• Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Menu
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Search
Close this search box.
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
  • Trending
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Kuliner
Home»Uncategorized»Linking Small Players: Koperasi Merah Putih dan UMKM dalam Satu Ekosistem

Linking Small Players: Koperasi Merah Putih dan UMKM dalam Satu Ekosistem

  • Kata Indonesia
  • - Thursday, 30 April 2026

Linking Small Players: Koperasi Merah Putih dan UMKM dalam Satu Ekosistem

Oleh: Rivka Mayangsari

Transformasi ekonomi berbasis kerakyatan kembali menemukan momentumnya melalui kehadiran Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Inisiatif ini tidak sekadar menghidupkan kembali peran koperasi sebagai pilar ekonomi nasional, tetapi juga menjadi jembatan strategis dalam menghubungkan pelaku usaha kecil—khususnya UMKM—ke dalam satu ekosistem yang terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan.

 

Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa program Koperasi Merah Putih merupakan bagian dari strategi nasional untuk mendorong transformasi masyarakat. Dari yang sebelumnya hanya sebagai penerima manfaat, masyarakat didorong menjadi pelaku usaha yang mandiri dan produktif. Pendekatan ini menandai perubahan paradigma pembangunan ekonomi yang lebih partisipatif dan berbasis potensi lokal.

 

Menurut Ferry Juliantono, koperasi harus menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Artinya, koperasi tidak lagi hanya berfungsi sebagai lembaga simpan pinjam, tetapi berkembang menjadi pusat produksi, distribusi, hingga pemasaran produk lokal. Dengan demikian, koperasi dapat menjadi motor penggerak ekonomi di tingkat desa dan kelurahan.

 

Penguatan peran koperasi ini juga didukung dengan berbagai fasilitas penunjang yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Mulai dari gudang penyimpanan, alat pengering hasil panen, hingga fasilitas cold storage untuk produk hortikultura, semuanya disiapkan untuk memastikan kualitas produk tetap terjaga. Selain itu, kehadiran layanan kesehatan sederhana dan lembaga keuangan mikro semakin memperkuat posisi koperasi sebagai pusat layanan terpadu bagi masyarakat.

 

Lebih jauh, Ferry Juliantono menekankan bahwa koperasi harus bergerak secara terintegrasi dalam seluruh rantai ekonomi, mulai dari sektor produksi, distribusi, industri, hingga pembiayaan. Hal ini sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 yang menempatkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional. Dengan pendekatan ini, koperasi tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi fondasi utama dalam sistem ekonomi Indonesia.

 

Koperasi Merah Putih juga dirancang untuk memperkuat peran UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Selama ini, banyak pelaku UMKM menghadapi kendala dalam hal akses pasar, distribusi, dan pembiayaan. Melalui koperasi, hambatan tersebut dapat diatasi secara kolektif melalui sistem yang berbasis gotong royong.

 

Konsep gotong royong yang menjadi dasar koperasi diharapkan mampu menciptakan sistem ekonomi yang lebih inklusif. Dalam ekosistem ini, setiap pelaku usaha memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, tanpa harus bersaing secara tidak seimbang dengan pelaku usaha besar. Koperasi menjadi ruang kolaborasi, bukan kompetisi yang eksploitatif.

 

Implementasi konsep ini mulai terlihat di berbagai daerah, salah satunya di Kota Bengkulu. Dinas Koperasi dan UKM Kota Bengkulu memperkuat sinergi dengan para pelaku UMKM untuk mendukung operasional Koperasi Merah Putih. Langkah ini menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada kebijakan pusat, tetapi juga pada dukungan dan partisipasi aktif dari pemerintah daerah.

 

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Bengkulu, Nellawati, menjelaskan bahwa Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan menjadi jantung ekonomi masyarakat. Koperasi tidak hanya berfungsi sebagai institusi ekonomi, tetapi juga sebagai pusat aktivitas sosial yang menghubungkan berbagai elemen masyarakat dalam satu sistem yang saling mendukung.

 

Menurut Nellawati, keterlibatan UMKM menjadi kunci utama dalam keberhasilan program ini. Koperasi Merah Putih akan difungsikan sebagai pusat distribusi sekaligus wadah kolaborasi bagi pelaku usaha lokal. Dengan demikian, produk-produk UMKM dapat dipasarkan secara lebih luas, bahkan langsung di lingkungan tempat tinggal mereka sendiri.

