• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Ketua Umum Yayasan Al Mukarromah Ramdansyah: Flexing Bukan Tindakan yang Tepat Disaat banyak Umat yang Menderita Kesusahan dan Kelaparan

Ketua Umum Yayasan Al Mukarromah Ramdansyah: Flexing Bukan Tindakan yang Tepat Disaat banyak Umat yang Menderita Kesusahan dan Kelaparan

  • Kata Indonesia
  • - Thursday, 29 June 2023

Jakarta – Ketua Umum Yayasan Masjid Al Mukarromah-Koja, Jakarta Utara, Ramdansyah menjadi Khatib Shalat Idul Adha 1444 H, di Jalan Matraman Jakarta Timur, Kamis (29/6/2023).

Shalat Idul Adha 1444 H di Jalan Matraman diselenggarakan oleh Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Jakarta Timur. Dalam khutbahnya, Ramdansyah mengangkat tema Pengorbanan di Tahun Politik.

Dalam ceramahnya Ramdansyah mengkritik sikap pamer atau flexing yang dilakukan pejabat, istri pejabat dan selebriti.

Biasanya yang dipamerkan adalah yang melekat pada tubuh orang tersebut. Benda-benda yang melekat seperti sepatu, jam tangan, baju dengan nilai ratusan hingga mencapai miliaran rupiah

Menurut Ramdansyah visi suci haji adalah melepas keangkuhan dan ego yang lekat pada simbol baju yang putih tanpa jahitan.

“Pada saat istri pejabat, anak pejabat dan selebriti menampilkan flexing pesan ibadah haji adalah menegasikan ini. Flexing adalah perilaku seseorang yang
memamerkan atau menunjukkan kekayaan atau kemewahan yang
dimilikinya,” ujar Ketua Panwaslu Provinsi
DKI Jakarta 2008/2009 dan 2011/2012.

Ramdansyah dalam ceramahnya menjelaskan, siapapun yang berhaji, yang salah satu rukunnya ihram malah memerintahkan penggunaan pakaian putih
tanpa jahitan. Umumnya, tidak bermerek dan tidak ada simbol Dolce Gaban, Louis Vitton, atau merek-merek terkenal lainnya.

“Di sini kita diingatkan bahwa flexing bukan tindakan yang tepat di saat banyak
umat yang menderita kesusahan dan kelaparan. Jelas, semua benda yang melekat pada diri kita dapat melambangkan kekuasaan dan strata,” ujar Ramdansyah.

Dalam keadaan ihram, semua ini ditanggalkan agar manusia sederajat.
Manusia tampak sebagai manusia yang sama. Inilah humanisasi. Semua orang harus dihargai. Saat memakai pakaian non ihram simbol ego manusia menjadi lebih tampak. Tetapi, dengan pakaian ihram,
ego-ego manusia dihilangkan.

“Ihram membebaskan strata, golongan, dan kasta dalam masyarakat. Islam memandang sama manusia. Haji menunjukkan kepada kita agar menjadi orang yang berpikir. Berpikir bahwa kita
semua sama, kecuali ketaatan kita kepada Yang Maha Suci, Allah swt. Berbeda, karena semakin kita mendekati kepada Allah, maka kita semakin orang tercerahkan. Menjadi Ulul Albab,” jelas Ramdansyah yang merupakan Staf Pengajar STISIPPB Sopeng.

Haji jelas Ramdansyah merupakan perjalanan sosial yang sarat makna. Padanya terdapat seperangkat aktivitas simbolik tentang perjalanan umat
manusia menuju tingkat ketakwaan sejati.

Haji adalah merupakan upaya penerapan kesetaraan baik dalam persepsi teologis maupun sosiologis.

“Coba lihat jamaah haji tawaf mengelilingi Ka’bah. Semua manusia bergerak seirama dan senada dalam posisi kemanusian yang sama. Tiada yang mulia maupun yang hina, karena yang ada hanyalah
dua eksistensi yakni; Tuhan dan manusia yang menyatu dalam sebuah momen ritual yang unik,” jelas Ramdansyah.

Kedua kata dia, dengan dikenakannya pakaian ihram, maka sejumlah larangan harus diindahkan oleh pelaku ibadah haji. Kita dilarang berhubungan seksual. Dilarang mencabut pepohonan, menyiksa
binatang, menumpahkan darah, bahkan dilarang membunuh atau menumpahkan darah.

“Dilarang juga berhias supaya setiap jama’ah haji menyadari bahwa manusia bukan materi semata-mata, bukan pula
nafsu birahi; dan bahwa hiasan yang dinilai Tuhan adalah hiasan ruhani. Dilarang pula menggunting rambut dan kuku supaya masing-masing menyadari jati dirinya dan menghadap kepada Tuhan sebagaimana apa adanya,” jelasnya.

