• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Internasional»G20 Momentum Wujudkan Transisi Energi Nasional

G20 Momentum Wujudkan Transisi Energi Nasional

  • Kata Indonesia
  • - Tuesday, 24 May 2022

G20 Momentum Wujudkan Transisi Energi Nasional

Oleh : Yogi Purbananda

Peralihan energi konvensional menjadi energi hijau menjadi topik penting dalam gelaran Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Dengan terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah forum tersebut, maka transisi energi tersebut diharapkan dapat segera terwujud.

Indonesia menjadi Presidensi KT G20 tahun 2022. Pada tahun ini temanya adalah: Recover together, recover stronger. Banyak negara anggota G20 akan memperbaiki kondisinya, terutama ekonomi, di tengah pandemi yang belum usai. Selain itu salah satu misi Indonesia dalam KTT G20 adalah mempromosikan transisi energi nasional menjadi energi hijau.

Mengapa harus energi hijau? Pertama, energi konvensional tidak berkelanjutan. Dalam artian, energi konvensional saat ini adalah hasil olahan dari fosil yang tentu persediaannya terbatas. Jika tidak ada penemuan baru maka stok fosil akan habis dalam waktu 9 tahun saja.

Sementara cadangan batu bara akan habis selama 65 tahun ke depan, sedangkan cadangan gas bumi diperkirakan akan habis hanya dalam 22 tahun.
Sebelum cadangan energi konvensional benar-benar habis maka Indonesia memang harus beralih ke energi hijau, sehingga masyarakat tidak akan kaget karena ada masa peralihan dan bisa beradaptasi. Jangan sampai ketika fosil habis baru mencari sumber energi lain. Selain itu sumber energi hijau juga sudah ada, yakni pembangkit listrik tenaga angin dan tenaga surya.
Dalam KTT G20 Indonesia mempromosikan transisi dari energi konvensional ke energi hijau karena memang bermanfaat. Jika semua negara kompak beralih ke energi hijau maka manfaatnya yang pertama adalah lebih cinta bumi. Penyebabnya karena energi konvensional menghasilkan asap buangan yang beremisi tinggi dan menyebabkan polusi serta bisa mengurangi kadar ozon.
Berbeda dengan energi hijau maka lebih ramah lingkungan karena rendah emisi dan rendah karbon. Di Britania Raya yang terlebih dahulu menggunakan energi hijau, maka terbukti tingkat emisinya turun 8,4%.
Indonesia mengajak negara-negara lain untuk turut migrasi ke energi hijau dari energi konvensional. Jika emisi lebih rendah maka akan berpengaruh baik juga ke warganya karena tidak sesak nafas di jalanan dan juga lebih sehat. Ketika emisi lebih rendah maka udara lebih segar dan menarik para wisatawan asing karena mereka tidak takut akan polusi, sehingga meningkatkan devisa negara.
Sementara itu, Jepang juga mendukung langkah Indonesia yang akan transisi ke energi hijau. Bahkan menjanjikan bantuan teknologi jika ada perpindahan ke energi baru terbarukan. Tawaran ini amat menarik karena Indonesia bisa lekas melakukan transisi energi dan menjadi percontohan bagi negara-negara anggota G20 lainnya.
Indonesia sudah membangun Pembangkit Listrik Tenaga angin (PLTA) tahun 2018 di Sidrap, Sulawesi Selatan. Bahkan PLTA ini diklaim sebagai yang terbesar di
Asia Tenggara. Dengan adanya PLTA ini maka negara-negara anggota G20 akan melihat contohnya lalu menirunya.
Negara-negara G20 lain juga memiliki minat yang besar pada transisi energi karena mereka sadar bahwa mau tak mau cadangan fosil dunia akan habis. Sebelum bumi gelap gulita karena bahan bakar habis, maka wajib mencari energi alternatif yakni energi hijau. Selain lebih berkelanjutan maka juga ramah lingkungan.
Momentum KTT G20 menjadi masa yang amat penting karena Indonesia menjelaskan pentingnya transisi dari energi konvensional ke energi hijau. Kita tidak bisa bergantung pada persediaan gas dan minyak dunia. Namun wajib mempersiapkan energi alternatif yang terbarukan dan lebih cinta bumi. Negara-negara anggota G20 akan menyetujuinya dan juga melakukan transisi energi.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

CKG Diperluas Perkuat Upaya Pencegahan TBC

June 11, 2026

Pemerintah Perkuat Upaya Penanggulangan TBC melalui Perluasan CKG

June 11, 2026

CKG Diperluas Perkuat Upaya Pencegahan TBC

By Kata IndonesiaJune 11, 20260

CKG Diperluas Perkuat Upaya Pencegahan TBC Jakarta – Pemerintah terus mengakselerasi transformasi layanan kesehatan nasional…

Pemerintah Perkuat Upaya Penanggulangan TBC melalui Perluasan CKG

By Kata IndonesiaJune 11, 20260

Pemerintah Perkuat Upaya Penanggulangan TBC melalui Perluasan CKG Jakarta – Pemerintah terus mempercepat transformasi kesehatan…

Cadangan Devisa yang Kuat Menjadi Benteng Ketahanan Ekonomi Nasional

By Kata IndonesiaJune 11, 20260

Cadangan Devisa yang Kuat Menjadi Benteng Ketahanan Ekonomi Nasional Oleh: Fauzan Fuadi Posisi cadangan devisa…

Kekuatan Cadangan Devisa Tegaskan Resiliensi Ekonomi Indonesia

By Kata IndonesiaJune 11, 20260

Kekuatan Cadangan Devisa Tegaskan Resiliensi Ekonomi Indonesia Oleh: Feya Annisa Ketahanan ekonomi Indonesia kembali menunjukkan…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.