• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Demo Mahasiswa dan Pentingnya Membaca Kondisi Bangsa Dengan Nalar dan Optimisme

Demo Mahasiswa dan Pentingnya Membaca Kondisi Bangsa Dengan Nalar dan Optimisme

  • Kata Indonesia
  • - Friday, 26 June 2026

Demo Mahasiswa dan Pentingnya Membaca Kondisi Bangsa Dengan Nalar dan Optimisme

Oleh: Ethan Shabir Uttara

Gelombang demonstrasi mahasiswa yang mengangkat isu ekonomi kembali hadir dalam ruang publik Indonesia. Fenomena ini sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Sejak awal kemerdekaan hingga era demokrasi modern saat ini, mahasiswa selalu menjadi bagian penting dalam proses kontrol sosial terhadap kebijakan negara. Kritik, protes, dan penyampaian aspirasi merupakan hak konstitusional yang dijamin dalam sistem demokrasi.

 

Namun demikian, dalam isu ekonomi, terdapat satu tantangan yang sering muncul: kecenderungan melihat persoalan dari satu sisi tanpa mempertimbangkan gambaran yang lebih utuh. Padahal ekonomi merupakan bidang yang kompleks, dipengaruhi oleh banyak variabel domestik maupun global, sehingga membutuhkan pembacaan yang lebih komprehensif daripada sekadar melihat gejala-gejala yang tampak di permukaan.

 

Belakangan ini sejumlah aksi demonstrasi mengangkat berbagai isu mulai dari kemiskinan, korupsi, program bantuan sosial, hingga berbagai program prioritas pemerintah. Aspirasi tersebut tentu patut dihargai. Namun pertanyaan yang juga perlu diajukan adalah apakah narasi yang berkembang telah mencerminkan keseluruhan realitas yang sedang berlangsung?

 

Dalam sebuah diskusi publik yang membahas hubungan antara gerakan mahasiswa dan kebijakan negara, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, mengingatkan bahwa demonstrasi mahasiswa adalah bagian yang wajar dalam demokrasi Indonesia. Namun ia juga menekankan pentingnya melihat seluruh aspek secara objektif agar penilaian terhadap kondisi bangsa tidak hanya didasarkan pada satu sudut pandang. Pemerintah, menurutnya, tidak menolak kritik, melainkan berupaya menghadirkan gambaran yang lebih lengkap kepada masyarakat.

 

Dalam konteks ekonomi, pendekatan semacam ini sangat relevan. Sebagai contoh, isu kemiskinan sering menjadi bahan kritik. Namun pada saat yang sama, pemerintah juga sedang menjalankan berbagai program yang secara langsung menyasar kelompok masyarakat rentan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi baru di tingkat lokal melalui keterlibatan petani, peternak, pemasok pangan, dan pelaku usaha kecil di daerah.

 

Demikian pula dengan Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga paling miskin. Program tersebut berangkat dari keyakinan bahwa pendidikan merupakan instrumen paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga memperluas akses pendidikan tinggi melalui anggaran KIP Kuliah yang menjangkau lebih dari satu juta mahasiswa.

 

Tentu tidak ada kebijakan yang sempurna. Namun yang perlu dicermati adalah apakah pemerintah menunjukkan kemauan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan. Dalam kasus MBG misalnya, pemerintah melakukan moratorium penambahan dapur baru untuk fokus pada peningkatan kualitas pelaksanaan program dan efisiensi anggaran. Langkah tersebut menunjukkan bahwa kritik yang muncul tidak diabaikan, melainkan menjadi bagian dari proses penyempurnaan kebijakan.

 

Pada saat yang sama, isu korupsi juga menjadi salah satu tuntutan utama dalam berbagai aksi mahasiswa. Kritik ini sah dan penting. Akan tetapi, perlu diakui bahwa dalam beberapa tahun terakhir penegakan hukum terhadap kasus-kasus korupsi besar justru menunjukkan perkembangan yang signifikan. Berbagai perkara yang melibatkan nilai kerugian negara sangat besar berhasil diungkap dan diproses secara hukum. Bahkan pemerintah secara terbuka menjadikan pemberantasan korupsi sebagai salah satu agenda utama yang terus didorong.