Dalam ceramahnya Ramdansyah yang juga Pimpinan Rumah Demokrasi juga menjelaskan bahwa Ukhuwah Islamiyah menjadikan muslim sebagai warga dunia, kosmopolitan. Ketika kita merasa menjadi bagian dari kampung besar dunia
atau global village, maka kita perlu berpijak dan menghormati.

Ramdansyah juga menekankan pentingnya Ukhuwah Wathoniyah. Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, budaya dan agama maka kita berkewajiban mewujudkan Persatuan Indonesia sebagai ukhuwah wathoniyah.

“Sebagai warga kosmopolitan, maka kemajemukan suku bangsa, bahasa, budaya dan agama adalah take it for granted bagi muslim. Seorang muslim memiliki ikatan Ukhuwah Islamiyah, maka dirinya otomatis memiliki Ukhuwah Wathoniyah,” jelasnya.

Ukhuwah Islamiyah yang kita
inginkan jelas Ramdansyah, maka tidak meninggalkan keberadaan ukhuwah wathoniyah.

“Dengan kemajemukan yang ada, maka penerimaan keberadaan anggota agama lain adalah bagian dari pengakuan kita terhadap negara kesatuan republik Indonesia (NKRI),” jelas Ramdansyah.

“Moralitas yang kita kedepankan adalah saling menghargai dan menghormati antar
pemeluk agama sebagaimana terkandung dalam nilai-nilai Pancasila,” imbuhnya.

Sementara itu dalam ceramahnya, Ramdansyah juga mengingatkan untuk mewaspadai berita hoax yang dapat memecah belah umat.

“Kita diminta untuk memperhatikan dan menghindari hoax agar tidak terjadi
pertarungan politik yang memecah belah di Tahun Politik 2023/2024. Pilihan ada di tangan masing-masing kita untuk kita renungkan dan jadikan pilihan terbaik, tanpa harus menjelekan yang lain. Siapapun calon pemimpin pilihan rakyat memiliki kelebihan dan kekurangan. Menerima kekurangan dan kelebihan adalah bagian pengorbanan kita untuk berbangsa dan bernegara. Kita akan menjadi Ulul Albab selama kita merenung, meneliti dan mengkaji pilihan politik dan diendapkan,” jelas Ramdansyah.

Program MBG Tingkatkan Serapan Hasil Petani dan Peternak

August 20, 2026

Tata Kelola dan Transparansi MBG Diperkuat, Pemerintah Tunjukkan Langkah Serius

August 20, 2026

Program MBG Tingkatkan Serapan Hasil Petani dan Peternak

By Kata IndonesiaAugust 20, 20260

Program MBG Tingkatkan Serapan Hasil Petani dan Peternak Jakarta – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut…

Tata Kelola dan Transparansi MBG Diperkuat, Pemerintah Tunjukkan Langkah Serius

By Kata IndonesiaAugust 20, 20260

Tata Kelola dan Transparansi MBG Diperkuat, Pemerintah Tunjukkan Langkah Serius Oleh: Bara Winatha Program Makan…

