• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Nasional»“Satu Abad Gontor tetap Teguh dengan Nilai”

“Satu Abad Gontor tetap Teguh dengan Nilai”

  • Kata Indonesia
  • - Monday, 10 April 2023

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi (Alumni Pesantren Gontor Tahun 1987)

Seminggu yang lalu, ada undangan spesial melalui WhatsApp’s masuk ke ponsel saya. Pesan itu disampaikan langsung oleh Prof. Din Syamsuddin. Beliau mengundangan untuk hadir dalam acara Buka Puasa Bersama, Sholat Tarawih dan Diskusi bersama para Tokoh Alumni Gontor, pada Sabtu 8 April 2023.

Jujur, saya kaget saat menerima undangan itu. Maklum, saya adalah “nobody” dalam lingkaran komunitas Prof Din Syamsudin. Meski saya mengenalnya dengan cukup baik, karena rajin membaca berbagi tulisan dan pernyataan-pernyataannya di media.

Bagi saya, beliau adalah orang penting. Sikap dan perilaku hidupnya menjadi tauladan yang menginspirasi. Baik sebagai alumni Gontor, anggota Badan Wakaf, maupun sebagai mantan Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah. Saat ini, level jabatan yang diembannya sama dengan saya. Kami sama-sama Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah. Buka puasa di rumahnya kali ini adalah yang ke tiga. Dua acara sebelumnya, saya datang menyusup sebagai tamu tidak diundang. Saya menyertai Abd. Rahim Ghozali, Direktur Ma’arif Institute.

Untuk menghadiri undangan kali ini, saya mengajak Ghifari, sales manajer Susu Kambing Muhammadiyah, sekaligus untuk mengenalkan produk Susu Kambing Muhammadiyah. Saya juga mengajak Muhammad Miftahul Falah, Sekretaris Redaksi Majalah Gontor untuk ikut serta. Keduanya Alumni Gontor di atas tahun 2000 an.

 

Saya tiba di lokasi pukul 5.10. Begitu masuk Rumah, sudah ada puluhan orang yang hadir. Prof Din memperkenalkan saya sebagai alumni Gontor yang saat ini aktif di The Asia Foundation Indonesia. Mendengar nama itu, nampak gesture sebagian para hadirin agak berubah. Mungkin mereka bertanya-tanya tentang kiprah lembaga itu. Bisa juga mereka kaget, heran dan bermacam-macam kesanlah yang muncul. Saya harus pasrah menerima situasi itu. Toh saya juga tidak akan mampu mengendalikan kesan dan respons yang muncul dari setiap orang atas suatu peristiwa.

15 menit menjelang berbuka puasa, Prof. Amsal Bakhtiar, Alumni Gontor, sekaligus Direktur di Universitas Islam International Indonesia, memberikan pesan-pesan sederhana menjelang berbuka. Pesan singkat namun menarik. Pesan yang menyentuh kepentingan semua orang yang hadir, yaitu tentang “umur” manusia. Sebuah topik yang pasti menarik didengarkan oleh para hadirin yang usianya secara umum berkepala 5 dan 6.

Santapan Ala Ponorogo

Saat azan Maghrib tiba, kami langsung bisa menikmati berbagai makanan dan minuman, lengkap sekali. Usai sholat maghrib, santapan buka puasa sudah tersaji di meja belakang. Ada sate ayam ponorogo yang sambel kacangnya lembut sekali. Ada urap dan nasi kebuli, kambing dan ayam. Sebagai pelengkap kudapan, ada tahu goreng renyah khas Sumedang, bawaan Prof Siti Zuhro, peneliti senior politik dari LIPI. Suaminya juga alumni Gontor. Sambil menunggu waktu Isya’ datang, kami duduk bergerombol sesuai interest masing-masing. Inilah reuni yang sebenarnya.

Prof Din dan Istri (Mbak Dian) yang asli dari desa Gontor, adalah cucu Kiai Imam Zarkasyi. Pasangan tuan rumah ini begitu cermat dalam memilih makanan yang disukai oleh rekan-rekan sesama Alumni Gontor. Dugaan saya, mereka tidak hanya menyajikan makanan untuk santapan berbuka puasa yang sekedar enak dan mengenyangkan, tapi sarat pesan penuh makna.

Ada intensi khusus ketika memilih sajian makanan untuk berbuka. Misalnya, nasi kebuli dalam dua jenis; kambing dan ayam. Ia disajikan dalam bentuk yang cukup menarik, unik dengan warna-warni alam yang enak dipandang mata. Nasi yang kaya akan rempah dengan aroma khas itu bercita rasa gurih. Hidangan khas Timur Tengah ini sangat populer di komnuitas keturunan Arab di Indonesia. Bagi para santri Gontor, makanan ini adalah simbol kemewahan. Mereka, para santri Gontor pada era 60 – 70 – 80 an dulu hampir pasti tidak akan bisa menikmatinya.

Sedangkan sate Ponorogo, adalah makanan khas yang super lezat. Sate adalah makanan impian para santri. Mereka (dulu) bisa mencicip itu hanya ketika setelah medapat kiriman wesel dari orang tua di kampung. Prof Din dan Mbak Dian, mengajak para tamu untuk menumbuhkan kenangan indah dari masa lalu ketika menyantapnya, lalu bersyukur, bahwa kita semua sekarang bisa menikmatinya dengan mudah.