 

Menariknya, sebagian kalangan mahasiswa sendiri mengingatkan bahwa gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti pada kritik semata. Koordinator Aliansi BEM se-Bogor Raya, Indra Mahfuzhi, berpandangan bahwa mahasiswa harus tetap menjadi mitra kritis pemerintah, tetapi juga mampu menawarkan solusi konkret terhadap persoalan yang dihadapi bangsa. Ia menilai bahwa kritik yang baik seharusnya dibangun di atas data, fakta, dan pemahaman yang mendalam terhadap kondisi masyarakat.

 

Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum GM FKPPI, Sandi Mandela Simanjuntak. Menurutnya, kritik yang berkualitas harus didasarkan pada kajian yang kuat, data yang valid, serta argumentasi yang terbuka. Ia mengingatkan bahwa suara yang paling keras belum tentu merupakan suara yang paling benar. Karena itu, ruang dialog perlu terus dijaga agar perbedaan pandangan dapat menghasilkan solusi, bukan sekadar saling menyalahkan.

 

Pandangan serupa juga disampaikan Koordinator Wilayah Forum Betawi Rempug (FBR) Jakarta Barat, H.A. Mudjamil Saleh. Menurutnya, masyarakat pada dasarnya mendukung kebebasan mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, penyampaian aspirasi tersebut idealnya dilakukan secara damai, tertib, dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat luas. Ia menilai demonstrasi akan lebih efektif apabila memiliki tujuan yang jelas, terukur, serta mudah dipahami publik. Sebaliknya, tindakan anarkis, perusakan fasilitas umum, maupun pemblokiran jalan justru berpotensi mengaburkan substansi tuntutan yang ingin disampaikan. Karena itu, menjaga situasi yang aman dan kondusif menjadi kepentingan bersama agar ruang demokrasi tetap terpelihara tanpa mengorbankan hak masyarakat untuk bekerja, berdagang, dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

 

Mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat memiliki tujuan yang sama, menciptakan Indonesia yang lebih adil, sejahtera, dan maju. Perbedaan terletak pada cara mencapainya. Dalam situasi seperti sekarang, yang dibutuhkan bukan sekadar ruang untuk berteriak, melainkan ruang untuk berdialog, menguji gagasan, dan membangun solusi bersama. Sebab ekonomi yang kuat tidak hanya lahir dari kebijakan yang baik, tetapi juga dari kemampuan seluruh komponen bangsa untuk menjaga optimisme, persatuan, dan kepercayaan terhadap masa depan Indonesia.

 

*) pemerhati kebijakan publik

Pembahasan UMP 2027 Didorong Sejalan dengan Penguatan UU Ketenagakerjaan

November 8, 2026

UMP 2027 Menjaga Keseimbangan Upah Layak dan Keberlanjutan Usaha

November 7, 2026

Pembahasan UMP 2027 Didorong Sejalan dengan Penguatan UU Ketenagakerjaan

By Kata IndonesiaNovember 8, 20260

Pembahasan UMP 2027 Didorong Sejalan dengan Penguatan UU Ketenagakerjaan Jakarta – Pembahasan penetapan Upah Minimum…

UMP 2027 Menjaga Keseimbangan Upah Layak dan Keberlanjutan Usaha

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

UMP 2027 Menjaga Keseimbangan Upah Layak dan Keberlanjutan Usaha Oleh: Anggi Kurniawan Penyusunan kebijakan Upah…

