• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Khazanah»Moderasi Beragama Wujudkan Sikap Toleransi

Moderasi Beragama Wujudkan Sikap Toleransi

  • Kata Indonesia
  • - Tuesday, 15 March 2022

Moderasi Beragama Wujudkan Sikap Toleransi

Oleh : Muhamad Zaki

Moderasi Beragama diyakini akan mampu menumbuhkan sikap toleransi antar umat beragama. Dengan adanya toleransi dan moderasi beragama tersebut maka kemajemukan bangsa akan tetap mampu dipertahankan.

Akhir-akhir ini muncul isu yang digulirkan oleh kelompok radikal, di mana suatu perbedaan dibesar-besarkan. Saat ada perayaan hari besar umat lain maka akan ada rasa waswas.

Penjagaan pun makin diperketat. Radikalisme merusak tatanan sosial di Indonesia dengan menghapus rasa toleransi.

Padahal sejak dulu kita tidak pernah mempermasalahkan perbedaan, karena sejak era kemerdekaan Indonesia memang terdiri dari banyak etnis, tetapi tetap berbhinneka tunggal ika. Perbedaan yang dipermasalahkan menjadi besar karena terus digoreng, dan hal ini meresahkan karena bisa memecah persatuan.

Untuk menyatukan lagi perbedaan gara-gara ulah kelompok radikal, maka kita harus melakukan toleransi di mana-mana. Toleransi adalah kunci dari persatuan, karena ketika paham bahwa ada banyak perbedaan, maka tidak akan mempermasalahkannya. Sejak SD kita sudah diajari cara bertoleransi, dan ketika sudah lulus sekolah maka wajib untuk mengimplementasikannya.

Toleransi beragama adalah hal yang wajib karena di Indonesia ada 6 keyakinan yang diakui oleh pemerintah. Kita tidak hidup di negara yang khilaiyah, tetapi pluralis.

Jika ada beberapa keyakinan maka tiap umat harus memahami bahwa perbedaan ini tidak untuk dipertentangkan, tetapi harus saling menghormati. Toleransi tidak hanya diplokamirkan di era orde baru, tetapi juga sampai ke era reformasi dan setelahnya.
Jika bertoleransi maka tiap bulan desember tidak ada yang panas hati lalu melakukan sweeping, dan memaksa para kasir untuk melepas topi sinterklas. Tiap orang memahami bahwa pernak-pernik warna merah dan hijau tersebut adalah wajar karena mendekati hari raya mereka. Jangan malah marah-marah karena ada yang sedang berbahagia.
Sebaliknya, ketika lebaran maka umat dengan keyakinan lain juga menghormatinya dengan mengucapkan selamat, walau tidak ikut merayakan. Bahkan ada yang rela berjaga di depan masjid padahal tidak berlebaran. Inilah wujud dari toleransi yang indah, yang mempersatukan Indonesia.
Untuk bertoleransi maka perlu ada moderasi beragama, karena hanya dengan moderaisi beragama umat bisa menjalankan ibadah dan ritual agama dengan seimbang, tanpa harus ekstrim ke kiri atau ke kanan. Moderasi beragama bukanlah sekadar memiliki agama, melainkan menyadari bahwa menjalin hubungan baik dengan sesama insan itu juga berpahala, tidak hanya taat kepada Tuhan.
Jika semua WNI memahami moderasi beragama maka tidak akan terlalu fanatik alias ekstrim kanan. Segala sesuatu memang tidak boleh berlebihan, termasuk fanatisme beragama. Penyebabnya jika terlalu fanatik maka akan mudah tersinggung dengan perbedaan, padahal di Indonesia ada 6 keyakinan yang diakui negara, sehingga wajar jika ada banyak perbedaan di masyarakat.
Ketika suatu perbedaan terlalu dipertentangkan maka akan sangat berbahaya karena bisa merusak persatuan bangsa. Kita tentu tidak ingin negeri ini hancur seperti di Suriah atau Afghanistan. Janganlah mempermasalahkan perbedaan selama tidak menyinggung soal SARA. Perbedaan itu sebenarnya indah dan perlu dipahami lagi bahwa Indonesia terdiri dari keberagaman, yang disatukan dalam bhinneka tunggal ika.
Moderasi beragama memang perlu diviralkan lagi untuk lebih bertoleransi sekaligus menghalau radikalisme. Pihak yang mempraktikkan moderasi beragama bukan hanya para tokoh agama dan guru, tetapi juga kalangan masyarakat lain. Semua mempraktikannya karena moderasi beragama mewujudkan sikap toleransi di Indonesia.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

 

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden 

July 21, 2026

Taklimat Presiden Tegaskan Optimisme Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia

