• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Puisi»Belajar Bersyukur dari Rodri

Belajar Bersyukur dari Rodri

  • Kata Indonesia
  • - Thursday, 23 July 2026

Oleh: KH. Hadiyanto Arief 

Esai ringan tentang syukur, sistem, dan kyai yang memilih tak terlihat

Ketika layar raksasa di New York New Jersey Stadium mengumumkan peraih Golden Ball Piala Dunia 2026, sebagian penonton mengernyitkan dahi. Bukan Messi — yang di usia 39 tahun masih mencetak delapan gol dan empat assist, membawa Argentina ke final. Bukan pula Mbappé, yang pulang membawa Sepatu Emas dengan sepuluh gol. Yang naik podium justru Rodri: kapten Spanyol yang sepanjang turnamen tdk mencetak satu gol pun dan tidak memberi satu assist pun!

Izinkan saya membuat satu pengakuan kecil di sini. Sebagai penggemar Prancis — dan barisan penyerang mudanya yang meledak-ledak itu — saya sebetulnya menulis esai ini dengan hati yang masih sakit. Les Bleus dihentikan Spanyol 2-0 di semifinal, dan Mbappé pulang membawa Sepatu Emas tanpa sempat membawa pulang trofinya. Yang lebih menyakitkan: mereka tidak dikalahkan oleh tim yang lebih bertenaga atau lebih berbakat menyerang, melainkan oleh tim yang lebih sabar membaca permainan — yang jantungnya berdetak pelan dan tenang di kaki Rodri. Tetapi justru karena sakit hati itulah pelajaran ini terasa jujur bagi saya: keindahan yang meledak-ledak, ternyata, bisa ditundukkan oleh antisipasi yang sunyi.

Dan angka-angka yang tidak bersorak memang bercerita lebih jujur daripada sorak-sorai. Enam ratus lima puluh umpan sukses — terbanyak dalam sejarah satu edisi Piala Dunia. Akurasi mendekati 93 persen. Puluhan tekel dan recovery yang membuat Spanyol hanya kebobolan satu gol dalam delapan pertandingan. Rodri menang bukan karena meledak-ledak, melainkan karena antisipasi: ia membaca permainan dua-tiga langkah lebih awal dari siapa pun, sudah berdiri di titik yang tepat sebelum bahaya datang — sehingga bahaya itu tdak pernah tampak sebagai bahaya. Di situlah paradoks yang menghukum sekaligus memuliakannya:

Semakin baik sebuah sistem bekerja, semakin tidak terlihat peran yang menjalankannya.

Kritik Saya kepada Kyai Saya

Paradoks itu membawa saya pulang ke sebuah kenangan lama.

Dulu, saat masih muda dan mondok di Pondok Modern Gontor, saya termasuk santri yang diam-diam menyimpan kritik kepada kyai saya sendiri. Beliau terasa jauh..Invisible. Lebih banyak berada di belakang layar. Yang setiap hari hadir dalam hidup saya justru wajah-wajah lain: bagian keamanan yang menggedor pintu kamar sebelum subuh, bagian pengasuhan yang memanggil ke kantor dan menegakkan disiplin. Wajah-wajah itulah yang terekam kuat dalam ingatan saya — lengkap dengan segala momen emosionalnya. Sementara kyai? Sesekali di masjid, sesekali di acara besar, selebihnya seperti kabar angin..

Diam-diam saya membandingkan dengan cerita pesantren tradisional yang saya dengar: kyai yang karismatik, yang selalu hadir, yang mengajar kitab dengan tangannya sendiri, yang setiap malam dikelilingi santri mengantre mencium tangan dan meminta doa. Satu sosok yang menjadi guru, imam, dan rujukan segala perkara sekaligus — matahari yang segalanya beredar mengelilinginya. Mengapa kyai saya tidak seperti itu? Begitu gerutu saya waktu itu.

Bertahun-tahun kemudian, saya baru paham bahwa gerutu itu salah alamat — dan Piala Dunia 2026 memberi saya bahasa untuk menjelaskannya.

Otak saya waktu itu bekerja persis seperti otak penonton bola: ia tidak menghitung siapa yang paling menentukan, ia hanya mengambil wajah yang paling sering hadir di momen-momen emosional. Bagian keamanan dan pengasuhan adalah para “penyerang” — yang paling kasat mata, paling terasa sentuhannya, paling mudah diingat. Sedangkan kyai bekerja di tempat yang tidak terjangkau ingatan santri: menentukan arah, memilih program mana yang dijalankan dan mana yang dihindari, menjaga nilai yang tidak boleh ditawar, menyiapkan kader untuk dua puluh tahun ke depan. Beliau adalah pelatihnya — dan tidak ada penonton yang meneriakkan nama pelatih ketika gol tercipta.

