Jelang gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang rencananya bertempat di Tambakberas, Jombang, suhu politik di internal organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia ini kian memanas.
Sebuah seruan gerakan bermuatan kritik keras terhadap pengurus Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode hasil Muktamar ke-34 Lampung mendadak viral dan beredar luas di berbagai grup WhatsApp serta media sosial warga NU, mulai dari tingkatan akar rumput, pengurus Ranting, hingga elite pengurus pusat.
Gerakan tersebut dinamai “GERBANG TOLL PBNU”, yang merupakan akronim dari Gerakan Bareng Tolak LPJ PBNU. Seruan ini digelorakan oleh HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy, seorang kiai kampung yang mengaku sebagai cicit Sayyid Ali Murtadho.
Dalam pesan berantai yang menyebar masif tersebut, Khalilur membeberkan sembilan poin alasan dasar mengapa Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kepengurusan PBNU periode saat ini layak ditolak oleh para pemilik suara di muktamar mendatang.
Beberapa poin sorotan utama dalam seruan tersebut antara lain mencakup:
* Konflik Internal: Adanya fenomena saling pecat dan aksi saling serang antar-pengurus PBNU di media massa, yang dinilai menyemaikan permusuhan dan perpecahan di hampir semua tingkatan kepengurusan.
* Minimnya Pembangunan Fisik/Fasilitas: Kegagalan pengurus dalam merealisasikan pembangunan sarana strategis, seperti tidak adanya satu pun perguruan tinggi (kampus) maupun rumah sakit baru yang dibangun selama masa khidmat PBNU hasil Muktamar Lampung.
* Intimidasi Kepada Daerah: Hubungan PBNU dengan PWNU dan PCNU yang dinilai tidak harmonis, ditandai dengan gaya kepemimpinan yang intimidatif melalui ancaman caretaker hingga pembekuan Surat Keputusan (SK).
* Isu Hukum & Politik: Keterlibatan dan terseretnya nama NU dalam berbagai persoalan hukum, seperti kasus Mardani Maming hingga persoalan kuota haji, serta kesibukan elite pengurus yang dinilai terlalu berfokus pada urusan politik praktis ketimbang mengayomi warga NU di tingkat bawah.
“PBNU Mandataris Muktamar Lampung membuat NU terjerembab dalam jurang kegagalan dan penuh permusuhan,” tulis Khalilur dalam narasi seruan yang beredar tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa kesibukan elite PBNU dalam konflik internal dan urusan pragmatis telah mengabaikan lebih dari 100 juta warga NU yang berlatar belakang petani, buruh, nelayan, hingga guru kampung. Menurutnya, NU yang seharusnya mengedepankan asas kerukunan, persaudaraan, dan saling melindungi kini justru kehilangan roh pengayomannya.
Lahirnya seruan GERBANG TOLL ini diprediksi akan menjadi amunisi baru bagi kelompok kritis di internal NU untuk melakukan evaluasi total dan konsolidasi menjelang dibukanya arena Muktamar ke-35 di Pesantren Tambakberas mendatang.