• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Ekonomi»Energi»KTT G20 Berhasil Lahirkan Rumusan Peta Jalan Transisi Energi

KTT G20 Berhasil Lahirkan Rumusan Peta Jalan Transisi Energi

  • Kata Indonesia
  • - Wednesday, 16 November 2022

KTT G20 Berhasil Lahirkan Rumusan Peta Jalan Transisi Energi

Oleh : Arsenio Bagas Pamungkas

KTT G20 Indonesia berhasil melahirkan sebuah rumusan peta jalan transisi energi. Hal tersebut menjadi sangat penting agar segera bisa membantu pemulihan dunia secara bersama-sama, utamanya dalam menghadapi krisis akibat inflasi energi yang begitu tinggi sekarang ini.

Roadmap atau peta jalan transisi energi merupakan sebuah kerangka aksi yang bertujuan bisa mempercepat proses transisi energi, dimana hal tersebut diinisiasi langsung oleh Indonesia selaku tuan rumah sekaligus Presidensi dalam Konferensi Tingkat Tinggi Group of Twenty (KTT G20) dan juga diharapkan akan bisa terus dilanjutkan oleh Presidensi G20 selanjutnya.

Terkait hal tersebut, Staf Ahli Bidang Perencanaan Strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yudo Dwinanda menyatakan bahwa Bali Energy Transitions Roadmap disusun berdasarkan tiga hal yaitu prinsip percepatan transisi energi yang ada dalam Bali Compact, prioritas aksi energi berkelanjutan dan tiga isu prioritas yakni akses, teknologi, dan pendanaan.

Lebih lanjut, pria yang juga menjabat sebagai Chair of Energy Transitions Working Group (ETWG) itu juga menambahkan bahwa dengan adanya Bali Energy Transitions Roadmap maka akan mampu terus menjadi suatu bentuk inisiatif demi mendorong terjadinya kontinuitas dalam agenda global.

Hal tersebut sangat berguna untuk lebih memperkuat adanya kerja sama internasional dan arsitektur energi.

