuk mencegah aparat bertindak di luar batas hukum. Tanpa pengawasan dan pertanggungjawaban, teknologi pemantauan yang seharusnya membantu proses penyidikan justru dapat menimbulkan pelanggaran terhadap hak masyarakat. Karena itu, pengungkapan dugaan penyimpangan di lingkungan kepolisian perlu diikuti evaluasi terhadap pelaksanaan prosedur dan penguatan pengawasan internal.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.