• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Khazanah»Mahasiswa Nyantri, Apa Gunanya?

Mahasiswa Nyantri, Apa Gunanya?

  • Kata Indonesia
  • - Monday, 15 June 2026

Setiap Juli, ritual itu berulang.

Ibu-ibu sibuk memilih kasur lipat di marketplace. Ayah-ayah menghitung ulang tabungan sambil pura-pura tidak khawatir. Dan si anak — calon mahasiswa yang baru lulus SMA itu — sudah lebih dulu sibuk memilih kos dengan WiFi kencang, kamar mandi dalam, dan yang paling penting: bebas pulang malam.

Itulah gambaran awal kehidupan kuliah yang dianggap normal. Kos-kosan. Kamar 3×3 meter yang katanya tempat belajar mandiri, tapi yang lebih sering jadi tempat rebahan, doom-scrolling TikTok sampai subuh, dan menunda cucian baju hingga bau sendiri sudah tidak tercium lagi karena hidung sudah terbiasa.

Kita semua tahu ceritanya. Tapi kita jarang mau bicara jujur soal itu.

Fenomena yang Kita Pura-Pura Tidak Lihat

Seorang HRD perusahaan besar di Jawa Tengah pernah bercerita kepada saya dengan nada lelah. Bukan soal sulitnya mencari kandidat yang punya nilai bagus. Tapi soal betapa sulitnya menemukan kandidat yang punya karakter.

“Mereka pintar. IPK 3,7. Tapi disuruh presentasi di depan lima orang, tangannya gemetar. Dikasih tugas tim, malah perang dingin. Dikritik sedikit, langsung posting quotes ‘toxic workplace’ di Instagram.”

Di balik kisah itu ada pola yang tidak bisa kita abaikan. Ribuan mahasiswa di negeri ini tumbuh dalam isolasi yang mereka pilih sendiri. Kamar kos yang sempit mengajarkan satu hal dengan sangat baik: bahwa dunia bisa dijalani sendirian. Tak ada yang menegur ketika malas. Tak ada yang mengajak shalat ketika adzan berkumandang. Yang ada hanya kipas angin butut, tumpukan mie instan, dan kebebasan yang perlahan-lahan menggerogoti disiplin, adab, dan arah hidup.

Kos bukan jahat. Tapi kos juga bukan jawaban terbaik untuk membentuk generasi yang siap menghadapi dunia.

Dunia Sedang Tidak Sabar Menunggu

Wahai para orang tua — tolong dengarkan ini sebelum mentransfer uang kos pertama.

Dan kamu, calon mahasiswa yang sedang sibuk bikin list perabot kamar kos di Notes HP — taruh dulu sebentar.

Dunia tidak sedang berbaik hati kepada generasi muda kita.

Artificial intelligence sedang menelan pekerjaan-pekerjaan rutin dengan lahap dan tanpa rasa bersalah. Lapangan kerja formal makin sempit. Persaingan sudah tidak lagi soal siapa yang paling pintar di kelas, tapi siapa yang paling siap di dunia nyata. World Economic Forum mencatat bahwa hampir semua keterampilan paling dibutuhkan di masa depan adalah soft skills: kepemimpinan, kreativitas, kecerdasan emosional, kemampuan berkolaborasi, dan berpikir kritis.

Tidak satu pun dari keterampilan itu bisa tumbuh dari kasur kos.

Keterampilan itu butuh lingkungan. Butuh komunitas. Butuh gesekan nyata dengan manusia lain — bukan debat kusir dengan akun anonim di kolom komentar YouTube.

Dan di sinilah pesantren mahasiswa menjadi jawaban yang sudah terlalu lama kita abaikan.

Pesantren Bukan Penjara. Ini Laboratorium

Para orang tua sering panik mendengar kata pesantren. Langsung terbayang anak mereka antri mandi sejam, tidur di kasur tipis tanpa AC, dan HP disita pengasuh. Saya tidak menyalahkan gambaran itu. Sebagian pesantren memang begitu — dan percayalah, itu justru mendidik.

