• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Inovasi dan Percepatan Pembangunan di DOB Papua Mampu Tekan Inflasi

Inovasi dan Percepatan Pembangunan di DOB Papua Mampu Tekan Inflasi

  • Kata Indonesia
  • - Thursday, 23 May 2024

Inovasi dan Percepatan Pembangunan di DOB Papua Mampu Tekan Inflasi

Oleh: Serlina Wayar

Inovasi dan percepatan pembangunan di Daerah Otonomi Baru (DOB) Papua mampu menekan angka inflasi di Bumi Cenderawasih, sehingga kesejahteraan masyarakat wilayah tersebut juga mengalami peningkatan kualitas.

Peningkatan akan kualitas hidup masyarakat di Papua harus terwujud, namun terdapat beberapa tantangan menghadang, salah satunya adalah tingkat inflasi dengan angka yang cukup tinggi di sana. Maka dari itu, harus ada inovasi serta percepatan pembangunan pula pada hasil pemekaran wilayah atau Daerah Otonomi Baru (DOB) Papua.

Karena dengan terjadinya inovasi dan gencarkan perceparan pembangunan dalam Daerah Otonomi Baru (DOB) Papua tersebut, menjadikan kesetaraan terwujud, bukan hanya secara garis besar pada wilayah Indonesia, namun setidaknya pemerataan tersebut terjadi antar wilayah Bumi Cenderawasih sendiri, baik itu provinsi yang sudah lama berdiri atau provinsi baru hasil dari pemekaran wilayah. Jika kesenjangan tertekan, secara otomatis juga mampu menekan angka inflasi.

Upaya tersebut terus pemerintah lakukan, salah satunya dengan bagaimana kinerja sangat baik dari Penjabat (Pj) Gubernur Papua Tengah, Dr. Ribka Haluk yang berhasil menekan inflasi dengan capaian kinerja luar biasanya.
Pasalnya, terus terjadi keberlanjutan dan potensi perbaikan, yang mana seluruhnya mampu memberikan dampak secara positif sehingga masyarakat pun memberikan apresiasi mereka secara tinggi. Kerja keras pemerintah terus terjadi dalam upaya untuk membangun fondasi pemerintahan yang baik di Daerah Otonomi Baru (DOB) Papua.
Salah satu bentuk inovsi tersebut, yakni dengan pembentukan satuan tugas (satgas) yang memang memiliki tugas pokok dan fungsi (tupoksi) untuk menangani program prioritas nasional seperti penanganan angka inflasi.
Dengan kinerja luar biasa tersebut, kemudian Pemerintah Pusat melalui Sekretaris Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Husin Tambunan menyampaikan bahwa langkah Pj Gubernur Papua Tengah Ribka Haluk dalam mengendalikan inflasi sangat baik, terlebih dengan bagaimana program inovasinya berupa langkah cepat.
Program inovasi langkah cepat tersebut terlihat dar adanya program sidak mendadak secara langsung di pasar, kemudian ada pula gerakan tanam cabai dan gerakan pangan murah dengan cara memberikan subsidi serta memperhatikan kondisi jalan yang rusak.
Bukan hanya itu, namun penanganan secara cepat pada akses jalan Trans Papua jalur Nabire hingga Paniai yang sempat terjadi longsor baru-baru ini juga perlu mendapatkan apresiasi sangat tinggi. Sebab, hal tersebut merupakan salah satu upaya pencegahan terjadinya inflasi di daerah tersebut. Pemerintah memang terus melangsungkan banyak inovasi untuk melakukan percepatan pembangunan di Daerah Otonomi Baru (DOB) Papua sebagai hasil dari pemekaran wilayah.
Sementara itu, Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BKSDN) Kemendagri juga memiliki komitmen yang sangat kuat untuk terus melakukan percepatan pembangunan pada keempat DOB Papua meliputi Provinsi Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan dan Papua Barat Daya.
Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris BKSDN Abas Supriyadi bahwa pihaknya memang memiliki tanggung jawab untuk melakukan pendampingan kepada pemerintah daerah (Pemda) setempat demi memformulasikan rumusan strategis akan kebijakan agar dapat mencapau berbagai tujuan pembangunan secara lebih cepat.
Lebih lanjut, percepatan pembangunan di DOB Papua sangat mungkin terjadi apabila pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) setempat mengkonstruksikan strategi kebijakan dengan berdasarkan pada inovasi.
Sehingga, Pemerintah Pusat terus berupaya memberikan pendampingan pada berbagai daerah Otonomi Baru tersebut untuk mendesain dan mengkonstruksikan strategi kebijakan Pemda melalui berbagai program kegiatan yang inovatif.
Untuk percepatan pembangunannya sendiri, akan bisa terpantau dari terjadinya peningkatan pada hasil pengukuran Indeks Inovasi Daerah (IID) pada DOB Papua terkait. Terwujudnya inovasi dalam setiap program atau kebijakan memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan dan daya saing, serta semakin mempercepat pembangunan ekonomi daerah.
Di samping itu, terdapat juga beberapa isu strategis lain yang bisa menjadi acuan dalam penyusunan strategi kebijakan pada Daerah Otonomi Baru Papua, yakni upaya untuk semakin mengoptimalisasi kualitas otonomi daerah, kemudian pengendalian inflasi daerah dan penekanan angka kemiskinan ekstrem, selanjutnya sinergitas kebijakan dan program nasional, lalu adanya pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM), dan terwujudnya transformasi digital pemerintahan.
Pemerintah melalui Kepala BKSDN Kemendagri, Yusharto Huntoyungo terus mengingatkan kepada seluruh jajarannya untuk semakin memperkuat strategi kebijakan dan inovasi pada DOB Papua, yang mana pada tahun 2024 terjadi metode dan pendekatan yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Keterwujudan inovasi akan program kebijakan tersebut, juga harus turut serta dengan adanya kolaborasi atau sinergitas yang kuat dengan berbagai pihak seperti kementerian atau lembaga (K/L) terkait.
Begitu pentingnya melakukan inovasi atau terobosan pada berbagai macam program serta kebijakan untuk mempercepat pembangunan Papua, utamanya pada hasil pemekaran wilayah, yakni Daerah Otonomi Baru sehingga membantu daerah tersebut semakin menekan angka inflasinya.

