Suasana khidmat menyelimuti Gedung Serba Guna Ikatan Keluarga Minang Saiyo (IKMS) Daerah Bali pada Minggu, 21 April 2026.
Di bawah langit Bali yang teduh, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, secara resmi melantik dan mengukuhkan jajaran Ketua Umum serta Wakil Ketua Umum terpilih IKMS Daerah Bali untuk masa bakti 2026-2031.
Acara ini menjadi simbol kuatnya silaturahmi lintas provinsi, yang turut dihadiri oleh Gubernur Bali yang diwakili oleh Kepala Badan Kesbangpol, Gede Suralaga. Kehadiran tokoh-tokoh penting ini mempertegas bahwa keberadaan masyarakat Minang di Bali adalah bagian integral dari harmoni kemajemukan di Pulau Dewata.
Dalam amanatnya, Gubernur yang akrab disapa Buya Mahyeldi ini menekankan pondasi sosial masyarakat Minangkabau yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan.
Beliau mengutip falsafah:
”Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.”
Filosofi ini, menurut Buya Mahyeldi, bukan sekadar untaian kata, melainkan manifestasi nyata dalam kehidupan perantau Minang. Terbukti, dari semangat kebersamaan itulah fasilitas publik seperti gedung serba guna hingga masjid dapat berdiri tegak di tanah rantau sebagai hasil swadaya dan rasa memiliki yang tinggi.
Menyatu Tanpa Sekat: Mengapa Tak Ada “Kampung Minang”?
Menjawab fenomena unik mengenai ketiadaan eksklusivitas pemukiman atau “Kampung Minang” di perantauan, Buya Mahyeldi memberikan penjelasan yang mendalam.
”Orang Minang tidak membangun sekat. Mereka menyatu dengan masyarakat setempat—lintas suku, agama, dan budaya,” jelas beliau. Di Bali, semangat ini tercermin dari komposisi pengurus dan anggota IKMS yang berasal dari berbagai latar belakang namun tetap berhimpun dalam satu semangat persatuan yang kokoh.
Meneladani Jejak Pejuang dan Penjaga Negeri
Buya Mahyeldi juga menarik benang merah sejarah, menghubungkan semangat perantau masa kini dengan kontribusi besar tokoh-tokoh Minangkabau di masa lalu. Beliau menyebut nama-nama besar seperti Bung Hatta, Sutan Syahrir, hingga Tan Malaka sebagai simbol perjuangan pemikiran.
Tak lupa, beliau mengingatkan peran krusial Sumatera Barat saat menjaga eksistensi negara melalui Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).
”Minangkabau tidak hanya melahirkan perantau, tetapi juga pejuang pemikiran dan penjaga negeri,” ungkapnya dengan penuh bangga.
Menutup arahannya, Gubernur menekankan bahwa kekuatan sejati masyarakat Minang bermula dari unit terkecil, yaitu keluarga. Beliau menitipkan dua pesan utama bagi pengurus IKMS yang baru:
Prioritaskan Pendidikan: “Biarlah hidup sederhana, tetapi anak harus berilmu.” Semangat ini adalah warisan orang tua Minang yang rela berkorban demi masa depan generasi yang lebih baik.
Menghidupkan kembali peran Bundo Kanduang sebagai penjaga moral dan identitas, serta fungsi Surau sebagai pusat pendidikan karakter, agama, dan adat.
Setelah prosesi pelantikan usai, acara dilanjutkan dengan momen Halalbihalal yang menghadirkan Ustadz Derry Sulaiman. Sebagai dai yang juga berasal dari ranah Minang, pesan-pesan religius yang disampaikannya menambah kesejukan suasana, mempererat tali persaudaraan antar-perantau di Bali.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama, mengabadikan senyum optimisme pengurus IKMS Daerah Bali periode 2026-2031 yang siap berkontribusi bagi masyarakat Minang dan masyarakat Bali secara luas.
MBG Serap Tenaga Kerja, Program Gizi Sekaligus Gerakkan Ekonomi JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis…
Meritokrasi Pendidikan melalui Sekolah Garuda Oleh: Dwi Saputri Komitmen pemerintah dalam membangun sumber daya manusia…
Sekolah Garuda dan Strategi Menyiapkan SDM Unggul Indonesia Oleh : Andika Pratama Pembangunan sumber daya…
Relaunching AMANAH dan AMANAH Tech Education: Fondasi Generasi Muda Aceh yang Inovatif dan Berdaya Saing…
AMANAH Masuki Fase Baru, Gandeng Kampus dan Pemda Bangun Ekosistem Pemuda Aceh - Yayasan Aneuk…
Relaunching AMANAH Dorong Penguatan Karakter dan Kepemimpinan Pemuda Aceh Aceh Besar – Menjelang relaunching yang…