Tapi pesantren mahasiswa hari ini jauh lebih dari sekadar itu.

Pesantren mahasiswa adalah laboratorium hidup. Tempat di mana nilai tidak hanya diajarkan dalam ceramah, tapi dilatih dalam keseharian. Tempat di mana adab diasah dalam interaksi nyata — bukan lewat emoji dan voice note. Tempat di mana kepemimpinan tumbuh bukan dari seminar motivasi berbayar, tapi dari tanggung jawab kecil yang diemban setiap hari.

Para psikolog punya kalimat yang layak diingat: “You are the average of the five people you spend the most time with.” Kamu adalah cerminan dari orang-orang yang paling sering bersamamu. Kalau lima orang terdekatmu ahlinya rebahan dan stalking mantan, kamu akan terseret ke sana juga. Tapi kalau kamu dikelilingi teman yang berakhlak, punya visi, dan saling mendorong — tanpa sadar kamu akan terangkat bersama mereka.

Itulah keunggulan terbesar pesantren mahasiswa: lingkungan yang membentuk, bukan sekadar fasilitas yang melayani.

Pondok Pesantren Wali: Bukan Sekadar Tempat Bermukim

Di antara pilihan pesantren mahasiswa di kawasan Salatiga dan sekitarnya, ada satu nama yang layak disebut dengan hormat: Pondok Pesantren Wali.

Berlokasi di Jalan Mertokusumo No. 99, Candirejo, Tuntang, Kabupaten Semarang — posisinya strategis dan mudah dijangkau dari UIN Salatiga maupun kampus-kampus lain di sekitarnya. PP Wali bukan sekadar menyediakan atap dan kasur. Ia menawarkan sesuatu yang jauh lebih berharga: sistem pembinaan yang memadukan kearifan salaf dengan tuntutan zaman modern.

Mottonya sederhana tapi dalam: “Tempat Bertumbuh, Belajar, dan Bergerak Bersama.”

Dan itu bukan kalimat manis di spanduk semata. Itu filosofi yang diwujudkan dalam setiap program yang mereka rancang.

Program unggulannya tidak main-main. Ada Pembelajaran Membaca dan Memahami Kitab Kuning — memastikan akar keilmuan Islam tetap kokoh di tengah riuhnya kehidupan kampus. Ada Entrepreneurship Teori dan Praktik — karena santri bukan hanya harus bisa mengaji, tapi juga harus bisa menghidupi diri dan berdampak secara ekonomi. Ada Skill Literasi: Membaca, Menerjemahkan, dan Menulis Buku — sebuah program yang langka dan berharga di era di mana orang makin malas membaca lebih dari tiga paragraf. Dan ada Praktik Bahasa Arab dan Bahasa Inggris — karena ilmu langit harus mampu berbicara dalam bahasa dunia.

Hasilnya? Santri yang keluar dari PP Wali bukan hanya mahasiswa yang selesai kuliah. Mereka adalah pribadi yang Beradab, Berakhlak, dan Berdigital — kombinasi yang justru paling dicari dunia kerja dan dunia nyata hari ini.

Soal Biaya, Ini Hitung-Hitungannya

Kepada para orang tua yang sedang menimbang-nimbang: mari kita bicara angka.

Biaya pendaftaran PP Wali sebesar Rp 1.100.000 — dan itu sudah mencakup administrasi, wakaf pembangunan, perlengkapan santri, uang kertas setahun, uang kegiatan setahun, uang kesehatan setahun, uang makan, iuran listrik dan kebersihan, serta kartu tanda santri. Syahriyah bulanannya Rp 450.000 — dan bisa dicicil dua kali bagi yang membutuhkan.

Bandingkan dengan kos biasa di Salatiga yang bisa menelan Rp 400.000 hingga Rp 800.000 per bulan, tanpa makan, tanpa pembinaan, dan tanpa jaminan anak Anda pulang dengan akhlak yang terjaga. Di PP Wali, ada makan, ada ilmu, ada komunitas, dan ada orang yang peduli ketika anak Anda mulai kehilangan arah.