Mengenai ‘Bali Compact’ sendiri, Yudo menjelaskan bahwa hal itu terlahir dari kesepakatan bersama dalam Forum Transisi Energi G20, yang mana akan menjadi warisan dari Indonesia kepada forum G20 secara keseluruhan karena sangat diharapkan bisa terus dibahas hingga pelaksanaan pertemuan internasional tersebut hingga tahun-tahun selanjutnya.
Bali Compact juga terlahir dari kesepakatan bersama seluruh anggota negara G20, dengan ambisi utamanya adalah bisa segera mencapai transisi energi yang adil, terjangkau dan inklusif bagi semua pihak. Pasalnya, memang isu mengenai energi ini menjadi salah satu isu strategis karena belakangan merupakan ancaman krisis dunia.
Maka dari itu, apabila transisi energi tidak segera dibahas dan dimunculkan solusi konkretnya, justru akan menimbulkan dampak-dampak buruk lain bagi keberlangsungan dunia. Namun, tetap saja solusi tersebut harus benar-benar bisa mewadahi konsep berkeadilan, dalam artian berarti tidak ada pembedaan akses kepada transisi energi bahkan untuk seluruh negara di dunia.
Terlebih, terdapat poin kedua yakni adanya asas terjangku, yang mana berarti dorongan untuk melakukan transisi energi ini harus bisa benar-benar dijangkau oleh seluruh negara di dunia tanpa terkecuali, bukan hanya menjadi akses untuk negara maju atau negara kaya belaka.
Selanjutnya untuk asas inlusif sendiri, maka dorongan untuk melakukan percepatan tarnsisi energi demi keberlanjutan global adalah seluruh prosesnya akan terus melibatkan banyak sekali negara, bahkan memang wajib hukumnya untuk negara-negara berkembang, nergara rentan hingga negara maju sekalipun duduk dalam satu wadah dan membahas akan transisi energi untuk kepentingan bersama tanpa adanya monopoli atau subordinasi dari pihak lainnya. Sehingga transisi energi benar-benar bisa dinikmati oleh seluruh pihak di dunia.
Untuk prinsipnya sendiri, Bali Compact memiliki sembilan buah prinsip, yang merupakan penawaran dari Indonesia dalam forum transisi energi G20 untuk didorong oleh dunia. Prinsip pertamanya yakni terus memperkuat kepercayaan dan kejelasan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi secara nasional.
Yudo Dwinanda melanjutkan bahwa prinsip selanjutnya adalah akan melakukan katalisasi investasi yang inklusif dan berkelanjutan dalam skala besar. Arah dari investasi inklusif tersebut adalah untuk bisa membuat sebuah sistem energi rendah emisi atau bisa dikatakan Net Zero Emissions.
Pentingnya inklusifitas terus ditekankan, karena memang harus ada kolaborasi yang kuat untuk bisa memobilisasi semua sumber pendanaan demi mencapai tujuan Agenda Sustainable Development Goals (SDGs) pada tahun 2030 mendatang dan juga mendukung Paris Agreement.
Beberapa poin mengenai transisi energi ini ditambahkan oleh Staf Ahli Perencanaan Strategis Kementerian ESDM tersebut, yakni mampu meningkatkan teknologi yang inovatif, terjangkau, cerdas, rendah emisi atau Net Zero Emissions serta membangun dan memperkuat ekosistem inovasi untuk mendorong penelitian, pengembangan, demonstrasi, diseminasi dan penerapannya.
Sementara itu, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso menyampaikan bahwa mesti sempat terjadi pembahasan yang cukup sulit mengenai transisi energi ini karena memang terdapat concern yang berbeda pada setiap negara terkait krisis yang terjadi, namun Sherpa Track G20 akhirnya mencapai kesepakatan dan juga transisi energi sendiri menjadi isu yang paling dinamis.
Dirinya menjelaskan bahwa saat ini krisis energi dikarenakan adanya inflasi energi yang bahkan sudah pada double digit. Bahkan, negara maju sekalipun, mereka tatkala hendak memasuki musim dingin seperti sekarang merasa sangat kesulitan dengan inflasi tinggi tersebut. Indonesia sendiri terus mengarahkan pembahasan ke next renewable energy, green energy, kemudian banyak ke transisi energi.
Dengan adanya krisis energi akibat inflasi yang tinggi, maka memang penting adanya sebuah solusi konkret, dimana hal tersebut ternyata mampu terlahir dari KTT G20 Indonesia dalam bentuk rumusan peta jalan transisi energi dengan banyak sekali pon-poin hingga prinsip untuk bisa memulihkan dunia secara bersama-sama.

)* Penulis adalah kontributor Persada Institute

Pemerintah Perkuat Satgas untuk Percepat Pemulihan Wilayah Terdampak Bencana

October 21, 2026

Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah untuk Percepat Pemulihan Bencana

October 21, 2026

Pemerintah Perkuat Satgas untuk Percepat Pemulihan Wilayah Terdampak Bencana

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Perkuat Satgas untuk Percepat Pemulihan Wilayah Terdampak Bencana JAKARTA – Pemerintah memperkuat koordinasi Satuan…

Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah untuk Percepat Pemulihan Bencana

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah untuk Percepat Pemulihan Bencana *Jakarta* – Pemerintah terus memperkuat sinergi antara…

Pemerintah Memperluas Transaksi Lokal demi Ketahanan Rupiah dan Ekonomi

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Memperluas Transaksi Lokal demi Ketahanan Rupiah dan Ekonomi Oleh : Jems Andrian Pemerintah bersama…

