• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Nasional»Budaya dan Kearifan Lokal Kikis Paham Radikal

Budaya dan Kearifan Lokal Kikis Paham Radikal

  • Kata Indonesia
  • - Friday, 29 July 2022

Budaya dan Kearifan Lokal Kikis Paham Radikal

Oleh : Muhammad Yasin

Radikalisme merupakan musuh bersama di tengah era informasi digital. Untuk mencegah penyebaran radikalisme maka salah satu caranya adalah dengan penguatan budaya dan kearifan lokal yang efektif mengikis paham berbahaya tersebut.

Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan kebudayaan dan kearifan lokal. Ada berbagai kultur di negeri ini karena memang terdiri dari banyak suku, dari Sabang sampai Merauke. Kekayaan budaya ini sangat membanggakan karena tidak bisa ditemukan di negara lain.

Namun sayang ada yang mempertentangkan budaya asli Indonesia yakni kelompok radikal. Mereka merasa panas ketika ada kearifan lokal, padahal sama sekali tidak merugikan, dan sudah menjadi tradisi sejak era pra kemerdekaan.

Kelompok radikal lantas menyebarkan propaganda yang berisi narasi negatif tentang kebudayaan kuno di negeri ini. Padahal kecintaan akan budaya bisa mengikis radikalisme di Indonesia.

Gerakan Sigap Sosial Kemanusiaan (GASSAK) di Yogkayarta menggelar diskusi kebhinekaan sekaligus deklarasi “menolak segala bentuk radikalisme, intoleran, dan terorisme, di DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Zan Yuri Faton, Ketua GASSAK, menyatakan bahwa gerakan radikalisme, intoleran, dan terorisme, rentan muncul di tengah masyarakat. Tak terkecuali di Gunungkidul.
Zan Yuri menambahkan, sudah beberapa kali warga di DIY dan sekitarnya terindikasi melakukan gerakan radikal dan intoleran. Perbuatan tersebut sudah diketahui oleh pemerintah daerah dan aparat keamanan. Ada warga yang menganggap kebudayaan sebagai sesuatu yang negatif dan bertentangan dengan ajaran agama. Bahkan ia menganggap pecinta kebudayaan sebagai orang yang sesat.
Hal ini tentu saja salah karena tidak ada hubungan antara kebudayaan dengan kesesatan dalam menjalankan keyakinan masing-masing. Kebudayaan dan kearifan lokal adalah tradisi di Indonesia, yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Sejak era sebelum kemerdekaan, kebudayaan sudah lekat dengan masyarakat Nusantara, dan tidak bisa dihapuskan begitu saja.
Jika ada yang mencintai budaya kuno, bukan berarti ia dengan mudah meninggalkan keyakinannya, sehingga statement dari kelompok radikal salah besar. Antara menjalankan keyakinan dan mencintai kearifan lokal bisa dilakukan secara bersamaan. Jangan menuduh orang lain dengan sebutan yang sangat buruk hanya gara-gara ia jadi pecinta kebudayaan asli Indonesia.
Radikalisme wajib diberantas agar tidak ada kengawuran seperti ini. Masyarakat akan diajak untuk meninggalkan kebudayaan karena takut dianggap buruk, padahal sebenarnya tidak seperti itu. Justru kearifan dan kebudayaan lokal yang akan mengikis radikalisme dan intoleransi di Indonesia.
Kearifan lokal seperti upacara syawalan akan mengikis radikalisme karena mengajak masyarakat untuk merayakan syawalan (kupatan), yang dilakukan seminggu setelah idul fitri. Dalam upacara itu dihidangkan ketupat yang berasal dari bahasa Jawa kula lepat (saya salah) dan saling memaafkan. Inilah yang akan menghapuskan radikalisme karena mau mengakui kesalahannya, tidak seperti kelompok teroris yang selalu ingin menang sendiri.
Dibutuhkan kerja sama antar kalangan masyarakat saat akan mengadakan upacara syawalan, dan mereka saling bertoleransi karena berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Namun walau berbeda tetapi tetap satu jua, karena merasa satu Indonesia. Tidak ada perbedaan yang dipermasalahkan dan tetap solid, terutama dalam melawan radikalisme dan intoleransi.
GASSAK akan mengantisipasi radikalisme dan terorisme dengan mengadakan acara yang menggandeng pejabat daerah, MUI, dan aparat keamanan. Acara ini sangat penting karena Gunungkidul adalah tempat yang masih memegang teguh tradisi dan kebudayaan kuno. Jangan sampai kesolidan dan kecintaan akan kearifan lokal ini terkikis oleh radikalisme di DIY dan sekitarnya.
GASSAK juga mengadakan edukasi dengan pendekatan budaya, kearifan lokal, dan kemanusiaan. Edukasi harus dilakukan karena intoleransi sangat berbahaya bagi Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.
Edukasi adalah kewajiban karena kebudayaan akan mengikis radikalisme dan intoleransi. Jika masyarakat menilik dari sejarahnya, Indonesia terdiri dari suku yang berbeda-beda. Namun mereka tidak mempermasalahkannya dan tetap solid. Semua disatukan dalam Pancasila dan melebur menjadi Indonesia.
Para tokoh seperti Sunan Kalijaga juga mencintai kebudayaan sehingga seharusnya tidak ada alasan bagi kelompok radikal untuk membenci kearifan lokal. Seharusnya mereka membaca lagi buku sejarah, karena tidak ada yang mengatakan bahwa kebudayaan bertentangan dengan ketaatan dalam menjalankan keyakinan.
Dengan mencintai kebudayaan maka tercipta rasa nyaman di hati, karena kebudayaan dan kesenian bisa menghaluskan perasaan. Seseorang yang jadi pecinta kearifan lokal tidak akan mau diajak oleh kelompok radikal dan teroris, karena mereka menggunakan cara-cara kekerasan. Kelembutan akan melelehkan kekerasan dan menolak radikalisme mentah-mentah.
Budaya dan kearifan lokal bisa mengikis paham radikalisme dan intoleransi. Seharusnya kebudayaan terus dilestarikan, karena jadi warisan para leluhur. Kebudayaan juga jadi tameng bagi radikalisme yang merupakan paham yang berasal dari luar negeri. Dengan mencintai kebudayaan lokal yang luhur dan penuh dengan kedamaian, maka masyarakat paham bahwa radikalisme yang membawa jalan kekerasan, itu salah besar.

