Oleh: Afton Lubbi (Kyai Muda NU)

Beberapa bulan belakangan ini banyak sekali manuver politik tak terduga yang terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah berkhianatnya Jokowi kepada Megawati dan Partai PDIP dengan memutuskan hubungan serta berjuang membangun kerajaannya sendiri. Banyak masyarakat yang menyikapi dan memberikan tanggapan bahwa Jokowi bagai kacang lupa kulitnya, Ia lupa siapa yang sangat berjasa membesarkan namanya hingga seperti sekarang ini.
Pengkhianatan ini terus berlanjut hingga banyak luka berbekas di hati Megawati. Megawati seperti dicampakkan anaknya sendiri. Namun, beliau tetap tegar dan terus berjuang demi Indonesia yang lebih makmur. Rakyat Indonesia lah yang lebih ganas terhadap masalah ini. Mereka bersikeras agar Jokowi meminta maaf kepada Megawati atas segala kesalahan yang Ia perbuat. Namun selama ini Jokowi Nampak segan dan gentar terhadap Megawati dan tak ingin meminta maaf dan kembali menjalin silaturahmi.
Jokowi dengan segala kekuasaannya mampu memutarbalikkan segala sesuatu di negeri ini. Padahal saat dia menjalani hubungan baik dengan Megawati dan masih berkoalisi dengan PDIP, tak pernah sekalipun kesalahan fatal atau kegagalan kerja terjadi. Saat hilang kendali dari Megawati dan PDIP, rakyat mulai membenci dirinya karena telah dianggap mengobrak-abrik demokrasi di Indonesia.
Beberapa minggu lalu, Jokowi berniat bertemu dengan Megawati namun dengan sebuah jembatan atau peratara, yakni Sultan Hamengkubuwono. Tak jelas apa tujuan Jokowi ingin bertemu dengan Megawati setelah pesta demokrasi ini berjalan. Kita semua tentu setuju bahwa Jokowi harus bertemu dengan Megawati secepatnya. Namun tidak dengan perantara, rakyat ingin mereka berdua bertemu secara langsung.
Pertemuan yang dijembatani, apalagi Jokowi yang menginisiasi perantara tersebut dianggap tidak gentle oleh masyarakat. Jokowi dianggap tidak berani menghadapi kenyataan bahwa Ia memang telah berkhianat kepad Megawati dan PDIP. Salah satu karakter pemimpin yang akan disegani dan dihormati oleh bangsa asing dan bangsa sendiri adalah keberanian. Namun, Jokowi ciut nyalinya jika dihadapkan dengan Megawati.
Permintaan maaf harus dilakukan. Kita tak ingin punya pemimpin yang tidak lapang dada dan murah maaf. Pemimpin yang tidak mau salah adalah pemimpin yang salah, maka dari itu seluruh rakyat Indonesia bersikap tegas menekan Jokowi untuk bersikap gentle dengan bertemu dan meminta maaf kepada Megawati secara langsung.