• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Ngaji Bab NU dan PBNU Saat Ini dari Gus Yusuf

Ngaji Bab NU dan PBNU Saat Ini dari Gus Yusuf

  • Kata Indonesia
  • - Thursday, 18 June 2026

Oleh : Anis Maftukhin

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) sudah di depan mata: 1 hingga 5 Agustus 2026. Suhu di Kumpulan-kumpulan pengurus NU dari mulai ranting hingga wilayah, bilik bilik kamar santri, hingga grup WhatsApp warga Nahdliyin perlahan mulai menghangat.

Di antara riuh rendah bursa calon Ketua Umum PBNU periode 2026-2031, ada satu nama yang belakangan magnetnya luar biasa kuat: KH Muhammad Yusuf Chudlori.

Anda tentu sudah familier: beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang. Sosok kiai muda ini tidak mengandalkan lobi-lobi elitis yang bising, melainkan memilih bergerak membaur di akar rumput dengan ritme yang rapi dan terukur.

Awal tahun 2026 lalu, Gus Yusuf membuat keputusan yang sempat bikin jagat publik terperanjat: beliau mundur total dari seluruh aktivitas panggung politik praktis. Banyak pengamat mengira ini jurus catur Machiavelli. Padahal, urusannya jauh lebih jernih dari itu.

“Murni demi pesantren, lalu menyusul adanya amanah dari para masyayikh agar saya fokus membantu di tubuh NU,” tegas beliau ketika diwawancarai sebuah media. Jadi, ini bukan manuver berburu takhta, melainkan “titah langit” untuk merajut kembali kebersamaan NU yang sempat terkoyak.

“Hanya Cocok Jadi Sekjen?” Begitu Katanya

Namanya juga dinamika NU, kalau tidak ada kritik rasanya kurang afdal. Saya mendengar ada bisik-bisik di beberapa kesempatan diskusi warga NU di berbagai daerah, “Gus Yusuf itu kapasitasnya bagus, tapi cocoknya jadi Sekjen dulu lah, belum saatnya Ketum.”

Saya tersenyum mendengar seloroh itu.

Menjadi Ketua Umum PBNU hari ini bukan cuma soal pandai berpidato di Jakarta atau mahir mengurus administrasi di balik meja. NU sedang menghadapi tantangan zaman yang luar biasa besar. Kita butuh sosok nakhoda yang tidak sekadar menjadi ban serep, melainkan pemimpin yang punya visi besar sekaligus nyali bertindak. Kalau energinya hanya ditaruh di kursi nomor dua, sayang betul potensinya.

Ada lagi yang meragukan jejaring beliau. Katanya, Gus Yusuf itu tokoh lokal Jawa Tengah saja.

Lho, sampeyan kurang piknik atau kurang kuota internet?

Mari kita buka datanya. Selama enam bulan terakhir, Gus Yusuf ini diam-diam sudah “turun gunung” keliling ke lebih dari 10 provinsi. Pulau Jawa sudah dikhatamkannya. Beliau melompat ke Bengkulu, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Lampung, hingga Jambi.

Totalnya? Beliau menyambangi 12 PWNU dan berdialog langsung dengan lebih dari 200 PCNU se-Indonesia! Kalau keliling ke 200-an cabang di seluruh Indonesia masih dibilang jago lokal, berarti skala “lokal” kita sudah seluas Nusantara. Beliau datang bukan lewat aplikasi Zoom, tapi mengetuk pintu satu per satu secara fisik. Itu namanya kepemimpinan yang tawadhu sekaligus punya nyali.

Mendiagnosis “Penyakit” Organisasi

Hebatnya lagi, safari Gus Yusuf itu bukan tipe kampanye politik yang datang, bagi-bagi janji, lalu swafoto. Beliau bertindak layaknya seorang dokter yang sedang mendiagnosis keluhan pasien di akar rumput.

Di bawah, beliau menemukan kenyataan yang bikin mengelus dada. Akibat konflik internal elit PBNU tingkat pusat kemarin, mesin organisasi di daerah ikut macet. Urusan administrasi Surat Keputusan (SK) kepengurusan saja banyak yang mandek. Dampaknya bahkan merembet ke ranah kultural: animo masyarakat ke pesantren dirasakan menurun.

Dari berbagai statemen beliau di media, setidaknya ada lima racikan visi-misi yang ditawarkan Gus Yusuf untuk menyembuhkan luka organisasi ini:

Tata Kelola Organisasi yang Kredibel: Gus Yusuf menangkap aspirasi dari 200 PCNU yang menginginkan PBNU ke depan dikelola secara lebih rapi, transparan, dan kredibel. Pengurus daerah harus dihormati, bukan sekadar dijadikan pelengkap urusan.

