• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Indonesia Kawal Implementasi Ekonomi Hijau Dalam Sidang AIPA Ke- 44

Indonesia Kawal Implementasi Ekonomi Hijau Dalam Sidang AIPA Ke- 44

  • Kata Indonesia
  • - Sunday, 6 August 2023

Indonesia Kawal Implementasi Ekonomi Hijau Dalam Sidang AIPA Ke- 44

Jakarta – Ketua Desk Kerja Sama Regional Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, Putu Supadma Rudana mengatakan kesejahteraan yang diperjuangan untuk masyarakat ASEAN wajib mengimplementasikan konsep ekonomi hijau. Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan sidang umum ASEAN Inter-Parlementary Assembly (AIPA) Ke-44 akan mengawal implementasi dari ekonomi hijau tersebut.

“Saat ini tinggal bagaimana kawasan ASEAN siap menuju transisi hijau, dan masyarakat ASEAN mendapat dukungan secara inklusif dalam peningkatan ekonomi,” tutur Ketua Desk Kerja Sama Regional Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, Putu Supadma Rudana di Jakarta.

Hal terpenting adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan harus berkelanjutan, katanya.

“Jangan sampai ada terjadi mungkin satu negara yang punya pertumbuhan yang tinggi; ASEAN lainnya, justru jomplang atau rendah pertumbuhannya,” jelas dia.

Ia menegaskan butuh pengawalan atau penjagaan terhadap ekonomi hijau, baik di dalam satu negara maupun dalam satu kawasan ASEAN, itu tentu harus dikawal secara bersama-sama melibatkan seluruh anggota ASEAN.

“Semua ini supaya tidak terjadi ketimpangan sampai berlarut-larut, dan kita di Parlemen/AIPA serta ASEAN wajib terus mengawal implementasi ekonomi hijau dan penanggulangan ketimpangannya,” ungkap Putu.

Sementara itu, Manager Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada Lukas Andri Surya Singarimbun mengatakan saat ini, kerja sama ASEAN sangat dibutuhkan untuk menghadapi dampak negatif perubahan iklim dalam berbagai sektor utama masyarakat ASEAN. Sebagai contoh, ASEAN berpotensi kehilangan setidaknya 35% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) kawasan pada tahun 2050 akibat perubahan iklim.

Menurutnya, tantangan perubahan iklim dikhawatirkan semakin menyulitkan masyarakat ASEAN dalam memperoleh makanan yang bernutrisi. Pada tahun 2020 saja, 46% dari masyarakat ASEAN tidak mendapatkan akses terhadap makanan yang sehat dan bergizi.

Selain itu, permasalahan seperti gelombang migrasi yang masif karena kurangnya bahan makanan, isu kelaparan, kemiskinan, hingga keamanan juga akan mempersulit integrasi dan percepatan pertumbuhan ekonomi kawasan.

Untuk diketahui, Ekonomi hijau adalah sistem ekonomi yang tidak hanya mementingkan pertumbuhan ekonomi semata, tapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan dan inklusivitas pembangunan. Dalam praktiknya, sistem ekonomi ini dapat diimplementasikan dengan melakukan efisiensi penggunaan sumber daya, pengurangan emisi karbon, dan mengurangi polutan serta limbah yang dapat merusak lingkungan. Melihat kondisi ASEAN saat ini, strategi ekonomi hijau perlu dilaksanakan pemerintah dan masyarakat negara-negara ASEAN.

Dalam perkembangannya, ASEAN telah membuat kerangka kerja sama dalam pengembangan ekonomi hijau di kawasan, salah satunya melalui adopsi Framework for Circular Economy for the ASEAN Economic Community (AEC) pada AEC Council Meeting ke-20. Kerangka kerja ini berperan sebagai pedoman jangka panjang ASEAN dalam meningkatkan pembangunan yang berkelanjutan melalui praktik ekonomi sirkular. ASEAN pun telah mengeluarkan berbagai laporan kerja sama untuk melihat dan mengukur potensi dampak perubahan iklim di kawasan.

“Melalui implementasi praktik ekonomi hijau di kawasan, negara-negara di ASEAN dapat membuka banyak lapangan kerja baru hingga mencapai 30 juta lapangan kerja yang berhubungan dengan pengembangan usaha dan bisnis ekonomi hijau pada tahun 2030,” ujar Lukas Andri.

#J

Kawasan Peternakan Terintegrasi Menjadi Fondasi Baru Kemandirian Pangan Nasional

September 29, 2026

Ketahanan Pangan Diperkuat lewat Pembangunan Peternakan Hulu ke Hilir

September 29, 2026

Kawasan Peternakan Terintegrasi Menjadi Fondasi Baru Kemandirian Pangan Nasional

By Kata IndonesiaSeptember 29, 20260

Kawasan Peternakan Terintegrasi Menjadi Fondasi Baru Kemandirian Pangan Nasional Oleh: Ricky Rinaldi Kemandirian pangan merupakan…

Ketahanan Pangan Diperkuat lewat Pembangunan Peternakan Hulu ke Hilir

By Kata IndonesiaSeptember 29, 20260

Ketahanan Pangan Diperkuat lewat Pembangunan Peternakan Hulu ke Hilir Jakarta — Pemerintah terus mendorong penguatan…

Pemerintah Bangun Lima Kawasan Peternakan untuk Perkuat Ketahanan Pangan

By Kata IndonesiaSeptember 29, 20260

Pemerintah Bangun Lima Kawasan Peternakan untuk Perkuat Ketahanan Pangan Jakarta – Pemerintah terus memperkuat upaya…

Aplikasi Rating MBG Membuka Ruang Koreksi Langsung dari Lingkungan Sekolah

By Kata IndonesiaSeptember 29, 20260

Aplikasi Rating MBG Membuka Ruang Koreksi Langsung dari Lingkungan Sekolah Oleh : Jonathan Janoe Program…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.