Oleh: Hafyz Marshal (Pimpinan Redaksi KataIndonesia.com – Pakar Komunikasi Publik)
Pernahkah Anda membayangkan sebuah pertunjukan seni skala megah—lengkap dengan tari kolosal, drama multi-bahasa, hingga konser musik—di mana seluruh konseptor, penampil, kru panggung, hingga teknisi lampunya adalah santri dan guru pesantren? Lebih dari itu, aset senilai miliaran rupiah di atas panggung adalah milik lembaga itu sendiri, bukan hasil sewaan.
Skenario luar biasa ini bukan fiksi. Ia nyata terjadi di Lapangan Sepak Bola Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) pada Sabtu malam (27/6) lalu. Bertajuk Darussalam All Star Show (DASS), pagelaran sepuluh tahunan ini digelar bukan sekadar untuk selebrasi, melainkan sebagai penanda satu abad berdirinya Gontor.
Di era modern ini, dunia pendidikan sibuk memperdebatkan konsep holistic education atau pendidikan menyeluruh. Banyak sekolah berlomba-lomba mengadopsi kurikulum barat untuk menciptakan lulusan yang kreatif dan adaptif. Namun, jika kita mau menengok ke dalam lini domestik, Gontor sebenarnya telah mengamalkan cetak biru (blueprint) pendidikan holistik ini sejak seabad lalu. DASS adalah bukti otentiknya.
Kiai Hasan Abdullah Sahal secara tegas mengingatkan, “95 sampai 99 persen semuanya dari dalam Pondok… Ini semua bukan untuk takabur tapi untuk tasyakur.” Kalimat ini mengandung filosofi mendalam tentang kemandirian. Di panggung DASS, santri tidak hanya diajarkan cara tampil, tapi dididik mengelola ego, memimpin tim, memecahkan masalah di lapangan, hingga merajut kebersamaan antara guru dan murid.
DASS mendobrak stigma kuno bahwa santri hanyalah individu yang pandai mengaji dan berwawasan tekstual. Di sini, seni dan kreativitas ditempatkan sebagai ruang ekspresi yang berjiwa Islam. Pesantren membuktikan diri mampu menjadi laboratorium kepemimpinan yang utuh.
Ketika Gontor kini bersiap melangkah menuju abad kedua pengabdiannya, DASS bukan lagi sekadar tontonan akhir pekan yang memukau. Ia adalah sebuah role model hidup bagi dunia pendidikan di Indonesia, bahkan dunia: bahwa karakter, kreativitas, dan keteguhan nilai bisa tumbuh subur dari dalam rahim pesantren.