Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Ditjen IKP) melaksanakan seminar live streaming bertemakan “Pemanfaatan TIK Untuk Sosial dan Ekonomi” yang diisi Ir. A. Rizki Sadig, M.Si selaku Anggota Komisi I DPR-RI, Gun Gun Siswadi selaku Akademisi Univ. Esa Unggul Jakarta, Obi Mesak Selaku Komika atau Pegiat Media Sosial, yang mana dalam seminar live streaming tersebut Ir. A. Rizki Sadig, M.Si menyampaikan bahwa acara ini bekerja sama dengan Ditjen IKP dalam rangka mensosialisasikan betapa pentingnya pemanfaatan TIK ini untuk sosial dan ekonomi di saat-saat sekarang itu kita harus syukuri, dalam situasi pandemi yang kemudian dipaksa untuk beradaptasi dengan keadaan yang ada, di mana semua interaksi sosial baik di dunia bisnis, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya sudah didominasi oleh dunia TIK, maka sudah sewajarnya dan sudah menjadi kewajiban agar tidak ketinggalan zaman sehingga bisa menyesuaikan diri dan juga kemudian berinteraksi dengan dunia digital seperti ini. Ir. A. Rizki Sadig, M.Si menyampaikan memang tidak akan bisa menjawab semua pertanyaan, tetapi setidaknya acara-acara seperti ini dimaksudkan oleh Pemerintah bersama DPR itu adalah untuk memberikan pemahaman secara menyeluruh, bahwa hari ini semua ada di dalam genggaman kita, bahwa hari ini segala aktivitas yang berhubungan dengan interaksi sosial itu tidak lagi diperlukan hal yang ribet, tetapi semua tergantung kepada kemauan dari diri kita masing-masing. Dalam dunia sosial dan khususnya di bidang ekonomi Ir. A. Rizki Sadig, M.Si beliau mencermati dari perjalanannya kemarin dari Jawa Timur, Jawa Tengah sampai ke Jakarta bertemu dengan masyarakat, bagaimana menyikapi tentang kondisi pandemi, bagaimana menyikapi tentang interaksi sosial yang harus dihubungkan dengan dunia digital seperti apa, banyak hal yang di dapatkan, banyak hal yang di serap, bahwa ternyata memang mayoritas masyarakat Indonesia ini masih sifatnya followers atau mengikuti, masih kurang berinisiatif untuk membuat sesuatu yang baru. Bagaimana bersaing tentang produk, kemudian bersaing dengan dunia luar, persaingan ini tidak bisa juga di hindarkan karena di dalam dunia digital ini tidak hanya di lingkup kecil di dalam perkampungan di dekat rumah atau mungkin di 1 Kecamatan, 1 Kabupaten, 1 Provinsi, bahkan 1 Indonesia, ini sudah Internasional semua bisa mengakses selama kita mengelola media sosial itu untuk bisa diakses oleh dunia, semakin luas, semakin baik. Dalam kondisi seperti ini ada plus minusnya, plusnya bisa menawarkan produk jauh lebih murah dengan jangkauan yang lebih luas, dengan calon konsumen yang lebih besar lagi, negatifnya persaingan akan lebih besar, tentunya semua harus berlomba-lomba membuat daya tarik dari sisi kemasannya, dari sisi rasanya, dari sisi pemakaiannya dan lain sebagainya, ini memang mau tidak mau harus terus melakukan inovasi-inovasi sehingga produk kita menjadi produk yang tidak pasaran, produk yang tidak banyak memproduksi tentunya ini sebuah tantangan. Kemudian Ir. A. Rizki Sadig, M.Si juga ingin mengingatkan kepada semua bahwa dunia digital ini karena bercampur semua orang melakukan aktivitas yang sama yaitu di dalam dunia bisnis maupun di dalam dunia komunikasi, harus juga disadari ini bukan semuanya orang-orang baik yang ada dalam dunia digital, ini sama dengan kenyataan di lapangan ada orang yang punya niatan buruk juga banyak, ada orang yang menjual produk seakan-akan baik tapi ternyata buruk juga banyak, ada orang yang seakan-akan menjual produk tapi ternyata produknya tidak ada dan uangnya diterima juga banyak, macam-macam kejadian-kejadian yang berhubungan dengan dunia digital yang negatif thinking atau orang yang mempublikasi berita-berita, konten-konten negatif, entah itu bohong, kemudian yang masuk di dalam kategori porno dan lain-lain. Ir. A. Rizki Sadig, M.Si menyampaikan ini juga harus kita sadari dan ini semua kita mungkin tergagap-gagap bukan cuman pengguna, bukan cuman masyarakat, Pemerintah dan DPR juga dalam kondisi gagap juga dengan situasi hari ini, karena baru kurang lebih satu setengah tahun pandemi berjalan, semua dipaksa untuk melakukan hal yang sama, kemudian berevolusi, melakukan sebuah terobosan-terobosan. Pemerintah melakukan hal