UU Ketenagakerjaan dan UMP 2027 Menjadi Jalan Memperkuat Kesejahteraan Buruh

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

UU Ketenagakerjaan dan UMP 2027 Menjadi Jalan Memperkuat Kesejahteraan Buruh Oleh: Mega Triyana Pembahasan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2027 menjadi momentum penting untuk memperkuat perlindungan dan kesejahteraan pekerja melalui kebijakan pengupahan yang lebih terarah. Kehadiran undang-undang ketenagakerjaan yang baru diharapkan memberikan landasan lebih kuat bagi pemerintah dalam memastikan hak-hak pekerja terlindungi. Penetapan upah minimum juga perlu memperhatikan perkembangan kebutuhan hidup masyarakat, daya beli, serta kemampuan dunia usaha agar peningkatan kesejahteraan dapat berlangsung secara berkelanjutan. Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan mulai mempersiapkan berbagai aspek yang menjadi dasar penetapan UMP 2027. Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menyampaikan bahwa formula pengupahan tahun mendatang akan mengacu pada undang-undang perlindungan ketenagakerjaan yang baru disahkan DPR pada 6 Oktober 2026. Regulasi ini menjadi bagian penting dalam memperkuat kepastian hukum sekaligus memberikan pedoman bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pengupahan. Dengan landasan hukum yang diperbarui, penetapan upah diharapkan semakin memperhatikan keseimbangan antara perlindungan pekerja dan keberlangsungan kegiatan ekonomi. Salah satu aspek yang menjadi perhatian pemerintah adalah kebutuhan hidup layak (KHL) sebagai pertimbangan dalam menentukan besaran upah minimum. Yassierli menjelaskan bahwa pemerintah sedang menghitung estimasi KHL dengan memanfaatkan data yang dihimpun dan dievaluasi oleh kementerian serta lembaga terkait. Penghitungan ini diperlukan untuk memperoleh gambaran mengenai kebutuhan riil pekerja dalam memenuhi kehidupan sehari-hari. Komponen kebutuhan tersebut mencakup pangan, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan rumah tangga yang terus mengalami perkembangan. Penempatan KHL dalam pembahasan UMP menunjukkan bahwa kebijakan pengupahan tidak semata-mata berorientasi pada persentase kenaikan tahunan. Upah minimum memiliki keterkaitan langsung dengan kemampuan pekerja memenuhi kebutuhan dasar dan mempertahankan kualitas hidup keluarganya. Penghasilan yang lebih layak dapat memberikan ruang bagi pekerja untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak, memperoleh layanan kesehatan, serta membangun ketahanan ekonomi rumah tangga. Oleh karena itu, penghitungan kebutuhan hidup perlu menjadi pertimbangan substantif agar kebijakan pengupahan memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara nyata. Pembahasan kebijakan juga dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur melalui mekanisme kelembagaan yang telah ditetapkan. Yassierli menyampaikan bahwa prosesnya akan dimulai melalui Lembaga Kerja Sama (LKS) Tripartit Nasional sebelum berlanjut ke Dewan Pengupahan Nasional. Selanjutnya, masukan dari Dewan Pengupahan Daerah menjadi bagian dari pertimbangan gubernur dalam menetapkan besaran UMP di masing-masing wilayah. Mekanisme ini memberikan ruang bagi pemerintah, pengusaha, dan pekerja untuk menyampaikan pandangan berdasarkan kepentingan serta kondisi yang mereka hadapi. Dari kalangan pekerja, usulan kenaikan UMP 2027 sebesar 7,5 hingga 9,5 persen telah disampaikan oleh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) bersama Partai Buruh. Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Pekerja, Said Iqbal, juga menyampaikan pandangan mengenai kebutuhan peningkatan upah minimum pada tahun mendatang. Simulasi yang mempertimbangkan inflasi dan pertumbuhan ekonomi menghasilkan perkiraan kenaikan sekitar 7,8 persen berdasarkan asumsi yang digunakan. Masukan dari kalangan pekerja menjadi bagian penting karena buruh merupakan kelompok yang merasakan langsung dampak perubahan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup.…

Posisi Cadangan Devisa Oktober Jadi Indikator Ketahanan Eksternal RI

By Kata IndonesiaNovember 7, 20260

Posisi Cadangan Devisa Oktober Jadi Indikator Ketahanan Eksternal RI Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.