Ini bukan biaya. Ini investasi.

Jangan Tunda. Kursi Terbatas

Pendaftaran Santri Mahasiswa/i Baru PP Wali Tahun Ajaran 2026/2027 kini resmi dibuka dalam dua gelombang:

Gelombang I: 20 Mei – 20 Juli 2026

Gelombang II: 22 Juli – 10 Agustus 2026

Pendaftaran online bisa dilakukan melalui: https://forms.gle/uqspPmKqcEFkgFKBA

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi langsung:

Ustadz Musyofi: 0870-0122-4189

Ustadz Rafli: 0831-4341-5204

Ikuti juga di media sosial: Instagram, Facebook, dan TikTok @ponpeswali

Pilihan yang Akan Kamu Kenang

Masa kuliah adalah masa paling strategis dalam hidup. Bukan hanya karena pengetahuan diserap di sana. Tapi karena kebiasaan dibentuk, karakter dibangun, dan pola pikir ditempa di sana — di tempat kamu tinggal, di orang-orang yang kamu temui setiap pagi dan malam.

Memilih kos adalah memilih mandiri secara fisik. Memilih pesantren mahasiswa adalah memilih tumbuh secara utuh.

Kelak, ketika kamu berdiri di depan pewawancara kerja, memimpin tim pertamamu, atau menjalani hari-hari paling berat dalam hidupmu — kamu akan mensyukuri satu pilihan kecil yang kamu buat di bulan Juli ini.

Bukan pilihan kampusmu. Tapi pilihan tempat tinggalmu.

“Di sini, kami tidak hanya tinggal bersama. Kami belajar hidup bersama.”

Pondok Pesantren Wali — Beradab • Berakhlak • Berdigital

Jl. Mertokusumo No. 99, Candirejo, Tuntang, Kabupaten Semarang

@ponpeswali | Ustadz Musyofi: 0870-0122-4189

 

 