)* Penulis adalah kontributor Nusa Bangsa institute

 

Pemerintah Pastikan Semua Anak Bisa Sekolah Gratis Sampai Sarjana

September 29, 2026

Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda Menyatukan Akses dan Mutu Pendidikan

September 29, 2026

Pemerintah Pastikan Semua Anak Bisa Sekolah Gratis Sampai Sarjana

By Kata IndonesiaSeptember 29, 20260

Pemerintah Pastikan Semua Anak Bisa Sekolah Gratis Sampai Sarjana Oleh: Miftah Hizyan Agenda pendidikan nasional…

Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda Menyatukan Akses dan Mutu Pendidikan

By Kata IndonesiaSeptember 29, 20260

Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda Menyatukan Akses dan Mutu Pendidikan Oleh: Rizky Adi Perman Perluasan…

Pemerintah Perluas Akses Pendidikan Papua melalui Sekolah Rakyat Terintegrasi

By Kata IndonesiaSeptember 29, 20260

Pemerintah Perluas Akses Pendidikan Papua melalui Sekolah Rakyat Terintegrasi Oleh : Yohanes Wandikbo Pendidikan merupakan…

Magang Nasional: Investasi Tenaga Kerja Muda 

By Kata IndonesiaSeptember 29, 20260

Magang Nasional: Investasi Tenaga Kerja Muda  Oleh: Yusuf Rinaldi Program Magang Nasional yang diperluas pemerintah menjadi 150 ribu peserta pada 2026 menunjukkan upaya memperkuat transisi lulusan perguruan tinggi menuju dunia kerja. Program ini tidak hanya memberikan pengalaman kerja bagi lulusan baru, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan keterampilan, membangun jejaring profesional, dan memperbesar peluang masuk ke pasar kerja formal di tengah persaingan memperoleh pekerjaan yang semakin ketat. Sejak 2025, pemerintah membuka Program Magang Nasional dengan target 100 ribu peserta. Pada 2026, kuotanya diperluas menjadi 150 ribu peserta. Program berlangsung selama enam bulan dengan fasilitas pelatihan, pendampingan mentor, sertifikat, jejaring profesional, serta uang saku yang ditanggung pemerintah. Besaran uang saku mengacu pada Upah Minimum Kabupaten/Kota di lokasi pemagangan dan dibayarkan setiap bulan berdasarkan jumlah hari yang diperhitungkan. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan perluasan program tersebut dilakukan secara bertahap dan tetap disertai evaluasi terhadap pelaksanaan setiap angkatan. Pada batch pertama terdapat 46.160 peserta, sedangkan batch kedua menetapkan 40.962 peserta. Pemerintah kemudian menyiapkan batch ketiga dengan sekitar 62 ribu peserta untuk memenuhi target 150 ribu peserta pada 2026. Pendaftaran penyelenggara disiapkan sejak September, seleksi peserta pada Oktober, dan pelaksanaan batch ketiga ditargetkan dimulai pada November. Evaluasi tersebut diarahkan untuk memastikan pemagangan benar-benar memberikan kesempatan kepada peserta meningkatkan kompetensi, memperoleh pengalaman kerja, membangun portofolio, serta memperluas jejaring. Untuk batch ketiga, pemerintah juga mengubah skema penempatan dengan menempatkan seluruh peserta di perusahaan, tanpa kementerian dan lembaga pemerintah. Dari perspektif ekonomi, pemberian uang saku selama enam bulan memberikan dukungan bagi lulusan baru yang berada dalam masa transisi dari pendidikan menuju pekerjaan. Selain memperoleh pengalaman kerja, peserta mendapatkan tunjangan yang disesuaikan dengan upah minimum daerah. Pemerintah juga memberikan fasilitas Pajak Penghasilan Pasal 21 ditanggung pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6 Tahun 2026 yang berlaku hingga Desember 2026. Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja menjadi indikator penting dalam melihat keberlanjutan program. Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kemnaker Darmawansyah menyampaikan bahwa sekitar 30 ribu dari 60 ribu alumni Magang Nasional 2025 yang menjalani pemagangan di industri telah bekerja tiga bulan setelah menyelesaikan program. Tingkat penyerapan tersebut meningkat dari sekitar 30 persen ketika peserta baru menyelesaikan masa pemagangan.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.