Obrolan Seputar Gontor

Buka puasa kali dihadiri oleh beberapa anggota Badan Wakaf. Salah satunya Kiai Prof. Husnan Bey Fananie. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Azarbaijan itu berpesan, bahwa sebentar lagi, kita akan merayakan 1 abad Gontor. Saat ini, Anggota Badan Wakaf Gontor diamanati untuk melakukan proses perumusan rencana strategis Gontor untuk 1 abad berikutnya. Prof Din Syamsuddin didapuk menjadi penanggungjawab dalam proses perumusannya.

Sejatinya, salah satu agenda acara buka bersama kali ini adalah melakukan diskusi untuk menampung masukan dari peserta agar bisa dimasukkan dalam satu agenda bersama, terkait rencana jangka Panjang Gontor setelah satu abad. Meski tidak mudah ya

Gontor, telah berkembang menjadi sebuah Lembaga Pendidikan ala pesantren modern yang eksistensinya terus membesar. Menurut Kiai Sofwan Manaf, Ketua IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern) Jakarta, jumlah pondok alumni Gontor telah berkembang pesat hingga mencapai 400 pondok. Hampir 1000 pondok ikutan baru dibangun oleh para “cucu” alumni. Pondok-pondok itu tersebar di seluruh pelosok Indonesia.

Menurut Akbar Zaenuddin, penulis buku “Man Jadda wa Jada”, pondok-pondok tersebut secara seragam menggunakan hymne “Oh Pondokku” sebagai ciri, dan menggunakan Paca Jiwa Pondok (Keikhlasan, Kesederhanaan, Kemandirian, Ukhuwwah Islamiyyah, Kebebasan) sebagai landasan ideal untuk gerak kehidupan pondok pesantren. Hymne Oh Pondokku dan Panca Jiwa tersebut telah mampu menjadi pemersatu antar pondok-pondok tersebut.

Gontor telah menjadi raksasa Pendidikan ala pesantren modern. Gontor adalah asset bangsa yang memiliki pengaruh penting dalam pembentukan karakter Bangsa Indonesia. Kiprah para alumni Gontor terus meluas hingga merasuk ke semua lini kehidupan. Mereka langsung terlibat dalam dinamika panggung kehidupan, serta mampu memainkan peran kepemimpinannya. Banyak alumni yang tetap konsisten memilih berkiprah pada jalur Pendidikan, hingga meraih level tertinggi, sebagai professor.

Namun demikian, banyak juga alumni Gontor yang bisa berdaya ketika menjadi pengusaha. Ada yang memilih menjadi aparat penegak hukum, hingga aktif menjadi mesin penggerak di masyarakat, dengan berusaha konsisten menghidupkan nilai-nilai Gontor.

Saya tidak akan melupakan pesan penting sahabat saya, Nanang Shofinal Djohan, yang sudah 40 tahun bermukim di Cairo. “Alumni Gontor harus berani dan merasuk ke dalam seluruh sistem dan tatakelola Pemerintahan di Indonesia. Di situlah prinsip dan keluhuran nilai Gontor itu akan menuai manfaat, ketika ia sudah berhasil terinternalisasi secara praktis dalam kehidupan nyata”.

Sebagai nobody, saya juga menyelipkan pesan khusus kepada Prof Husnan Bey Fananie, dalam sebuah obrolan santai di meja belakang. Saya memintanya untuk berinisiatif mengumpulkan para alumni Gontor yang berminat menjadi calon ataupun yang sudah menjadi “politisi”, untuk melakukan konsolidasi. Agendanya apa, saya tidak akan mengajari ikan berenang tentunya.

Sebagai penutup, Pro.f Asep Saefudin Jahar, menyampaikan pesan luhur Kiai Imam Zarkasyi. Bahwa setinggi apapun capaian hidup yang berhasil diraih oleh para alumni, kami semua sepakat bahwa “orang besar adalah mereka yang hidupnya selalu bermanfaat bagi orang lain, meski hanya dengan mengajar ngaji di musholla kecil di kampung”.

Pesan yang diungkit kembali oleh seorang guru besar sekaligus Rektor UIN Jakarta yang baru dilantik itu diamini oleh semua yang hadir.

Kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis dan Italia Perkuat Kemitraan Strategis Global

May 30, 2026

Presiden Prabowo Perkuat Diplomasi Ekonomi dan Pertahanan melalui Kunjungan ke Prancis dan Italia

May 30, 2026

Kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis dan Italia Perkuat Kemitraan Strategis Global

By Kata IndonesiaMay 30, 20260

Kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis dan Italia Perkuat Kemitraan Strategis Global Jakarta – Kunjungan kenegaraan…

Presiden Prabowo Perkuat Diplomasi Ekonomi dan Pertahanan melalui Kunjungan ke Prancis dan Italia

By Kata IndonesiaMay 30, 20260

Presiden Prabowo Perkuat Diplomasi Ekonomi dan Pertahanan melalui Kunjungan ke Prancis dan Italia JAKARTA —…

Evaluasi Keandalan Sistem Kelistrikan Sumatra Mencegah Gangguan Berulang

By Kata IndonesiaMay 30, 20260

Evaluasi Keandalan Sistem Kelistrikan Sumatra Mencegah Gangguan Berulang Oleh : Ricky Rinaldi Keandalan sistem kelistrikan…

Keandalan Infrastruktur Energi Jadi Fokus Pasca Gangguan Listrik Sumatra

By Kata IndonesiaMay 30, 20260

Keandalan Infrastruktur Energi Jadi Fokus Pasca Gangguan Listrik Sumatra Oleh : Debi Arianti Gangguan listrik…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.