yang sama, bagaimana caranya meningkatkan jaringan dari Sabang sampai Merauke dengan medan yang begitu berat, dengan kondisi alam yang begitu alam yang begitu berat agar supaya sinyal tidak terputus-putus, ini tantangan dari sisi Pemerintah bagaimana memperluas jaringan di daerah 3T yang sangat sulit jaringan-jaringan internet di daerah-daerah yang sangat terpencil, ini tantangan yang harus di selesaikan bersama-sama dan pasti harus saling bergotong-royong bersama-sama membangun itu semua, tapi setidaknya marilah bersama-sama untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan situasi-situasi pandemi ini, dibalik kesulitan selalu ada kemudahan, tentunya tidak ada kemudahan tanpa tantangan, yang menjadi menarik adalah bagaimana kita bisa menaklukkan tantangan itu, bagaimana kita bisa mencarikan solusi terhadap tantangan itu.
Di forum seminar live streaming ini narasumber Gun Gun Siswadi selaku Akademisi Univ. Esa Unggul Jakarta menyampaikan bahwa Januari 2021, survey Hootsuit dan We Are Social menyatakan jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 202,6 juta dengan penetrasi 73,7% dari total 202,6 juta. Dan pengguna internet di Indonesia 96,4% diantaranya menggunakan smartphone untuk mengaksesnya. Untuk mencapai 73,7% penetrasi internet tentunya Pemerintah bersama DPR Komisi 1 dan Ditjen IKP Kominfo dalam hal ini membangun infrastruktur yang namanya Palapa Ring supaya terjadi konektivitas artinya masyarakat bisa mengakses informasi di manapun, kapanpun sesuai dengan kebutuhannya. Proyek Palapa Ring terutama konsentrasinya di wilayah 3T, sekarang masyarakat yang berada di 3T sudah bisa mengakses informasi, sudah terkoneksi dengan internet. Media massa tidak lagi menjadi acuan dalam mengonsumsi informasi, semuanya beredar tanpa ada filter dari internet dan setiap orang dengan mudah mengakses informasi yang di inginkan tanpa perlu klarifikasi dan keberimbangan dari narasumber. Lalu Pak Gun Gun Siswadi menyampaikan sebanyak 170 juta penduduk Indonesia atau 61,8% menggunakan media sosial, sementara media sosial memiliki dua fungsi utama yang bisa menguntungkan jika digunakan secara tepat, tapi bisa menjadi senjata makan tuan jika tidak digunakan dengan baik. Pak Gun Gun Siswadi menyampaikan mengenai tantangan dan ancaman yaitu ada dua tantangan dan ancaman terkait dengan era teknologi informasi saat ini, yang pertama itu dari platform misalnya situs, media sosial dan messaging system, yang kedua dari konten misalnya ujaran kebencian, radikalisme atau terorisme dan berita hoax. Jadi inilah tantangan dan ancaman ke depan, bagaimana kita bisa meningkatkan kapasitas kita, supaya kita bisa mengantisipasi tantangan dan ancaman ke depan ini akan bertambah, meningkat dan bervariasi lagi. Kondisinya adalah kemudahan akses informasi tidak sejalan dengan kemampuan literasi digital khususnya dalam menggunakan media sosial, minat baca masyarakat Indonesia 0,001% artinya dari 1.000 orang Indonesia cuma 1 orang yang rajin membaca riset dari UNESCO, lalu banyaknya konten negatif yang beredar di media sosial sebanyak 1.306.150 konten negatif yang sudah diblokir Kominfo per 30 Juni 2021 berdasarkan aduan dari masyarakat. Dan rata-rata orang Indonesia menghabiskan 3 jam 14 menit sehari untuk mengakses media sosial riset dari Hootsuite dan We Are Social 2021. Pak Gun Gun Siswadi menyampaikan mengenai transformasi digital seperti pendidikan, bisnis, bertani, transaksi, transportasi, kuliner, kesehatan dan bantu sesama sekarang beralih ke digital. Manfaat internet di bidang sosial sebagai sarana terwujudnya well informed society, sebagai media untuk berkomunikasi dan bersosialisasi, media pertukaran data, sebagai media membangun dan memperluas bisnis dan lain sebagainya. Dalam manfaatnya internet di bidang bisnis sebagai media promosi, mempermudah komunikasi bisnis, dan meningkatkan peluang usaha secara global. Transformasi digital bisnis dari konvensional menjadi go online yaitu bisnis harus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman dan memberikan nilai tambah. Strategi berjualan di media sosial yaitu identifikasi target pasar dan media sosial yang digunakan, buat tampilan kuat dan menarik, selalu konsisten, jalin kolaborasi dan lain sebagainya.