)* Mahasiswa Hukum Universitas Cenderawasih (Uncen)

RUU Perampasan Aset Memberi Efek Jera Kejahatan Korupsi

September 23, 2026

Korupsi Rusak Kepercayaan Publik, RUU Perampasan Aset Dinilai Mendesak

September 23, 2026

RUU Perampasan Aset Memberi Efek Jera Kejahatan Korupsi

By Kata IndonesiaSeptember 23, 20260

RUU Perampasan Aset Memberi Efek Jera Kejahatan Korupsi Oleh : Jonathan Janoel Pembahasan Rancangan Undang-Undang…

Korupsi Rusak Kepercayaan Publik, RUU Perampasan Aset Dinilai Mendesak

By Kata IndonesiaSeptember 23, 20260

Korupsi Rusak Kepercayaan Publik, RUU Perampasan Aset Dinilai Mendesak JAKARTA – Upaya memperkuat pemberantasan korupsi…

RUU Perampasan Aset Didorong Jadi Instrumen Tegas Melawan Korupsi

By Kata IndonesiaSeptember 23, 20260

RUU Perampasan Aset Didorong Jadi Instrumen Tegas Melawan Korupsi JAKARTA — Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU)…

Penilaian MBG Menjadi Alat Koreksi agar Menu dan Distribusi Membaik

By Kata IndonesiaSeptember 23, 20260

Penilaian MBG Menjadi Alat Koreksi agar Menu dan Distribusi Membaik  Oleh : Abdul Razak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki tahap penguatan tata kelola melalui mekanisme evaluasi yang melibatkan sekolah sebagai penerima layanan secara langsung. Badan Gizi Nasional (BGN) menyiapkan aplikasi yang memungkinkan kepala sekolah memberikan penilaian terhadap layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mulai dari kualitas menu hingga ketepatan distribusi. Mekanisme tersebut dapat menjadi instrumen koreksi untuk mengidentifikasi persoalan di lapangan sekaligus memperbaiki kualitas pelayanan secara berkelanjutan. Kepala BGN Sudaryono menjelaskan, aplikasi tersebut dirancang agar kepala sekolah dapat memberikan rating dan catatan terhadap dapur yang melayani sekolah masing-masing. Masukan dapat mencakup kondisi menu, keterlambatan pengiriman, serta persoalan lain yang ditemukan selama pelaksanaan MBG. Dengan demikian, evaluasi tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga bersumber dari pengalaman penerima layanan di tingkat sekolah. Menurut Sudaryono, sistem tersebut masih dalam tahap pengembangan dan ditargetkan dapat diakses kepala sekolah dalam waktu sekitar satu hingga tiga minggu. Bagi BGN, umpan balik dari sekolah diperlukan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat kepuasan terhadap layanan SPPG sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap penyedia makanan. Dalam perspektif tata kelola, mekanisme penilaian semacam ini memiliki fungsi penting karena memperpendek jarak antara pelaksana program dan pengambil keputusan. Keluhan mengenai menu yang kurang bervariasi, kualitas makanan, keterlambatan distribusi, maupun persoalan pelayanan dapat dicatat secara lebih terstruktur. Data tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk menemukan pola persoalan, menentukan tindak lanjut, dan mengevaluasi kinerja SPPG berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Penguatan evaluasi juga berkaitan erat dengan aspek keamanan pangan. BGN telah menegaskan bahwa sekolah tidak hanya menjadi tempat penerima makanan, tetapi turut berperan sebagai lapisan pengawasan sebelum makanan dikonsumsi peserta didik. Guru didorong makan bersama siswa sekaligus melakukan pemeriksaan fisik terhadap makanan yang diterima, termasuk kondisi wadah, keberadaan label, dan kejelasan batas waktu konsumsi. …

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.