• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Keamanan Pangan MBG Diperkuat dengan Label Batas Aman Konsumsi

Keamanan Pangan MBG Diperkuat dengan Label Batas Aman Konsumsi

  • Kata Indonesia
  • - Thursday, 13 August 2026

Keamanan Pangan MBG Diperkuat dengan Label Batas Aman Konsumsi

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat keamanan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pengetatan standar pengolahan, distribusi, hingga pengendalian masa konsumsi makanan. Pencantuman informasi mengenai batas aman konsumsi menjadi bagian penting dalam memastikan makanan yang diterima peserta didik dan penerima manfaat tetap aman, bermutu, serta layak dikonsumsi. Penguatan tersebut sejalan dengan pembenahan tata kelola MBG yang kini menjadi perhatian Badan Gizi Nasional (BGN).

 

Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, mengatakan bahwa standar keamanan pangan harus menjadi perhatian utama dalam setiap tahapan penyelenggaraan MBG. Menurutnya, evaluasi tidak hanya dilakukan terhadap dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), tetapi juga terhadap bahan baku dan proses pengolahan makanan. “Semua bahannya harus benar, dengan standar keamanan yang juga harus benar karena kita belajar dari faktor keracunan dan lain-lain,” tegas Sudaryono.

 

Sudaryono menjelaskan bahwa penguatan standar diperlukan agar seluruh SPPG menjalankan prosedur yang sama dan mampu menjaga kualitas makanan hingga diterima penerima manfaat. BGN juga memastikan SPPG yang tidak memenuhi ketentuan akan diberikan kesempatan melakukan perbaikan dan dapat dihentikan apabila tidak mampu memenuhi standar yang ditetapkan. “Kita akan perbaiki dan tegur, kalau memang tidak bisa memperbaiki, kita tutup,” katanya.

 

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, menekankan pentingnya pengawasan terpadu untuk memastikan pangan dalam program MBG memenuhi aspek keamanan dan mutu. Kerja sama BGN dan BPOM telah diperkuat melalui perjanjian kerja sama yang mencakup pengawasan keamanan pangan MBG. “Program MBG merupakan program strategis nasional yang memerlukan sistem pengawasan pangan yang kuat dan terintegrasi,” ujar Taruna.

 

Penguatan informasi batas aman konsumsi juga diharapkan membantu petugas SPPG, sekolah, dan penerima manfaat memahami waktu konsumsi makanan secara lebih jelas. Informasi tersebut dapat menjadi bagian dari pengendalian rantai pangan sehingga makanan tidak dikonsumsi setelah melewati batas keamanan yang ditetapkan.

 

Penguatan tersebut juga perlu disertai pencatatan waktu produksi, pengiriman, dan penerimaan makanan secara tertib. Dengan pencatatan yang konsisten, petugas dapat lebih mudah memastikan makanan dikonsumsi dalam rentang waktu yang aman serta melakukan penelusuran apabila ditemukan persoalan kualitas. Langkah ini turut memperkuat akuntabilitas setiap SPPG dalam menjalankan standar keamanan pangan.

 

Melalui standardisasi bahan baku, pengawasan dapur, penguatan informasi konsumsi, dan evaluasi berkelanjutan, pemerintah optimistis keamanan pangan MBG semakin terjamin. Langkah tersebut sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap program dan memastikan makanan yang disalurkan benar-benar aman, bergizi, dan layak dikonsumsi.