Pada kesempatan seminar live streaming ini Obi Mesak Selaku Komika atau Pegiat Media Sosial menyampaikan bahwa sebagai pegiat media sosial dulu Obi Mesak mulai menggunakan media sosial terutama Instagram itu tahun 2015, beliau tidak menyadari bahwa memang dampak media sosial ini sangat besar kalau benar-benar memanfaatkan dengan baik. Disaat Obi Mesak sudah mualai menjadi seorang komika tetapi kesadaran tentang manfaat media sosial yang bisa menambah manfaat lagi itu masih kurang dan beliau baru menyadari itu di tahun 2019. Obi Mesak menyampaikan biasanya kalau mau kerja di ajak untuk shooting atau melakukan kegiatan-kegiatan sosial biasanya kebanyakan di Tv itu sudah meminta untuk aktif di sosial media terutama di Instagram karena sebagai media promosi. Akhirnya beliau mulai untuk menata Instagramnya dan mulai memenets. Di masa pandemi sebagai komika hidup sebelumnya tergantung dari event-event yang ada, jadi ketika bergeser ke pandemi maulai bepikir bagaimana caranya agar bisa survive di tengah pandemi, akhirnya terbantu dengan sosial media dan mulai mendapatkan endorse, bisa hidup dari endorse, mempromosikan UMKM teman-teman. Kalau komikanya sendiri sekarang kebanyakan Stand Up Comedynya secara online, seperti di zoom meeting seperti ini, kalau misalnya di daerah yang menggundangkan tidak bisa kesana jadi melalui zoom meeting, karena memang kita harus menyediakan tontonan apalagi sebagai komika harus ada hiburan buat pengikut-pengikut kita agar supaya mereka itu tidak hilang. Dan sekarang kebanyakan acara Stand Up Comedy juga di adakan secara virtual berbayar, kalau teman-teman atau pengikut-pengikut ingin menonton harus bayar dulu baru mendapatkan link untuk masuk, itu yang menjdi peluang bisnis baru buat kami sebagai komika-komika di masa pandemi seperti ini. Makanya sekarang semua orang mulai menata media sosialnya mau arahnya kemana biar membantu kita dalam mempromosikan diri, branding diri sendiri, bagimana caranya kita menyediakan konten-konten, membuat konten-konten yang akan menghasilkan uang untuk promosi segala macam iklan. Kesulitannya kalau baru mau mulai adalah konsisten atau tidak, terus yang kedua itu isi kontennya, kalau beliau sebagai komika, menyediakan beberapa konten dulu, nanti baru di lihat insightnya kalau di Instagram, di lihat penonton lebih suka konten yang mana, jika sudah ada satu konten yang insightnya tinggi berarti banyak yang menyukai konten tersebut dan harus konsisten untuk menyediakan konten seperti itu. Obi Mesak menyampaikan bahwa harus memulai dulu seiring berjalannya waktu akan tahu mau di arahin kemana dan ketika sudah ketemu celahnya tinggal di jalankan. Beliau juga menyampaikan mengenai tantangan sebagai Stand Up Comedy melalu virtual, jika melempar materi tiba-tiba penonton internetnya lemot jadi tidak sampai ke penonton, memang itu yang menjadi tantangan dan biasanya harus menyiapkan strategi-strategi lain untuk bisa menghadapi tantangan-tantangan itu.