PFII: Strategi Investasi Nasional, Merebut Kepercayaan Modal Dunia *) Oleh: Ahmad Zulfikar Persaingan memperebutkan modal global semakin ketat di tengah perubahan ekonomi dunia yang berlangsung cepat. Investor internasional tidak lagi hanya mempertimbangkan besarnya pasar dan kekayaan sumber daya alam, tetapi juga kepastian hukum, stabilitas, kemudahan investasi, serta kualitas ekosistem keuangan. Kondisi tersebut mendorong Indonesia membutuhkan instrumen baru yang mampu mempertemukan kekuatan ekonomi domestik dengan sumber pembiayaan global secara lebih efektif. Dalam konteks inilah pemerintah menyiapkan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) sebagai hub keuangan berstandar global sekaligus strategi untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam menarik investasi dunia. Kebutuhan tersebut berangkat dari besarnya potensi ekonomi Indonesia yang masih dapat dikembangkan. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pemerintah menyiapkan pusat keuangan internasional karena Indonesia dinilai masih memiliki ruang perkembangan yang cukup besar sehingga membutuhkan perangkat yang mampu mendukung masuknya investasi dari berbagai negara. PFII diarahkan untuk menjawab kebutuhan pembiayaan ekonomi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan finansial internasional. Dengan adanya pusat finansial yang dirancang secara khusus, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk mengoptimalkan arus modal global bagi kepentingan pembangunan nasional. Selanjutnya, peluang tersebut menjadi semakin relevan jika melihat besarnya dana global yang sedang mencari pusat finansial baru. Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Mohamad Hekal mengatakan pembentukan PFII bertujuan menjadikan Indonesia sebagai pusat finansial internasional yang mampu menarik dana global untuk membiayai berbagai investasi strategis di dalam negeri. Menurut Hekal, dunia memiliki sekitar 3,2 triliun dolar AS dana keluarga kaya atau family office, dan sekitar 65 persen di antaranya disebut sedang mencari pusat finansial baru. Ia juga menjelaskan bahwa seluruh transaksi di PFII akan menggunakan valuta asing sehingga keberadaannya tidak diarahkan untuk bersaing langsung dengan perbankan nasional dalam menghimpun dana masyarakat. Hekal menambahkan bahwa negara-negara yang berhasil membangun pusat finansial internasional mampu memperoleh tambahan pertumbuhan ekonomi hingga sekitar 0,5 persen terhadap PDB, sehingga PFII diharapkan dapat segera direalisasikan sebagai instrumen pembiayaan investasi sekaligus penggerak pertumbuhan nasional. Besarnya peluang tersebut tentu harus diikuti dengan tata kelola yang kredibel. Pusat finansial internasional tidak akan mampu bertahan hanya dengan menawarkan insentif investasi apabila tidak disertai kepastian regulasi dan sistem pengawasan yang kuat. Dalam hal ini, Direktur Eksekutif DEN Pantro Pander Silitonga menilai tingginya minat masyarakat terhadap teknologi blockchain dan aset kripto perlu diwadahi melalui komunikasi yang solid antara pelaku industri, regulator, dan parlemen. Pantro menjelaskan bahwa aset digital nantinya masuk dalam cakupan pengawasan Lembaga Pengawas Jasa Keuangan PFII yang memiliki kewenangan dalam perizinan, pemeriksaan, penegakan hukum administratif, hingga perlindungan konsumen terhadap berbagai instrumen finansial, derivatif, bursa, dan transaksi over-the-counter (OTC). Ia juga menilai kemudahan fiskal yang kompetitif dapat menjadi salah satu daya tarik PFII bagi investor global, tetapi pusat finansial tersebut harus diarahkan bukan sekadar sebagai tempat transit kapital, melainkan sebagai pintu masuk pembiayaan bagi sektor riil nasional. Dengan demikian, keberhasilan PFII tidak semestinya diukur hanya berdasarkan jumlah modal asing yang berhasil dihimpun. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan mengubah kapital global menjadi investasi produktif yang menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Dana yang masuk perlu diarahkan untuk memperkuat industri, infrastruktur, teknologi, energi, ekonomi digital, serta sektor-sektor strategis yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan produktivitas. Orientasi tersebut penting agar manfaat PFII tidak berhenti di pusat-pusat finansial, tetapi mengalir ke berbagai sektor ekonomi dan masyarakat secara lebih luas. Di sisi lain, pemerintah perlu memastikan bahwa daya tarik investasi berjalan beriringan dengan prinsip kehati-hatian. Kemudahan fiskal dan transaksi internasional memang diperlukan agar PFII kompetitif dibandingkan pusat finansial di negara lain, tetapi insentif tersebut harus ditempatkan dalam kerangka tata kelola yang transparan dan akuntabel. Kepastian hukum, perlindungan konsumen, pengawasan transaksi, serta mekanisme penegakan hukum harus menjadi fondasi utama untuk membangun kepercayaan investor. Tantangannya bukan sekadar menghadirkan fasilitas finansial, tetapi membangun kepercayaan bahwa Indonesia mampu menyediakan kepastian hukum, tata kelola yang kredibel, pengawasan yang kuat, serta peluang investasi yang produktif. Apabila seluruh fondasi tersebut dapat berjalan secara konsisten, modal global tidak hanya akan masuk ke Indonesia, tetapi dapat dikonversikan menjadi investasi, lapangan kerja, peningkatan produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas. Dengan pendekatan tersebut, Indonesia tidak hanya menawarkan tempat untuk menempatkan modal, tetapi juga menawarkan ekosistem finansial yang aman dan memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang. Lebih jauh, PFII dapat menjadi bagian dari agenda transformasi ekonomi Indonesia menuju struktur ekonomi yang semakin modern dan terintegrasi dengan rantai nilai global. Kehadiran pusat finansial internasional dapat memperluas akses pembiayaan bagi sektor-sektor produktif sekaligus memperkuat konektivitas Indonesia dengan investor dan institusi keuangan dunia. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperdalam pasar keuangan serta memperkuat kapasitas institusi dalam mengelola arus modal internasional. Dengan demikian, PFII menjadi bagian dari ekosistem kebijakan yang saling memperkuat untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional. *) Pakar Ekonomi Makro