Program MBG Perkuat Ekonomi Lokal, Kesejahteraan Masyarakat Ikut Meningkat

By Kata IndonesiaAugust 20, 20260

Program MBG Perkuat Ekonomi Lokal, Kesejahteraan Masyarakat Ikut Meningkat  Oleh: Alfian Dwi P. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perekonomian lokal. Ketika kebutuhan pangan untuk jutaan penerima manfaat dipenuhi secara rutin, program tersebut menciptakan permintaan yang relatif stabil terhadap berbagai komoditas pertanian, peternakan, perikanan, dan pangan lokal. Kondisi ini membuka peluang bagi petani, peternak, nelayan, koperasi, pelaku usaha mikro, hingga masyarakat desa untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok MBG. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengatakan MBG telah mendorong peningkatan penyerapan pangan langsung dari petani dan peternak. Menurutnya, kebutuhan bahan pangan yang besar dan berlangsung secara rutin membuat hasil produksi masyarakat memiliki pasar yang lebih jelas. Kondisi tersebut semakin kuat apabila petani dan peternak mengonsolidasikan produksinya melalui koperasi sehingga hasil produksi dalam skala kecil dapat dikumpulkan menjadi pasokan yang lebih besar dan mampu memenuhi kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ketut menjelaskan bahwa pola tersebut dapat membentuk ekosistem pangan yang menghubungkan produksi di tingkat hulu dengan kebutuhan konsumsi di tingkat hilir. Kehadiran MBG memberikan kepastian pasar bagi petani dan peternak karena terdapat kebutuhan bahan pangan yang dapat diproyeksikan secara berkala. Dengan adanya permintaan yang lebih terukur, pelaku usaha pangan dapat menyesuaikan volume produksi, menjaga kualitas komoditas, serta merencanakan kegiatan usaha secara lebih berkelanjutan. Ketersediaan pangan nasional yang relatif kuat menjadi modal penting bagi keberlanjutan MBG. Berdasarkan proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026, stok beras pada akhir tahun diperkirakan mencapai sekitar 16 juta ton, yang berasal dari stok awal sekitar 12,4 juta ton dan proyeksi produksi beras 34,7 juta ton setelah memperhitungkan kebutuhan konsumsi sekitar 31,1 juta ton. Selain beras, ketersediaan telur ayam, daging ayam, bawang merah, dan cabai juga disebut berada dalam kondisi cukup kuat bahkan surplus. Kekuatan pasokan tersebut menunjukkan bahwa MBG memiliki peluang untuk menjadi instrumen yang mempertemukan kepentingan gizi dengan kepentingan ekonomi masyarakat. Ketut mengatakan pemenuhan kebutuhan pangan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T dapat mempertimbangkan potensi produksi setempat. Wilayah yang memiliki hasil perikanan melimpah, misalnya, dapat memanfaatkan ikan lokal sebagai salah satu sumber protein dalam menu MBG sehingga kebutuhan program sekaligus menciptakan pasar bagi hasil produksi masyarakat setempat. …

Program MBG Perkuat Ekonomi Lokal, Kesejahteraan Masyarakat Ikut Meningkat

By Kata IndonesiaAugust 20, 20260

Program MBG Perkuat Ekonomi Lokal, Kesejahteraan Masyarakat Ikut Meningkat  Oleh: Alfian Dwi P. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perekonomian lokal. Ketika kebutuhan pangan untuk jutaan penerima manfaat dipenuhi secara rutin, program tersebut menciptakan permintaan yang relatif stabil terhadap berbagai komoditas pertanian, peternakan, perikanan, dan pangan lokal. Kondisi ini membuka peluang bagi petani, peternak, nelayan, koperasi, pelaku usaha mikro, hingga masyarakat desa untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok MBG. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengatakan MBG telah mendorong peningkatan penyerapan pangan langsung dari petani dan peternak. Menurutnya, kebutuhan bahan pangan yang besar dan berlangsung secara rutin membuat hasil produksi masyarakat memiliki pasar yang lebih jelas. Kondisi tersebut semakin kuat apabila petani dan peternak mengonsolidasikan produksinya melalui koperasi sehingga hasil produksi dalam skala kecil dapat dikumpulkan menjadi pasokan yang lebih besar dan mampu memenuhi kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ketut menjelaskan bahwa pola tersebut dapat membentuk ekosistem pangan yang menghubungkan produksi di tingkat hulu dengan kebutuhan konsumsi di tingkat hilir. Kehadiran MBG memberikan kepastian pasar bagi petani dan peternak karena terdapat kebutuhan bahan pangan yang dapat diproyeksikan secara berkala. Dengan adanya permintaan yang lebih terukur, pelaku usaha pangan dapat menyesuaikan volume produksi, menjaga kualitas komoditas, serta merencanakan kegiatan usaha secara lebih berkelanjutan. Ketersediaan pangan nasional yang relatif kuat menjadi modal penting bagi keberlanjutan MBG. Berdasarkan proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026, stok beras pada akhir tahun diperkirakan mencapai sekitar 16 juta ton, yang berasal dari stok awal sekitar 12,4 juta ton dan proyeksi produksi beras 34,7 juta ton setelah memperhitungkan kebutuhan konsumsi sekitar 31,1 juta ton. Selain beras, ketersediaan telur ayam, daging ayam, bawang merah, dan cabai juga disebut berada dalam kondisi cukup kuat bahkan surplus. Kekuatan pasokan tersebut menunjukkan bahwa MBG memiliki peluang untuk menjadi instrumen yang mempertemukan kepentingan gizi dengan kepentingan ekonomi masyarakat. Ketut mengatakan pemenuhan kebutuhan pangan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T dapat mempertimbangkan potensi produksi setempat. Wilayah yang memiliki hasil perikanan melimpah, misalnya, dapat memanfaatkan ikan lokal sebagai salah satu sumber protein dalam menu MBG sehingga kebutuhan program sekaligus menciptakan pasar bagi hasil produksi masyarakat setempat. …

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.