Soft Launching Tubing Ngindeng menjadi wujud pengabdian berdampak UNIDA Gontor dalam membangun masyarakat berdaya, mandiri, dan berkelanjutan.
Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor) melalui Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) meneguhkan komitmennya untuk menghadirkan perguruan tinggi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui Soft Launching Desa Wisata Tubing Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo.
Peluncuran ini bukan sekadar memperkenalkan destinasi wisata sungai baru. Tubing Ngindeng menjadi bagian dari gerakan pengabdian UNIDA Gontor untuk mengembangkan potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi, sosial, lingkungan, dan kemandirian masyarakat.

Ketua LPM UNIDA Gontor, Dr. Riza Azhari, mengatakan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya membawa ilmu pengetahuan keluar dari ruang akademik agar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Peradaban tidak hanya dibangun dari ruang-ruang kuliah. Peradaban tumbuh ketika ilmu hadir di tengah masyarakat, mampu membaca potensi, menyelesaikan persoalan, menumbuhkan kemandirian, dan menghadirkan kemaslahatan. Karena itu, kami ingin pengabdian UNIDA Gontor tidak berhenti pada kegiatan, tetapi meninggalkan dampak,” ucapnya.
Menurutnya, keberadaan Tubing Ngindeng harus dilihat lebih luas daripada sekadar pengembangan objek wisata.
“Tubing hanyalah pintu masuk. Yang ingin kita bangun sesungguhnya adalah ekosistem masyarakat. Ketika wisata tumbuh, UMKM harus ikut bergerak, pemuda memperoleh ruang berkarya, lingkungan sungai semakin terjaga, budaya lokal hidup, dan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi. Di situlah pengabdian menjadi sebuah gerakan pemberdayaan,” katanya.
Masyarakat Menjadi Pelaku Utama
Pengembangan Desa Wisata Tubing Ngindeng dilakukan melalui kolaborasi antara UNIDA Gontor, Pemerintah Desa Ngindeng, Pokdarwis, kelompok masyarakat, pemuda, tubing guide, serta berbagai pemangku kepentingan.
Kepala Desa Ngindeng menyambut baik pendampingan yang dilakukan UNIDA Gontor. Menurutnya, kolaborasi tersebut memberikan energi baru bagi masyarakat untuk melihat sungai dan berbagai potensi desa sebagai aset yang dapat dikembangkan bersama.

“Kami berharap Tubing Ngindeng tidak hanya dikenal sebagai tempat wisata, tetapi benar-benar menjadi milik dan kebanggaan masyarakat. Potensi yang ada di desa harus mampu memberikan manfaat bagi warga, membuka peluang usaha, menggerakkan pemuda, dan pada saat yang sama membuat masyarakat semakin peduli menjaga sungai dan lingkungannya.”
Ia juga berharap kolaborasi dengan UNIDA Gontor tidak berhenti setelah soft launching, tetapi terus berkembang melalui pendampingan dan penguatan kapasitas masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada UNIDA Gontor yang hadir dan berjalan bersama masyarakat Ngindeng. Harapan kami, kerja sama ini terus berlanjut sehingga masyarakat semakin mampu mengelola potensi desanya secara mandiri dan Tubing Ngindeng dapat berkembang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan desa,” ungkapnya.
Dari Sungai Menuju Kemandirian
Dalam pengembangannya, masyarakat ditempatkan bukan sebagai objek program, tetapi sebagai pelaku utama sekaligus mitra pembangunan.
UNIDA Gontor mengambil peran sebagai pendamping melalui penguatan sumber daya manusia, manajemen destinasi, peningkatan kapasitas tubing guide, standardisasi keselamatan, promosi digital, pengembangan UMKM, edukasi lingkungan, hingga penguatan kelembagaan pengelola wisata.
Karena itu, Tubing Ngindeng diarahkan untuk berkembang menjadi sebuah ekosistem desa wisata berbasis masyarakat.
Wisata sungai diharapkan mampu menggerakkan berbagai sektor lainnya, mulai dari kuliner dan produk UMKM, seni dan budaya lokal, jasa pemandu wisata, ekonomi kreatif, hingga pendidikan dan konservasi lingkungan.
Soft Launching Adalah Titik Awal
Soft launching bukan merupakan akhir dari program pengabdian, tetapi menjadi titik awal proses pemberdayaan yang berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan dikemas dalam semangat Ngindeng River Festival, dengan melibatkan pemerintah desa, masyarakat, pemuda, pelaku wisata dan berbagai unsur lainnya.
Melalui momentum ini, UNIDA Gontor ingin memperkuat paradigma bahwa keberhasilan pengabdian kepada masyarakat bukan diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari perubahan yang ditinggalkan dan kemampuan masyarakat untuk melanjutkannya secara mandiri.
Membangun Peradaban Dimulai dari Desa
Program di Ngindeng sekaligus membawa pesan mengenai arah pengabdian UNIDA Gontor ke depan: perguruan tinggi harus hadir semakin dekat dengan persoalan dan potensi masyarakat.
Proses tersebut dibangun melalui mata rantai:
ILMU → PENGABDIAN → PEMBERDAYAAN → KEMANDIRIAN → PERADABAN
Ilmu melahirkan pengabdian. Pengabdian mendorong pemberdayaan. Pemberdayaan menumbuhkan kemandirian. Dan masyarakat yang mandiri, berkarakter, menjaga nilai serta lingkungannya menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun peradaban.
Dari Desa Ngindeng, UNIDA Gontor ingin menunjukkan bahwa pembangunan peradaban dapat dimulai dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat: desa, sungai, lingkungan, budaya, dan semangat untuk tumbuh bersama.
“Dari kampus ilmu diabdikan, dari desa potensi digerakkan, dari masyarakat kemandirian ditumbuhkan, dan dari pengabdian peradaban dibangun,” jelasnya.
UNIDA Gontor — Mengabdi, Memberdayakan, Membangun Peradaba