 

Pendekatan ini memberikan keuntungan ganda. Di satu sisi, pelaku UMKM mendapatkan akses pasar yang lebih mudah dan efisien. Di sisi lain, masyarakat sebagai konsumen dapat memperoleh produk lokal dengan kualitas yang terjamin dan harga yang lebih kompetitif. Siklus ekonomi ini menciptakan perputaran nilai yang tetap berada di dalam komunitas, sehingga memperkuat ekonomi lokal secara keseluruhan.

 

Koperasi Merah Putih juga membuka peluang untuk menciptakan rantai pasok yang lebih pendek dan efisien. Dengan memotong jalur distribusi yang panjang, biaya dapat ditekan, dan keuntungan dapat lebih banyak dinikmati oleh pelaku usaha lokal. Hal ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara langsung.

 

Lebih dari itu, integrasi antara koperasi dan UMKM juga berpotensi menciptakan ekosistem ekonomi yang tahan terhadap guncangan eksternal. Ketika ekonomi global mengalami ketidakpastian, sistem ekonomi berbasis lokal yang kuat dapat menjadi penyangga yang efektif. Koperasi Merah Putih, dalam hal ini, berfungsi sebagai benteng ekonomi yang melindungi masyarakat dari dampak negatif globalisasi.

 

Ke depan, tantangan yang dihadapi tentu tidak ringan, mulai dari penguatan kapasitas SDM, tata kelola koperasi, hingga adaptasi terhadap teknologi digital. Namun, dengan komitmen yang kuat dari pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat, tantangan tersebut dapat diatasi secara bertahap.

 

Pada akhirnya, Koperasi Merah Putih bukan hanya program ekonomi, tetapi gerakan sosial yang bertujuan membangun kemandirian dan solidaritas masyarakat. Dengan menghubungkan pelaku usaha kecil dalam satu ekosistem yang terintegrasi, Indonesia sedang membangun fondasi ekonomi yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.

 

 

*) Pemerhati ekonomi

Data BPS Ungkap Fundamental Ekonomi Nasional Dinilai Tetap Kuat

November 6, 2026

Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Ketidakpastian Global

November 6, 2026

Data BPS Ungkap Fundamental Ekonomi Nasional Dinilai Tetap Kuat

By Kata IndonesiaNovember 6, 20260

Data BPS Ungkap Fundamental Ekonomi Nasional Dinilai Tetap Kuat JAKARTA – Kondisi perekonomian Indonesia dinilai…

Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Ketidakpastian Global

By Kata IndonesiaNovember 6, 20260

Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Ketidakpastian Global  Oleh: Agus Yanuar Perekonomian Indonesia memperlihatkan daya tahan di tengah ketidakpastian global dengan mencatat pertumbuhan sebesar 5,47 persen secara tahunan pada kuartal III 2026. Angka yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi nasional masih bergerak positif, meskipun belum menyamai capaian awal tahun. Kinerja ini menjadi modal untuk menjaga optimisme, sekaligus pengingat bahwa ketahanan ekonomi perlu diperkuat melalui kebijakan konsisten dan pembangunan yang manfaatnya dirasakan masyarakat. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 mencapai 5,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut memang lebih rendah daripada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen, tetapi meningkat dibandingkan kuartal II 2026 sebesar 5,29 persen dan kuartal III 2025 sebesar 5,04 persen. Perbandingan tersebut memperlihatkan momentum perekonomian masih terjaga, meskipun perkembangan setiap kuartal perlu dicermati agar perlambatan tidak berlanjut. BPS mencatat produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada kuartal III 2026 mencapai Rp6.741 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp3.633,2 triliun. Seluruh lapangan usaha berhasil membukukan pertumbuhan positif. Kondisi ini menunjukkan pergerakan ekonomi tidak hanya bergantung pada satu bidang, melainkan ditopang berbagai sektor yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nasional. Lima lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap PDB adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Edy Mahmud menyebutkan bahwa gabungan kelima sektor tersebut mencakup sekitar 65,31 persen dari total PDB nasional. Industri pengolahan memberikan kontribusi 19,22 persen, disusul pertanian 13,46 persen, perdagangan 13,24 persen, konstruksi 10,20 persen, serta pertambangan sebesar 9,19 persen. *Penulis merupakan pengamat kebijakan publik Dari sisi pertumbuhan, industri pengolahan meningkat 5,87 persen dan berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Kinerja tersebut memperlihatkan peran industri dalam menciptakan nilai tambah, menjaga produksi, serta mendukung rantai pasok dan kesempatan kerja. Perdagangan tumbuh 7,14 persen dan konstruksi mencapai 6,42 persen, sementara pertambangan kembali mencatat pertumbuhan positif sebesar 0,91 persen. Adapun pertanian hanya tumbuh 0,46 persen. Angka ini patut menjadi perhatian karena pertanian berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, penghidupan masyarakat pedesaan, dan stabilitas harga kebutuhan sehari-hari.…