Pendampingan Total untuk Pesantren: Di era transformasi digital dan zaman yang berubah cepat, pesantren tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian. PBNU wajib hadir memberikan pendampingan intensif agar pesantren tetap menjadi pilar utama umat.

Fasilitas Kesehatan Nyata: Ini konkret. Warga NU itu jumlahnya puluhan juta, tapi fasilitas kesehatannya masih minim. Gus Yusuf mendorong PBNU memfasilitasi pendirian Rumah Sakit NU di tiap provinsi, atau minimal klinik-klinik memadai di tingkat kabupaten. Jadi kalau warga NU sakit, ada tempat bernaung yang jelas.

Gerakan Ekonomi Keumatan: Tekanan ekonomi hari ini sangat mencekik rakyat kecil. Gus Yusuf ingin PBNU tidak cuma sibuk berwacana, tapi turun melakukan pendampingan UMKM dan membangun inkubator ekonomi langsung di tengah masyarakat.

Menghidupkan Kembali Gagasan Kritis: NU hari ini dinilai agak kering dari wacana publik. Dulu kita punya Gus Dur yang asyik bicara demokrasi dan lingkungan. Gus Yusuf berkomitmen mengembalikan NU sebagai kekuatan civil society (masyarakat sipil) yang aktif membersamai masyarakat dalam dinamika sosial-politik.

Doa Tertinggi dari Sudut Pesantren

Membaca arah perjuangan Gus Yusuf, kita disuguhi sebuah ritme gerakan yang sunyi namun bertenaga. Di saat bursa pencalonan kerap diwarnai dengan deklarasi dan saling klaim dukungan yang hingar-bingar, beliau justru memilih menahan diri.

Beliau lebih suka datang langsung, menawarkan gagasan, dan mendengarkan keluh kesah cabang.

Seperti kelakar khas kaum Nahdliyin, jabatan di NU itu sejatinya tidak untuk dikejar-kejar setengah mati. Namun, jika panggilan sejarah dan amanah para kiai sepuh sudah diletakkan di pundak, pantang untuk menghindar apalagi berbalik arah.

Sikapnya yang tenang dan menjauh dari keriuhan ambisi kekuasaan ini adalah cerminan laku batin khas kiai pesantren. Saat saya bersilaturahmi dan menanyakan kemantapan langkahnya di tengah suhu bursa yang memanas, dari beranda ndalem beliau di komplek Ponpes API Tegalrejo tempo hari, beliau memungkasinya dengan sebuah teladan adab berorganisasi yang sangat jernih:

“Diam bukan berarti kalah, tapi doa tertinggi. Amanah ini saya jalankan demi marwah NU dan pesantren.”

Melihat kapasitas, rekam jejak, dan kematangan gagasannya, Gus Yusuf Tegalrejo bukan sekadar layak—beliau adalah jawaban yang dibutuhkan PBNU untuk menjemput abad keduanya dengan bermartabat.

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren WALI, Tuntang Kab Semarang

 

Pemerintah Percepat Migrasi LPG ke CNG, Ketahanan Energi Nasional Makin Diperkuat

June 18, 2026

Substitusi Impor LPG Dipercepat, Pemerintah Jaga Stabilitas Energi Rumah Tangga

June 18, 2026

Pemerintah Percepat Migrasi LPG ke CNG, Ketahanan Energi Nasional Makin Diperkuat

By Kata IndonesiaJune 18, 20260

Pemerintah Percepat Migrasi LPG ke CNG, Ketahanan Energi Nasional Makin Diperkuat Jakarta – Pemerintah terus…

Substitusi Impor LPG Dipercepat, Pemerintah Jaga Stabilitas Energi Rumah Tangga

By Kata IndonesiaJune 18, 20260

Substitusi Impor LPG Dipercepat, Pemerintah Jaga Stabilitas Energi Rumah Tangga Jakarta – Pemerintah terus mempercepat…

Tarif Listrik Stabil, Konsumsi Terjaga, Ekonomi Bergerak

By Kata IndonesiaJune 18, 20260

Tarif Listrik Stabil, Konsumsi Terjaga, Ekonomi Bergerak Oleh : Rahmat Hidayat Stabilitas tarif listrik memiliki…

Ngaji Bab NU dan PBNU Saat Ini dari Gus Yusuf

By Kata IndonesiaJune 18, 20260

Oleh : Anis Maftukhin Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) sudah di depan mata: 1 hingga…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.