Refleksi 100 Tahun Gontor dan Resonansi Global GIHES 2026
Oleh: Hafyz Marshal (Pimpinan Redaksi KataIndonesia.com – Pakar Komunikasi Publik)
Di tengah krisis orientasi pendidikan global yang kerap terjebak pada angka, gelar, dan kompetisi mekanis, Indonesia diam-diam menyimpan sebuah formulasi yang telah teruji selama satu abad. Formulasi itu bernama pendidikan holistik ala pesantren.
Tahun 2026 menjadi titik momentum sejarah: Pondok Modern Darussalam Gontor menginjak usia 100 tahun. Namun, peringatan seabad ini tidak dirayakan sekadar dengan nostalgia atau selebrasi megah, melainkan dengan sebuah tatanan gagasan strategis melalui Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 yang dihelat pada 5–6 September 2026 di Jakarta.
Menariknya, gaung GIHES 2026 memicu gelombang dukungan masif dari lintas pimpinan lembaga tinggi negara dan kementerian. Dari Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, hingga Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), semuanya menyuarakan satu narasi tunggal: Pesantren adalah laboratorium pendidikan karakter dan benteng pertahanan terbaik yang dimiliki bangsa ini.
Menjawab Tantangan Zaman dengan Pendidikan Tanpa Sekat
Pendidikan modern saat ini sering kali memisahkan antara kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan komitmen kebangsaan. Akibatnya, lahir generasi yang pintar secara teknis namun rapuh secara moral dan asing dari akar bangsanya.
Di sinilah letak keunggulan otentik pesantren. Seperti yang ditegaskan Rektor UNIDA Gontor, KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, holistic education yang murni dan diterapkan secara totalitas sebetulnya sudah lama dipraktikkan di pesantren. Di sana, santri mendalami ilmu agama, mengasah intelektual, melatih jiwa kepemimpinan, sekaligus menanamkan jiwa kebangsaan dalam satu ekosistem selama 24 jam.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, secara terbuka mengakui bahwa fondasi adab dan budi pekerti pesantren inilah yang melahirkan alumni dengan daya adaptasi tinggi serta kesiapan mental di tengah masyarakat. Pesantren tidak sekadar mendidik orang untuk “bisa bekerja”, tetapi membentuk manusia yang “tahu cara hidup dan bermanfaat bagi sesama.”
Pesantren: Benteng Kedaulatan dan Wawasan Kebangsaan
Satu hal yang kerap dilupakan dalam diskursus publik adalah keterkaitan erat antara pendidikan pesantren dan ketahanan nasional. Kunjungan panitia GIHES kepada Gubernur Lemhannas RI, Ace Hasan Syadzily, membuka mata banyak pihak bahwa pesantren bukan sekadar tempat mengaji, melainkan pilar kedaulatan NKRI.
Fakta sejarah membuktikan bahwa rasa cinta tanah air di pesantren sudah mendarah daging. Sejak sebelum Indonesia merdeka, Gontor telah membiasakan para santrinya menyanyikan lagu Indonesia Raya versi lengkap (3 stanza). Maka, ketika Lemhannas berkomitmen untuk memaparkan nilai-nilai pertahanan negara dalam forum GIHES bahkan membukan ruang pendidikan resmi bagi para kiai pengasuh pesantren hal ini menjadi sinyal positif. Kolaborasi ini memadukan kekuatan spiritual-intelektual pesantren dengan wawasan geostrategis negara.
Dari Indonesia untuk Peradaban Dunia
Puncak dari signifikansi GIHES 2026 terletak pada jangkauannya. Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. Hidayat Nur Wahid (HNW), menggarisbawahi bahwa forum ini bukan sekadar seminar lokal, melainkan syiar pendidikan global yang menghadirkan pakar-pakar dari lima benua.
Indonesia, yang sering kali hanya menjadi pemakai (consumer) teori-teori pendidikan Barat, kini siap tampil sebagai pendorong (contributor) arah baru pendidikan dunia. Model pendidikan holistik yang menggabungkan adab, ilmu, dan kepemimpinan kini ditawarkan dari Jakarta untuk dunia.
Rangkaian acara yang ditutup dengan gala dinner di Gedung MPR RI bersama para Duta Besar negara sahabat dan tokoh nasional makin mempertegas posisi GIHES sebagai diplomasi pendidikan yang elegan.
Saatnya Negara dan Masyarakat Menyatu
Dukungan dari tokoh-tokoh kunci seperti Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Pimpinan Pondok Modern Tazakka KH. Anang Rikza Masyhadi, Pimpinan Pesantren La Tansa KH. Adrian Mafatihullah Karim, hingga Pimpinan Pesantren Darunnajah KH. Hadiyanto Arief, memberikan pesan yang sangat jelas: Ketika negara hadir dan bersinergi secara penuh dengan pesantren, pendidikan Indonesia akan lompat ke kelas dunia.
Momentum 100 Tahun Gontor dan GIHES 2026 bukan milik alumni Gontor saja. Ini adalah momen kebanggaan nasional, bukti bahwa dari rahim bumi pertiwi telah lahir sebuah sistem pendidikan yang adaptif terhadap zaman, berakar kuat pada nilai luhur, dan diakui oleh dunia internasional.
Sudah saatnya kita berhenti memandang sebelah mata pendidikan berbasis pesantren. Dari GIHES 2026, kita belajar bahwa masa depan pendidikan dunia justru sedang dirumuskan dari tradisi panjang pesantren Indonesia.