Yang dulu saya baca sebagai kekurangan, ternyata adalah pilihan— dan justru di situlah kebesaran hati mereka. Kyai saya memilih untuk mengedepankan sistem, bukan dirinya. Beliau sengaja turun dari panggung dan mewakafkan panggung itu kepada santri-santrinya: biarlah santri yang berpidato di muhadharah, santri yang memimpin organisasi, santri yang menegakkan disiplin atas adik-adiknya, santri yang menjadi panitia acara-acara besar. Setiap kali kyai menahan diri untuk tidak tampil, di situ satu santri mendapat kesempatan untuk tumbuh — termasuk saya. Karisma yang selalu hadir memang menggerakkan; tetapi kyai yang memilih sistem sedang menjawab pertanyaan yang lebih sunyi: bagaimana pondok ini tetap hidup dan lurus setelah saya tiada? Pondok yang bertumpu pada satu matahari akan meredup ketika mataharinya terbenam; pondok yang bertumpu pada sistem sedang berikhtiar melampaui usia pendirinya.

Persis seperti timnas Spanyol. Luis de la Fuente bukan pelatih selebritas; namanya kalah berkilau dibanding pelatih-pelatih besar, ia jarang menjadi bintang konferensi pers — tetapi timnyalah yang bermain dengan sistem paling matang dan pulang membawa trofi.

Dan di lapangan, sistem itu berdetak di kaki Rodri: tak meledak-ledak, tak mencolok, namun paling menentukan. Kritik bahwa kyai pondok modern “tidak banyak fungsinya” sesungguhnya adalah pujian yang salah alamat — ia bukti bahwa sang pelatih berhasil, sebagaimana pertandingan yang mengalir mulus adalah bukti sang gelandang jangkar bekerja. Yang gagal bukan kyainya; yang gagal adalah mata kita, yang hanya terlatih mensyukuri apa yang tampil di panggung depan.

Penutup: Syukur yang Sadar Sanad

Dalam tradisi keilmuan Islam, sebuah riwayat tidak sah hanya dengan mengenal perawi terakhirnya; ia harus ditelusuri sanadnya sampai ke hulu. Barangkali syukur pun demikian. Syukur yang matang adalah syukur yang sadar sanad: tidak berhenti di tangan terakhir yang paling terasa sentuhannya, melainkan menelusuri rantai kebaikan sampai ke bangku pelatih — dan pada akhirnya bermuara kepada Allah, Pemilik seluruh rantai itu..

“Man lam yasykur an-nâs lam yasykur Allâh” — siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, ia belum bersyukur kepada Allah. Dan barangkali bentuk paling dewasa dari hadits itu adalah berterima kasih juga kepada manusia-manusia yang tidak pernah terlihat: kepada para kyai yang rela tidak dikenang sebagai matahari, asalkan cahayanya terus menyala melalui ribuan santri yang pernah diberi panggung.

Rodri terpilih bukan karena paling mencolok, melainkan karena paling menentukan. Kyai-kyai kita pun demikian — betapapun sunyi kerjanya..

Ulujami 23/07/26

Disclaimer penulisan disusun dgn bantuan AI

Capaian Ekonomi dari Stimulus hingga KUR sebagai Bukti Negara Menjaga Daya Beli

July 23, 2026

Capaian Ekonomi Semester I 2026 dan Menguatnya Kepercayaan Investasi

July 23, 2026

Capaian Ekonomi dari Stimulus hingga KUR sebagai Bukti Negara Menjaga Daya Beli

By Kata IndonesiaJuly 23, 20260

Capaian Ekonomi dari Stimulus hingga KUR sebagai Bukti Negara Menjaga Daya Beli Oleh Fathia Amalia…

Capaian Ekonomi Semester I 2026 dan Menguatnya Kepercayaan Investasi

By Kata IndonesiaJuly 23, 20260

Capaian Ekonomi Semester I 2026 dan Menguatnya Kepercayaan Investasi Oleh : Gavin Asadit Perekonomian Indonesia…

Capaian Ekonomi Semester I 2026 Ditopang Investasi Rp1.001 Triliun

By Kata IndonesiaJuly 23, 20260

Capaian Ekonomi Semester I 2026 Ditopang Investasi Rp1.001 Triliun Jakarta – Perekonomian Indonesia pada semester…

Capaian PDB Kuartal I Tumbuh 5,61 Persen, Pemerintah Tegaskan Stabilitas Ekonomi RI Terjaga

By Kata IndonesiaJuly 23, 20260

Capaian PDB Kuartal I Tumbuh 5,61 Persen, Pemerintah Tegaskan Stabilitas Ekonomi RI Terjaga Jakarta- Perekonomian…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.