Ketahanan Ekonomi RI Menjadi Modal Menjaga Optimisme Nasional

By Kata IndonesiaNovember 6, 20260

Ketahanan Ekonomi RI Menjadi Modal Menjaga Optimisme Nasional  Oleh: Abdul Gofar Ketahanan ekonomi Indonesia yang tetap terjaga di tengah ketidakpastian global menjadi modal penting bagi pemerintah untuk mempertahankan optimisme nasional sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5,47 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada triwulan III 2026. Capaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih berada dalam jalur positif dengan dukungan berbagai sektor produktif, peningkatan perdagangan, serta penguatan industri manufaktur. Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan harga konstan tercatat mencapai Rp3.633,2 triliun, sedangkan berdasarkan harga berlaku mencapai Rp6.741,0 triliun. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut memperlihatkan kemampuan Indonesia menjaga momentum pembangunan di tengah berbagai tantangan perekonomian internasional. Menurutnya, industri pengolahan menjadi sektor yang memberikan kontribusi paling besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dengan andil mencapai 1,20 poin persentase. Selain itu, perdagangan menyumbang 0,94 poin persentase, konstruksi sebesar 0,62 poin persentase, serta sektor informasi dan komunikasi memberikan kontribusi 0,49 poin persentase. Industri pengolahan sendiri mengalami pertumbuhan sebesar 5,87 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Peningkatan tersebut didukung permintaan pasar domestik maupun internasional yang semakin membaik. Salah satu subsektor yang memperlihatkan perkembangan positif adalah industri makanan dan minuman dengan pertumbuhan 7,09 persen. Kinerja ini ditopang peningkatan ekspor Crude Palm Kernel Oil (CPKO), produk turunan minyak kelapa sawit atau CPO, serta pemanfaatannya untuk kebutuhan produksi biodiesel di dalam negeri. Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional juga mencatatkan pertumbuhan 8,10 persen seiring meningkatnya produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan pupuk menjelang musim tanam. Sementara itu, industri logam dasar tumbuh mencapai 9,94 persen berkat peningkatan ekspor berbagai komoditas, termasuk katoda tembaga, nickel matte, dan aluminium. Perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil serta sepeda motor, turut menunjukkan perkembangan dengan pertumbuhan 7,14 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun 2025 sebesar 5,46 persen dan tahun 2024 sebesar 4,85 persen. Sebelum pengumuman pertumbuhan ekonomi tersebut, sejumlah indikator makroekonomi juga telah memberikan gambaran positif mengenai kondisi perekonomian nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai stabilitas harga, perkembangan industri manufaktur, dan kinerja perdagangan luar negeri menjadi tiga faktor penting yang menjaga kekuatan ekonomi Indonesia. Ia menyampaikan bahwa pemerintah berupaya mempertahankan keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan melalui koordinasi kebijakan yang berkelanjutan. Dari sisi harga, inflasi Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan, masih berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5±1 persen. Inflasi inti juga melambat menjadi 2,56 persen, sedangkan inflasi harga yang diatur pemerintah mencapai 3,24 persen. Meskipun demikian, kelompok pangan bergejolak masih perlu mendapatkan perhatian karena mengalami inflasi 5,81 persen akibat kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, dan tomat. Fenomena El Niño yang memperpanjang musim kemarau turut memengaruhi produksi dan ketersediaan sejumlah komoditas pangan.…

Rupiah Bergerak, Peluang Penguatan Masih Terbuka

By Kata IndonesiaNovember 6, 20260

Rupiah Bergerak, Peluang Penguatan Masih Terbuka Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika…

  • Redaksi
  • Peraturan Media Siber
  • Kontak Redaksi

All Rights Reserved © 2025

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.