• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Opini»Bandul Yakuza Maneges: Dakwah Inklusif Gus Thuba, Kaum Marjinal, dan Upaya Menjaga Kewarasan Sosial

Bandul Yakuza Maneges: Dakwah Inklusif Gus Thuba, Kaum Marjinal, dan Upaya Menjaga Kewarasan Sosial

  • Kata Indonesia
  • - Sunday, 4 October 2026

Oleh : Gus Anis Maftukhin 

Kesan pertama itu sering kali jebakan su’udzon. Lahir dari prasangka. Dari ketidaktahuan yang diam-diam kita pelihara.

Sebelum bersua dengan Gus Thuba Topo Broto Maneges—Anda pasti lebih kenal nama Gus Thuba—saya sudah pasang kuda-kuda. Kyai muda kharismatik “berdarah NU” asal Ploso ini pasti angkuh. Sangar. Bikin keder. Atau, jangan-jangan sedikit “sadis”. Lha wong namanya saja ngeri kalau digandengkan dengan ormas bentukannya: Yakuza.

Tapi begitulah. Perjumpaan selalu punya cara jenaka untuk menampar persepsi.

Begitu duduk berhadapan, bayangan sangar itu ambyar. Runtuh seketika. Di depan saya justru sosok yang grapyak. Terbuka. Sangat egaliter.

Wibawanya tidak memukul. Tapi menguar pelan-pelan. Ia tak perlu pakai suara bariton ala orator jalanan yang doyan menghardik. Cukup dari pembawaannya. Dua jam kami ngobrol ngalor-ngidul. Intonasinya anteng. Ruang obrolan justru tersapu oleh pendar kasih sayang.

Ada satu “barang” langka dari orang yang memanggul nasab emas. Anda tahu, beliau ini cucu Gus Miek dari jalur abah. Sekaligus cucu KH. Achmad Siddiq dari jalur ummi. Barang langka itu: kemampuannya memegang lisan.

Zaman now, orang berebut mic. Ingin pamer pintar. Gus Thuba malah asyik jadi pendengar. Darah biru kiai agung di nadinya sama sekali tak bikin ia kemaki.

Tapi jangan salah. Di balik keheningannya itu, dawuh-dawuh-nya bernyali. Kalimatnya sederhana. Hujjah-nya? Menukik tajam.

Di tengah obrolan, tiba-tiba ia melempar tanya. To the point.

“Menurut sampeyan, orang luar itu mandang Yakuza itu kayak apa sih?”

Saya pilih jujur saja. Toh publik kita ini gemar merawat ketakutan. Tak berani mengakui kesan pertama. Saya bilang terang-terangan: “Yakuza” di telinga awam itu garang. Preman impor. Wajah mafia bertato naga ala film Hollywood. Arogan, sombong, sok jagoan.

Mendengar itu, Gus Thuba mesem saja. Ia mendengarkan tanpa ngegas. Tanpa membantah.

Ia mafhum. Ketidaktahuan memang selalu menetaskan monster di kepala kita. Padahal, untuk gerakan yang ia deklarasikan pada Mei 2026 ini, Yakuza bukan urusan potong jari ala sindikat kriminal Jepang. Sama sekali bukan. Itu murni akronim. Akal-akalan khas pesantren. Bikin nyengir tapi makjleb: “Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi”.

Lalu, Maneges? Itu laku tariqah Jawa kuno. Memusatkan total jiwa dan raga. Kepada Gusti Allah.

Lewat Yakuza Maneges ini, rupanya Gus Thuba sedang merancang sesuatu yang besar. Membangun pesantren tanpa tembok. Khusus untuk “Santri Jalur Kiri”.

Kaum marjinal, masyarakat jalanan, mantan preman dirangkul. Semua. Ini bukan sekadar gerakan moral ecek-ecek. Ini bertumpu pada fiqh sosial paling dasar: umat ini sejatinya satu jasad.

Logikanya begini. Kita nggak bakal bisa ngopi tenang di beranda, kalau tetangga kita masih meringis ditindas nasib. Kaum mustadhafin di jalanan itu. Nurani mana yang mau kenyang di atas kelaparan orang lain? Apatis melihat kezaliman itu, ya, kejahatan tersendiri.

Nah, alih-alih meruwat mantan preman dengan ceramah halal-haram yang kaku, Yakuza Maneges putar otak. Energi “petarung” mereka dikelola. Karakter keras aspal jalanan itu di-hijrah-kan. Diubah jadi garda depan pembela kemanusiaan. Cerdas.

Kalau dibedah pakai pisau politik klasik—soal Mizan atau timbangan keadilan—manuver ini makin terasa canggihnya.

Bayangkan timbangan dacin di pasar. Batang timbangannya adalah umara (pemerintah). Barang yang ditimbang itu ra’iyah (rakyat). Nah, bandul penyeimbangnya? Ya para pembimbing umat: ulama, intelektual, penggerak sosial.

Coba kalau ulama dan ormasnya mingkem. Atau sekadar cari aman. Bandul penyeimbangnya hilang. Akibatnya? Timbangan njomplang! Penguasa mendongak jadi tiran, rakyat jelata jatuh terpelanting ke tanah.