September 3, 2026

PFII Jadi Financial Hub Plus untuk Tarik Investasi Global ke Sektor Riil

September 3, 2026

PFII: Strategi Investasi Nasional, Merebut Kepercayaan Modal Dunia *) Oleh: Ahmad Zulfikar Persaingan memperebutkan modal global semakin ketat di tengah perubahan ekonomi dunia yang berlangsung cepat. Investor internasional tidak lagi hanya mempertimbangkan besarnya pasar dan kekayaan sumber daya alam, tetapi juga kepastian hukum, stabilitas, kemudahan investasi, serta kualitas ekosistem keuangan. Kondisi tersebut mendorong Indonesia membutuhkan instrumen baru yang mampu mempertemukan kekuatan ekonomi domestik dengan sumber pembiayaan global secara lebih efektif. Dalam konteks inilah pemerintah menyiapkan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) sebagai hub keuangan berstandar global sekaligus strategi untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam menarik investasi dunia. Kebutuhan tersebut berangkat dari besarnya potensi ekonomi Indonesia yang masih dapat dikembangkan. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pemerintah menyiapkan pusat keuangan internasional karena Indonesia dinilai masih memiliki ruang perkembangan yang cukup besar sehingga membutuhkan perangkat yang mampu mendukung masuknya investasi dari berbagai negara. PFII diarahkan untuk menjawab kebutuhan pembiayaan ekonomi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan finansial internasional. Dengan adanya pusat finansial yang dirancang secara khusus, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk mengoptimalkan arus modal global bagi kepentingan pembangunan nasional. Selanjutnya, peluang tersebut menjadi semakin relevan jika melihat besarnya dana global yang sedang mencari pusat finansial baru. Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Mohamad Hekal mengatakan pembentukan PFII bertujuan menjadikan Indonesia sebagai pusat finansial internasional yang mampu menarik dana global untuk membiayai berbagai investasi strategis di dalam negeri. Menurut Hekal, dunia memiliki sekitar 3,2 triliun dolar AS dana keluarga kaya atau family office, dan sekitar 65 persen di antaranya disebut sedang mencari pusat finansial baru. Ia juga menjelaskan bahwa seluruh transaksi di PFII akan menggunakan valuta asing sehingga keberadaannya tidak diarahkan untuk bersaing langsung dengan perbankan nasional dalam menghimpun dana masyarakat. Hekal menambahkan bahwa negara-negara yang berhasil membangun pusat finansial internasional mampu memperoleh tambahan pertumbuhan ekonomi hingga sekitar 0,5 persen terhadap PDB, sehingga PFII diharapkan dapat segera direalisasikan sebagai instrumen pembiayaan investasi sekaligus penggerak pertumbuhan nasional. Besarnya peluang tersebut tentu harus diikuti dengan tata kelola yang kredibel. Pusat finansial internasional tidak akan mampu bertahan hanya dengan menawarkan insentif investasi apabila tidak disertai kepastian regulasi dan sistem pengawasan yang kuat. Dalam hal ini, Direktur Eksekutif DEN Pantro Pander Silitonga menilai tingginya minat masyarakat terhadap teknologi blockchain dan aset kripto perlu diwadahi melalui komunikasi yang solid antara pelaku industri, regulator, dan parlemen. Pantro menjelaskan bahwa aset digital nantinya masuk dalam cakupan pengawasan Lembaga Pengawas Jasa Keuangan PFII yang memiliki kewenangan dalam perizinan, pemeriksaan, penegakan hukum administratif, hingga perlindungan konsumen terhadap berbagai instrumen finansial, derivatif, bursa, dan transaksi over-the-counter (OTC). Ia juga menilai kemudahan fiskal yang kompetitif dapat menjadi salah satu daya tarik PFII bagi investor global, tetapi pusat finansial tersebut harus diarahkan bukan sekadar sebagai tempat transit kapital, melainkan sebagai pintu masuk pembiayaan bagi sektor riil nasional. Dengan demikian, keberhasilan PFII tidak semestinya diukur hanya berdasarkan jumlah modal asing yang berhasil dihimpun. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan mengubah kapital global menjadi investasi produktif yang menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Dana yang masuk perlu diarahkan untuk memperkuat industri, infrastruktur, teknologi, energi, ekonomi digital, serta sektor-sektor strategis yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan produktivitas. Orientasi tersebut penting agar manfaat PFII tidak berhenti di pusat-pusat finansial, tetapi mengalir ke berbagai sektor ekonomi dan masyarakat secara lebih luas. Di sisi lain, pemerintah perlu memastikan bahwa daya tarik investasi berjalan beriringan dengan prinsip kehati-hatian. Kemudahan fiskal dan transaksi internasional memang diperlukan agar PFII kompetitif dibandingkan pusat finansial di negara lain, tetapi insentif tersebut harus ditempatkan dalam kerangka tata kelola yang transparan dan akuntabel. Kepastian hukum, perlindungan konsumen, pengawasan transaksi, serta mekanisme penegakan hukum harus menjadi fondasi utama untuk membangun kepercayaan investor. Tantangannya bukan sekadar menghadirkan fasilitas finansial, tetapi membangun kepercayaan bahwa Indonesia mampu menyediakan kepastian hukum, tata kelola yang kredibel, pengawasan yang kuat, serta peluang investasi yang produktif. Apabila seluruh fondasi tersebut dapat berjalan secara konsisten, modal global tidak hanya akan masuk ke Indonesia, tetapi dapat dikonversikan menjadi investasi, lapangan kerja, peningkatan produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas. Dengan pendekatan tersebut, Indonesia tidak hanya menawarkan tempat untuk menempatkan modal, tetapi juga menawarkan ekosistem finansial yang aman dan memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang. Lebih jauh, PFII dapat menjadi bagian dari agenda transformasi ekonomi Indonesia menuju struktur ekonomi yang semakin modern dan terintegrasi dengan rantai nilai global. Kehadiran pusat finansial internasional dapat memperluas akses pembiayaan bagi sektor-sektor produktif sekaligus memperkuat konektivitas Indonesia dengan investor dan institusi keuangan dunia. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperdalam pasar keuangan serta memperkuat kapasitas institusi dalam mengelola arus modal internasional. Dengan demikian, PFII menjadi bagian dari ekosistem kebijakan yang saling memperkuat untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional. *) Pakar Ekonomi Makro

By Kata IndonesiaSeptember 3, 20260

PFII: Strategi Investasi Nasional, Merebut Kepercayaan Modal Dunia Oleh: Ahmad Zulfikar Persaingan memperebutkan modal global…

PFII Jadi Financial Hub Plus untuk Tarik Investasi Global ke Sektor Riil

By Kata IndonesiaSeptember 3, 20260

PFII Jadi Financial Hub Plus untuk Tarik Investasi Global ke Sektor Riil Jakarta, – Pemerintah…

Kemitraan Prabowo-Putin Makin Erat, Ekonomi dan Industri Jadi Motor Kerja Sama

By Kata IndonesiaSeptember 3, 20260

Kemitraan Prabowo-Putin Makin Erat, Ekonomi dan Industri Jadi Motor Kerja Sama Oleh: Rani Wulandari Presiden…

Dari Vladivostok, Prabowo Perkuat Fondasi Ketahanan Energi Indonesia

By Kata IndonesiaSeptember 3, 20260

Dari Vladivostok, Prabowo Perkuat Fondasi Ketahanan Energi Indonesia Oleh: Mario Dewangga Presiden Prabowo Subianto bertolak…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.