MBG Ditopang Keamanan Pangan yang Makin Ketat dan Disiplin

August 13, 2026

Pemerintah Pastikan Keamanan Pangan di Setiap Ompreng MBG 

August 13, 2026

MBG Ditopang Keamanan Pangan yang Makin Ketat dan Disiplin

By Kata IndonesiaAugust 13, 20260

MBG Ditopang Keamanan Pangan yang Makin Ketat dan Disiplin   Oleh: Dhita Karuniawati  Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diperkuat melalui peningkatan pengawasan keamanan pangan agar manfaat program strategis tersebut tidak hanya diukur dari luasnya cakupan penerima, tetapi juga dari jaminan bahwa makanan yang dikonsumsi masyarakat, khususnya anak-anak, aman, sehat, dan memenuhi standar kesehatan. Penguatan pengawasan menjadi semakin penting seiring evaluasi terhadap sejumlah kasus keracunan makanan yang terjadi di beberapa daerah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengambil langkah dengan memperkuat pengawasan terhadap proses penyediaan makanan dalam pelaksanaan MBG. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa tim Kemenkes telah turun melakukan investigasi terhadap sejumlah kasus keracunan yang dilaporkan. Berdasarkan pemeriksaan laboratorium, ditemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada beberapa sampel makanan. Hasil investigasi tersebut kemudian disampaikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menjadi bahan evaluasi dan perbaikan pelaksanaan MBG, terutama pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menurut Budi, pengawasan keamanan pangan merupakan bagian penting dalam memastikan kualitas program MBG. Kemenkes juga terus berkoordinasi dengan BGN untuk memperkuat penerapan standar higiene dan sanitasi dalam proses penyediaan makanan. Salah satu langkah yang menjadi perhatian adalah memastikan seluruh SPPG memenuhi persyaratan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Budi juga mengatakan bahwa BGN merespons masukan Kemenkes secara positif. Menurut dia, Kepala BGN Sudaryono telah menunjukkan komitmen untuk memastikan pemenuhan SLHS dalam waktu singkat sebagai bagian dari upaya mencegah terulangnya kasus serupa. Selain investigasi, Kemenkes akan memberikan pendampingan serta rekomendasi teknis kepada BGN berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan. Langkah tersebut menunjukkan bahwa penguatan MBG tidak cukup hanya melalui peningkatan jumlah penerima manfaat dan kapasitas distribusi makanan. Program dengan cakupan besar membutuhkan sistem pengendalian mutu yang mampu memastikan keamanan makanan sejak bahan baku diterima hingga makanan dikonsumsi oleh penerima manfaat. Aspek tersebut juga mendapat perhatian dari Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Heri Pudyatmoko. Ia menilai keamanan pangan harus ditempatkan sebagai standar yang tidak dapat dinegosiasikan dalam pelaksanaan MBG. Menurut Heri, keberhasilan program tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah penerima manfaat, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah memastikan kualitas serta keamanan makanan yang diberikan kepada masyarakat. Heri juga menilai berbagai kasus dugaan keracunan di sejumlah daerah perlu dijadikan momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap rantai penyediaan makanan. Pengawasan tidak boleh hanya dilakukan pada tahap akhir, tetapi harus dimulai sejak pemilihan bahan pangan, penerimaan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, pengemasan, hingga distribusi kepada siswa. Setiap tahapan harus memiliki standar yang jelas serta mekanisme pengawasan yang dapat dipertanggungjawabkan.…

Pemerintah Pastikan Keamanan Pangan di Setiap Ompreng MBG 

By Kata IndonesiaAugust 13, 20260

Pemerintah Pastikan Keamanan Pangan di Setiap Ompreng MBG Oleh: Zhafran Goldwin Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diperkuat melalui pembenahan tata kelola dan peningkatan standar keamanan pangan. Salah satu langkah pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) adalah mewajibkan setiap ompreng atau wadah makanan MBG mencantumkan batas waktu konsumsi. Kebijakan tersebut mulai diberlakukan pada pekan depan sebagai upaya memperkuat keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG di sekolah. BGN akan mewajibkan setiap ompreng atau wadah makanan Program MBG mencantumkan batas waktu konsumsi. Kebijakan tersebut menjadi instrumen tambahan untuk memastikan makanan yang diterima peserta didik tetap berada dalam kondisi aman hingga dikonsumsi. Kepala BGN, Sudaryono mengatakan bahwa informasi batas waktu konsumsi akan menjadi penanda bagi guru dan siswa untuk memastikan makanan dikonsumsi dalam kondisi aman. Pencantuman batas waktu konsumsi menjadi langkah sederhana yang memiliki fungsi penting dalam rantai penyediaan makanan. Informasi tersebut memberikan acuan mengenai kapan makanan masih berada dalam rentang waktu aman untuk dikonsumsi. Dengan demikian, penerima manfaat dan pihak sekolah dapat lebih mudah memastikan kelayakan makanan yang disajikan. Kebijakan ini menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga mencakup standar keamanan pangan yang harus dijaga sejak pengolahan hingga makanan diterima dan dikonsumsi. Setiap tahapan memiliki peran penting untuk memastikan makanan memenuhi prinsip kebersihan, kelayakan, dan keamanan. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi unsur penting dalam memastikan makanan diproduksi dan didistribusikan sesuai ketentuan. Makanan MBG yang telah matang membutuhkan penanganan dan konsumsi dalam waktu yang tepat. Karena program mengutamakan makanan segar, pengendalian waktu menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas makanan. Aspek waktu juga menjadi perhatian dalam proses pengolahan hingga distribusi. Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Then Suyanti, sebelumnya meminta proses memasak, pemorsian hingga distribusi makanan pada dapur gizi berlangsung maksimal dalam empat jam. Hl ini guna mengurangi pertumbuhan bakteri.…

Keamanan Pangan MBG Diperkuat dengan Label Batas Aman Konsumsi

By Kata IndonesiaAugust 13, 20260

Keamanan Pangan MBG Diperkuat dengan Label Batas Aman Konsumsi Jakarta – Pemerintah terus memperkuat keamanan…

Keamanan Pangan MBG Diperkuat lewat Monitoring Berlapis di Sekolah

By Kata IndonesiaAugust 13, 20260

Keamanan Pangan MBG Diperkuat lewat Monitoring Berlapis di Sekolah JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat aspek…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.