Jelang Dua Tahun Prabowo-Gibran, Bakom RI Soroti Pertumbuhan Ekonomi yang Semakin Merata
JAKARTA – Pemerintah dinilai mampu menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di atas 5% di tengah ketidakpastian ekonomi global. Memasuki dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut semakin dirasakan masyarakat secara luas.
Tenaga Ahli Bakom RI, Fithra Faisal, mengatakan struktur pertumbuhan ekonomi mulai menunjukkan perubahan. Jika sebelumnya pertumbuhan lebih banyak ditopang konsumsi, kini investasi mulai memberikan kontribusi yang semakin kuat.
“Kalau kita bisa zoom in ke variabel pertumbuhan ekonomi tadi, ada yang biasa disebut sebagai investasi. Itu pertumbuhannya di kuartal ke-IV tahun 2025 tumbuhnya 6,12%, di kuartal satu tahun 2026 tumbuhnya 5,96%, dan tahun ini kuartal duanya itu 6,87%,” ujar Fithra dalam dialog di stasiun televisi nasional, (24/9).
Fithra menyebut peningkatan investasi juga terlihat dari realisasi penanaman modal asing. Investasi asing pada kuartal II 2026 disebut tumbuh 27,4% dan secara semester I tumbuh 17%.
“Sehingga pada akhirnya kita bisa melihat roadmap pembangunan Indonesia ke depan itu tidak hanya berbasis komoditas, tetapi juga berbasis nilai tambah,” katanya.
Fithra menambahkan realisasi investasi semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun dan menyerap 1,45 juta tenaga kerja. Menurutnya, tantangan selanjutnya memastikan investasi memiliki daya serap yang kuat terhadap tenaga kerja dan mendorong ekonomi inklusif.
“Roadmap pembangunan bangsa ini bukan hanya mengundang investasi, tetapi apa yang di balik angka-angka itu, apakah dia bisa mendatangkan ekonomi inklusif yang menyejahterakan masyarakat,” jelas Fithra.
Sementara itu, Pakar Ekonomi UI, Prof. Telisa Falianty mengatakan stabilitas ekonomi tidak hanya dapat dilihat dari pertumbuhan, tetapi juga inflasi dan kondisi ketenagakerjaan.
“Secara makro tiga variabel indikator utama yang konvensional itu kita baik,” ungkapnya.
Ia menjelaskan tingkat pengangguran terbuka berada di kisaran 4,65%. Menurutnya, tren kemiskinan dan ketimpangan juga menunjukkan perbaikan, meski masih terdapat pekerjaan rumah untuk memastikan ukuran ekonomi semakin sesuai dengan kondisi masyarakat.
Telisa menekankan pentingnya memperkuat dampak pertumbuhan ekonomi di tingkat masyarakat. Menurut dia, kebijakan pemerintah perlu terus dievaluasi agar manfaat investasi dan penciptaan lapangan kerja dapat dirasakan kelompok masyarakat yang lebih luas.
“Bagaimana kebijakan-kebijakan supaya ini dirasakan oleh masyarakat,” singkatnya.
Pemerintah selanjutnya perlu memastikan berbagai kebijakan dan program ekonomi dapat semakin memperluas manfaat pertumbuhan hingga ke tingkat Masyarakat melalui penguatan investasi, penciptaan lapangan kerja, serta kebijakan yang menjaga keterjangkauan kebutuhan masyarakat.