July 21, 2026

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden 

By Kata IndonesiaJuly 21, 20260

Komitmen MBG dan Single National Identity Card Menguat dalam Taklimat Presiden  Oleh: Fajar Dwi Santoso Taklimat Presiden dalam Sidang Kabinet Paripurna kembali memperlihatkan arah kebijakan pemerintah yang tidak hanya berfokus pada pencapaian pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penguatan kualitas sumber daya manusia dan reformasi tata kelola pemerintahan. Di hadapan jajaran kabinet, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan nasional harus menyentuh persoalan mendasar masyarakat, mulai dari pemenuhan gizi anak hingga penyederhanaan birokrasi melalui digitalisasi layanan publik. Kedua agenda tersebut saling berkaitan sebagai fondasi menuju Indonesia yang lebih produktif, inklusif, dan berdaya saing. Komitmen pemerintah terhadap peningkatan kualitas generasi penerus kembali ditegaskan melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Presiden memandang program tersebut bukan sekadar kebijakan sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia unggul. Menurut Presiden, masih tingginya angka stunting dan masih adanya anak-anak yang belum memperoleh asupan makanan yang memadai menjadi alasan utama mengapa negara harus hadir secara langsung melalui program pemenuhan gizi. Presiden juga menilai berbagai kritik terhadap MBG perlu dilihat secara proporsional. Alih-alih hanya memperdebatkan besaran anggaran, perhatian publik seharusnya diarahkan pada manfaat nyata yang dirasakan masyarakat. Dalam pandangannya, indikator keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari angka makroekonomi, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga pangan, memastikan pupuk tersedia bagi petani dengan harga terjangkau, serta menjamin anak-anak memperoleh makanan bergizi di sekolah. Penegasan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia merupakan dua agenda yang berjalan beriringan. Pendekatan tersebut sejalan dengan berbagai kajian internasional yang menempatkan investasi pada gizi anak sebagai salah satu instrumen paling efektif untuk meningkatkan produktivitas nasional dalam jangka panjang. Anak yang memperoleh gizi memadai sejak dini memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat, memiliki kemampuan belajar yang baik, serta menjadi tenaga kerja produktif pada masa depan. Karena itu, keberlanjutan MBG memiliki dimensi strategis yang jauh melampaui pemberian makanan semata. Pandangan serupa juga pernah disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang. Ia menjelaskan bahwa fokus pemerintah tidak hanya memperluas jangkauan penerima manfaat, tetapi juga memastikan kualitas layanan, keamanan pangan, dan tata kelola program terus diperbaiki agar manfaat MBG benar-benar dirasakan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan program bergantung pada pengawasan yang baik, keterlibatan pemerintah daerah, serta sinergi dengan pelaku usaha lokal sehingga manfaat ekonomi turut mengalir ke daerah. Di sisi lain, Presiden juga memberikan penekanan kuat terhadap reformasi birokrasi sebagai prasyarat percepatan pembangunan. Ia mengakui Indonesia telah berada pada jalur pembangunan yang benar, namun efektivitas pemerintahan masih perlu terus ditingkatkan. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah banyaknya regulasi yang tumpang tindih dan prosedur birokrasi yang belum sepenuhnya efisien. Karena itu, pemerintah memilih mempercepat transformasi digital melalui pengembangan GovTech serta implementasi Single National Identity Card. Gagasan ini menjadi langkah penting untuk menyederhanakan pelayanan publik yang selama ini tersebar di berbagai kementerian dan lembaga. Dengan identitas digital nasional yang terintegrasi, masyarakat diharapkan tidak lagi menghadapi proses administrasi yang berulang, sementara pemerintah dapat meningkatkan akurasi data serta efektivitas penyaluran berbagai program.…

Taklimat Presiden Tegaskan Optimisme Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia

By Kata IndonesiaJuly 21, 20260

Taklimat Presiden Tegaskan Optimisme Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia Oleh: Shafiq Tauqy Optimisme Indonesia menjadi…

Percepatan Infrastruktur dan Ekonomi Desa Jadi Fokus Taklimat Presiden

By Kata IndonesiaJuly 21, 20260

Percepatan Infrastruktur dan Ekonomi Desa Jadi Fokus Taklimat Presiden Jakarta – Pemerintah menegaskan komitmennya untuk…

Taklimat Presiden Soroti Penguatan Infrastruktur, Pangan, dan Efisiensi BUMN

By Kata IndonesiaJuly 21, 20260

Taklimat Presiden Soroti Penguatan Infrastruktur, Pangan, dan Efisiensi BUMN Presiden Prabowo Subianto menyoroti percepatan pembangunan…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.