Sebaliknya. Kalau ormasnya kelewat galak, anarki gaya Khawarij, isinya amarah melulu, timbangan itu ya hancur rontok.

Di titik rawan inilah Yakuza Maneges masuk. Mengambil posisi wasathiyah. Jalan tengah yang sangat presisi. Menjadi bandul yang pas. Mereka menyuarakan yang haq. Membela yang lemah. Tapi batinnya tetap ditata. Pakai wirid rutin. Ya lewat Majelis Sema’an Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin itu. Tatanan terjaga. Tidak ada yang dirusak.

Harmoni “bandul” ini saya tonton sendiri. Sabtu malam, 3 Oktober lalu. Di acara Deklarasi Akbar Yakuza Maneges Salatiga-Semarang (YM S&S). Di Hotel Wahid Prime.

Acara itu sukses membabat habis stereotip “ormas jalan kiri”. Komandannya kebetulan kawan karib saya: Kang Darisman. Kemasan acaranya? Jangan tanya. Dramaturgi modern. Rapi jali. Tokoh FKUB datang. Polisi hadir. Tentara ikut menghormat. Pak Wali Kota dr. Robby Hernawan juga ada.

Ini bukti sahih. Si bandul (Yakuza Maneges) ini luwes. Bisa bergaul dengan batang timbangan (pemerintah), tanpa kehilangan pijakan akar rumputnya. Kedisiplinannya ala militer, tapi senyum keramahannya tetap khas kaum sarungan. Hebat.

Bagi saya, Kang Daris sukses membumikan dawuh Gus Thuba. Pasca-deklarasi, mereka tak sekadar euforia. YM S&S siap turun. Ngurusi PKL. Tanpa embel-embel pungutan. Tanpa “jatah preman”. Murni demi pembinaan.

Mereka juga akan bikin posko pengaduan korban kekerasan. Langsung digandengkan dengan lembaga hukum negara. Ini baru namanya mengadvokasi “barang timbangan” (rakyat) agar tak dibanting kezaliman!

Petuah tua Raja Kisra masih terngiang: alam semesta ini tegak di atas keadilan. Maka, harapan saya pada Yakuza Maneges kini gamblang. Menjadi jelas. Tetaplah jadi bandul yang istiqomah. Mengingatkan tanpa menghancurkan. Merangkul tanpa menghakimi.

Yah, barangkali memang begitulah gaya Yakuza Maneges.

Di saat masyarakat kita sering mabuk kesalehan kosmetik—yang ngukur iman cuma dari jubah putih licin bekas setrikaan—gerakan ini berani memilih jalan sunyi. Memilih paradoks.

Biarlah dari jauh terlihat garang. Toh, begitu masyarakat mau sedikit tabayyun, berani mendekat, yang terasa justru rangkulan tangan-tangan hangat. Yang menguatkan timbangan keadilan. Sembari membisikkan pesan paling makjleb sedunia: sekelam apa pun masa lalumu, pintu Tuhan tak pernah dikunci bagi mereka yang pernah babak belur tersesat di kerasnya aspal jalanan.

Akhir kalam, saya ucapkan selamat berkhidmah pada kawan kawan Yakuza Maneges Salatiga-Semarang. Gus Thuba adalah berkah untuk menuntut jenengan semua untuk senatiasa bersabar dalam mengarungi kerasnya “mujahadah amaliyah” yang pasti penuh dengan pro kontra. Tabik!!!

*Pengasuh Pondok Pesantren WALI, Tuntang, Kab Semarang, Pegiat Literasi Islam dan Pengamat Sosial Keagamaan.

Dari Karhutla hingga Bencana Alam, TNI Perkuat Pengabdian untuk Masyarakat

October 4, 2026

Presiden Prabowo Terus Perkuat Pertahanan RI, Pesawat Tempur Rafale Jadi Kekuatan Baru

October 4, 2026

Dari Karhutla hingga Bencana Alam, TNI Perkuat Pengabdian untuk Masyarakat

By Kata IndonesiaOctober 4, 20260

Dari Karhutla hingga Bencana Alam, TNI Perkuat Pengabdian untuk Masyarakat JAKARTA — Peran TNI dalam…

Presiden Prabowo Terus Perkuat Pertahanan RI, Pesawat Tempur Rafale Jadi Kekuatan Baru

By Kata IndonesiaOctober 4, 20260

Presiden Prabowo Terus Perkuat Pertahanan RI, Pesawat Tempur Rafale Jadi Kekuatan Baru Jakarta – Presiden…

Selain Pertahanan, TNI Berkontribusi Kawal dan Sukseskan Berbagai Program Pembangunan Pemerintah

By Kata IndonesiaOctober 4, 20260

Selain Pertahanan, TNI Berkontribusi Kawal dan Sukseskan Berbagai Program Pembangunan Pemerintah Jakarta – TNI tidak…

Bandul Yakuza Maneges: Dakwah Inklusif Gus Thuba, Kaum Marjinal, dan Upaya Menjaga Kewarasan Sosial

By Kata IndonesiaOctober 4, 20260

Oleh : Gus Anis Maftukhin  Kesan pertama itu sering kali jebakan su’udzon. Lahir dari prasangka.…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.