Pemerintah Menjaga Fundamental Ekonomi di Tengah Tekanan Rupiah

By Kata IndonesiaOctober 21, 20260

Pemerintah Menjaga Fundamental Ekonomi di Tengah Tekanan Rupiah  Oleh: Ricky Rinaldi Dinamika perekonomian global yang diwarnai tingginya ketidakpastian pasar keuangan internasional, ketegangan geopolitik lintas benua, serta kebijakan suku bunga tinggi di negara-negara maju memicu tekanan yang signifikan terhadap nilai tukar mata uang di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menjadi tantangan nyata yang memerlukan kecermatan serta presisi strategi kebijakan ekonomi makro secara komprehensif. Dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan tersebut, ketahanan ekonomi nasional tidak ditentukan oleh respon kepanikan jangka pendek, melainkan oleh kekuatan fundamental ekonomi riil dan solidnya koordinasi kebijakan antar-lembaga. Langkah strategis pemerintah bersama otoritas moneter dalam menjaga ketahanan fundamental ekonomi terbukti menjadi benteng utama dalam mempertahankan stabilitas finansial, menjaga daya beli masyarakat, serta memastikan keberlanjutan arus investasi nasional secara inklusif. Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pemerintah terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter bersama Bank Indonesia guna meredam dampak gejolak nilai tukar terhadap perekonomian domestik. Menurutnya, APBN menjalankan peran vital sebagai peredam kejutan (shock absorber) untuk melindungi daya beli masyarakat berpenghasilan rendah dari potensi dampak kenaikan harga barang-barang impor (imported inflation). Pengelolaan defisit anggaran secara disiplin, efisiensi belanja negara, serta optimalisasi penerimaan perpajakan dan non-pajak dipastikan tetap terjaga dengan aman guna menopang kepastian iklim usaha dan memberikan tingkat kepercayaan yang tinggi bagi pasar keuangan global. Suahasil menjelaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat berdaya tahan, didukung oleh laju pertumbuhan ekonomi yang konsisten berada di atas lima persen, tingkat inflasi nasional yang terkendali dalam sasaran target, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus secara beruntun. Pemerintah memberikan kepastian bagi dunia usaha bahwa ketahanan fiskal Indonesia sangat memadai untuk menghadapi guncangan eksternal. Instrumen insentif perpajakan dan kemudahan fasilitas kepabeanan tetap dialokasikan secara tepat sasaran untuk mendukung industri manufaktur berorientasi ekspor serta mendorong penggunaan komponen dalam negeri demi menekan ketergantungan bahan baku impor. Menjaga fundamental ekonomi di tengah tekanan fluktuasi mata uang merupakan wujud tanggung jawab kepemimpinan ekonomi yang matang dan berpandangan jauh ke depan. Pemerintah memberikan penegasan yang jelas kepada publik bahwa stabilitas Rupiah ditopang oleh kekuatan sektor riil dan cadangan devisa yang mencuputi. Ketegasan pemerintah dalam mendorong pendalaman pasar keuangan serta optimalisasi penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam di dalam negeri menjadi instrumen hukum yang sangat krusial untuk memperkuat ketersediaan likuiditas valuta asing di pasar domestik. Penguatan fundamental ini juga diperkokoh melalui pengawasan ketat terhadap efisiensi belanja BUMN dan korporasi swasta yang memiliki kewajiban utang luar negeri. Koordinasi berkala dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan setiap potensi risiko likuiditas terdeteksi dan dimitigasi secara terukur sebelum berdampak pada sektor perbankan nasional. Langkah pencegahan yang terintegrasi ini menjamin bahwa seluruh industri keuangan nasional memiliki bantalan modal yang sangat tebal dalam menghadapi gejolak eksternal. Langkah percepatan penataan ekosistem modal usaha dan daya saing industri dalam negeri ini berjalan selaras dengan dorongan penanaman modal strategis. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani mengatakan ketahanan fundamental ekonomi nasional menjadi faktor penentu utama yang menjaga kepercayaan para investor global untuk tetap menanamkan modal jangka panjang di Indonesia. Menurutnya, dinamika kurs jangka pendek tidak menyurutkan minat investasi langsung (Foreign Direct Investment) karena daya tarik Indonesia terletak pada besarnya potensi pasar domestik, kelimpahan sumber daya alam, dan ketegasan kebijakan hilirisasi industri.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.